MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
61. Sapaan dari Neraka.


__ADS_3

"Kau tidak boleh luluh pada permohonan maaf, Demian. Jika dia segampang itu memperoleh maaf darimu, dia akan terus mengulang kesalahan yang sama. Kau harus membuatnya jera!" Peringatan Dania menghantui Jessica.


Jika bukan karena sahabatnya itu yang terus-terusan memperingatkannya hal yang sama, Jessica mungkin akan menganggukkan kepala ketika Demian muncul untuk kedua kalinya di Elixir.


Dania--dengan tegas--mengecam Jessica agar tidak memberikan pengampunan pada Demian. Tidak peduli kalau pria itu sekarang tampil uring-uringan, putus asa dan menampakkan ekspresi yang membuat batin Jessica merasa berdosa.


'Mungkin aku sudah keterlaluan,' pikir Jessica ketika ia menatap Demian yang muram.


Jessica tidak tegaan. Kendati ia mempunyai amarah yang berkobar besar, api amarah Jessica adalah api yang gampang padam dalam sekali tiupan. Dia mungkin marah, tapi kemarahannya hanya akan bertahan singkat.


Jessica tidak mendendam sampai mendarah daging. Dia--daripada marah--merelakan apa yang sudah terjadi. Daripada menghukum, Jessica lebih bersikap 'ya sudahlah, mau bagaimana lagi.'


Karena kepribadiannya yang gampang memaafkan itu juga, Jessica jadi tidak tahan memusuhi Demian. Hatinya terasa nyeri setiap kali ia bersikap jahat.


Sungguhan, Jessica tidak tau bagaimana seseorang bisa menjadi kejam dan jahat, Jessica baru berlagak kejam beberapa menitan, dan jantungnya seperti ditikam. Nuraninya ternoda, ia merasa berdosa.


Demi tetap mengikuti rencana Dania, Jessica memutuskan untuk menghindari Demian saja. Selama ia tidak bertemu dengan pria itu, bukankah itu artinya dia tidak perlu merasa berdosa.


Haha, ini lebih baik.


Dengan pemikiran itu, di sinilah Jessica sekarang, di taman, bersama Jake Allendale yang belakangan selalu mengajaknya keluar.


Meja catur terbentang di depan mereka, Jessica menggunakan pion hitam sementara Jake menggunakan pion putih.


"Ini lah yang aku rindukan darimu," kata Jake. "Aku rindu mengalahkanmu."


"Bilang saja kau senang membullyku." Jessica tidak tau apa tujuan Jake terus-terusan mengajaknya bermain catur, padahal ujung-ujungnya Jessica lah yang akan kalah.


"Apa yang menyenangkan dari permainan yang sudah kau ketahui akhirnya?"


"Prosesnya yang menyenangkan," sahut Jake. Menghabiskan waktu bersama Jessica dan mengobrol adalah proses menyenangkan yang dimaksudkan Jake.


Jake senang melihat gadis itu meladeninya dengan serius, walau pada akhirnya dia tetap kalah. Biasanya, kebanyakan orang akan menyerah duluan kalau tau mereka tidak hebat dalam permainan itu.


"Jesse, siapa yang mengajarimu bermain catur?"


"Seseorang dari pusat rehabilitasi..." Jessica menyahut tenang, matanya masih terpaku kepada papan. Permainan diulang.


"Pusat rehab?" Itu bukan jawaban yang cukup tidak terduga.


"Ya, begitulah." Jessica tidak tertarik memberikan penjelasan panjang. "Kau sendiri, siapa yang mengajarimu bermain catur? Magnus Carlsen?"


"Siapa?" Nama itu asing di telinga Jake.


"Kau tau, dia adalah grandmaster di dunia catur." Jessica terkekeh.


Jawaban Jessica membuat Jake tertawa. "Dari mana kau mengetahui hal itu?"


"Aku mencarinya di internet," ujar Jessica dan senyumnya merekah seketika. Obrolannya dengan Jake sangat absurd dan tidak jelas, tapi itu menyenangkan. Rasanya itu lebih baik dari berhadap-hadapan dengan Demian. Oh, Demian...


Mengapa setiap detik ia memikirkan pria itu?


