MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
92. Peringatan.


__ADS_3

Hari-hari di Bronze berjalan membosankan tanpa keberadaan seorang Demian Bellamy. Oscar Brown, sebagai owner dari casino itu, terpaksa berjudi dengan segerombol konglomerat kaya yang kerap mampir ke casinonya untuk kalah.


Oscar merindukan Demian, sejujurnya. Oscar rindu melihat si keriting bajingan itu masuk ke casino-nya, bermain melawannya, dan membuat ketar-ketir setiap lawannya. Oscar rindu dikalahkan.


Mengingat Demian, Oscar jadi bernostalgia pada masa-lalu.


Hari ketika pertama kali ia mengenal seorang Demian Bellamy adalah ketika pria itu muncul di Bronze dan mengalahkan seorang dealer andalan Oscar. Kekalahan yang pihak Oscar terima begitu besar dan berujung membuat Bronze menerima kerugian besar.


Demian sempat diamankan oleh security guard di Bronze, tapi..., ketika Oscar ikut turun tangan dan mengecek siapa gerangan yang sudah merugikan bisnisnya, sosok itu adalah Demian Bellamy.


Oscar melihat ekspresi dingin yang menyiratkan kemenangan di wajah si bungsu Bellamy itu. Seakan-akan dia memang mengharapkan kedatangan Oscar. Dia memang mengharapkan Oscar datang.


Setelah pertemuan pertama mereka, Oscar pun tau kalau kemenangan Demian hanya untuk menarik perhatiannya saja. Demian bicara dengan Oscar dan sejak saat itu, hubungan mereka pun berlanjut.


"Aku merindukan peliharaanku," ujar Oscar kepada Adam. Sambil mengunyah anggur di bibirnya dengan bosan, Oscar menatap kepada situasi di Bronze yang berjalan damai, terlalu damai.


Oscar benci kedamaian.


"Salahmu sendiri sudah mengkhianatinya, sekarang kau sudah tidak mempunyai lawan yang sepadan."


"Pengkhianatan, bokongku. Apa yang salah dari berbagi sedikit cerita? Lagipula, cepat atau lambat Erthian akan tau mengenai keberadaan Elixir." Oscar mengomel. "Oh, jangan lupakan juga kalau yang mengekspos keberadaan Jessica pada Erthian bukan aku, tapi Demian sendiri. So..."


Adam merotasikan mata, "Kau memang tidak pernah salah, huh?"


"Aku tidak melakukan kesalahan," ujar Oscar. "Juga, berkat aku sudah menjual informasi tentang Elixir, aku mempunyai akses lebih dekat kepada si sulung Bellamy itu dan memahami intensinya dengan baik."


"Dan apa manfaatnya itu?"


Oscar terkekeh. Ia memberikan Adam tatapan seolah-olah bawahannya itu adalah manusia terbodoh di bumi. "Sekarang aku tau apa incaran Erthian, Adam. Dengan pengetahuan ini juga, cepat atau lambat Demian akan datang ke kakiku dan meminta bantuanku seperti hari itu. Hari pertama kali kami bertemu."


"Oooh, apa kau membahas ketika dia menginginkan perlindungan darimu setelah berhasil menguras uang ratusan juta di sini dalam semalam?"


"Dia menunjukkan bakatnya," tukas Oscar. Dia menjadi sebal. "Aku tidak merasa rugi sama sekali. Toh..., dengan kedatangan Demian, aku jadi mempunyai keterkaitan dengan Bellamy."


Adam geleng-geleng kepala saja. Dia sama sekali tidak berminat untuk tau isi kepala bosnya tersebut.


Sementara Adam terdiam dan memilih mengutak-atik ponselnya di sisi lain sofa, ponsel Oscar di atas meja bergetar. Nama seseorang yang cukup familiar tertera di sana, membuat seringai Oscar merekah jenaka.


Erthian Bellamy memanggilnya.


