MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
115. Pemahaman.


__ADS_3

Demian benar-benar mengurungnya.


Jessica mencerna realita pahit itu dengan jantung yang mencelos dari dadanya. Jessica masih sulit percaya kalau Demian akan memperlakukannya seperti ini, seperti pria itu mempunyai kendali atas dirinya.


Hubungan mereka seharusnya tentang dua orang yang saling mencintai, saling mengapresiasi dan menghormati satu sama lain. Mereka seharusnya setara, tapi..., dengan Demian melakukan ini padanya, Jessica merasa Demian memandang rendah keberadaannya.


Bagaimana bisa Demian melakukan ini padanya?


"Lepaskan aku keparat?!" Jessica akhirnya berteriak dan menendang pintu kuat-kuat. Kamar yang luas itu menyempit di pandangannya, menghimpitnya. Jessica merasa seperti terjebak di dalam kotak. Napasnya seketika tersendat.


Mengapa situasi ini terjadi padanya? Dosa seperti apa yang sudah ia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai ia menerima hukuman seperti ini dari Tuhan? Apa yang sudah ia lakukan sampai..., mengapa Demian melakukan ini padanya?


Keparat!


Padahal Demian bilang Demian mencintainya.


Cinta macam apa yang membuatnya sengsara?


"Miss. Jessica, kumohon hentikan melakukan sesuatu yang sia-sia. Aku tidak mau kau berujung menyakiti dirimu sendiri." Suara Lisa samar-samar terdengar dari balik pintu. Memohon hal yang sama sekali tidak masuk akal. Jessica tidak akan tinggal diam bila ia diperlakukan seperti ini!


"Lisa..., kau di sana?" Jessica merapatkan telinganya ke pintu.


"Iya, Miss. Apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Keluarkan aku," Jessica menyahut terlalu cepat. "Keluarkan aku sekarang. Kumohon, aku tidak bisa diperlakukan seperti ini! Kalau kau mengeluarkanku, aku tidak akan melaporkanmu ke polisi sama sekali."


"Miss. Jessica, aku tidak bisa melakukan itu, juga..."


"Mengapa kau tidak bisa? Apa upahmu lebih penting daripada moralmu? Apa kau tega melakukan ini kepada sesama wanita? Kau..., kau seharusnya tau lebih baik. Wanita macam apa yang membiarkan wanita lain menderita, Lisa?"


Cklek.


Pintu tiba-tiba terbuka dan membuat Jessica hampir terjatuh ke lantai, andai saja sebuah dada bidang tidak menyambatnya. Mata Jessica melebar terpana, dan disaat bersamaan--napasnya berembus lega ketika tubuhnya tidak terjerambab ke lantai.


Nyaris saja.


Jessica merasakan tangan mendorongnya kembali berdiri dengan dua kakinya sendiri, dan ketika Jessica melihat siapa pemilik tangan dan tubuh beraroma maskulin itu, kening Jessica bertaut jenuh. Demian Bellamy akhirnya kembali, setelah tiga jam membiarkan Jessica menggedor pintu penuh kekuatan.


Berbeda dari cara Jessica yang menatapnya dengan kebencian, tatapan Demian menyiratkan kehangatan dan sedikit kesenduan. Seakan ia adalah pihak yang terluka.


Sialan, jangan membuat Jessica tertawa!


"Kau tanya wanita seperti apa Lisa barusan?" Demian melangkah masuk ke dalam kamar Jessica, matanya menyorot Jessica dengan sedikit perasaan iba. "Dia adalah wanita yang mengabdikan hidupnya padaku, Jessica. Ini bukan tentang moral sama sekali."


"Benar, aku lupa." Jessica melenggang menjauhi Demian yang masih berdiri di dekat pintu. "Bagaimana bisa aku membicarakan masalah moral pada psikopat."


"Jesse," Demian menghela napas lelah. "Apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau berteriak tanpa henti. Kau bisa menyakiti kerongkonganmu."


"Kau mendengarku berteriak dan yang kau pikirkan adalah kerongkonganku bisa sakit, bukan kenapa aku berteriak?"


"Aku tidak bisa membebaskanmu, Jessica. Tidak..., aku tidak mau mendengarkan omong kosong itu."


