MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
65. Sungguhan.


__ADS_3

Senyum Jessica merekah masam. Kepalanya mengangguk-angguk kecil mencerna ucapan Demian. Bahwa, Angela adalah kekasihnya. Entah sejak kapan, pokoknya dia sudah berpacaran dengan Angela. Kemungkinan besar hubungan mereka sudah berkembang lama.


Demian memperkenalkan Angela kepada Erthian, saudaranya. Itu berarti serius. Kedekatannya dan Angela berarti serius.


Hahahahaha.


Betapa tolol!


Jessica merasa sangat tolol.


Bagaimana bisa dia berusaha membuat Demian jatuh hati padanya, bila pada realita, pria itu sudah memiliki Angela sebagai kekasihnya?


Bahkan untuk menjadi idiot pun ada batasnya!


Jessica--berada di hadapan Demian, Erthian dan Angela--merasa seperti sudah dipermalukan. Jessica yang mempermalukan dirinya sendiri. Jessica malu pada pemikirannya dan jujur saja, lompat dari atas burj khalifa mungkin lebih baik daripada berada di sana.


'Astaga, ya..., apa aku berusaha menggoda pria yang sudah mempunyai pacar?' pemikiran itu spontan membuat Jessica merasa jijik.


Sakit hatinya menjadi tidak seberapa, harga dirinya yang ternoda lebih membuatnya terluka.


"Karena saudaramu sudah datang, aku akan kembali ke teman-temanku." Jessica menepuk ringan lengan Erthian. Ia hendak berpamitan. Mungkin sehabis ini Jessica akan menenggelamkan dirinya di bak mandi.


Ugh. Memaki dirinya sendiri seakan tidak cukup saat ini.


"Ah, oke. Terima kasih sudah menemaniku..." Erthian nampak bingung. Entah apa yang ia bingungkan.


"Maaf membuatmu salah paham," ujar Jessica. "Silakan mampir di lain waktu kalau kau mau, tempat ini terbuka untukmu."


Sementara Jessica berbicara dengan Erthian, Demian merasakan kehausan untuk mendorong Erthian pulang. Segala keramahan Jessica tidak pantas untuk Erthian terima. Pria itu bajingan. Dia tidak seharusnya diperlakukan dengan sopan.


Demian akan merasa lebih baik bila Jessica meludahi wajah saudaranya itu sekarang! Tapi itu mustahil, kan?!


Ughhhh...


"Sampai kapan kau mau di sini?" Demian menanyai Erthian kembali. Ia sebisa mungkin meminimalisir perhatian Erthian dari Jessica. "Apa kau sudah meminum obatmu?"


"Aku baik-baik saja, Demian. Jangan mencemaskanku. Daripada itu..." Erthian menurunkan pandangannya kepada Angela. "Kau bilang dia dari Italy?"


"Kami berada di penerbangan yang sama," ucap Angela. Sebagai sosok yang tidak tahu-menahu, langsung diakui sebagai pacar Demian, Angela mengambil peran itu penuh penghayatan.


"Jadi, kalian sudah lama berpacaran...?"


"Hanya beberapa bulan belakangan," ujar Angela. "Setelah aku dan mantanku berpisah, Demian selalu setia berada di sisiku. Dia membuat aku mengapresiasi keberadaannya dan hubungan kami berkembang menjadi lebih istimewa."


"Ah..."


"Ngomong-ngomong, aku tidak tau Demian mempunyai saudara. Kalian sangat mirip. Aku terkesima."


"Karena kami bersaudara, mempunyai raut yang mirip sudah menjadi kewajaran, bukan?" Erthian membalas ucapan Angela sambil sesekali menengok ke arah Jessica yang sekarang sibuk mengutak-atik ponselnya.


Kendati Angela berada di hadapannya dan mengaku sebagai kekasih Demian, Erthian terbenam dalam ketidak-pahaman.


Maksud Erthian, ketika bersama Jessica, Erthian merasa kalau gadis itu mempunyai kriteria yang sesuai untuk menjadi kekasih Demian. Dia hanya..., sangat merefleksikan Demian. Kasual dan simple. Berhati dan berotak. Dia adalah tipikal wanita yang kerap memikat perhatian Demian.


Erthian tau itu karena ia sudah mengamati Demian seperti kuman di mikroskopnya. Erthian sangat tau preferensi Demian, walau terkadang Demian tidak tau preferensinya sendiri. Erthian tau, wanita seperti Angela seharusnya di luar minat Demian.


Gadis itu mungkin terlihat baik hati, tapi jelas sekali otaknya kurang berfungsi.


'Apa aku keliru di sini?' Erthian merasa sangat tidak pasti.


