
Semilir angin menyapa wajah Jessica, datang dari balkon jendela yang terbuka. Angin itu membelai lembut wajah pucatnya yang terlelap sudah terlalu lama. Merasakan hembusan angin itu di wajahnya, menyapa permukaan kulitnya, Jessica perlahan-lahan menemukan kesadarannya.
Jessica sedikit kedinginan.
"Demian..." bisik Jessica. Sambil berbisik lemah, sepasang emeraldnya yang enggan terbuka menyorot pada keberadaan samar yang berada di depan bingkai pintu kamarnya.
"Tutup jendelanya kembali," ujar Jessica lagi.
Jessica merasa begitu lelah dan mengantuk hari ini.
Kemarin, semua yang terjadi kemarin sudah menguras habis energi Jessica. Jessica tidak mempunyai kekuatan untuk sekedar bangkit dan menggerakkan tulangnya. Jessica lelah. Jessica hanya ingin tidur seharian dan mengumpulkan seluruh energinya yang terbuang.
"Baguslah kalau kau sudah bangun," ucapan Demian menyapa indera pendengaran Jessica, disertai dengan suara langkah kakinya. Bayang-bayangnya yang membelakangi cahaya, mendekat dalam gerak lambat.
"Mengapa kau bangun lebih awal," Jessica berujar heran. Tidak biasanya bagi Demian untuk bangun lebih awal darinya. Pria itu hantu bantal.
"Menurutmu kenapa?"
Mungkin karena terang cahaya matahari pagi yang tumpah di kamarnya, Jessica menjadi kesulitan melebarkan mata. Indera penglihatan Jessica semakin berat di bawah cahaya terang itu.
Jessica berupaya menatap mata Demian saat itu juga, mencoba menanyai mengapa kekasihnya itu menjadi begitu segar pagi ini? Jessica bahkan mampu mencium aroma citrus tajam yang menguar dari tubuhnya.
"Tunggu...," Jessica merasakan kejanggalan tiba-tiba. Aroma itu bukan ciri khas Demian.
Memaksakan dirinya membuka mata, Jessica pun menemukan sosok lain sekarang berada di atasnya. Memblokade geraknya dengan dua lengan yang mengunci pergelangan tangannya.
Sosok itu...
"Tidak..., tidak!!!" Suara Jessica tercekat.
"Jessica, mari bermain sekali lagi. Aku masih punya cukup energi untuk menyentuhmu di sini."
"Menjauh! Kau..., apa yang kau lakukan di sini?! Berhenti! Menjauh dariku!" Tidak mungkin. Ini sama sekali tidak mungkin.
Mengapa Erthian Bellamy berada di kamarnya, mengapa pria itu menyentuhnya?
"Jangan begitu jahat, Jessica. Apa kau lupa betapa kau menikmati momen ketika kita bersama..., hahahaha..., mengaku saja! Kau menyukai ini, bukan?"
Ketika ujung jemari dingin Erthian menyapa kulitnya, segala perasaan menjijikkan berbaur dengan kebencian membuncah di dada Jessica. Memenuhi kerongkongannya sampai ia mau muntah.
Jessica ingin menyingkirkan pria itu dari hadapannya, meludahinya. Namun, seperti tersihir, tubuh Jessica membatu dalam waktu. Ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya seinci pun.
Hanya suara di kepalanya yang berseru keras menolak keberadaan Erthian. Ia berupaya sekuat tenaga untuk berteriak, tapi ia tidak mampu mengatakan apa-apa. Bibirnya terpaku rapat di luar kendalinya. Seakan-akan tubuhnya bukan miliknya.
"Tidak! Menjauh dariku! Pergi! Pergi!!!" Jessica meraung tak terkendali, tapi tak ada suara yang terdengar sama sekali.
Tanpa menaruh peduli pada Jessica, Erthian melanjutkan sentuhannya. Ia menempati tubuhnya di antara kaki Jessica yang terbuka. Memaksa tubuh itu patuh padanya. "Sekarang, aku akan memberikanmu kenikmatan yang paling kau dambakan, Jessica."
Menyadari di mana posisi Erthian, Jessica meronta sejadi-jadinya. Ia terisak ngeri di sana. Jessica ketakutan dan semakin takut ketika ia menyadari tak ada satu pun jeritannya didengar oleh Erthian. Segala jeritan dan raungan Jessica hanya terperangkap di kepalanya. Tidak mencapai siapa-siapa.
Jessica merasakan penderitaannya sendirian. Ia menyaksikan langsung bagaimana si keparat itu menanamkan sensasi menjijikkan di tubuhnya. Menghancurkannya. Jessica merasa ia lebih baik mati saja.