Apa jatuh cinta memang semenyiksa ini?


"Jake,"


"Mm..."


"Aku penasaran, mengapa kau sampai sekarang belum mengatakan apa pun menyangkut hubunganmu dan Angela. Kupikir alasanmu bertemu denganku adalah karena kau ingin teman untuk berbagi."


"Bukankah sudah kukatakan aku mengganti intensiku? Aku sudah tidak seperti itu!" Sekarang, tujuan Jake mendekati Jessica murni hanya untuk menjadikan gadis itu pacarnya.


"Itu tidak mengubah alasanmu mendekatiku di awal. Lagipula, apa intensimu sekarang? Berteman dan menjadikanku pecundang catur level grandmaster?"


Jake kembali tertawa. "Itu ide yang bagus. Kalau kau kalah dariku seratus kali, kau akan menyandang gelar pecundang level grandmaster."


"Tsk, menyebalkan." Jessica mengangkat wajahnya dari papan dan mengganti arah tatapannya menuju Jake, tatapan penuh selidik. "Kau mengganti topik pembicaraan."


"Begitukah?"

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengatakan alasanmu kalau kau tidak siap, aku bertanya bukan untuk memaksamu bicara. Aku hanya penasaran saja."


Jake mengangguk.


Jujur saja, saat itu Jake sangat bersimpati pada Jessica. Ia sampai tersentuh. Jessica masih menyempatkan diri untuk pengertian dan masih sabar meladeninya kendati alasan pertemuan ini mulai tidak jelas dan tidak tentu arah. Jika itu Jake, dia sudah pasti menyerah karena pertemuan ini ibaratkan membuang-buang waktu.


"Jika aku memberikanmu jawaban, apa kau tidak akan tertawa?"


"Tergantung konteksnya," sahut Jessica. "Jika itu lelucon, maka aku akan tertawa." Namun, Jessica jelas tau tidak ada lelucon di sana. Mustahil Jake menjadi super-duper nelangsa bila alasannya karena sesuatu yang lucu.


"Angela...," Jake membuka suara, bernostalgia mengenai hubungannya dengan Angela tidak semenyakitkan sebelumnya, tapi itu tetap membawa pahit di hatinya.


"Dia meninggalkanku karena dia tidak sanggup menghadapi latar belakangku."


"..."


"Kau tau, dibandingkan kebanyakan orang, aku bisa terbilang orang yang cukup beruntung."


"Kaya, maksudmu?" Jessica tidak mau mendengar keambiguan dari pria yang jelas-jelas melenggang dengan jam rolex di pergelangan tangan.


"Kau bisa mengatakannya seperti itu," Jake menahan senyuman. "Anyway, karena latar belakangku, Angela pun mulai terintimidasi. Dia menjadi tidak percaya diri dan merasa segala hal yang kulakukan adalah bentuk penghinaan terhadap ketidak-mampuannya."


"Maafkan aku menyela, tapi dia selama ini tau kalau kau kaya-raya, kan?"


"Dia tau, dia sangat tau. Dia selama ini tau." suara Jake agak kesal saat itu. "Aku pikir karena dia tau, karena dia tidak menunjukkan keberatan pada kekayaanku awalnya, dia juga menerima pengakuan cintaku. Oh, dia sampai mau tinggal di apartemenku. Namun..."


Namun, perubahan terjadi.


"Dia berubah," ujar Jake miris. "Dia yang dulunya selalu berbahagia menerima hadiahku, mulai mengutukku setiap kali aku memberikannya apa pun.--


Dia merasa aku menghinanya. Setiap hari, rasanya perdebatan kami selalu diisi oleh masalah yang sama. Aku tidak tau harus bagaimana..., aku sudah terlahir seperti ini. Apa yang dapat kulakukan agar dia mengerti."


Menjadi anak yang lahir dari keluarga kaya-raya adalah takdir seorang Jake Allendale. Hanya karena Angela mengutuk takdirnya, Jake tidak serta-merta mampu menanggalkan itu semua. Tidak, bagaimanapun, kekayaan yang menjadi latar belakangnya bukan sesuatu yang mampu ia campakkan begitu saja.