"Kalau kau sudah puas menyelidiki hidupku, Erthian, kau sebaiknya pulang. Jangan mengganggu pekerjaan kekasihku." Demian memberi penekanan pada kata kekasih semata-mata agar otak Erthian menerima informasi itu sebagai kebenaran. Jangan sampai ada keraguan.


"Padahal aku hanya duduk santai di sini, tapi bila kau merasa aku mengganggu kekasihmu, bagaimana kalau kau menemaniku jalan-jalan hari ini?"

__ADS_1


"Aku akan membawamu kemana pun kau mau," ujar Demian. "Aku bisa melemparmu ke dalam bendungan Hoover kalau perlu."


"Lihat, Angela..., betapa kejamnya pacarmu pada saudaranya yang penyakitan. Aku menjadi sedih."


"Yaaaahahahaha, mau bagaimana lagi?" Angela merangkul lengan Demian dan tertawa. "Demian memang seperti itu orangnya. Aku akan memarahinya untukmu nanti."


"Kalian sangat menggemaskan sekali. Itu membuatku iritasi."


"Ah, eh?"


Demian segera menyela. Tidak mau Angela bertanya-tanya dan memperpanjang konversasi mereka. "Bukan apa-apa, Angela. Kembalilah bekerja, aku akan mengantar saudaraku pulang."


*


Hampa.


Sebagai gadis yang sudah diruntuhkan harapannya oleh realita, yang tersisa sudah pasti hanya kehampaan di dada. Gundah-gulana dan nestapa berpadu-padan, menyapu segala warna dari ekspresinya. Jessica--untuk pertama kalinya--memahami apa arti sesungguhnya dari patah hati. Jessica mengerti dan menyesali pemahaman ini.


Bila ia tidak tau apa-apa tentang cinta dan asmara, maka ia tidak perlu menghadapi segala permasalahan yang terjadi sekarang. Ia hanya perlu bekerja dengan normal, bertemu teman-temannya, menikmati makanan favorite, membaca buku dan tidur. Dia tidak perlu menatap ke arah balkon kamarnya dengan sudut mata yang basah oleh perasaan kecewa.


Demian sudah mempunyai pacar, demi Tuhan. Mengapa realita itu begitu menyakitkan?


"Aku merasa seperti perempuan gampangan..." Jessica mengubah posisinya menjadi telentang. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih terang.


"Demian, yaa..., kalau kau mencintai Angela, kau seharusnya tidak menggoyahkan pertahananku dengan keberadaanmu. Menyebalkan! Kalau tau begini, siapa yang akan bertanggung jawab atas hatiku?" Jessica meratap sendu.


Seketika, Jessica kembali teringat akan segala intrik yang Dania ajarkan padanya. Segala permainan hati yang berujung mempermainkannya kembali. Jessica ingat ketika ia seharusnya tidak menyerah untuk menjadikan Demian kekasihnya sebelum tanggal 24, Demian malah menghancurkan segala usahanya duluan.


"Mau apa memangnya aku dengan pacar orang?"


Mungkin pendekatan ini sejak awal memang ditakdirkan karam.


*


Angela sedang berdiri di depan cafe Elixir ketika Demian menjemputnya. Pria itu memakai sebuah motor besar berwarna merah. Sementara menunggu Angela naik ke atas motor, Demian menaruh perhatiannya ke arah balkon kamar Jessica yang lampu kamarnya masih menyala. Gadis itu belum tidur.


Sialan, jika bukan karena Erthian berada di kota ini..., Demian mungkin tidak perlu berandai-andai di sini. Demian tinggal memanjat ke atas sana dan bertemu dengan Jessica. Namun, sayangnya situasi tidak sesuai harapan Demian.


Keberadaan Erthian perlu diwaspadai. Demian tidak mau keberadaan Jessica di hati Demian diketahui oleh Erthian.


"Demian..."


"..."


"Demian???"


Ah, oh?


Sheesh.


Karena asik memikirkan Jessica, Demian sampai melupakan keberadaan Angela yang sudah siaga di belakangnya.


"Apa sih yang kau lihat di atas sana?" Nada bicara Angela agak kesal.


Barusan, arah tatapan Demian seperti tertuju ke kamar Jessica. Itu tidak menyenangkan, meskipun itu mungkin hanya sebuah kesalah-pahaman. Angela tidak mau memikirkan kalau Demian menatap kamar Jessica. Angela tidak mau itu terjadi, meskipun itu hanya skema yang ia simpulkan sendiri.


"Aku hanya kepikiran ingin makan apa sekarang." Demian mengarang bebas.


"Sambil melihat ke sana?"


"Apa maksudmu melihat ke sana, pandanganku memang terarah ke sana, tapi pikiranku sedang berada di lain. Itu pandangan menerawang, Angela." Kebohongan Demian semulus jalan tol.


"Anyway, apa kau tertarik menyantap chicken wings bersamaku malam ini? Aku ingin makan itu."