"Selamat malam, Erthian Bellamy." Oscar mengangkat panggilan itu dengan sedikit keantusiasan di nada suaranya. "Terima kasih sudah menghubungiku, kau menyelamatkanku dari kebosanan yang melandaku sekarang."


"Apa aku seperti sirkus di matamu?"


"Kau mengartikan ucapanku dengan buruk," cebik Oscar. Ia menyandarkan lengannya di sofa, mata sesekali melirik Adam yang menatapnya penuh tanya.


Bawahannya itu pasti penasaran mengapa si sulung Bellamy menelepon Oscar malam-malam.


"Aku hanya senang sudah dihubungi olehmu," kata Oscar lagi, tidak menaruh keseriusan sama sekali.


"Oscar...," ujar Erthian, lebih tenang. "Aku percaya kau sudah menyembunyikan satu informasi dariku."


"Huh?"


"Jangan berpura-pura tolol. Kau tau aku bisa menghancurkanmu, bukan? Jika kau pikir kau bisa lepas begitu saja setelah mempermainkanku, kau salah. Kau sebaiknya menunggu hari sebelum aku meruntuhkanmu."


"Hei..., ada apa dengan statement menakutkan itu?" Oscar--walau sudah diancam--bereaksi bosan. Ia meraih anggur hijau di meja, dan mengunyahnya secara perlahan. "Aku merasa aku tidak melakukan kesalahan apa pun, tuh!"


"Kau membuang-buang waktuku dengan menyembunyikan identitas Jessica Cerise, Oscar. Aku tau kau tau kaitan keduanya, aku tidak sebodoh yang kau kira."


"Oooh, mereka?"


Bagi Erthian yang datang ke Vegas untuk menemukan kelemahan Demian dan memanfaatkan itu untuk membawa Demian pulang, Erthian sudah membuang-buang waktunya terlalu lama di kota penuh dosa itu.

__ADS_1


Erthian berpikir, sejenak saja, ia bisa memanfaatkan Oscar dan membeli informasi dari pria bermata biru itu. Namun, Erthian dipermainkan.


Andai saja Erthian tidak mempunyai keraguan sedikit saja terhadap sosok Angela, andai saja Erthian tidak memahami selera Demian, segala rencana Erthian bisa berakhir berantakan.


Erthian bisa dicap tak kompeten oleh Christian!


Semua itu karena si keparat Oscar Brown yang sudah berani bermain-main dengannya. Erthian tidak akan memaafkan si bajingan ini!


"Kalau kau tidak sebodoh yang kau katakan, Erthian. Kau seharusnya bisa menyelesaikan sedikit puzzle yang sudah kuserahkan padamu. Kau tidak berharap aku menjadi kaki tanganmu dan menyelesaikan segala urusanmu di sini, kan? Mau kupakaikan popok sekalian?"


"Kau..., tugasmu hanya satu, yaitu memberikanku informasi!" ucapan Erthian menekan.


"Aku memberikanmu informasi, salahmu sendiri yang tidak mampu membaca situasi. Asistenku yang tolol saja tau kalau ada sesuatu di antara mereka, kau malah membuang waktumu terlalu lama dengan bergelut dalam keragu-raguan. Jangan menyalahkanku di sini."


Seperti biasa, Oscar tidak akan pernah merasa bersalah. Walau pada realitanya, dia memang tidak memberikan informasi yang Erthian butuhkan. Dia adalah bajingan di posisi netral yang berkeinginan melihat dua saudara saling baku hantam.


"Gara-gara kau, aku sudah membuang waktuku menjadi lebih lama di kota ini. Kau akan mendapatkan imbas dari tindakanmu sendiri, Oscar Brown."


Erthian mengulang peringatannya sekali lagi. Semata-mata untuk menanam teror kepada Oscar. Namun, tidak seperti yang Erthian pikirkan, suara tawa Oscar menyapa kupingnya. Jernih dan jenaka.