Jake tidak akan pernah bisa mencampakkan orang tuanya dan keluarganya. Pekerjaan dengan ratusan karyawan yang dinaunginya, jika ia meninggalkan itu semua, siapa yang akan bertanggung jawab atas mereka?


Namun, Angela tidak pernah mau mengerti itu semua. Segala perhiasan yang Jake berikan, makanan, tempat tinggal dan segala kenyamanan yang ia rasakan, Angela menganggap itu semua sebagai bentuk hinaan.


"Kurasa kami memang tidak ditakdirkan bersama," Jake menutup ceritanya dengan senyuman masam terukir di parasnya.


Jake sengaja melewatkan cerita mengenai Angela yang baru-baru ini ia ketahui, mendekatinya karena uang. Jake tidak ingin membuat Jessica menyadari niatnya untuk membalas dendam kepada Angela.


"Itu hubungan yang sulit," gumam Jessica. Ia berbicara sambil menatap Jake tepat di mata. "Meskipun begitu, yang lalu sudah berlalu. Aku senang kau sekarang bisa menceritakan ini tanpa menahan isakan tangis."


Jika ini adalah Jake yang lalu, pria itu mungkin akan tersendat-sendat dalam bicara, sepasang matanya akan sembab oleh air mata.


"Kau sudah melewati banyak hal, kau sudah lebih baik sekarang. Itu adalah hal terpenting."


Mendengar penuturan Jessica dan menerima hangat tatapannya, Jake merasakan debaran jantungnya meningkat cepat saat itu juga.


Ia terkesima.


Gadis yang ingin ia manfaatkan untuk membalas dendam pada Angela, entah bagaimana, membuatnya kehilangan kata-kata. Kenyamanan yang menggelenyar hangat di dadanya, berbaur satu dengan ketukan kuat di tulang rusuknya.


*


Di waktu bersamaan, Demian Bellamy duduk di motornya sambil menyesap sebatang rokok. Pria itu--tanpa sepatah kata pun--menatap ke arah Jessica dan Jake yang duduk berhadap-hadapan sambil bertukar obrolan.


Keduanya nampak nyaman. Senyum sesekali mengembang, tatapan tentram yang menyejukkan. Keduanya nampak begitu nyaman sampai Demian merasa ingin menginterupsi keduanya dan memukul Jake di sana.


Panas, mustahil Demian tidak merasa panas.


Mengesampingkan kalau sekarang masih musim panas, penampakan Jake yang terus-terusan mencuri pandang ke arah Jessica membuat Demian ingin mencongkel biji mata pria itu keluar dari soketnya.


"Apa sih yang mereka bicarakan?" Demian menggerutu sendirian.


Disela-sela kekesalannya, Demian kembali teringat pada ucapan Oscar terhadapnya. Bahwa, Demian perlu memahami isi hatinya sendiri. Demian perlu memahami alasan mengapa dia sekesal sekarang dan begitu siap mematahkan hidung seseorang...


Demian menatap Jessica yang sekarang memperhatikan Jake dengan cermat. Entah hal apa yang Jake keparat itu katakan, Jessica menyimak segala ucapannya dengan hikmat.

__ADS_1


Oh, andai saja Jessica mendengar permintaan maafnya seperti itu. Andai saja sepasang emerald itu tertuju padanya..., Demian tidak akan merasa seperti ini sekarang.


Demian tidak akan perlu repot-repot membawa motornya ke taman demi memantau Jessica yang menghabiskan waktunya dengan si Allendale itu. Demian tidak perlu merasa segan.


"Apa yang aku takutkan, sebenarnya?" Demian takut menemukan jawaban itu bila ia memikirnya terlalu dalam. Karena, bagaimanapun, Demian bukan pria tolol yang tidak paham kondisi hatinya sendiri.


Demian paham..., tapi..., rasanya sangat tidak masuk akal dan sulit di mengerti.


"Apa aku sungguh-sungguh sudah jatuh hati..." pertanyaan itu lebih seperti pernyataan.


Sialan! Sialan! Sialan!


Dia sudah pasti jatuh hati, kan!