"Jangan membuatku membencimu, Demian." Jessica--sedikit saja--melunak di sana. Permohonan itu tulus dari hatinya. "Ini kesempatan terakhirmu. Aku akan memaafkan segala kegilaan yang sudah kau lakukan, aku tidak akan mempertanyakanmu, demi Tuhan.--


Lakukan apa yang kau mau, aku serius. Hanya saja..., jangan libatkan aku. Jangan--"


Ucapan Jessica tergantung di udara begitu ia menatap Demian yang jelas sekali tidak bereaksi. Seolah-olah pria itu adalah manekin.


"Mengapa kau melakukan ini padaku?!" suara lembut Jessica menghilang sepenuhnya. Ia menjadi agresif. "Apa yang sudah aku lakukan sampai aku pantas mendapatkan perlakuan tidak adil seperti ini?"


"Jessica, aku mencintaimu. Aku hanya ingin kau memahamiku."


"Kau tidak ingin aku memahamimu, Demian. Kau ingin aku menurutimu. Maaf sekali untukmu, aku bukan budak keluargamu dan aku tidak akan pernah menjadi bagian dari kekonyolan ini. Kalau kau pikir mengurungku di sini akan membuatku submisif dan menuruti segala kemauanmu, kau bisa mengurungku sampai mati. Aku..., aku tidak akan pernah menurutimu, Demian. Tidak dalam hal ini."


"Mengapa kau sangat menentang keputusanku?! Apa yang salah?!"


Demian mengambil dua langkah maju. Namun, jarak yang ia potong itu tidak cukup untuk membuatnya mampu menjangkau Jessica yang berdiri di seberang ruangan, menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Demian. "Aku bilang aku melakukan ini untukmu. Aku ingin memberikanmu ketentraman yang kau inginkan. Mengapa kau..., tidak bisa paham?"


"Apa yang tentram di sini, Demian?" Jessica berkacak pinggang, ia menatap Demian sekali lagi, penuh kecermatan. Barangkali ada hal yang ia lewatkan. Barangkali ia sudah tidak adil pada Demian.

__ADS_1


Jessica berusaha--demi Tuhan, ia berusaha--sekuat mungkin untuk memahami Demian.


"Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan. Kau bisa bersantai, kau bisa bersamaku tanpa mencemaskan apa pun. Jessica..., aku mempunyai kekuatan tertinggi di sini, aku bisa melindungimu dengan kekuatan itu. Bahkan Erthian pun tidak bisa menyakitimu sekarang!"


"Oh?" Jessica sedikit kebingungan, tapi ia seperti menemukan satu jawaban dari sejuta tanya yang menyumbat benaknya. Jessica mengerjapkan mata beberapa kali di sana, ekpsresi terpana tersirat jelas di wajahnya. Ia mempertanyakan ucapan Demian dan disaat bersamaan mengutuk pria itu melalui tatapannya.


"Apa ini..." Jessica memaksa suaranya keluar kendati bibirnya bergetar. "Apa ini..., karena Erthian?"


"..."


"Kau bilang kau ingin melindungiku, kau mengatakan itu berulang kali..., jadi..., ini karena..., Erthian?"


"Jesse..., ini bukan hanya tentang Erthian."


"Jangan menyangkalku!" Jessica menapak ke hadapan Demian dan menatap pria itu tepat di sepasang manik hitamnya, ia mencari kebenaran di sana. Kejujuran yang menyempurnakan puzzle di kepalanya. "Apa ini karena yang terjadi malam itu?"


"..."


"Kau pikir dia menyentuhku?"


"Jessica...,"


"Kau sudah pasti berpikir begitu, kau mengabaikan ucapanku dan lebih percaya pada saudaramu. Kau tidak mempercayaiku."


"Jessica, dengarkan aku sebentar saja..."


"Ya? Katakan apa yang sejujur-jujurnya kau pikirkan, Demian. Aku akan mendengarkanmu." Jessica merasa setetes air mengalir di pipinya, bergulir dingin tanpa aba-aba. Jessica bahkan tidak sadar air mata menyeruak keluar dari sepasang emerald-nya. Ia tidak menaruh atensi sama sekali kalau ia telah menangis.


"Aku mempercayaimu," ujar Demian, suaranya penuh permohonan. Namun, langit sudah berubah kelabu. Langit Jessica sudah berubah kelabu, sendu.


Bagi Jessica, tidak ada lagi suara Demian yang bisa mencapainya. Ia mengerti bila Demian mempunyai alasan lain, tapi ia tidak menyangka kalau alasan Demian melakukan ini padanya karena..., pria itu tidak mempercayainya.