Jessica memejamkan mata, mencoba menyangkal situasi yang terjadi di depan matanya. Ia memejamkan mata dan ketika keheningan tiba-tiba menyapanya, Jessica terbangun dalam keadaan tubuh yang tersentak.
Seperti mendapatkan kejutan listrik, tubuh Jessica bangkit terduduk dengan mulut menyerukan 'Tidak!'.
Seruan Jessica lepas dengan kencang sampai Jessica terkejut oleh suaranya sendiri. Ia terbatuk-batuk serak akibat teriakannya yang tak terkendali.
Jessica..., dalam tubuh yang dilanda gemetar luar biasa, mengambil napasnya dengan buas. Ia tercekik oleh rasa takut yang tertinggal di otaknya, tercekik oleh teror yang muncul di benaknya.
"Ini hanya mimpi, barusan itu hanya mimpi." Jessica bicara pada dirinya sendiri, mengingatkan dirinya kembali bahwa segala situasi yang terjadi hanya mimpi. Itu adalah mimpi terburuk dan termengerikan yang pernah ia alami. Mimpi itu hanya sebatas mimpi. Mimpi itu tidak benar-benar terjadi.
"Haaaaa..." Jessica mengembuskan napas panjang-panjang dari bibirnya. Sembari ia mengatur napasnya juga, Jessica menyadari kalau sekarang ia berada di kamarnya. Dia berada di zona amannya.
Terakhir kali di ingatan Jessica, ia bersama Demian di mobil dan kemungkinan, tertidur di lengan pria itu.
Demian pasti membawanya ke kamar dan menidurkannya di sini.
"Demian?" Jessica menapakkan kakinya di lantai perlahan-lahan, tubuhnya masih terasa lunglai akibat stress yang ia alami kemarin. Jessica menatap ke sekeliling kamarnya, mencari keberadaan Demian yang hampa.
"Demian?" Jessica kembali memanggil nama pria itu.
Namun, tidak ada tanggapan apa pun. Di kamar itu hanya ada Jessica. Demian--entah sejak kapan--sudah tidak ada di sana.
__ADS_1
"Kemana dia?"
Jessica bergumam dengan sedikit kekecewaan dan kecemasan. Jessica tidak mau Demian pergi, sebenarnya. Ia ingin Demian menemaninya seharian ini dan menenangkan hatinya yang sudah mengalami situasi berat kemarin. Jessica hanya menginginkan Demian berada di sampingnya.
"Oh?" Menemukan selembar notes di atas meja balkon, Jessica akhirnya tau di mana keberadaan Demian sekarang.
...'Aku perlu bertemu dengan bibiku hari ini, aku akan kembali nanti malam....
...Untuk sementara, beristirahatlah. Aku sudah memberitahu Dania kalau kau akan mengambil jadwal libur hari ini. Jadi, pulihkan dirimu dan jangan lupa mengabariku kalau ada sesuatu. Love you, Demian.'...
...*...
Dania menaruh makanan untuk Jessica di atas meja.
Ada banyak pertanyaan menyeruak di benak Dania menyangkut situasi yang terjadi tempo hari. Dania masih belum melupakan keterkejutannya ketika ia melihat Demian datang membawa Jessica di dalam gendongannya.
Dania mengira sesuatu yang sangat buruk telah terjadi pada Jessica, tetapi..., untungnya, kala itu Demian mengatakan Jessica hanya terlelap saja.
Dania hampir jantungan.
Sekarang, ketika Dania melihat Jessica berada dalam kondisi yang lebih baik dari kondisinya kemarin, Dania merasa ia bisa bernapas sedikit lega. Tentu saja, bersamaan dengan napasnya yang berembus tenang, sebuah pertanyaan mulai bermunculan.
Tanpa basa-basi, akhirnya Dania menyuarakan tanyanya. Hal yang sudah menyumbat di benaknya.
"Apa yang sebenarnya terjasi kemarin?" Dania duduk di sebelah Jessica, keberadaannya pun sukses membuat lamunan Jessica buyar. Jessica menoleh ke arah Dania sebentar dan melemparkan seulas senyum masam.
"Aku tau hubunganmu dan Demian sepenuhnya adalah tanggung jawabmu, urusanmu. Namun, aku mencemaskanmu, tau. Aku sangat terkejut ketika kau datang dalam keadaan tak sadarkan diri, kemarin."
"..."
"Aku ingin melakukan sesuatu..., tapi aku tidak tau apa pun. Rasanya itu agak menyiksaku."
Mendengarkan penuturan panjang Dania, Jessica lalu meraih pergelangan tangan sahabatnya. "Dania..., jika aku bercerita padamu, aku harap kau mendengarkanku dan menaruh kepercayaan penuh padaku."
"Apa-apaan dengan permintaan itu? Aku akan selalu mempercayaimu."
