MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
121


__ADS_3

Hari lain terlalui lagi, seperti siksaan yang tak pernah habis. Demian memijit keningnya, menenangkan pening yang muncul akibat kurang tidur. Demian merasa kepalanya dapat meledak kapan saja karena penat yang menumpuk di dalamnya sudah kelebihan muatan.


Namun, kembali lagi pada realita, hari baru datang lagi bersama dengan matahari yang baru saja terbit. Kepala Demian masih dalam kondisi yang aman, tidak meledak berantakan.


Demian harap kepalanya dapat meledak berantakan. Itu lebih baik daripada kelebihan muatan dan kelelahan.


"Aku sudah mendapatkan laporan dari Vegas hari ini dan Jessica sama sekali belum kembali." Rio--si asisten yang sebelumnya mengabdikan jasanya pada Christian--memberikan laporan. Demian mendengar laporan Rio dan hanya mengangguk sebagai balasan.


Demian sama sekali tidak terkejut atau kesal atas informasi itu. Demian sudah menduga situasi ini tidak akan mudah untuknya. Tidak akan pernah mudah bila si keparat Oscar Brown itu turut campur. Sialan, bagaimana bisa Jessica memberikan kepercayaannya pada Oscar, pria itu adalah pria ular!


Dia adalah bajingan sialan yang menemukan kesenangan dalam derita orang, Oscar...,


'Bagaimanapun, dia lebih baik dariku, huh?' Demian membatin sambil tersenyum masam.


Jessica pasti berpikir demikian kalau pada akhirnya dia memilih mencampakkan Demian dan meminta bantuan pada si bajingan Oscar. Jessica pasti kesulitan sampai dia meminta pertolongan pada orang lain.


Ketika orang yang seharusnya menolong Jessica adalah dirinya, Demian malah mengacaukan segalanya. Demian malah menjadi masalah di hidup Jessica. Sosok yang wanita itu benci dan ingin hindari.


"Tuan Demian, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Rio menunggu perintah.


"Aku tidak tau," gusar Demian. Ia mengusap wajahnya lelah. "Mungkin..., lupakan saja. Jessica akan kembali ke Vegas, bagaimanapun juga. Itu adalah rumahnya. Untuk sekarang, biarkan dia menenangkan dirinya."


"Kau yakin?"


Rio meragu, sebenarnya. Mengingat reaksi Demian pertama kali ketika Jessica pergi. Atasannya tersebut nyaris gila, dia bahkan nyaris membunuh Erthian dengan amukan murka.


Berkat keterpurukannya yang berpadu-padan dengan kemurkaan, seluruh atmosfir di mansion ini pun menjadi suram, seperti ditutup oleh awan hitam. Tidak ada yang berani bicara atau mengomentarinya. Tidak ada yang berani setelah Demian memukul habis-habisan saudaranya sendiri.


Tidak ada yang mau mengambil nomor urut dua untuk dipukul berikutnya.


"Aku sama sekali tidak tau lagi..." Demian memejamkan mata. Ia melabuhkan kepalanya di meja, pipi bertemu dengan kayu mahoni yang masih beraroma seperti meja baru.


Mata Demian menyorot lesu ke arah lemari buku.


Di sisi lain, Demian sebenarnya tidak rela membiarkan Jessica-nya menghabiskan waktu bersama Oscar. Pria bajingan itu sangat bajingan, sialan. Dia mungkin terlihat bersahabat, tapi siapa yang tau isi kepalanya yang sesungguhnya. Dia itu ular, ular!


Demian tidak tau apa pun tentang persahabatan Jessica dan Oscar, tidak tau apakah persahabatan itu akan tetap menjadi persahabatan bila Oscar menjadikan dirinya sandaran untuk Jessica. Bagaimana bila Jessica berpaling darinya? Melupakannya? Tersenyum pada pria lain selain dirinya?


Demian tidak menginginkan itu. Namun, Demian tau berada di dekatnya selama ini sudah membuat Jessica menderita. Jessica memang membutuhkan waktu untuk beristirahat dari segala tekanan yang dia terima.


