
Sebuah pesan muncul di layar ponsel Demian pagi ini. Pesan yang datang dari orang yang paling dia benci. Siapa lagi kalau bukan Erthian Bellamy.
Pria penyakitan itu menyusul Demian ke Vegas tempo hari, dan seperti keberadaannya yang selalu membawa bencana, keberadaannya yang baru sehari di Vegas sudah membuat Demian sakit kepala.
[Aku berencana ngopi bareng denganmu di Elixir hari ini. Kalau kau berminat, datanglah.]
"Keparat," umpat Demian. Ia spontan meremas ponselnya kuat-kuat. Mengapa iblis itu tau mengenai Elixir? Siapa orang gila yang sudah membocorkan informasi penting itu--oh? Oh!
Sesuatu terhubung dan menyalakan bohlam di kepala Demian. Seorang bajingan muncul di benaknya.
"Keparat, mengapa dari semua tempat kau mengatakan tempat itu!" pertanyaan menyembur dari mulut Demian tepat ketika panggilannya terhubung kepada si bajingan yang ia maksudkan. Si Oscar Brown.
"Kenapa kau meneleponku dan langsung marah-marah?"
"Idiot, jangan pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan di belakangku!"
Suara tawa Oscar terdengar sampai ke telinga Demian. "Apa yang sudah aku lakukan? Jangan bilang kau marah karena aku sudah membocorkan spot nongkrong favoritemu kepada kakakmu sendiri? Jangan kekanakan, Demian."
"Kau tau apa yang kekanakan? Aku yang akan mematahkan lehermu sekarang lah yang kekanakan."
Awas saja, Demian tidak akan membiarkan si ular Oscar itu lolos dari cengkeramannya. Pria itu akan membayar sudah menaruh orang yang berharga di hidup Demian sekarang dalam bahaya.
Jessica, semoga saja gadis itu tidak bertemu dengan Erthian!
F--!
"Aku tau kau marah, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Saudaramu sudah membayar mahal untuk informasi itu, jadi...," Jadi tidak ada alasan untuk Oscar menutup mulut.
Demian sudah tau itu. Bagaimanapun, Oscar adalah pebisnis. Dia akan memihak kepada orang yang lebih membawa keuntungan baginya.
"Keparat!" tau kalau bicara dengan Oscar sekarang hanya akan membuang waktu, pria itu sudah mengkhianatinya dan tidak ada jalan kembali lagi, jadi Demian memutuskan telepon.
__ADS_1
Sekarang, tujuan Demian adalah Elixir. Ia perlu menyeret saudara gilanya itu keluar dari sana sebelum dia mengetahui kelemahan Demian di sana.
Tidak, Oscar mungkin sudah memberitahunya perihal itu.
Arrrrggghh!!!
Kepala Demian seperti diporak-porandakan oleh badai sekarang. Ia pusing harus mulai dari mana, apa yang harus ia lakukan pertama-tama?
Meskipun ada banyak hal berkecamuk di kepalanya saat itu, Demian tidak membiarkan tubuhnya diam. Ia mondar-mandir di kamarnya demi mempersiapkan diri untuk pergi.
Setelah siap, Demian lalu meraih kunci motornya yang terletak di dalam aquarium kaca yang sudah tidak ada ikan dan airnya.
"Awas saja kau, Erthian. Aku benar-benar akan mengirimmu dalam peti mati!"
Jika sampai terjadi sesuatu...,
Sepuluh menit kemudian, dari flat apartemennya, Demian akhirnya tiba di Elixir. Ia menerobos masuk ke dalam cafe itu dengan mata memindai ke sepenjuru ruangan.
"Selamat datang di El--" Dania yang menyapanya dilewatkan begitu saja. Demian sekarang dalam mode auto fokus.
Sialan, betapa cepatnya dia mengakrabkan dirinya dengan mereka. Demian ingin memelintir leher saudaranya itu sekarang juga.
Mengambil langkah lebar, Demian pun menghampiri Erthian.
Erthian sedang membahas sesuatu yang entah apa ketika tiba-tiba dari belakang, sebuah tangan mencengkeram lehernya. Cengkraman itu kuat, menjerat.
"Demian, apa yang kau lakukan?" Jessica spontan berdiri. Sepasang emeraldnya berbinar ngeri. Apa yang terjadi?
Demian..., apa-apaan? Mengapa pria itu tiba-tiba bertingkah kasar?!
"Jangan cemas Jessica," Erthian mengibaskan tangannya, senyum mengembang ria. "Ini adalah cara kami bersaudara saling menyapa. Dia dengan kekerasan dan aku..." dengan penyiksaan mental.
__ADS_1
Erthian memegang pergelangan tangan Demian yang masih mencengkeram tengkuknya. Mata mereka saling bertemu saat itu juga.
"Eh?" Jessica melebarkan mata. Saudara, barusan Erthian mengatakan saudara?
"Jangan terlalu kasar, Demian." Erthian tersenyum santai. "Kau tidak mau membuat pacarmu ketakutan, bukan?"
"Pacar?" Apa itu yang Oscar katakan pada reinkarnasi Lucifer ini?
"Siapa pacar siapa?" tanya Demian dengan seulas seringai meremehkan.
Saat itu juga, Demian melepaskan cengkramannya dari leher Erthian. Ia menatap sekilas pada Jessica yang masih setia menjadi penonton mereka.
Kepolosan yang terpatri di sepasang emeraldnya membuat batu berat jatuh menindih dada Demian saat itu juga. Ia tidak bisa membiarkan Jessica terlibat dalam bahaya. Dia terlalu naif dan rentan.
"Sepertinya kau datang ke sini untuk menemui pacarku, ya, Erthian. Sayang sekali, tapi orang yang kau maksudkan ini bukan pacarku sama sekali." Demian kembali menghadap Erthian, suara pongahnya menyiratkan ejekan. "Lama tidak bertemu dan instingmu menumpul."
"Kau tidak perlu menutupi apa pun dariku, Demian. Aku saudaramu, aku mengertimu sangat baik."
Jika Jessica bukan pacar Demian, tidak mungkin pria itu bergegas ke Elixir dan berani bermain fisik. Sesuatu yang sudah sangat berharga baginya ada di cafe ini, dan Erthian percaya diri itu adalah Jessica.
"Demian," sebuah suara dari seorang pelayan datang menyela perbincangan.
Erthian menoleh dan menemukan seorang wanita datang menghampiri mereka. Seorang wanita yang merupakan pekerja..., ah, tidak.
'Apa aku sudah salah membuat perhitungan?'
"Angela, kau shift pagi rupanya." Demian menyapa gadis itu dengan keramahan yang berlebihan. "Kemarilah, aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang."
"..." Erthian memantau heran.
"Erthian, jika kau datang untuk menemui pacarku, kau seharusnya bicara lebih awal agar kau tidak salah paham." Ucapan Demian saat itu pula, seperti tikaman tajam di dada Jessica. Ia tidak bisa menahan gemuruh di dadanya.
__ADS_1
"Ini Angela Lancaster, dia datang dari Italy bersamaku. Kami..., pacaran."
*