
Helaan napas Jessica lepas dengan panjang dan menyiratkan lelah.
Setelah mendengar penuturan panjang Demian, ada banyak hal berkelebat di kepala Jessica, sulit untuk otaknya terima. Tidak hanya mengenai fakta kalau Demian adalah putera pemimpin kelompok mafia di Italy sana, Demian mempunyai saudara gila dan keluarga yang mungkin lebih gila lagi, Jessica juga kesulitan mencerna fakta kalau Demian mencintainya.
Segala informasi itu berbaur di benak Jessica dan menciptakan suasana hatinya saat ini. Suasana hati yang perpaduan dari bingung-keki-sedih-marah-ngeri dan kembali pada bingung lagi.
Jessica tidak tau harus bereaksi seperti apa atas limpahan cerita panjang Demian yang penuh kesuraman. Jessica tidak tau harus bagaimana ia menanggapi Demian.
"Jika ada hal yang kurasakan saat ini," Jessica bergumam sambil menyandarkan kepalanya di dudukan sofa. "Aku lebih terpana pada fakta kau masih hidup sampai sekarang, aku serius."
Jessica lalu menyikut lengan Demian, "Kau adalah korban. Jika ada orang yang pantas membuatku jijik dan marah dan ingin membunuh orang, maka orang itu sudah pasti Erthian. Saudara mana yang mengaku mencintaimu tapi tega melakukan hal jahat kepadamu? Memikirkannya tega melakukan itu saja, aku sampai bergidik luar biasa.--
Aku terkejut kau belum membunuhnya."
"Aku sempat berpikir untuk melakukan itu..." Demian bicara sambil mengusap lengannya sendiri, seakan-akan berusaha menenangkan dirinya yang berada di masa lampau. "Aku pikir aku harus membunuh Erthian dan Selina karena sudah melakukan hal menjijikkan itu padaku, tapi..., sampai ketika aku datang ke Vegas, aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku tidak bisa mengungkapkan cerita itu pada siapa pun."
"Aku merasa malu pada situasiku sendiri." tambah Demian di akhir.
Tentunya, menghadapi pelecehan dan mengakui sudah dilecehkan adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Jessica memahami hal itu walau ia tidak pernah menjalaninya langsung.
Jessica--selama di masa rehabnya pun--kerap bertemu dengan korban pelecehan yang menggunakan alkohol sebagai pelarian. Obat dari rasa sakit mereka yang mendalam.
"Terima kasih sudah mau menceritakan ini padaku," Jessica merangkul pundak Demian dan pada akhirnya memberikan pria itu guncangan pelan di pundak. "Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Kau hebat karena sudah menanggung semuanya sendirian selama ini."
Senyum Demian merekah samar, kesedihannya berpadu-padan dengan kelegaan. "Aku tidak menyangka akan memperoleh support moral darimu."
"Well..., aku tidak tau apa ucapanku pantas dilabelkan sebagai support moral ketika aku hanya mengatakan hal-hal yang normal. Aku harap aku bisa mengatakan hal yang lebih baik daripada tadi, tapi aku tidak begitu pandai dalam berkomunikasi. Terlebih bila itu untuk menenangkan orang lain."
"Kau tidak perlu mengatakan hal-hal yang bijaksana," ujar Demian. Ia menoleh ke arah Jessica sambil tersenyum lemah. "Kau yang berada di sampingku sekarang sudah membuatku merasa lega."
"Hmmm, itu..., aku masih belum bisa memaafkanmu. Jika kau memang serius menyukaiku, bagaimana dengan hubunganmu dan Angela? Kau pikir aku akan melupakan keberadaannya begitu saja?"
"Seperti yang sudah kukatakan, kami tidak berpacaran." Suasana nelangsa yang sebelumnya mengatmosfir di antara mereka berubah perlahan-lahan ketika Jessica kembali mengungkit masalah Angela. Ekspresi Demian spontan menjadi jengah.
