MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
122. Menemukannya.


__ADS_3

"Kita akan pulang ke Vegas besok."


Oscar memberitahu Jessica informasi itu ketika mereka sedang menyantap makan siang bersama di sebuah cafe. Mendengar kabar tersebut, Jessica merasakan kelegaan dan anehnya, sedikit kekecewaan. Entah apa yang ia harapkan.


Mungkin ia sedih harus meninggalkan negeri yang penuh keindahan ini. Atau mungkin, memikirkan ia akan memulai hidupnya di Vegas tanpa Demian adalah salah satu alasan jantungnya berdenyut menyakitkan.


Jessica sama sekali tak mengerti dengan dirinya sendiri.


"Jadi, Jesse..., bagaimana pendapatmu setelah beberapa hari ini berlibur bersamaku?"


"Tidak begitu buruk," ucap Jessica.


Mengesampingkan kalau ia harus menemani Oscar mengambang di tengah lautan, menemani Oscar berbelanja pakaian mahal di mall selama berjam-jam, liburan bersama Oscar tidak begitu buruk. Jessica masih bisa menoleransi keunikan pria bermata sapphire itu.


"Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk..." liburan? Kelelahan? Makan seperti babi? Tidur di kamar hotel mahal? Foya-foya?


Jessica memikirkan kata-kata yang pas untuk melanjutkan ucapannya, tapi kata-kata yang muncul di benaknya mengandung konotasi negatif dan hanya akan membuat ucapannya terkesan sarkastik. Jessica akhirnya merangkum semua negativitas itu ke dalam satu kata.


"Semuanya," adalah kata yang tepat. "Terima kasih untuk semuanya."


"Terima kasih sudah mau menemani liburanku, sebenarnya." Oscar terkekeh. "Anyway, apa rencanamu ketika kembali ke Vegas?"


"Tidak ada yang spesial, kurasa. Aku hanya akan melanjutkan pekerjaanku seperti biasa."


"Bagaimana kalau Demian muncul kembali di sana?"


"Dia tidak akan muncul, well..., aku tidak yakin dia akan muncul karena dia mempunyai tanggung jawab yang besar sekarang. Kalaupun dia muncul, yah, aku tidak tau."


"Aku rasa dia akan muncul. Dia akan meneteskan air mata dan memohon maaf kepadamu sambil berdiri dengan kedua lututnya."


"Apa dia aktor telenovela?" Jessica merotasikan matanya. "Lupakan saja. Aku hanya ingin kembali ke Vegas dan memulai ulang semuanya. Restart."


"Hmmm, okay then."


Setelah menanggapi ucapan Jessica, Oscar pun melanjutkan makan siang mereka dengan tenang. Tidak banyak kata yang tertukar di antara mereka, hal itu pula menjadi salah satu alasan mengapa Jessica tidak begitu membenci liburannya bersama Oscar. Jessica merasa lega karena pria itu tidak banyak bicara. Dia hanya bicara panjang lebar dalam satu topik yang menarik minatnya dan setelah itu, dia kebanyakan bungkam.


Satu jam kemudian berlalu.


Karena besok mereka akan kembali ke Vegas, Oscar menawarkan Jessica untuk berjalan-jalan di pasar dan membeli beberapa bingkisan untuk dibawa pulang. Jessica menyetujui ide itu karena jujur saja, Dania mencecarnya dan menagihkan hal yang sama. Jessica akan merasa berdosa bila ia kembali dengan tangan kosong setelah selama ini sudah merepotkan Dania, Elli dan Ethan dengan pekerjaannya.


"Sayang sekali kita tidak berada di Milan," ujar Oscar. "Kalau kita di Milan, kau bisa berbelanja barang-barang mahal yang oh, kau pasti tau kalau brand-brand besar dan ternama lahir di kota Milan, kan?"


"Aku tau," sahut Jessica. "Tapi aku tidak berminat untuk membeli barang-barang mahal. Kami..., aku dan teman-temanku maksudku, menyukai barang yang praktis dan kuat untuk dipakai seumur hidup."


