
Sepiring waffle dengan tumpahan sirup strawberry di atasnya tersaji di hadapan Jessica. Menjadi menu sarapannya pagi ini. Elliot--pria yang menyajikan itu untuk Jessica--berdiri di samping Jessica sambil menikmati secangkir kopi sajian Ethan.
Selagi Jessica menyantap sarapan favorite-nya tersebut dengan bahagia, Elliot kembali teringat mengenai pertemuannya dengan Demian beberapa waktu lalu.
Tentunya, sebagai teman, Elliot tau ada beberapa hal yang bukan wilayahnya untuk ikut campur. Hal-hal yang Jessica putuskan untuk dirahasiakan, hal-hal menyangkut Demian, jika Jessica tidak mau mengatakan yang sebenarnya, bukan tempat Elliot untuk memaksa sahabatnya itu bicara.
Namun...
Selalu ada namun...
Elliot mencemaskan Jessica. Elliot takut Jessica akan melibatkan dirinya dalam masalah bila dia terus bergaul dengan pria seperti Demian.
Pelanggan kopi Elixir itu boleh saja berpenampilan santai dan menutupi kebusukannya dengan wajah tampan, tapi bagi Elliot yang sudah tumbuh dengan banyak berandalan, Elliot tau kalau ada sesuatu yang tidak beres menyangkut si keriting itu.
Demian Bellamy, pria itu memancarkan aura iblis.
"Hmmm..., tempat yang sangat unik...," sebuah suara menyela pemikiran Elliot.
Chef berusia 30 tahun itu menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang pria dengan wajah yang anehnya, terkesan familiar, tapi asing.
Pria itu menatap ke sekitar Elixir, memindai kesetiap sudut lantai sampai ke langit-langit.
Penampilannya yang cukup tebal dan hangat membuat Elliot mengernyit heran. Maksud Elliot dalam 'tebal dan hangat' di sini adalah sweater biru muda kebesaran yang pria itu kenakan, ditambah lagi celana jeans putihnya yang panjang.
Dia terlihat lembut seperti sebuah macaron blueberry di atas piring porcelen putih. Dia seperti tidak pada tempatnya, tidak pada musimnya juga.
"Apa musim dingin datang lebih awal tahun ini?" Elliot tanpa bisa menahan isi kepalanya, berbicara pada Jessica. Rupanya, Jessica juga memindai si tamu baru tersebut.
"Hush!" Jessica menepuk tangan Elliot. Tidak sopan, pikir Jessica.
Tamu baru di Elixir tersebut melenggang menuju meja bar. Ia melempar lirikan kepada Jessica dan Elliot sebentar. Sepasang netra kelamnya tidak menunjukkan ketertarikan, tapi tidak pula ada kesan buruk di tatapannya. Dia hanya tidak peduli.
"Selamat datang di cafe kami," Ethan menyapa. "Ini pertama kalinya aku melihatmu di sini."
Mungkin turis, adalah apa yang Ethan pikirkan. Habisnya, ini Las Vegas. Manusia dari berbagai tempat keluar masuk di kota ini setiap hari.
"Mm," si tamu mengangguk. "Ini pertama kalinya, memang."
"Aku harap kau menikmati momen pertamamu di sini."
Sementara Ethan berbicara kepada si pengunjung baru, Jessica yang berjarak tiga kursi dari si pengunjung itu, memperhatikannya lekat-lekat.
Sesuatu yang familiar tentang pria bersweater biru itu membuat Jessica kebingungan, ia sulit menurunkan pandangan. Tidak, ini bukan karena pria itu tampan (walau faktor itu bisa masuk perhitungan). Alasan Jessica mengamati si pengunjung itu adalah karena penampilan fisiknya yang sangat..., familiar?
"Menyukai apa yang kau pandang?" Pria itu menoleh ke arah Jessica dan terang-terangan menanyainya.
Spontan saja, Jessica merasa panas merayap di wajahnya. Rasa malu tumpah-ruah menyelimutinya. Ia tertangkap basah.
"Ma-maafkan aku, a-aku sudah tidak sopan."
__ADS_1
Sialan, maki Jessica. Mengapa dia menjadi seperti ini? Hanya karena pria itu mirip dengan Demian..., oh, benar. Dia mirip Demian!
"Tidak masalah, aku sudah biasa ditatap seperti itu."
Apa maksudnya dia sudah biasa menjadi pusat perhatian? Apa dia artis atau hanya narsis?
"Kalau kau penasaran," si pria lanjut berbicara. "Aku berpakaian seperti ini karena sistem imun tubuhku yang rendah. Aku gampang terkena penyakit."
"Hah?"
"Kau menatapku karena penampilanku, bukan?"
Oh, eh?!
Tebakan Jessica ternyata salah. Pria itu tidak bermaksud ngartis atau narsis. Dia--apa maksudnya dia sudah biasa menjadi pusat perhatian dalam makna negatif? Nurani Jessica merasa berdosa.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak menatapmu karena itu."
Walau awalnya Jessica memang heran, tapi ia tidak memikirkan penampilan pria itu berkepanjangan. Jika bukan karena pria itu yang mirip Demian, Jessica mungkin tidak akan memandang pria itu seperti pot antik di museum.
"Maafkan aku sekali lagi, ya. Aku sudah menciptakan kesalah-pahaman. Aku hanya merasa kau cukup familiar. Aku tidak bermaksud lain-lain."
"Meskipun ada maksud lain juga tidak masalah. Aku sudah biasa memperoleh tatapan miring dari orang baru yang kutemui."
"Itu jelas masalah. Kau berpenampilan normal, kau berhak memakai apa pun yang membuatmu merasa aman dan nyaman, itu bukan tempatku atau siapa pun di dunia ini untuk memandangmu miring." Jessica menjadi bijaksana di sana. Elliot yang berada di belakangnya jadi tertawa.