"Aku serius," katanya, kali ini lebih meyakinkan.
"Aku memanfaatkannya untuk mengelabui Erthian, itu saja."
"Oh, jadi tidak masalah kalau Angela kenapa-napa?"
"Bukan berarti seperti itu tapi..." Demian memang bermaksud seperti itu, sebenarnya. Daripada merisikokan keselamatan Jessica, Demian lebih baik melihat Angela yang terkena imbasnya.
"Tapi?"
"Baiklah. Kau ada benarnya, tapi aku tidak bermaksud jahat."
Jessica menahan kekehan lepas dari mulutnya, ia tidak mau membuat Demian lega begitu saja. "Kau yakin kau sudah tidak menyukai Angela? Kau mengakui kau menyukaiku, tapi kau menginap di kamarnya, selalu menemaninya. Move on darinya pasti sangat sulit, huh? Apa kau senang sudah menjadi sandaran dari mantan gebetanmu?"
"Jessica?"
"Aku hanya bertanya..."
"Tsk..., aku menemani Angela karena dia mengancam akan bunuh diri, itu saja. Dia sangat stress berpisah dari Jake, dia menjadi tidak stabil. Aku tidak mempunyai perasaan apa pun padanya, dia hanya seorang teman saja."
"Kau yakin?"
"Aku hanya menyukaimu sekarang, aku sangat serius." suara Demian memelas gemas. "Apa yang harus aku lakukan sampai kau mempercayaiku?"
"Aku ingin mempercayaimu Demian, tapi bagaimana denganmu?"
"..."
__ADS_1
"Apa kau mempercayaiku?"
"Apa itu perlu dipertanyakan?"
Senyum Jessica merekah masam.
"Aku mengerti kau mempunyai masa lalu yang sulit, ada beberapa hal yang berat untuk kau akui padaku, tapi, Demian..., kau tidak pernah jujur padaku, kau tidak pernah mencoba jujur padaku." Jessica berucap dengan sedikit kekecewaan.
"Kau tidak perlu mengatakan siapa Erthian dan apa yang sudah ia lakukan, bila kau hanya mengatakan padaku dia berbahaya, kau bisa bicara dan bekerja sama padaku. Aku pasti akan mempercayaimu. Kau tidak perlu menipuku dan membuatku membencimu dalam proses itu."
"Aku tidak mau mengecewakanmu Jessica."
"Demian..., kau sudah mengecewakanku ketika kau memaksaku tetap berhubungan denganmu ketika kau pada saat itu mengaku berpacaran dengan Angela. Kau melukai harga diriku, jujur saja."
Demian kembali menenggelamkan wajahnya, ia menunduk dan mendengarkan setiap ucapan Jessica dengan perasaan bersalah.
"Aku mengatakan aku menyukaimu hari itu, tapi tidak sedikit pun kau berusaha memberikan penjelasan apa pun. Aku menunggumu bicara, aku siap mendengarkanmu, tapi kau mengunci mulutmu."
"..."
"Jika kau tidak menjalin hubungan dengan Angela, jika kau mengatakan kau melakukan ini demi diriku, setidaknya libatkan aku Demian. Meskipun kau tidak bisa mempercayaiku, aku masih berhak untuk tau alasan mengapa kau memperlakukan dengan buruk."
"..."
"..."
Keheningan kemudian terbentang di antara mereka. Jessica merasa sedikit lebih baik setelah menyuarakan isi hatinya. Ia--kendati memahami posisi Demian--masih tidak bisa melupakan bagaimana rasa sakit mendera hatinya belakangan. Ia merasa ternoda setiap kali Demian menyentuhnya, ia merasa bersalah pada Angela dan ia membenci dirinya sendiri karena sudah mencintai Demian.
