MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
31. Kegundahan.


__ADS_3

"Untungnya, sekarang kau sudah bersama Angela. Meskipun bosku kalah taruhan sebelumnya, tapi itu hanya berarti sementara. Sekarang, siapa sangka bosku malah menjalin hubungan dengan Jake. Sungguh, takdir memang tidak ada yang tau. Aku berbahagia untuk kalian berdua."


Ucapan Dania membayangi pikiran Demian. Ketika ia seharusnya bersantai di Bronze, merokok dan menyesap segelas martini, ia malah memikirkan ucapan tolol itu.


Jessica tidak menjalin hubungan apa-apa dengan Jake. Demian tau itu. Jika Jessica bersama dengan Jake, Jessica pasti akan menendangnya keluar balkon kamarnya. Mengusirnya.


Demian tau mereka tidak bersama, tapi mendengarkan orang lain mengutarakan omong kosong itu, Demian sama sekali tidak senang.


"Kenapa denganmu yang merajuk sore-sore begini, ketika matahari senja sedang indah-indahnya. Kau seharusnya bersantai, Demian."


"???"


"Bersantai. Relakskan otot wajahmu yang kaku itu. Kau tidak akan membunuh siapa-siapa di sini."


"Jika kau terus bicara, aku mungkin akan membunuhmu, Oscar." Demian berujar sembari menatap Oscar, ekspresinya keki.


Oscar datang-datang sudah membuat lelucon yang tidak menyenangkan. Demian jadi ingin melempar pria itu dari atas Bronze. Lihat, apa dia masih bisa membuat candaan tolol bila tulang-tulangnya diremukkan oleh lantai beton?


"Untuk membunuhku, kau perlu lebih kuat dariku." Oscar seenteng itu bicara. Kendati bobot badan Demian lebih berat darinya, lebih tinggi. Oscar percaya diri kalau Demian tidak akan mampu mengalahkannya.


"Kau punya kepercayaan diri seperti blackhole, tidak berdasar sama sekali."


"Sama denganmu," balas Oscar. Ia lalu terkekeh samar.


Saat itu, sementara matahari terbenam di ufuk barat, memudar jingga di langit Vegas, Demian dan Oscar berdiri bersebelahan. Rokok terselip di bibir. Mereka berdiam diri untuk waktu yang cukup lama, mengamati keindahan matahari senja yang perlahan-lahan meninggalkan Vegas.


"Huuuufff," Oscar mengembuskan asap rokok dari mulutnya, membentuk cincin asap di udara.


"Melihat matahari terbenam tidak pernah membosankan. Aku percaya, begini lah perasaan Jessica Cerise kemarin."


Kening Demian mengernyit.


"Kau tau maksudku. Ketika Jessica dan Jake Allendale menikmati pemandangan matahari terbenam di jalanan the strip, menikmati ice cream strawberry sambil mendengarkan musik latin yang diputar oleh musisi jalanan. Oooh, romantisnya." 


Kendati Oscar berbunga-bunga menceritakan mengenai kisah Jessica, Demian di sebelah Oscar mendengarkan dengan mata menyipit tak suka. "Aku tidak tau apakah kau berbicara jujur atau berbohong sekarang."


"Mana mungkin aku berbohong pada partnerku. Untuk saling berbagi kepercayaan, aku tidak akan pernah berbohong."


Demian mendengus. "Apa itu artinya kau menguntit perjalanan Jessica kemarin?"


"Mana mungkin! Apa aku kurang pekerjaan?" Oscar melabuhkan tangannya di pundak Oscar.


"Ini Vegas, Demian. Semua yang terjadi di kota ini selalu menemukan jalan untuk sampai ke telingaku."


Menepis tangan Oscar dari pundaknya, "Aku harap omong kosong itu tetap valid."


Malas berurusan dengan Oscar yang jelas-jelas hanya ingin memancing emosinya, Demian lalu membalik badan dan memungut kemeja flanel merahnya di bangku. Ia memakai kemeja flanel kebesaran itu di balik kaos hitam polosnya yang robek di bagian leher.


"Kau mau kemana?" tanya Oscar.


"Aku akan berkencan, Oscar. Aku tidak punya waktu untuk membuang-buang waktuku bersamamu."


"Bukankah berkencan juga bagian dari membuang-buang waktu?" Oscar bersandar di pagar.


"Kau tidak tau apa yang kau katakan."


"Aku rasa aku cukup tau. Kau juga tau apa yang kukatakan, tapi terlalu arogan untuk menyadarinya, kan?" Oscar bicara seperti puzzle.


Demian menatap Oscar sebentar. Entah apa Oscar masih berusaha mempermainkan emosinya atau dia sedang dalam keadaan serius. Demian sama sekali tidak bisa membaca maksud dari pria bermata sapphire itu.


"Jangan menghabiskan waktumu dengan orang yang salah, oke?" Oscar kembali ke nada jenakanya. "Aku tidak punya sapu tangan untuk menyapu air matamu nanti."