Andai saja yang pergi bersamanya adalah Dania, Demian dua ratus persen akan membiarkan Jessica mengambil spasi darinya. Tapi...


'Kenapa Oscar dari semua orang!'


Demian kembali teringat ketika Jessica menyebut Oscar sebagai hero-nya. Pria berhati malaikat yang sudah berjasa kepada cafenya.


KEPARAT! KEPARAT!


"Rio..." Demian menarik wajahnya kembali tegap seperti semula. Ia menatap asistennya yang duduk di meja di sudut ruangan. Jauh dari mejanya.


"Ya, Tuan?"


"Apa memungkinkan untuk pria dan perempuan berteman dengan normal?"


Rio agak heran. "Kurasa, bukankah tuan Demian mempunyai teman di Vegas bernama Angela Lancaster? Aku dengar kalian sudah bersahabat sangat lama. Jadi..."


Jadi itu seharusnya memungkinkan, adalah maksud Rio. Namun, Demian mengerutkan keningnya ambigu.


Masalahnya, di mata orang awam, hubungannya dan Angela memang terlihat normal dan wajar. Tapi, itu tidak benar. Demian berujung menyukai Angela dan ketika perasaan Demian memudar, malah Angela yang terobsesi padanya. Pertemanan mereka..., tidak pernah normal dan biasa.


"Ngomong-ngomong, dari mana kau mendapatkan informasi itu?" Demian mengganti topik.


"Tuan Christian tidak pernah membiarkanmu benar-benar lepas dari pengawasannya," ujar Rio.


Benar juga. Bila itu Christian, Demian tidak akan heran. Si keparat bajingan itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Bukankah karena pengawasan pria itulah Demian memilih tidak melakukan apa-apa di Vegas yang dapat membuatnya tampil mencolok? Karena pria itu lah, hidup Demian sekarang berantakan.


Sekarang, begitu ia memperoleh hal yang ia inginkan, dia seenak hatinya saja berlibur ke Venezuela dan meninggalkan mansion ini di bawah tanggung jawab Demian!


Menarik napas berat, Demian pun beranjak dari meja kerjanya. Ia meninggalkan ruangan pengap itu dan menuju balkon di lantai lima. Ia kembali berdiri di sana, menatap kepada lautan biru yang terbentang jauh. Rumah dengan warna-warna pastel terlihat di kejauhan, berdempetan dan dikelilingi oleh rerimbunan pohon yang menjingga suram.


Sambil menatap kepada lautan, Demian kembali memikirkan keberadaan Jessica. Demian memikirkan hal yang memperparah hubungannya dan Jessica adalah karena ia yang tidak bisa mempercayai ucapan Jessica. Jessica begitu terluka ketika ia mengetahui Demian tidak mempercayainya, tidak mempercayai ucapannya.


Namun, masalah sebenarnya bukan itu.


Bukannya Demian tidak mempercayai Jessica. Hanya saja, segala petunjuk mengarah ke sana. Demian tau kepribadian saudaranya, dia sangat busuk sampai ke tulang-belulangnya. Tidak ada satu pun kekasih Demian yang pernah lolos dari intriknya, secara paksa maupun suka-rela.


Mereka semua berakhir di tempat tidurnya.


Demian tau itu dan Demian tidak menyalahkan Jessica, Demian menyalahkan dirinya sendiri yang selalu gagal mencegah Erthian.


Demian tidak menyalahkan Jessica. Bila gadis itu malu untuk mengakui realita itu, Demian rela menutup mata dan berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


Namun...


Jessica menganggap pengertian Demian sebagai pengkhianatan. Penghinaan.


"Menikmati angin pagi, Demian?" seperti tidak pernah jera, Erthian muncul di belakang Demian. Ia duduk di kursi roda setelah Demian nyaris membunuhnya dengan hujam injakan dan pukulan yang mengerikan. Carlos--si bodyguard--berdiri di belakang Demian. Dia juga babak belur di sana-sini setelah berusah keras melindungi Erthian.


"Aaah,,, sepertinya akan hujan. Cuacanya sangat suram." Erthian bicara sambil mendongak kepada langit biru yang memang kelabu.