Jessica merasakan berbagai keterpurukan hanya untuk menyadari kalau perasaannya tidak salah sama sekali. Duka dan tangisnya yang tumpah ternyata hanya untuk sebuah penipuan, kepalsuan. Jessica merasa terkhianati, dan itu sangat menyakitkan ketika orang yang mengkhianatinya--Demian--mengaku kalau dia mencintai Jessica.
Bagaimana bisa kau menyakiti orang yang kau cintai? Jessica sama sekali tidak mengerti?
"Maafkan aku Jesse," Demian akhirnya membuka suara. "Kau mengatakan hal yang benar, aku sudah mengecewakanmu dengan banyak tindakanku tapi..., aku melakukan itu karena aku tidak mau kau melihat jati diriku, Jessica."
"..."
Apa kau pikir..., dengan segala masa laluku, aku bisa dengan entengnya membicarakan semua itu padamu?"
Demian tidak berani mengakui masa lalunya, tidak sampai hari ini tiba.
"Lalu, mengapa kali ini berbeda, Demian? Mengapa kau tiba-tiba memutuskan jujur padaku?"
"Aku...,"
Demian menarik napas dalam dan merasa seperti pisau tersangkut di kerongkongannya. Ia mengingat kembali hari ketika ia menemukan Jessica berbagi kecupan dengan Jake di balkon.
Ketika ia menyaksikan situasi itu, Demian merasakan darahnya berdesir panas. Demian ingin posisi itu, tempat itu hanya untuknya. Ia tidak menginginkan orang lain di balkon kamar Jessica. Ia tidak mau melihat gadis itu berada di dekapan pria lain selain dirinya.
"Aku hanya serakah, Jessica..." Demian bergumam lirih, "Aku tidak tau..., meskipun aku mengatakan tidak ingin membahayakanmu, aku tidak mau membagimu dengan siapa pun. Aku terlalu serakah, aku kalah..."
Demian telah dikalahkan oleh hatinya. Tidak peduli betapa ia berusaha bersikap waras di sana, ketakutan yang hatinya rasakan ketika membayangkan Jessica bersama orang lain membuat Demian berlari ke Elixir. Demian tidak mau melepaskan Jessica, hatinya tidak mau mengalah dari logikanya.
"Kau mengatakan kau tidak mau berkata jujur karena kau takut mengecewakanku..., kenapa? Apa kau takut aku akan segan padamu dan menjauhimu?"
"Kebanyakan orang bereaksi seperti itu." Siapa yang mau berurusan dengan mafia, memangnya?
"Dan entah bagaimana, aku termasuk dalam kategori kebanyakan orang itu?"
Demian menoleh kepada Jessica sekilas sebelum kembali menatap cangkir kopinya di meja. "Kau adalah gadis baik-baik, Jesse. "Sudah wajar kalau kau membenci kejahatan dan segala hal-hal yang buruk di dunia ini."
"Itu..., mungkin benar. Tidak, itu memang benar." ujar Jessica. Kali ini ia bicara sambil menaruh perhatian penuh pada Demian. Sepasang emeraldnya berbinar jernih di sana.
__ADS_1
"Aku memang membenci segala hal buruk di dunia ini, tapi..., Demian, itu tidak berarti aku akan membencimu."
"..."
"Kau tidak bisa memilih dari siapa kau dilahirkan. Meskipun aku membenci latar belakangmu dan keluargamu, aku tidak akan membencimu. Tidak ketika pada realitanya, kau pun melarikan diri dari mereka. Kau tidak bergandengan tangan dengan mereka dan melakukan kejahatan. Kau..., berada di sini, Demian."
Jessica menangkup wajah Demian di telapak tangannya. "Aku hanya akan membencimu kalau kau terlibat dalam membunuh dan memperdagangkan manusia. Jadi, apa kau ada terlibat dalam hal semacam itu?"
"Haa..." kekehan Demian lepas dengan rendah. "Mana mungkin aku melakukan itu."
"Lalu?"