Demian tidak mempercayai ucapannya, dan selama ini..., apakah itu berarti ia hanya berpura-pura percaya? Berpura-pura untuk menghiburnya? Apa Demian merasakan prihatin padanya?


Jessica mengerjapkan mata dan sekali lagi, lebih banyak air menetes keluar dan membasahi pipinya.


"Jessica, please."


"Dan memang benar, kau baik-baik saja, Jessica. Kau...," Demian melabuhkan telapak tangannya di pipi Jessica, lembut sapuan jemarinya menghapus air mata yang jatuh bercucuran di pipi gadis itu.


Pemandangan yang paling tidak Demian inginkan sekarang tersaji di hadapannya. Pemandangan yang paling ia benci adalah pemandangan ketika sepasang emerald itu tergenang oleh air mata, penuh luka. Ia berusaha menenangkan Jessica, tapi ia merasa keberadaan gadis itu semakin jauh di matanya.


"Jesse, aku..." Demian seperti menelan sebongkah batu. Suara yang berusaha keluar dari kerongkongannya, tersekat kuat. Sulit untuk ia keluarkan.


"Akan lebih baik kalau kau jujur dari awal padaku, Demian." Seperti menemukan kontrol dirinya yang sempat menghilang, Jessica menarik dirinya dari jangkauan Demian dan menghapus air matanya dengan tenang.


"Aku seharusnya menyadari ini. Bagaimana bisa aku mengikutimu kemari? Haaa..., benar-benar keputusan yang tolol."


Saat itu, daripada berbicara pada Demian, Jessica lebih berbicara kepada dirinya sendiri. Seakan-akan sisi rasionalnya telah bangkit dan mencemooh sisi emosionalnya. Mencemooh hatinya yang bisa-bisanya, pergi ke Italy karena cinta. Karena kepercayaan buta!


"Aku pantas mendapatkan ini," gumam Jessica. "Ini adalah kebodohanku."


Jessica melenggang menuju sofa dan duduk meringkuk di sana. Kendati ia dikuasai oleh logika, hati Jessica tetap berdenyut oleh rasa sakit yang luar biasa. Ia menaruh tangannya di dada, berupaya meredakan ngilu yang merayap di sana.


Demian yang menatap reaksi Jessica merasakan panas menyeruak naik di wajahnya, membakar kelopak matanya. Demian tidak menginginkan ini, tapi terima kasih pada dirinya sendiri, ia telah mendorong Jessica terlampau jauh.


Demian merasa gadis itu sangat berada di luar jangkauannya sekarang. Bahkan bila ia mengurungnya seribu tahun, sepasang emerald jernih yang menunjukkan murni kemurkaan itu tidak akan melunak. Dia tidak akan pernah bisa dijinakkan.


Jujur saja, Jessica yang seperti itu adalah alasan mengapa Demian jatuh hati padanya. Dia yang selalu mengutamakan kewarasannya, selalu rasional dan penuh logika. Sungguh mempesona. Demian mengagumi Jessica-nya yang bijaksana.


Namun..., ketika sisi rasional gadis itu muncul di hubungan mereka sekarang, muncul dan menjadi penghalang di hubungan mereka sekarang, Demian membenci apa yang sekarang ia pandang.


Demian benci Jessica yang melihatnya seperti kuman.


Demian tidak menginginkan Jessica mengacungkan tatapan dingin itu ke arahnya, seolah-olah mereka adalah dua musuh yang berjumpa di medan perang.


Demian tidak menginginkan pertikaian.


"Jessica...," Demian kembali bersuara, dia memaksakan dirinya bersuara. "Aku mencintaimu. Aku sangat sangat mencintaimu. Aku hanya ingin kau mengetahui itu. Segala yang sudah kulakukan, aku melakukannya karena aku mencintaimu."

__ADS_1


Jessica mendongak seraya tersenyum masam. "Aku juga mencintaimu, Demian. Tidak seperti aku yang meragukan segala ucapanmu, aku jujur sekarang."


"Kau boleh meragukan apa pun, Jessica. Tapi tidak dengan perasaanku."


"Kenapa? Karena kau sungguh-sungguh mencintaiku? Ketika kau tidak mempercayaiku? Ketika kau lebih memihak saudaramu daripada aku...?"


"Aku tidak pernah memihaknya--"


"Tapi kau mempercayainya."


Disudutkan oleh argumen Jessica, Demian mengusap wajahnya hingga memerah. Kesabarannya menyurut habis.