Demian melirik ke arah Erthian sekilas, dan tidak mengatakan apa-apa. Si keparat itu tidak pantas untuk menerima perhatiannya, Demian sudah punya terlalu banyak hal yang carut-marut di benaknya.


"Aku lihat kau masih belum bisa menemukan Jessica," tapi Erthian adalah Erthian. Dia tau cara memancing suara keluar dari kerongkongan adiknya. Dia tau topik yang tepat untuk menarik reaksi Demian. Tepat seperti yang diharapkan Erthian juga, Demian langsung melemparkan tatapan tajam ke arahnya.


"Mau kubantu menemukannya? Aku cukup handal dalam menemukan orang--"


"Lebih baik bila kau menutup mulutmu!"


"Pffft, Demian..." Erthian terkekeh. "Kenapa kau sangat kasar? Padahal aku bicara baik-baik?"


"..."


"Apa kau berpikir kau akan menemukan Jessica ketika dia kembali ke Vegas? Maksudku..., apa kau pikir kau akan memperoleh maaf dan pengertian darinya?" Erthian lanjut bicara. "Kuberitahu satu hal mengenai wanita, anggap saja ini trik berkencan dariku. Bonus!"


"Aku tidak membutuhkan apa pun darimu!"


"Kau butuh," tukas Erthian. "Karena dia tidak akan memaafkanmu lagi, tidak akan pernah. Aku serius. Ketika dia menemukan ketenangannya dan membuat keputusan yang solid untuk meninggalkanmu, dia akan benar-benar meninggalkanmu."


"..."


"Wanita seperti itu Demian. Kalau kau mau mendapatkan mereka kembali, kau tidak boleh membiarkan mereka berpikir jernih barang sejenak saja. Kalau mereka berpikir jernih, kau hanya akan dihadapkan dengan tembok bata nantinya. Kewarasan adalah keunggulan. Untuk menang, kau perlu membuat lawanmu kalut."


"Apa itu caramu bermain trik dan memanipulasi orang?" Demian melempar tatapan sinis penuh kejemuan.


Dia tidak mau mendengar omong kosong Erthian. Bahkan bila trik itu adalah kebenaran, Demian tidak mau memanfaatkan trik kotor itu untuk memanipulasi Jessica. Ia lebih baik melakukan berbagai cara dan gagal, daripada menakhlukkan Jessica dengan permainan psikologis yang kotor.


"Trikku sangat efektif, bukan? Maksudku, aku melakukannya padamu dan itu berhasil. Bagaimana kalau mencobanya kepada Jessica?"


"Apa..."


"Malam itu...," Erthian menyeret ucapannya, mata menatap kepada Demian penuh binar jenaka. "Aku sama sekali tidak menyentuhnya."


"..." Mata Demian melebar terpana. Tangan terkepal kuat seketika.


"Kenapa..., apa? Kenapa kau melakukan itu?" Jantung Demian berpacu laju, napas memburu oleh emosi yang mulai memuncak ke ubun-ubun.


"Apalagi memangnya?" Erthian--tanpa segan--menggerakkan kursi rodanya semakin dekat ke arah Demian. Ia menatap saudaranya tersebut dengan kekehan.


"Supaya kau mau menjadi kepala di Bellamy, tentunya. Ketika seseorang tidak berdaya, mereka kerap mencari kekuatan dan kekuasaan yang instan. Kau sekarang mendapatkannya, hanya saja...pfffttt..., sepertinya kau sudah kehilangan hal yang ingin kau lindungi."


"Keparat, apa yang sudah kau--"


"Bingkisanku..." lanjut Erthian, ia nampak riang kendati sekarang tangan Demian mencengkeram kerah kemejanya. "Kau menjadi sangat ambisius setelah menerima bingkisanku. Aku sengaja memberikannya padamu karena kulihat kau masih meragu terhadap pilihanmu untuk menjadi pemimpin di Bellamy."


"Kenapa kau melakukan ini? Bukankah semua ini adalah impianmu?!"