"Mereka hanya memperdagangkan senjata dan obat-obat terlarang, Jesse." Demian menggenggam pergelangan tangan Jessica, merasakan hangat kulit gadis itu di tangannya. "Tentunya, aku tidak pernah melibatkan diriku dalam masalah itu juga."
"Jadi mereka tidak memperdagangkan manusia?"
"Hanya bila itu konsensual?"
"Huh?"
"Kau tau..., semacam PSK...," Demian lalu tertawa. "Mereka tidak menculik anak-anak dan menjual organ mereka di pasar. Keluargaku cukup berhati-hati dalam mengotori tangan mereka, mereka tidak mengambil jalan kotor yang keuntungannya tak seberapa."
"Wah, wah..., apa ini sisi mafiamu yang bicara?" Jessica menyipitkan mata curiga.
"Hanya memberikanmu sedikit informasi."
"Well, terima kasih atas informasinya..." tanggap Jessica. Ia lalu mencubit paha Demian dengan kuat. "Sangat bermanfaat, ya. Aku tidak tau aku sangat membutuhkan informasi itu."
"Itu karena imajinasimu begitu tinggi. Kau harus berhenti membaca novel mafia-mafia itu."
"Eh? Dari mana kau tau isi bukuku?"
Demian mengendikkan bahu. Ia tidak mau mengaku kalau ia membeli beberapa cetak serial novel yang melibatkan Alecto di dalamnya. Demian tidak mau ketahuan sudah penasaran pada karakter favorite Jessica.
"Hanya menebak dari sampulnya yang aneh."
"Tsk. Jangan menilai buku dari sampulnya!" Jessica merutuk sebal ketika novelnya dibawa-bawa.
"Well, then..., apa ini artinya kau tidak akan membenciku meskipun aku mempunyai latar belakang yang buruk?" Demian kembali ke topik utama. Topik yang paling penting baginya.
"Aku tidak di posisi yang tepat untuk mengkritik orang-tuamu, Demian. Aku tidak mempunyai hak apa pun." Tidak ketika ia dilahirkan oleh orang-tua yang sama bobroknya.
"Aku dengar dari Ethan kau tidak mempunyai masa-lalu yang menyenangkan juga." Demian jadi teringat dengan obrolannya dan Ethan di cafe.
"Apa karena itu kau tidak mau menghakimiku atau apa pun?"
"Apa Ethan mengatakan sesuatu?"
"Dia tidak mengungkapkan apa-apa. Dia hanya mengatakan kalau dia dan teman-temanmu yang lain punya alasan mengapa mereka menjadi overprotektif padamu. Aku jadi penasaran karena itu..."
Demian penasaran mengapa Jessica mempunyai kawan yang memperlakukannya seperti raja?
Mengetahui Demian sedang mengungkit masa-lalunya, Jessica pun bangkit dari tempat duduknya dan melenggang menuju laci nakas. Demian memperhatikan langkah Jessica, terutama pada kakinya yang terekspos di belahan roknya, sebelum akhirnya Jessica berbalik dan melemparkan sebuah koin padanya.
"Itu alasannya," kata Jessica. Ia lalu duduk di tempat tidur dan menatap ekspresi Demian yang menyiratkan ketidak-percayaan.
Koin di tangan Demian adalah sebuah koin apresiasi yang diberikan kepada pecandu yang berhasil lepas dari candunya dalam kurun waktu tertentu. Demian tau koin itu adalah bukti dan apresiasi kalau si pemilik telah sadar, telah menemukan pegangan dalam dirinya sendiri.
Yang Demian tidak ketahui, mengapa Jessica mempunyai koin itu di tangannya?
Apa yang sudah terjadi sampai Jessica mempunyai koin ini? Dia tidak...
__ADS_1
"Itu hanya di masa-lalu," ujar Jessica, seolah-olah koin itu tak berarti apa-apa. "Teman-temanku mencemaskanku karena itu."
...****************...