"Lakukan apa yang kau mau, Mr. Bellamy." Oscar tidak takut sama sekali. "Aku akan menantikan hari ketika kau mampu menghancurkanku."


Dan beeep.


Panggilan berakhir.


Oscar mengakhiri panggilan itu secara sepihak. Ia tidak menemukan hiburan yang ia inginkan ketika bicara dengan Erthian. Sungguhan, berurusan dengan si sulung itu lebih membosankan. Oscar lebih senang berbicara dengan Demian.


"Sepertinya kerja samamu dengan Erthian Bellamy sudah berakhir." Adam berkomentar.


"Sejak awal, kami memang tidak bekerja sama."


"Lalu, apa yang terjadi sekarang? Apa yang akan kau lakukan kalau dia sampai menghancurkanmu?"


"Biarkan dia berusaha," tutur Oscar. "Aku ingin melihatnya mencoba."


"Dan kau terlalu pesimis."


Oscar melirik Adam dan tersenyum masam. "Mempunyaimu sebagai asisten sungguh membosankan!"


*


[Apa kau punya waktu untuk bertemu besok?]


Sebuah pesan masuk di layar ponsel Demian, dikirim oleh Adam. Demian membaca pesan itu sambil mengunyah seiris wortel yang ia curi dari lemari es Jessica.


Bicara soal Jessica, karena dia terlalu sering berhadap-hadapan dengan laptop dan HP, Jessica mulai mengonsumsi wortel lebih banyak belakangan ini demi menjaga kesehatan matanya.


Jessica memilih mengunyah buah itu langsung seperti kelinci daripada meminumnya dalam bentuk jus karena rasanya sangat tidak enak dan menyengat. Jessica kesulitan menelannya.


[Apa ada sesuatu yang penting?]


Demian lalu membalas pesan Adam.


Melihat Demian agak terpaku pada layar ponselnya, Jessica yang baru keluar dari kamar mandi, masih segar berseri-seri, menatap Demian curiga. Ia melangkah dengan jinjitan menuju dapur. Sebelum Jessica mencapai Demian juga, Jessica spontan dikejutkan oleh Demian yang menoleh ke arahnya dadakan.


"Apa kau pikir kau bisa mengejutkanku?" ujar Demian, ia tertawa puas usai membuat jantung Jessica terperangah atas pergerakannya yang tiba-tiba.


"Aku tidak berniat mengejutkanmu, kau yang berniat mengejutkanku!"


"Kalau kau tidak berniat mengejutkanku, kau seharusnya tidak mengendap-endap di kamarmu sendiri." Demian menyambut kedatangan Jessica di dapur dan memberikan capitan ringan di hidung gadis itu.


"Mau sesuatu?" tanya Demian kembali. Karena mereka di dapur sekarang, Demian tidak keberatan membuatkan sesuatu untuk Jessica.

__ADS_1


"Tidak ada," tukas Jessica. "Aku hanya penasaran pada apa yang kau lakukan di sini. Apa kau sedang menghubungi pacar palsumu itu dan meminta izin untuk menginap semalam di sini?"


Ledekan Jessica membuat Demian mencebik. "Kau tidak akan meninggalkan topik itu sama sekali, ya?"


"Aku akan meninggalkan topik itu sampai aku bosan." Cengiran Jessica tak bertahan lama karena ia memperoleh cubitan kuat di pipinya.


"Kau menjadi semakin jahil setelah menjadi pacarku, ya. Apa ini jati dirimu, Jessica Cerise?"


"Jahil apanya? Aku hanya bersikap normal."


Jessica mundur ketika Demian hendak mencubit pipinya sekali lagi. Ia menghindari Demian dan terus melenggang menuju tempat tidurnya.


Sementara Demian mengikutinya, Jessica mulai mengelap surai basahnya dengan handuk yang mengalung lehernya. Ia memberikan tatapan tajam pada Demian yang sekarang berbaring di tempat tidurnya. Mencelup kantong piyamanya.