"Keparat, Jessica. Mengapa kau melakukan ini padaku? Setelah segala hal yang kuperjuangkan untukmu? Kau..., kau tidak tau betapa menderitanya aku setelah apa yang terjadi malam itu? Kau..., aku lebih rela mati daripada melihatmu mengalami peristiwa yang sama. Aku lebih baik mati daripada melihatmu terluka! Mengapa kau tidak bisa mengertiku sedikit saja?!"


Kaget akan suara Demian yang membentaknya, Jessica kembali menemukan air mata menumpuk di pelupuk matanya. Tanpa memberikan air mata itu kesempatan untuk tumpah juga, Jessica segera menyeka air matanya dengan ujung blouse yang ia kenakan.


"Aku sudah gagal melindungimu, aku gagal..., dan gara-gara aku..., aku membenci diriku karena itu! Aku hanya ingin melindungimu. Aku mengambil keputusanku karena aku ingin melindungimu! Aku tidak ingin kau mengalami kesialan yang sama karena demi Tuhan, aku lebih baik mati daripada menaruhmu dalam posisi itu lagi!"


"..."


"For fkkk sake, aku hanya ingin kau memahamiku sedikit saja!!!"


"..."


Di bawah tatapan geram Demian, Jessica mengangguk-angguk lamban. Ia terdiam cukup lama setelah ia mendengarkan Demian bicara. Sedikitnya, Jessica mengerti dari mana datangnya keputusan Demian. Namun, itu tidak membuatnya mampu menerima pria itu. Tidak setelah Demian menaruh kecemasan itu di kepalanya sendiri, tanpa ada niat mempercayainya sama sekali.


"Kau mengira Erthian menyentuhku dan kau sangat yakin tentang itu..." suara Jessica keluar dengan kaku. "Kupikir, karena itu..., aku setuju padamu."


"Huh?"


"Kau benar. Aku memang tidak bisa mengertimu, tidak sedikit pun." senyum Jessica lalu merekah samar. "Ironisnya, aku mengerti mengapa aku tidak bisa mengertimu sama sekali."


"..."


"Mungkin Hestia ada benarnya, karena dia wanita yang hidup lebih lama dariku, aku seharusnya mendengarkan ucapannya." Jessica lalu mendongak menatap Demian, "Kau dan aku..., berapa lama kita baru bersama? Sebulan? Dua bulan? Jika menghitungnya..., maka bisa dikatakan sepanjang musim panas lalu? Oh, maka itu kisaran empat bulan. Anggap saja seperti itu."


"Apa yang hendak kau katakan?"


"Hanya mengatakan kebenaran." Jessica menyandarkan punggungnya di sofa, ia merasa sedikit lega setelah mengetahui kejujuran Demian di sana.


"Hubungan kita masih terlalu muda. Untuk menaruh kepercayaan pada satu sama lain, kurasa itu bukanlah hal yang mudah. Tidak dalam tiga bulan.--


Kau tidak mempercayaiku, dan berkat itu, aku jadi tau mengapa kau bertindak sejauh ini, sampai kau merasa kau wajib melindungiku."


"..."


"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, kurasa..., kau hanya berusaha menjadi pasangan yang baik. Walau kau melewatkan tahap yang lebih krusial, yaitu percaya padaku."


"..."


"Aku berterima kasih pada apa pun ini..., yang hendak kau lakukan, Demian. Aku berterima kasih karena kau sudah mau melindungiku. Hanya saja, aku tidak membutuhkan apa pun. Aku tidak butuh pria yang tidak mempercayaiku."


Hubungan ini sudah tidak stabil, pikir Jessica. Sejak awal, hubungan ini sudah tidak stabil.


Ia kembali mengingat ucapan Hestia dan merasa seperti menemukan kebenaran di sana. Kebenaran yang menyakitkan. Hubungannya dan Demian tak ayal hubungan yang baru seumur jagung, hubungannya tidak mempunyai fondasi yang kuat atau apa pun.


Bagaimana bisa ia menyombongkan masalah kepercayaan di depan Hestia? Bagaimana bisa ia menjadi begitu arogan?


Pada akhirnya, ia dikecewakan.


Pada akhirnya ia dan Demian tidak akan menemukan kesepakatan.


"Bisa kau tinggalkan aku sekarang?" Jessica memijit keningnya, "Aku butuh istirahat."


"..."


"Juga..., kupikir aku butuh makanan..."


Menutup ucapannya, Jessica tidak sedikit pun menatap Demian ketika pria itu beranjak keluar meninggalkannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2