"Berisik!"

__ADS_1


*


[Demian, aku sangat membutuhkanmu sekarang.]


Sebuah pesan dari Angela adalah alasan mengapa Demian berada di hadapan Angela sekarang. Mereka duduk berseberangan di sebuah terrace cafe yang memutar musik pop ballad menyedihkan.


Atmosfir yang kelam di antara mereka semakin suram karena musik tersebut. Angela nyaris meneteskan air mata di seberang meja.


Angela sangat terpuruk setelah ia berpisah dari Jake, dan Demian..., sebagai pria yang cukup dekat dengan Angela, pria yang pernah dan masih menaruh rasa padanya, Demian tidak bisa meninggalkan Angela atau mengabaikan ajakannya untuk bertemu.


"Maafkan aku, Demian. Gara-gara aku..., kau jadi melihat sisi burukku." Angela menenggelamkan wajahnya dalam telapak tangan. Air matanya sudah tidak bisa ditahan. "Padahal aku yang mengakhiri hubungan kami, tapi mengapa aku belum bisa merelakannya?"


"..."


"Aku berpisah dengannya bukan semata-mata karena aku berhenti mencintainya, tapi..., tapi dia secepat itu melupakanku. Kau lihatkan, malam itu..."


Mendengar kesedihan Angela, Demian merasa pundaknya merosot lemah. Apa yang harus ia katakan ketika wanita yang ia cintai menangisi pria lain di hadapannya?


Demian tidak menyangka dia cukup kuat di situasi ini. Demian pikir ia akan tenggelam dalam kesedihan juga. Anehnya, ia hanya merasakan iba.


"Angela, jika berpisah dengan Jake cukup berat bagimu..., apa..., apa kau tidak ingin memikirkan ulang keputusanmu untuk berpisah? Maksudku..., kalian bisa membicarakan semuanya..., ulang."


"Tidak ada yang bisa dibicarakan, Demian. Kau tidak mengerti! Jake, dia..., dia tidak akan bisa berubah!"


"..."


"Tapi aku sangat mencintainya."


Itu adalah situasi yang sulit.  Demian tidak tau harus bagaimana untuk membantu Angela. Dia tidak bisa dengan entengnya mengatakan 'Jangan sedih, move on lah. Masih banyak pria di muka bumi ini,'.


Demian tidak bisa mendorong Angela keluar dari kesedihannya dengan kata-kata semangat ala pemeran utama yang ceria.


Demian, daripada orang yang pandai memberikan saran, adalah orang yang lebih baik dalam mendengarkan.


"..."


"Aku pikir aku berhasil..."


Sayangnya, dalam beberapa pekan belakangan, Jake Allendale tidak terlihat seperti pria yang terpuruk. Dia--di depan Angela, malah bertemu dengan Jessica. Gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah bos Angela sendiri.


"Aku pikir mungkin hanya aku yang ingin membalas dendam, tapi kurasa..., Jake pun ingin melakukan hal yang sama padaku. Seakan-akan melukaiku tidak cukup. Dia mendekati wanita yang berada di lingkunganku. Dia mendekati Jessica untuk melukaiku!"


Angela mengatur napasnya yang terasa sesak. Ia mengingat Jake dan suaranya tersekat. Ia merindukan pria itu, dan dia membenci kerinduan itu!


"Aku tidak merasa Jake akan sedangkal itu, Ange." Demian meraih tangan Angela di atas meja dan mengusap punggung tangannya lembut. "Kau tidak boleh memikirkan situasinya secara berlebihan."


"Tidak, Demian..., kau tidak mengerti. Jake..., dia ingin membalas dendam padaku. Dia ingin membuatku cemburu. Jika bukan karena itu, apa kau pikir dia akan mendekati Jessica? Wanita itu tidak pantas bersama Jake. Jake bahkan tidak menyadari keberadaannya selama ini." Angela menjadi berapi-api.


"Jake hanya ingin melukaiku. Jessica adalah alat yang dia gunakan untuk menyakitiku."


Tidak, tunggu sebentar...


Genggaman tangan Demian di jemari Angela merenggang. "Meskipun Jake mempunyai niat buruk, apa kau pikir Jessica akan segampang itu dia manfaatkan?"


Juga, jelas sekali di mata Demian kalau Jake bukan tipikal pria yang tau cara memanipulasi manusia. Dia bukan Oscar, duh.


"Kau tidak tau wanita, Demian. Pria seperti Jake adalah idaman semua orang. Jake bisa membuat Jessica bertekuk lutut di kakinya dalam sekali bicara, asal tau saja."


"Kurasa kau yang tidak begitu mengetahui wanita, Angela. Tidak semua orang menaruh minat pada kekayaan dan ketampanan saja."


Terutama jika itu Jessica. Jika Jessica menaruh minat pada Jake, dia akan mengambil keuntungan Jake yang teler malam itu untuk dirinya sendiri.


Tapi Jessica tidak melakukan itu karena dia mempunyai harga diri dan moral yang tinggi.