Kepada Jessica dari semua orang..., bukankah dia sendiri sudah memprediksi kalau pada akhirnya dia yang akan mematahkan hati Jessica? Sekarang, kenapa situasinya bertolak belakang? Mengapa malah dia yang uring-uringan?


Bukankah selama ini ia jatuh cinta kepada Angela? Mengapa situasinya berubah, tidak lebih tepatnya, mengapa hatinya berubah? Demian tidak memahami dirinya sendiri, dan situasi ini semakin membuatnya bingung.


Jessica hanya gadis biasa. Dia tidak seperti Angela yang kepolosannya menarik mata, tidak pula dia mempunyai keindahan paras yang membuat like di sosial medianya menjadi ribuan dalam satu kali postingan. Tidak, Jessica bahkan bukan gadis dengan sosial media. Dia tidak mengiklankan parasnya karena dirinya sendiri sadar kalau parasnya terbilang 'standar'.


Jessica hanya gadis biasa, tidak ada hal istimewa yang seharusnya membuat Demian terpukau secara berlebihan padanya. Demian tidak seharusnya terpesona, tidak goyah.


Namun, mungkin karena Jessica hanya gadis biasa, hanya gadis ramah yang memperlakukan semua orang dengan kebaikan. Demian tanpa sadar sudah tertawan.


Jessica Cerise, Demian menginginkan gadis itu hanya untuk dirinya sendiri. Segala kebaikannya dan cinta kasihnya, Demian menginginkan Jessica menuangkan itu semua untuknya.


Sesuatu yang 'simple dan kasual' tentang gadis itu membuat Demian sulit berlalu. Begitu terpaku.


Keserakahan tumbuh di dadanya, menjalar liar di nadinya.


"Kau menang, Jessica..." Demian menopang dagunya. Ia menatap gadis itu dengan tatapan nanar mendamba. "Kau sudah memenangkanku tanpa melakukan usaha apa-apa."


"..."


Demian--saat itu juga--merasa konyol pada dirinya sendiri. Kesadarannya atas perasaannya sendiri terasa begitu lama, ia tanpa sadar sudah menyia-siakan waktunya. Jika saja ia menyadari perasaannya lebih awal, ia tidak perlu bertikai dengan Jessica..., gadis itu juga...


Tunggu,


"Kenapa aku menjadi begitu percaya diri?" Demian tertegun. Satu hal menyeruak di benaknya, seperti guyuran air es yang menyapa kepala.


Bagaimana bisa dia melupakan satu hal, perasaan Jessica.


Gadis itu..., apakah dia berbagi perasaan yang sama dengan Demian?


Apa Jessica juga jatuh cinta, meskipun mengetahui betapa brengseknya perlakuan Demian selama ini terhadapnya.


"F--," Demian mengacak rambutnya. Dia kembali teringat betapa dia sudah sering mempermainkan Jessica. Membawa gadis itu ke dalam hubungan ambigu yang berfokus pada kepuasan gairahnya semata. Dia juga sudah melukai hati gadis itu dengan ucapan kasarnya.


Sialan! Dengan segala hal yang sudah terjadi, mustahil Jessica tidak menatapnya seperti kotoran burung di jendela.


"Aku harus memperbaiki semuanya dari awal sekarang," Demian bertekad. Dia tidak akan membuat Jessica terpuruk lagi, tidak akan memanfaatkan kebaikan hati gadis itu lagi..., Demian, demi apa pun, akan memperbaiki hubungannya dengan Jessica.


Demian...


Drrrttt..., Drrrrtttt...


Sebuah panggilan muncul di layar smartphone Demian.


Oscar.


"Halo?"


Demian memberikan jawaban dengan sedikit tidak senang. Demian hanya ingin memikirkan Jessica sekarang.


"Demian...," gumaman Oscar terdengar janggal. "Seseorang begitu ingin bertemu denganmu di Bronze sekarang."


"Siapa lagi? Apa kau tidak tau aku sibuk?"Demian menggerutu.


"Jangan bicara seperti itu," suara di telepon itu berubah seketika, seseorang yang lain telah berganti bicara. Suara itu juga, membuat Demian ternganga.

__ADS_1


"Apa kau tidak mau menyapa saudaramu sekarang, Demian?"


*


__ADS_2