"Apa yang kau lakukan?" Jessica mengernyit atas ulah Demian yang membingungkan. Pria itu mengecek kiri dan kanan kantong piyamanya, seolah-olah mencari sesuatu di sana.


"Aku hanya penasaran," ujar Demian, dan dia memang jujur, penasaran.


"Apa ini juga bagian dari penasaran?" Jessica menangkap pergelangan tangan Demian yang sekarang menyusup di balik piyamanya. Menyentuhnya.


"Bercanda, bercanda." Demian menyengir jenaka sebelum menarik dirinya mundur dari tempat tidur Jessica.


"Beristirahatlah," tukas Demian.


Seusai bicara, Demian pun berlalu menuju sofa. Ia meninggalkan Jessica yang sekarang menatapnya bimbang.


Tumben-tumbennya Demian tidak nafsuan!


"Apa yang terjadi padamu?" Celetuk Jessica.


Mustahil Jessica tidak heran pada sikap Demian. Demian--di sepengetahuan Jessica--adalah pria dengan libido tinggi. Dia selalu membuat Jessica kalap dalam ulah mesumnya. Tak berdaya.


"Apa yang terjadi padaku?" tanya Demian balik.


"Kau..., aneh?"


"Aneh? Aku?"


Jessica menatap Demian untuk beberapa waktu. Ia bingung harus bagaimana mengutarakan tanya yang menyumbat benaknya. Jessica, jujur saja, masih merasa tabu untuk mengungkit masalah vulgar kepada Demian. Pembahasan itu membuat Jessica merinding malu, teramat malu sampai dia mau membenamkan wajahnya di tanah.


Tapi, tidak membahas perihal itu juga membuat Jessica terjebak dalam tanya yang tidak akan menemukan jawaban sebelum ia bicara. Jessica penasaran mengapa Demian seperti menjaga jarak darinya?


Jessica heran Demian tidak menyentuhnya.


Itu..., aneh. Semenjak mereka bersama, skinship terjauh mereka hanya sebatas berpegangan tangan saja. Demian berhenti menciumnya dan bermanja-manjaan padanya.


Bukan berarti Jessica haus akan sentuhan Demian, tetapi..., ah.


"Lupakan saja," tutup Jessica akhirnya. "Selamat tidur, Demian."


Mungkin Demian belum dalam mood ingin menyentuhnya. Siapa yang tau. Pria itu sedang dilanda berbagai masalah semenjak saudaranya tiba. Mungkin karena itu juga, kepalanya hanya dipenuhi hal-hal rasional semata.


"Selamat tidur, Jesse." Demian--bersandar di sofa--menatap Jessica yang sekarang menimbun selimut ke atas tubuhnya.


'Nyaris saja,' Demian membatin sambil membenturkan kepalanya ke bahu sofa. Dia nyaris saja menuruti kemauan setannya untuk menyentuh Jessica.


Jika Jessica tidak menyergapnya, Demian bisa saja menyerah pada hasratnya dan kembali menciptakan kesalah-pahaman di benak Jessica.


Demian tidak mau mengulang kesalahan yang sama.


Selama ini, Demian sudah menyentuh Jessica dan membujuk gadis itu untuk mengikuti nafsunya. Jessica yang terlalu sering meladeni kegilaannya jadi menganggap kedekatan mereka selama ini terjalin berlandaskan nafsu saja. Demian tidak mau Jessica berpikir seperti itu lagi, Demian tidak mau Jessica menyalah-artikan cintanya dan mengira kalau obsesi Demian hanya sebatas gairah.


Tidak! Tidak boleh!

__ADS_1


Sampai Jessica menginginkannya, barulah Demian mau menyentuh Jessica kembali. Ia tidak boleh gegabah dalam hubungannya yang baru sebesar tunas. Ia tidak boleh merusak hubungannya, tidak lagi!


...****************...


__ADS_2