Dania menatap Jessica di mata, tatapannya yang bertemu iris emerald Jessica seperti berusaha meyakinkan Jessica kalau Dania akan selalu mempercayai sahabatnya itu. Dania akan selalu percaya pada Jessica.
Dimulai dari seuntai kata, Jessica pun mulai memperjelas segala situasi yang sudah terjadi sebelumnya. Hal-hal yang menimpanya, hal-hal yang ia percaya, dan hal-hal yang tidak ia percaya. Kendati Jessica memberikan beragam detail yang berujung menyudutkan posisinya, cara Dania menatap Jessica tidak berubah. Dania mencermati setiap ucapan Jessica dengan kepercayaan yang sama.
"Apa kau sudah mengatakan pada Demian apa saja yang sudah terjadi?"
"Aku tidak memberitahukan detailnya, tetapi aku sudah memastkan pada Demian kalau tidak ada yang terjadi."
"Apa dia mempercayaimu?"
Jessica mengangguk. "Demian mempercayaiku," ujar Jessica. Untungnya, Demian mempercayainya.
"Itu melegakan," tutur Dania akhirnya. "Aku sangat tidak habis pikir kalau ternyata pria itu mempunyai saudara gila. Dia pasti melakukan itu untuk mengacaukan hubungan kalian."
"Mm..." Jessica mengangguk dalam diam.
"Dengar, Jesse. Kurasa, agar hubungan kalian bisa berjalan dengan tenang, kau harus memastikan Demian menyelesaikan masalah keluarganya. Aku tau dia mempunyai keluarga di Italy sana, tetapi..., itu tidak berarti bila dia ke sana dia tidak akan pernah kembali. Lagipula, daripada seperti ini..."
"Aku tau maksudmu, tetapi..."
Membiarkan Demian kembali ke Italy bukanlah sesuatu yang gampang bagi Jessica. Rasa takut yang berbaur dengan kecemasan memenuhi benaknya, disertai berjuta tanya yang hanya akan menambah kekhawatirannya.
Jessica--kendati ingin Demian melepaskan masalahnya--masih takut membiarkan pria itu pergi. Karena di mata Jessica, di benak Jessica, keberadaan Demian sekarang sangat berarti seperti Charlotte.
Jessica menyimpan ketergantungan tinggi pada Demian, Jessica takut ketika ia melepaskan Demian, pria itu akan memudar hilang.
...*...
Demian kembali dari pertemuannya bersama Hestia ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia melenggang tenang menuju kamar Jessica. Hendak menyapa kekasihnya yang masih berbaring sendirian di kamar.
"Aku kembali," adalah ucapan Demian ketika ia menapakkan kakinya di kamar Jessica. Sepasang manik kelamnya menyorot ke arah Jessica yang masih bertahan dengan ekspresi muram.
Menyadari kedatangan Demian, Jessica pun perlahan-lahan bangkit dari tempat tidurnya.
Ternyata, pikir Jessica, tidak melakukan apa-apa juga menguras tenaga. Jessica merasakan tubuhnya menjadi lebih lesu ketika ia bersungut bangun. Namun, Jessica memaksakan dirinya agar tetap bangun dan menyapa Demian.
"Akhirnya kau kembali..." Jessica menatap Demian sembari melebarkan kedua tangan. Demian--membaca gestur Jessica--segera saja menghampiri wanita itu dan memberikannya sebuah pelukan lembut penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Apa kau merindukanku? Kau menjadi lebih manja hari ini."
"Aku mencemaskanmu, aku takut sesuatu terjadi padamu ketika kau menemui mereka." Jessica berujar jujur di sana. Memikirkan kegilaan Erthian, Jessica takut Demian akan berujung dipermainkan.
Jessica menyandarkan kepalanya di dada bidang Demian. Sembari bersandar di sana, Jessica memperoleh kenyamanan dari dentuman jantung Demian yang tenang. Jessica merasa aman.
"Apa yang terjadi selama aku pergi? Apa kau sudah makan?"
Mencoba meringankan topik pembicaraan di antaranya dan Jessica, Demian bersikap seakan-akan ucapan Jessica barusan tak sampai ke telinganya. Ia, demi tidak membuat Jessica semakin terpuruk, berusaha membicarakan hal lain.
"Aku sudah makan," ujar Jessica. "Dania membawakan sup untukku."
"Sup saja? Ugh, sungguh mengecewakan." Demian memutar mata. "Kau seharusnya makan sesuatu yang lebih nikmat dari itu."
"Aku memang sedang tidak nafsu makan, sih..." Jessica memaksakan senyuman. Bagaimana bisa dia nafsu untuk menyantap sesuatu ketika pikirannya terus membawa ia pada ingatan yang sama. Ingatan ketika ia meneguk racun yang disuguhkan Angela untuknya.