Erthian menatap Demian tepat di mata, cengiran tipis bermain di sana. "Karena banyak orang meragukan posisiku dan memilihmu, aku ingin mereka melihatmu di posisi yang mereka pikirkan lebih tepat untukmu, Demian. Sekarang, mereka pasti melihat betapa hebatnya pemimpin Bellamy yang menggila karena seorang wanita.--


Hahahahaha. Apa kau tau Hestia diamuki oleh banyak pengikutnya? Aaah, itu sangat lucu."


"Kau melakukan semua ini, kau merusak hidupku hanya untuk itu? Untuk membalas orang-orang itu?" Demian sama sekali tidak habis pikir.


Ia mengira Erthian sudah tidak akan pernah membuatnya kecewa karena pria itu sudah mengecewakannya berulang-ulang. Namun, seperti ingin mematahkan rekornya sendiri, Erthian muncul dengan hal baru yang sukses membuat Demian terpaku.


"Orang-orang itu, orang-orang yang tidak kau pedulikan keberadaannya, Demian, adalah ranting dan dahan yang membantu Bellamy berkembang. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka perlu diberikan pelajaran untuk memilih pupuk yang tepat untuk pohon mereka, atau mereka akan mati."


"..."


"Sekarang mereka semua tau kau tidak menganggap penting mereka sama sekali. Mereka meratapi pilihan mereka dan menginginkanku mengambil posisimu. Hahahahaha. Aaah, menggemaskan, bukan?"


"Erthian!"


"Jangan menyalahkanku. Aku hanya melakukan hal yang teramat penting bagiku." Senyum di wajah Erthian memudar, tergantikan dengan ketenangan. "Kau juga, mengisi posisi itu semata-mata untuk memenuhi kepentinganmu sendiri, kan?"


"..."


"Sekarang semuanya sudah tidak penting lagi. Tidak kalau Jessica tidak ada. Jadi, apa yang akan kau lakukan?"


...*...


Jessica menopang dagunya di atas meja. Sepasang emeraldnya menyorot ke arah Oscar Brown yang sedang duduk bersantai di belakang yacht-- yang entah milik siapa, tapi mereka memakainya--sambil memegang pancing.


Seriusan saja.

__ADS_1


Mereka sudah mengambang di tengah laut selama tiga jam-an dan Oscar belum mendapatkan satu ikan pun untuk mengisi embernya. Jessica pikir ia bisa terjun ke dalam air dan berenang ke bibir pantai saking bosannya.


Mau sampai kapan dia di sini?


Jessica sangat ingin kembali ke Vegas, tapi Oscar belum ada niat untuk pulang. Katanya, dia masih ingin menikmati suasana di Bologna lebih lama. Tanpa bisa memprotes kemauan pria yang sudah membantunya itu juga, Jessica pun mau tak mau membiarkan dirinya diseret ke dalam momen 'liburan' Oscar sekarang. Meskipun itu artinya terjebak di dalam yacht bersama Oscar dengan segudang snack dan satu box bir.


"Apa kau yakin kau mempunyai umpan di sana?" Bosan mengunyah snack, Jessica akhirnya menghampiri Oscar yang duduk termenung sendirian. Pria itu memakai kacamata hitam, dan ketika ia mendongak, Jessica bisa melihat pantulan dirinya sendiri di kacamata pria itu.


Ekspresi Jessica buruk.


"Memancing itu butuh kesabaran," kata Oscar.


"Menunggumu memancing butuh kesabaran," sahut Jessica.


Jika saja Oscar memancing dan mendapat sebaskom ikan, maka Jessica tidak akan keberatan membiarkan pria itu bersenang-senang. Malangnya, dia tidak mempunyai apa pun di baskomnya. Dia hanya duduk berjam-jam tanpa hasil.


"Menunggu juga bagian yang menyenangkan."


"Aku hanya merasa bosan."


Oscar tertawa samar. "Kau bukan teman memancing yang menyenangkan. Padahal duduk berjam-jam tanpa melakukan apa pun adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan diri dan situasimu sendiri. Kau bisa termenung berjam-jam dan menemukan ketenangan. Bukankah itu lebih menyenangkan daripada memperoleh ikan?"