"Itu menggemaskan" ujar Oscar kembali, "Pemanasan global dan kerusakan ekosistem akan mereda bila seluruh umat di Bumi berbagi selera yang sama dengan kalian berdua."


"Apa itu pujian atau hinaan?"


Oscar mengendikkan bahu. "Jangan terlalu dipikirkan."


Karena Oscar enggan memberikan tafsiran panjang menyangkut ucapannya yang terkesan sarkastik, Jessica pun tidak ada niat menuntut penjelasan lebih. Jessica melewatkan topik itu dan mulai melenggang di keramaian pasar untuk membeli beberapa barang unik yang merupakan ciri khas kota Bologna.


Beberapa turis bersua jalan dengannya, di beberapa toko, di jalan raya, di setiap tempat singgahnya, Jessica menemukan beragam turis dari berbagai benua berkumpul di pasar Bologna.


Melihat turis-turis itu juga, Jessica jadi teringat waktu ketika ia bertemu dengan Alex. Seorang turis yang ia manfaatkan untuk memicu amarah Demian.


Lucunya, trik itu berjalan dengan kesuksesan. Jessica sama sekali tidak mengira kalau sisi pencemburu Demian sangat tinggi sampai dia muncul di hadapan Jessica ketika dia seharusnya sibuk bekerja.


"Aku penasaran apa trik itu masih berguna..." Jessica bergumam pada dirinya sendiri. Mata terpikat kepada turis-turis asing yang jujur saja, mempunyai paras rupawan yang mengagumkan matanya.

__ADS_1


"Apa yang berguna?" Oscar muncul dari belakang Jessica dan menyerahkan satu styrofoam yang berisi 4 buah arancino, sebuah snack bola nasi yang digoreng dengan tepung roti, daging, saos tomat, kacang polong, dan keju. Jessica menerima snack tersebut dengan tangan terbuka.


Jessica cukup menyukai arancino, sebenarnya. Ini sudah kali ke empat ia memakan jajanan yang sama selama menetap di Bologna.


"Tidak ada," jawab Jessica. "Hanya kepikiran sesuatu."


"Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari?"


Jessica mengangguk. "Beberapa..."


"Kalau kau masih ingin berjalan-jalan di sini, titipkan saja tasmu padaku. Aku akan menunggumu di--" Oscar menjeda ucapannya selagi matanya memindai kiri dan kanan bangunan yang melingkupi jalanan pasar itu. "Oh, di sana."


Mata Oscar berhenti pada sebuah coffee shop yang dibangun dengan bahan kayu, dan dicat dengan warna cokelat redup.


"Jangan berjalan-jalan terlalu jauh," ujar Oscar. "Kalau bawaanmu terlalu banyak, kau bisa meneleponku. Aku akan mengirimkan orangku untuk menemuimu."


"Oke."


"Apa kau akan baik-baik saja sendirian?"


"Aku baik, Oscar. Don't worry. Nikmati kopimu dan aku akan kembali mungkin..., setengah jam lagi? Aku ingin melihat-lihat terlebih dulu."


"Well, then. Sampai bertemu setengah jam lagi."


Setelah melambaikan tangan pada Oscar yang melenggang menuju coffee shop yang cukup mencolok di jalan itu. Jessica pun memutar langkahnya dan melanjutkan aktivitasnya semula, yaitu berbelanja. Jessica mencari beberapa dekorasi dinding yang lucu untuk hiasan kamarnya. Ia juga membeli beberapa makanan kering yang bisa dia bawa kembali ke Vegas.


Jessica menikmati ketentraman yang ia rasakan sekarang, kendati ia berada di keramaian. Jessica merasa ia telah menemukan kedamaian setelah sebelumnya ia terjebak dalam pikiran yang penuh keriuhan dan kesesakan.


Kendati Jessica mempunyai kendala dalam berbahasa, untungnya, lokasi tempatnya berbelanja sekarang adalah lokasi yang ramah turis. Beberapa penjaga toko tempatnya bersinggah memahami bahasanya dan melayaninya dengan penuh keramahan.


'Sungguh mengagumkan,' pikir Jessica. Tempat ini mungkin adalah surga di Bumi.


Semua orang sangat baik hati.