Jessica, mengingat momen itu, seketika mual dan muntah.
"Aku membawakan sesuatu untuk membuatmu lebih bersemangat."
"Apa itu?"
"Sesuatu yang lezat." Demian mengingat satu tas makanan yang sudah ia beli di jalan pulang. Tas itu pula sekarang ia ayunkan di depan wajah Jessica.
"Ayo, kau akan suka ini." Mengulurkan tangannya untuk membantu Jessica bangkit, dan setelahnya, Demian pun menuntun gadis itu ke balkon.
Di balkon, Demian mengurai beberapa kotak makanan di meja. Beberapa darinya adalah makanan yang sempat Jessica nikmati bersama Demian di restoran jepang hari itu. Satu box yakisoba, sushi, okonomiyaki dan paling utama adalah menu yang tidak sempat Jessica cicipi sebelumnya, takoyaki.
"Aku membeli semua ini di restoran hari itu..." Demian berbangga diri. Walau awalnya ia agak kesulitan memesan nama-nama makanan yang tertera di menu, Demian pada akhirnya berhasil setelah dituntun dengan sabar oleh salah satu pelayan yang bekerja di sana.
Demian berhasil membeli makanan lain selain sushi!
"Waaaahhhh..., ini semua kelihatan lezat...," menatap pada makanan yang terbentang di atas meja, menguarkan aroma sedap yang menggiurkan lidah, Jessica mau tak mau kembali menemukan nafsu makannya kembali. Ia meraih sumpit dan mencapit satu-persatu menu makanan yang terurai di depan matanya.
Setiap gigitan dan kunyahan pula, Jessica meringis puas atas nikmat yang berlabuh di lidahnya.
"Kau harus mencoba ini," tutur Jessica. Ia--melupakan sejenak segala kejadian yang terjadi sebelumnya--nampak berbinar-binar ria di sana. Demian merasa ia sudah melakukan hal tepat Setidaknya, kali ini ia sudah melakukan hal yang tepat. Demian merasa tenteram ketika melihat Jessica-nya kembali ceria.
Ekspresi berbahagia itu sangat pas untuk Jessica, dia tidak pantas menderita. Dia tidak pantas meneteskan air mata.
Selama Jessica mencicipi satu persatu makanan di meja, Jessica juga memaksa Demian makan bersamanya. Demian pun menurut saja, demi tidak membuat mood Jessica rusak.
Lalu, seperti yang sudah Jessica katakan, makanan yang tersaji di meja memang begitu mengesankan di lidah. Demian sama sekali tidak heran mengapa Jessica menjadi berbunga-bunga setelah menyantap sejumput makanan di sana.
Setelah berpuluh-puluh menit terpaku hanya untuk meresapi rasa makanan tersebut, Jessica kemudian mengambil jeda sebentar untuk menyesap segelas air putih. Ia melenggang ke dapur sendiri dan kembali dengan dua gelas air putih. Satu untuk dirinya dan satu untuk Demian.
"Kau harusnya mengajariku cara melafalkan nama-nama makanan ini dan membedakannya. Aku kecewa karena selama ini hanya mengenal Sushi saja." Demian berujar sambil menerima gelas yang disodorkan Jessica untuknya.
"Itu bukan perihal yang sulit," tanggap Jessica, ia duduk di hadapan Demian sambil mencicipi sisa-sisa dari saos takoyaki di piringnya. Sambil mencicipi saos itu juga, Jessica melemparkan tatapan ke arah Demian yang masih makan dengan tenang.
"Kalau aku boleh tau," Jessica memancing sebuah pembicaraan baru, "Apa yang kau dan bibimu bicarakan hari ini, Demian?"
Mendengar pertanyaan Jessica, kunyahan Demian pun perlahan-lahan terjeda. Demian--memberikan tatapan pada Jessica--ekspresinya menegang daripada biasa.
"Dia ingin aku pulang," jawab Demian.
"Ah..." Jessica sudah menduga itu.
"Tapi aku tidak akan pulang tanpamu," lanjut Demian kembali.
"A-apa?" Apa Jessica tidak salah dengar?
"Jessica...," Demian meraih pergelangan tangan Jessica, senyum pria itu merekah tulus kendati sebuah saos terlukis di dagunya.
"Aku hanya akan pergi bila kau mau pergi bersamaku."
"Eh, tapi..., apa?"
"Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian di sini, aku mencemaskanmu dan takut bila sesuatu terjadi padamu. Karena itu Jesse, bila kau mau..., bila kau mengizinkanku, ikutlah bersamaku ke Italy dan mari selesaikan semua yang sudah terjadi di sini."
"..."
...****************...
__ADS_1