__ADS_1


"Kenapa kau jadi membela Jessica?" Angela yang sebelumnya terbenam dalam kesedihan, sekarang mengarahkan tatapan tajam kepada Demian. Dari semua orang yang seharusnya membelanya, Demian malah menentangnya. Apa Demian tidak menganggap penting perasaannya?


"Kau orang yang sangat kupercaya, Demian. Kau tau itu, kan?"


"Aku tau, Angela."


"Kau pikir aku akan asal bicara?"


Tidak, tapi Demian juga tidak akan bisa setuju begitu saja atas apa yang Angela bicarakan. Apalagi bila topik itu menyangkut Jessica. Demian mengenal Jessica lebih baik daripada Angela mengenal bosnya tersebut.


"Maafkan aku, Ange. Aku hanya tidak ingin kau memikirkan situasi Jake dan Jessica secara mendalam. Kau dan Jake sudah berpisah. Juga..., walaupun aku mengerti melupakannya tidak segampang membalikkan telapak tangan, tapi, terus terlarut dalam hal yang bukan urusanmu lagi hanya akan berujung menyakitimu sendiri."


"Aku tidak bisa melupakan Jake begitu saja, Demian. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya bila dia terus muncul di depanku. Aku bahkan mendengar teman-teman bosku menggosipkan namanya. Aku mencemaskan Jake..., sangat." Pipi Angela kembali basah.


"Jake akan baik-baik saja."


Pria itu sudah dewasa, tidak ada yang perlu dicemaskan dari keberadaannya. Angela seharusnya tidak mencemaskan Jake. Tidak lagi.


"Sudah kuputuskan," ujar Angela tiba-tiba. Resolusi muncul di benaknya entah dari mana. "Aku akan bicara dengan Jessica."


"Ha?"


"Aku tidak bisa membiarkan dia dekat dengan Jake."


"Tunggu, apa?" Hello, Angela. Yang mendekati Jessica adalah Jake, bukan sebaliknya! Demian jadi sedikit tidak terima.


"Jake mungkin memanfaatkan Jessica untuk melukaiku, Demian. Tapi, Jake..., dia juga pria yang rapuh. Aku tidak mau Jessica memanfaatkan Jake untuk dirinya sendiri."


"Angela, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?"


Angela mengangguk. "Aku harus menjauhkan mereka berdua. Ini demi Jake juga. Aku meninggalkannya bukan untuk dia dimanfaatkan oleh wanita berbisa."


Demian kehilangan kata-kata. Wanita yang berada di hadapannya sekarang, Angela Lancaster, entah mengapa Demian tidak mengenali wanita itu sama sekali. Apa ini pengaruh patah hati? 


Tidak, patah hati seharusnya tidak mengubah kepribadianmu sepenuhnya. Angela bukan wanita picik yang akan seenak hatinya menggeneralisir setiap manusia. Dia adalah gadis polos dengan senyum ceria. Dia tidak memuntahkan racun dari mulutnya.


Angela yang sekarang..., entah bagaimana, tidak seperti Angela.


"Wah, wah, wah. Lihat siapa yang kutemukan di sini..." sapaan tiba-tiba datang dari arah belakang Demian.


Dari arah pintu masuk, dua orang wanita jalan beriringan. Keduanya adalah wajah yang cukup familiar di mata Demian dan Angela. Mereka berhenti hanya ketika mereka menemukan Angela dan Demian berada di salah satu meja.


Mereka adalah Dania dan Jessica.


'Panjang umur untukmu,' Demian membatin saat matanya bertemu dengan manik emerald Jessica.


"Oh, suasananya agak muram..." Dania yang duluan menyapa jadi agak canggung ketika ia menyadari wajah sembab Angela.


"Maafkan kami sudah mengganggu," Jessica berinisiatif untuk menyingkir dari sana.


"Oh, yaa..., maafkan kami. Hehehehe." Dania mengangkat tangannya di depan dada, seolah-olah ditodong senjata. Senyum kikuk merekah di parasnya. "Je-Jesse, ayo mencari meja di sana. Ahahaha..., sampai jumpa..."


"Mm." Angela tidak repot-repot menyembunyikan ketidak-senangannya. Dia menatap Dania dan Jessica datar.


Saat itu juga, ketika Jessica dan Dania melewati meja mereka, Angela tiba-tiba berdiri.


"Jessica," suara Angela keluar lebih kencang daripada yang ia harapkan. Mata-mata yang berada di sana jadi turut memandang.


"Ya?" Jessica menoleh.


"Aku ingin berbicara empat mata denganmu, nanti." Angela mempertahankan kepercayaan dirinya. Walau ditatap oleh banyak mata membuat kakinya melunak lemah.


"Aku akan mengosongkan waktuku untukmu, Angela. Aku juga, mempunyai hal yang ingin kubicarakan denganmu." Jessica menimpali dengan senyuman.

__ADS_1


*


__ADS_2