Ini adalah masalah berbelanja tanpa membuat catatan apa-apa. Jessica kerap lupa pada hal-hal yang sebelumnya ia dambakan dan ketika sudah pulang, barulah ia dilanda penyesalan.


Menghela napas.


Jessica memilih menjeda aktivitas berbelanjanya dan mulai menyantap arancino yang diberikan Oscar padanya. Jessica berdiri menghadap keramaian orang-orang, pundak bersandar di sebuah pilar besar yang berseberangan dengan penjual buah-buahan.


Jessica mengamati keramaian itu sambil mengunyah lamban arancino yang berada di mulutnya. keju mozarella yang menjadi filler dari arancino tersebut melumer di lidahnya, menciptakan kenikmatan yang membuatnya berdecak senang.


'Elixir harus menjual ini nanti,' Jessica mulai merancang strategi bisnisnya di sana. Ia sudah merasakan berbagai menu di Italy dengan beragam model dan rasa. Jessica ingin mencoba menu-menu baru yang ia temui di sana dan mengadaptasikannya di Vegas. Itu pasti luar biasa. Anggap saja terobosan baru.


Ya, ini wajib dico--ba.


"..."


"..."


Buyar.


Segala isi kepala Jessica buyar. Kehampaan mengambil alih seluruh ruang, berbaur dengan keterkejutan. Sebuah wajah familiar yang membuat jantungnya berdegup menyakitkan muncul di seberang jalan. Kehadirannya di sana cukup membuat waktu berjalan dalam gerak lamban. Bumi seperti berhenti berotasi dan dunia mendadak sunyi.


Jessica yang menyaksikan keberadaan sosok itu memasuki jangkauan pandangnya menjadi terhenyak dan terpana. Sebagian dirinya berharap kalau pria bersurai ikal dengan sepasang iris kelam itu hanya ilusi yang diciptakan matanya saja. Ia barangkali begitu merindukan sosok itu hingga ia berhalusinasi.


Namun, sebagian diri Jessica yang lain tau kalau pria itu sangat nyata. Jessica tau..., sosok yang berada di seberang sana adalah Demian Bellamy.


Penghancur hatinya, perusak ketentramannya, sosok yang sudah membuat dunianya jungkir balik penuh kekacauan. Waktu Jessica yang sempat membeku, sunyi tanpa riuh, seketika berjalan dalam ritme yang laju dan menakutkan ketika pria itu menapak di hidupnya, di balkon kamarnya.

__ADS_1


Tanpa Jessica ketahui dan antisipasi, keberadaan pria itu sudah menguasai hatinya. Menuntun ia ke dalam sebuah bencana bernama cinta.


Berbeda dari ketika pria itu menapak ke balkon kamarnya, ketika ia membuat waktu berputar dengan sangat laju, sosok Demian yang kembali tertangkap mata Jessica sekarang membuat waktu terjeda. Berhenti hanya untuknya.


Mengapa dia berada di sana? Jessica bertanya-tanya, tapi sudah sangat tau jawabannya.


Demian Bellamy, dalam kemeja flanel merah dan jeans hitam tua, melenggang menyeberangi keramaian. Langkahnya meragu penuh kegugupan. Sepasang manik hitamnya menyapa mata emerald Jessica, berusaha membuat kontak mata tanpa disambut penuh kebencian ataupun penolakan.


Demian takut Jessica akan membalikkan badan dan menatapnya penuh kebencian. Walau sebenarnya ia pantas menerima itu semua. Walau ia adalah penyebab dari segala kekacauan dan kerenggangan di antara mereka. Ia seharusnya tidak berharap Jessica akan menerimanya dengan tangan terbuka.


Namun, seperti pria tidak tau malu, dia malah berharap seperti itu. Dia malah berharap Jessica akan menyambutnya dengan tangan terbuka.


Padahal, tidak diludah saja sudah berkah.


"H-hai." Demian menyapa Jessica ketika ia berada tiga langkah di depan gadis itu. Jessica yang sebelumnya bersandar di tembok bata itu, akhirnya menegapkan posisi berdirinya. Tangan mencengkeram kuat tas belanjaannya.