__ADS_1


"Aaaah," keluhan keluar dari bibir Angela. "Apa tidak bisa yang lain saja? Aku tidak nyaman memegang makananku langsung, rasanya agak tidak higienis."


Karena Chicken wings merupakan makanan yang disajikan tanpa peralatan makan semacam sendok ataupun garpu, Angela yang tidak terbiasa makan langsung dari tangannya menganggap itu agak..., jorok?


Angela cukup terkenal di sosial media, kalau followers-nya tanpa sengaja melihatnya di warung pinggir jalan menyantap chicken wings dengan wajah belepotan, imej 'feminim' yang dia bangun bisa ternoda.


"Jadi, kau mau makan apa?" Demian mencoba mengompensasi keinginan Angela. Toh, gadis itu sudah berjasa karena mau berpura-pura menjadi pacarnya. Tidak makan chicken wings hari ini mungkin tidak masalah. Demian bisa menyantap makanan itu nanti bersama Jessica ketika mereka baikan. Hehehe.


"Makan di terrace cafe saja, gimana? Aku sangat suka tempatnya. Juga, terakhir kali aku mampir, aku belum sempat berfoto sama sekali."


"Foto?"


"Iyaa, untuk akun sosial mediaku."


"Ah, oh..., baiklah." Demian tau itu memang kebiasaan Angela, tapi karena dia sudah sering bertemu dengan Jessica, tingkah Angela yang seharusnya sudah biasa, malah membuat kening Demian terangkat sebelah.


Setelah memutuskan akan makan di mana, Demian pun melesat menuju terrace cafe yang dimaksudkan. Mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing, dan selanjutnya, Demian menjadi fotografer Angela yang sekarang berpose di seberang meja.


Gadis itu jelita, sungguh. Namun, hati Demian merasa jenuh.


"Demian, apa membosankan?" Angela untungnya peka. "Kau sudah menghela napas berulang-ulang."


"Eh, tidak seperti itu..., aku hanya kelaparan." Demian berkilah penuh kebohongan.


"Kau yakin bukan karena kau bosan?"


"Jika aku bosan, aku tidak akan di sini." Demian menimpali sambil tersenyum tipis. "Ah, ya, Angela. Sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan padamu menyangkut peristiwa tadi pagi."


"Oh, mengenai saudaramu itu ya? Aku terkejut kau mempunyai saudara, dia sangat mirip denganmu, sudah begitu dia juga mempunyai surai ikal yang sama..., apa kalian sekeluarga seperti itu, aku jadi bertanya-tanya..., ahahaha." Angela menyerocos panjang.


"Angela," tegur Demian.


Tentunya, Demian tidak bermaksud membahas genetik keluarganya sekarang. Itu tidak penting sama sekali.


"Aku ingin meminta maaf sudah membuatmu mengaku-ngaku sebagai pacarku. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah mau bekerja sama dan membantuku, tapi tetap saja..., aku sudah membuat kesalahan."


"Eh, jadi itu yang ingin kau bicarakan? Apa-apaan..., jangan sungkan Demian. Aku melakukan itu dengan suka-rela kok."


"Walaupun begitu, aku sudah memaksamu berbohong..." Demian tau betapa Angela enggan menunjukkan kepalsuan. Ia adalah gadis yang jujur dan polos. Berlagak kalau dia adalah kekasih Demian dan mengutarakan kebohongan sudah pasti membuatnya tidak nyaman.


"Aku tidak tau apa yang kau cemaskan, Demian. Karena sejujurnya aku tidak menganggap ucapanku sebagai kebohongan."


"Ya?"


"Tentunya, kita memang belum berpacaran..., tapi..., apa yang sudah kukatakan mengenai kedekatan kita memang benar adanya. Aku memang sangat mengapresiasimu yang selalu berada di sisiku..., dan selebihnya, mengenai hubungan kita yang berkembang menjadi lebih istimewa..., aku mengharapkannya."


"..." Hah, apa?


"Demian, aku tidak keberatan menjadi kekasihmu sungguhan."


*


.


.


.


.


📣 Author notes :


Halo readers tercinta, buat yg udah mengikuti ML sejauh ini, memberikan vote, subscribe dan comment..., Terima kasih banyak atas support-nya. 🧎🏻‍♀️🧎🏻‍♀️🧎🏻‍♀️

__ADS_1


Untuk sejauh ini, author masih belum bisa crazy up layaknya penulis senior lain...🥲🥲 Habisnya, author ngetik sambil nguli full day...(kerja maksudnya). Tapi, walopun gk crazy up, author bakal usahain daily update kok...jadi...uhuhuhu..., segitu dulu...,


Semoga kalian menikmati chapter2 kedepannya, see you next.. 💐💐


__ADS_2