"Maafkan dia," tambah Elliot. "Dia memang serius menatapmu karena kau familiar. Tidak ada makna lebih."
"E-eh?" Apa dia serius?
"Huahahaha, aku bercanda. Mana mungkin pria lemah sepertiku mampu melakukan itu."
Jessica meneguk ludah terpaku.
Sial, senyumnya pun sangat mirip dengan Demian. Dari mana datangnya makhluk satu ini?
"Omong-omong, apa aku semirip itu dengan orang yang kalian maksudkan? Aku penasaran, habisnya kalian menatapku seperti melihat hantu."
"Sangat mirip," ujar Elliot, "Hanya saja, orang yang kami maksudkan lebih berkulit tan dan memiliki kening yang lebih tebal darimu."
"Aaaaah, apa ini pacarmu?" si tamu--Erthian Bellamy--mengarahkan tanyanya kepada Jessica.
"Pa-pacar? Tidak, bukan..."
Rencananya, Jessica memang ingin menjadikan Demian pacarnya. Namun, harapan itu masih terlalu jauh dari jangkauan tangan. Jessica tidak merasa upayanya dalam membuat Demian terguncang akan segera berhasil. Jessica tidak percaya diri kalau upayanya saja cukup untuk melelehkan hati pria itu. Demian, dia terlalu jauh.
"Kopimu," Ethan menyela konversasi awkward itu dengan meletakkan secangkir kopi hitam tanpa gula di meja. Kopi pesanan Erthian sedikit mirip dengan Demian juga, akan tetapi Demian selalu menambahkan gula di gelasnya.
"Maaf sudah mengganggu pagimu dengan mendengarkan omong kosong kami. Aku merasa bersalah." Sangat tidak profesional bagi Jessica untuk mengajak customer-nya tersebut bicara. Dia yang datang kemari sendirian bisa saja diartikan sebagai ketidak-inginannya berinteraksi dengan orang lain.
__ADS_1
"Jangan merasa bersalah. Aku sudah senang karena kau mau menemaniku mengobrol di sini. Aku, sebenarnya, sedang menunggu kedatangan saudaraku. Kami berjanji akan bertemu di sini hari ini."
"Ah, begitu, kah? Ahahaha..." Meskipun gangguannya dianggap tidak masalah, Jessica tetap merasa tindakannya sangat tidak pantas dan tidak etis.
Dia beruntung karena sekarang lawan bicaranya adalah pria baik hati, tapi bila dia sial? Dia mungkin akan berujung memakan bola matanya sendiri.
"Pokoknya, sekali lagi, maafkan aku."
"Mm." Erthian mengangguk.
Dia sudah merasa cukup mendengar rangkaian permintaan maaf Jessica yang tidak ada habisnya.
'Kalau dia tau dia akan menyesal, seharusnya dia tidak menggangguku dari awal! Jika ini di Italy, kau tidak akan selamat sama sekali.' Erthian membatin dengan seulas senyuman yang terpatri ramah--bertolak belakang dengan isi kepalanya sekarang.
"Kau pasti merasa tidak nyaman," Ethan yang berada di seberang meja turut bicara.
Sialan, kenapa semua orang mengajaknya bicara?
"Bukan berarti aku memintamu berkompromi, tapi bos kami memang orang yang tidak enakan. Hahaha. Dia kerap meminta maaf berulang-ulang kalau dia sudah membuat kesalahan."
"Ethan, jangan mengekspos aibku sembarangan."
"Bos?" Erthian menoleh ke Jessica. Gadis itu kembali tertawa hambar.
"Mm, begitulah."
Seorang wanita yang menganggapnya familiar, dan pemilik cafe ini..., jangan-jangan dia...
Kilas ucapan Oscar tadi pagi kembali terngiang di benak Erthian. Seperti alarm peringatan.
"Jika kau mau tau apa yang adikmu biasa lakukan pagi-pagi begini, dia sering mampir ke sebuah cafe bernama Elixir di Almond street. Pacarnya bekerja di sana."
Apa dia pacar Demian? Ketertarikan Erthian membuncah meriah.
"Ini tempat yang sangat mengesankan," sedikit intonasi dalam suara Erthian berubah menyiratkan keramahan. "Omong-omong, aku Erthian. Aku baru datang dari Italy kemarin, jadi aku cukup canggung dalam bicara."
Karena perbedaan bahasa antara Italy dan Amerika, Las vegas tepatnya, Erthian sengaja memanfaatkan itu untuk menutupi sikap tak ramahnya sebelum ini. Walau sebenarnya itu hanya alasan saja.
"Eh, tapi kau kedengaran sangat fasih, kok."
"Begitu, ya? Kurasa hasil latihanku terbayar. Hanya saja, kepercayaan diriku kadang-kadang menyusut. Ahahaha."
"Oh, tidak masalah sama sekali. Malah, itu wajar. Kalaupun kau kesulitan, kau bisa berbicara dengan bahasa ibumu. Kami akan berusaha sebaik kami untuk mengerti."
"Iya, apalagi sekarang segala sesuatu sudah ditemukan solusinya oleh internet." Ethan menyetujui.
Saat itu pun, perbincangan mereka mulai berkembang. Mulai dari membahas aplikasi penerjemah, kemajuan teknologi, cita-rasa kopi dan berbagai hal lain yang membuat pembicaraan mereka sulit terhenti.
Elliot yang tidak terlalu ramah pada orang baru minggat ke posnya, meninggalkan Jessica dan Ethan yang beramah-tamah pada si tamu baru yang anehnya, terkesan begitu ambigu.
__ADS_1
Elliot merasa seperti pria itu palsu.
*