"Hai," sahut Jessica.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Demian lagi. Setelah nyaris dua minggu berusaha menggali dan menemukan keberadaan Jessica, Demian tak menyangka kalau selama ini gadis itu akan berada di Bologna. Di kota yang hanya berjarak lima jam dari tempat tinggalnya. Demian mengira Jessica sudah berada jauh di benua yang berbeda.


Jika bukan karena Erthian--si puzzle yang dimaksudkan Oscar, Demian tidak akan pernah mendapatkan petunjuk apa pun mengenai keberadaan Jessica di Bologna. Dia tidak akan pernah tau apa-apa karena tempat ini, kota ini bukan wilayah yang menjadi bagian dominasinya.


Ia hanya mempunyai rekan kerja di sini, tapi tidak anak buah yang bisa menjadi kaki tangannya sama sekali.


"Aku..., seperti yang kau lihat." Jessica memberikan jawaban dengan suara menyiratkan keengganan.


Demian menyelipkan tangannya di saku celana, ia berusaha menemukan topik yang bisa memulai perbincangan di antara mereka berdua. Namun, tatapan skeptis Jessica membuat Demian merasa kesulitan bicara. Ia sulit mengutarakan isi hatinya ketika tatapan dingin gadis itu menghujam dadanya seperti sebilah pedang tak kasat mata.


"Uhmmm..., itu...,"


"Apa Oscar yang memberitahumu keberadaanku?" Jessica memotong ucapan Demian.


"Tidak. Tidak sama sekali."


"Jadi..., kau menggunakan kekuasaanmu untuk menemukanku. Sungguh posisi yang bagus, kulihat itu sangat berguna untukmu."


"Jesse...," Demian menapak selangkah lebih dekat. "Aku sudah meninggalkan semuanya."


"Hah?"


Sebelum Jessica sempat mencerna maksud ucapannya, Demian tiba-tiba saja membungkuk dalam di depan Jessica. Seakan-akan ia adalah seorang prajurit yang bertemu tuannya. Pelayan yang bertemu dengan dewanya. Ia--tanpa memedulikan perhatian yang jatuh ke arahnya--membungkuk dalam-dalam di depan Jessica, mata terpejam erat sempurna.


"Maafkan aku!" suara Demian lolos dengan sendu.


"Maafkan aku yang sudah tidak mempercayaimu dan membuatmu menderita sendirian."


"De-Demian...," Jessica dilanda kepanikan. "Apa yang kau lakukan? Ini bukan teater. Berhenti melakukan ini...," Jessica lalu memaksa Demian menegapkan tubuhnya, berusaha agar pria itu mengangkat kepalanya. "Jangan melakukan ini, Demian! Kau membuatku menjadi tontonan orang-orang."


"Aku..., aku tidak akan mengangkat kepalaku sampai kau memaafkanku."


"Jangan tolol!" Jessica menepuk lengan Demian. "Kalau aku memaafkanmu dalam situasi ini, itu hanya berarti aku akan memaafkanmu karena kau menyudutkanku. Aku tidak akan pernah tulus memaafkanmu."


"Jesse..." Demian spontan mengangkat wajahnya. Ia tidak ingin mendapatkan pengampunan yang berlandaskan karena keterpaksaan. "Kumohon, jangan membenciku..."


"Kalau kau mau aku tidak membencimu, bangun sekarang juga!" Jessica menambah tendangannya di betis Demian saat itu juga.


Entah bagaimana, menjadi tontonan di keramaian membuat Jessica menjadi buas dan kejam. Ia jadi menggunakan kekerasan demi membuat Demian bangkit dari posisinya yang memalukan. "Aku akan memukulmu kalau kau mempermalukanku seperti itu."


"Aku tidak berniat mempermalukanmu, Jesse." Demian akhirnya kembali berdiri seperti semula. Namun, gurat luka di wajahnya tidak memudar sirna. Jessica menatap ekspresi sendu pria itu dengan jantung berdegup ngilu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, Demian...?" Jessica bergumam. "Kau sudah membuat terlalu banyak kekacauan."


...****************...


__ADS_2