MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
27. Bertemu.


__ADS_3

Oscar Brown bukan seorang pria yang akan menganggukkan kepala dan mengatakan 'Ya, baiklah!' ketika kau memberikannya peringatan.


Oscar Brown adalah pria yang berjalan dalam sepatu kontradiksi. Ia senang melakukan sesuatu yang bertolak belakang, menguji kesabaran, dan bermain dengan pertaruhan.


Ketika Demian memperingatkannya untuk menjauhi Jessica Cerise--seorang wanita sebatang kara yang mempunyai catatan hitam di latar belakangnya, Oscar tidak serta-merta menuruti kemauan rekannya tersebut. Yang ada, Oscar malah menumbuhkan ketertarikan di sana.


Tidak, ketertarikan yang Oscar rasakan bukan menyangkut Jessica dan penampilannya yang omong-omong, cukup sedap dipandang. Tidak, oh..., tidak sama sekali. Hal yang menarik minat Oscar adalah Demian.


Oscar penasaran, apa pria arogan yang selalu berdiri berseberangan dengannya di meja pertaruhan itu akan menunjukkan ekspresi yang menyimpang bila ia bermain-main dengan Jessica?


Apa akan ada ekspresi lain tertera di paras angkuhnya? Sebuah kemurkaan mungkin? Kecemburuan? Itu pasti sangat menyenangkan.


Dengan inisiatif busuk itu bermain di kepalanya, Oscar pun meluncur meninggalkan Bronze di senin paginya yang cerah dan mampir ke Elixir. Oscar ingin menguji keberuntungannya.


"Selamat datang di Elixir," sebuah sapaan manis dari wanita bersurai blonde menyapa telinga. Oscar menoleh dan mengembangkan senyum ramah.


"Apa kau sudah membuat reservasi, tuan?"


"Ah, tidak." Selagi bertukar kata dengan wanita yang menyapanya, Oscar memperhatikan seisi Elixir dan menemukan Jessica Cerise berada di belakang meja bar, membantu baristanya yang sibuk mengolah pesanan. "Aku hanya akan duduk di bar."


"Baiklah, kalau begitu." si blonde--Dania, menarik satu langkah mundur dari Oscar. Ia mempersilakan tamunya tersebut masuk.


Pagi di Elixir, terutama pagi Senin, terbilang cukup ramai oleh pengunjung. Kebanyakan yang datang adalah tamu-tamu yang hendak melakukan pertemuan bisnis sambil menikmati secangkir kopi. Mereka mem-booking meja jauh-jauh hari dan menu tertentu untuk pertemuan mereka.


Tentunya, akan ada tiga atau empat tamu seperti Oscar yang datang hanya untuk singgah sebentar. Orang-orang seperti itu biasanya akan duduk di bar atau melakukan takeaway.


Ketika Elixir ramai, Jessica akan turun tangan membantu Ethan di balik meja bar. Pengalamannya sebagai barista kopi ketika remaja akan sangat berguna di sana.


"Selamat datang di Elixir," sapa Jessica.


Oscar menarik bangku kosong yang berhadap-hadapan dengan Jessica.


"Selamat pagi," sambut Oscar kembali.


"Ini pertama kalinya aku melihatmu mampir kemari," Jessica berbasa-basi.


"Eh..., tapi ini sudah ketiga kalinya aku mampir..."


Mata Jessica membulat terpana, seolah mengatakan 'Bohong, ya?'. Mustahil Jessica tidak mengingat wajah tampan, kulit seputih susu, dan lesung pipi lucu itu.


"Aku serius...," ujar Oscar lagi. "Mungkinkah karena wajahku yang pasaran, kau jadi tidak mengingatku? Ahahahaha."


Pa-pasaran? Wajah bak model majalah pria itu? Pangeran dari negerinya para barbie? Pasaran? Bercanda, kan?


"Kau terlalu merendah, tuan." Jessica mengibaskan tangan. "Kalu aku tidak mengingat pria sepertimu, itu artinya aku buta. Iya kan, Ethan?" Jessica lalu menyenggol Ethan yang sedang sibuk mengaduk kopi di gelasnya.


"Tapi dia memang sudah berkunjung ke sini beberapa kali," kata Ethan. "Kau saja yang tidak memperhatikan."


"Eh?" EEEEHHHHH???? SERIUS???