"Apa itu tujuanmu yang sebenarnya?" Jessica tidak tau kalau Oscar punya momen yang ingin ia refleksikan juga. Jessica pikir pria itu tidak mempunyai keresahan apa-apa melihat dari sikap santai dan apatisnya.


Jessica jadi menyesal sudah menyela keheningan pria itu.


"Aku tidak punya tujuan seperti itu. Aku hanya ingin memancing saja. Aku sudah sempurna di setiap tindakanku, aku tidak butuh introspeksi diri." Oscar meruntuhkan simpati Jessica sekejap mata. "Yang perlu introspeksi diri adalah kau, bukan? Kau perlu memperbaiki isi kepalamu yang kusut."


"Aku menyesal bicara padamu."


"Aku memberimu kesempatan untuk bermeditasi, Jessica. Kenapa kau malah cemberut?"


Jessica menjatuhkan bokongnya di bibir pagar. Angin laut menerbangkan surai hitamnya, dan dia terlihat indah di sana. Oscar percaya Demian akan meneteskan saliva kalau melihat Jessica di sana. Hahahahaha.


"Aku tidak suka caramu memaksaku untuk memikirkan ulang keputusanku," ujar Jessica.


"Apa aku terkesan memaksa?"


"Begitulah. Kau terus mengatakan omong kosong yang menyiratkan hal yang sama. Seolah-olah aku sudah membuat keputusan yang salah. Apa menurutmu aku salah?"


"Maafkan aku yang sudah meninggalkan kesan seperti itu," tapi tampang Oscar tidak seperti orang yang menyesal. "Aku hanya ingin kau memikirkan ulang keputusanmu, dan itu memang benar."


"Kenapa?"


"Tergesa-gesa tidak baik, kan? Habisnya kau di dalam banyak tekanan..., wajar-wajar saja ketika stress kau ingin melarikan diri. Tapi..., sekarang kau sedang tidak di bawah tekanan apa pun. Kau bisa berpikir jernih dan memikirkan ulang situasimu."


"Aku tidak perlu memikirkan apa pun," tukas Jessica. "Demian tidak mempercayaiku, dan alasan itu cukup."


"Bagaimana dengan Demian?"


"Bagaimana dengannya?"


Oscar menurunkan kacamatanya ke hidung. "Sepanjang hidup Demian, ketika dia mengalami pubernya, ketika ia mulai menyukai perempuan..., dia selalu berujung dalam kesialan. Dia dibenci dan dikhianati oleh wanita yang ia cintai, semua itu karena trik yang Erthian lakukan sama padamu."


"..."


"Ketika situasi itu terjadi berulang-ulang, meninggalkan trauma yang dalam, tidakkah kau pikir ketika situasi yang sama terjadi padamu, dia akan berpikir kalau kau juga akan mengalami situasi yang sama."


"Tapi Erthian tidak..."


"Dan Demian tidak tau itu. Dia sudah terbiasa paham kalau Erthian selalu mengacaukan hidupnya. Berpikir kalau Erthian tidak menyentuhmu lebih sulit dibandingkan berpikir kalau Erthian telah menyentuhmu. Karena Erthian tidak pernah setengah-setengah."


"Perasaanku saja atau kau sedang berusaha membuatku memahami Demian?"


"Aku hanya ingin kau berpikir matang. Kau dan Demian baru dalam masalah kekasih-kekasih ini. Membangun kepercayaan juga bukan hal mudah. Kesalah-pahaman dapat terjadi. Yang penting adalah, bagaimana caramu menanggapi kesalah-pahaman itu."


"Kau terlalu bijak. Kupikir kau ingin Demian menderita?"


"Ini hanya antara kau dan aku," kata Oscar. "Aku hanya ingin melihatnya kesal. Menderita? Itu bukan gayaku sama sekali."


"Kenapa kau ingin membuatnya kesal?"


"Karena dia sudah mengalahkanku berkali-kali, aku sampai frustasi." Oscar merotasi mata, jengah ketika mengingat kekalahannya di meja judi.


Mendengar tanggapan Oscar juga, Jessica jadi tertawa. "Kau sangat mirip dengan kakekmu."


"Aku sering mendengar pujian itu."


Itu bukan pujian, tapi..., terima kasih.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2