"Seperti yang sudah kukatakan," sahut Oscar, senyumnya mengembang riang.


"A-ah, aku pasti buta. Hahahaha. Maafkan aku." Jessica tidak percaya ia sudah melewatkan pria berparas muda itu dari hadapannya? Kenapa? Apa yang terjadi dengan jiwa penggila cowok tampannya?


"Kau tidak perlu meminta maaf, itu bukan sebuah kesalahan sama sekali."


Tapi Jessica merasa sudah memperlakukan wajah tampan itu dengan tidak adil. Uhuhuhu, wajah babyface pria itu sangat menggemaskan. Dari mana dia datang?


"U-ummm, jadi..., apakah ada menu istimewa yang ingin kau coba, tuan?" Jessica menjadi salah tingkah saat sepasang iris biru itu menyorotnya teduh.


Dia adalah pria dari negeri dongeng, Jessica sangat yakin. Yang ingin menentangnya, silakan berbicara dengan dinding!


"Apa kau mempunyai rekomendasi untuk tamu baru ini?" Oscar bertanya balik.


"Ca-caribean coffee kami cukup populer belakangan ini."


"Bagaimana denganmu, jika disuruh memilih, kau akan memilih kopi apa?"

__ADS_1


"Aku menyukai kopiku hitam, simple."


Oscar mengangguk-angguk seraya menahan senyumnya agar tidak mekar berlebihan. Saat itu, Oscar teringat pada kopi yang kerap Demian pesan. Kopi hitam. Mereka berdua berbagi kesamaan.


"Kalau begitu, aku akan memesan yang kau sebutkan barusan..."


"Ah, baiklah..., kalau begitu..." Jessica meragu. Pilihan Jessica sebenarnya sangat biasa, dia takut akan mengecewakan pria imut di depannya.


"By the way," Oscar berujar lagi. "Kau tidak perlu memanggilku tuan."


"Hmm?" Baik Jessica maupun Ethan, menoleh ke arah Oscar. Tanda tanya menggantung di atas kepala.


"Aku Oscar Brown, kau bisa menyapaku Oscar."


"O-Oscar Brown?"


OSCAR BROWN YANG ITU????


Sungguhan, pria dengan babyface ini adalah..., Oscar Brown?


*


Jessica memasuki kamarnya dengan tarian manja. Ia berputar-putar, mengibarkan rambut lebatnya ke kiri dan kanan, mata penuh kebahagiaan. Mulutnya bersenandung riang--seakan-akan musim semi akan datang.


Jessica--dengan kebahagiaan yang tiada dua, menuju kalender mini yang berada di atas meja granit dapurnya. Sebuah spidol merah berada di tangan kiri Jessica. Dengan senyuman yang belum luntur dari parasnya pula, Jessica menandai tanggal 23--hari ini, dengan bentuk hati.


Hari ini adalah hari istimewa, sangat luar biasa. Hari ini adalah hari Jessica bertemu dengan superhero-nya, Oscar Brown. Tidak hanya pria itu memuji jerih payahnya di situs terkenal di Vegas, Oscar juga datang langsung untuk menemuinya. 


Bagi Jessica yang sudah merintis karirnya dari nol, apresiasi yang diberikan Oscar padanya sama berharga dengan medali emas yang diperoleh oleh atlet olahraga. Jessica--sekali lagi, merasa sangat diberkati.


"Tidak hanya dia mempunyai tulisan dan ulasan yang menarik, wajahnya juga...Aaaaaaa...." Jessica merasakan gemas luar biasa ketika ia mengingat wajah Oscar. Pria itu seratus persen, sangat keren.


Apa-apaan ini? Mengapa pria-pria tampan nan rupawan mengorbit di sekitarnya seolah-olah ia adalah pusat gravitasi? Apakah ia adalah matahari? Eeeeei, itu konyol.


Jessica lalu melenggang ke tempat tidur dan merebahkan punggungnya di sana. Ia menatap langit-langit kamar sambil kembali mengenang interaksinya dengan Oscar tadi pagi.


Dia sangat profesional.


Pria seperti Oscar sangat menawan. Tidak hanya karena ia mempunyai ketampanan yang menyegarkan, dia juga mempunyai karisma dan kesopanan seorang gentleman, bak pria-pria dari negeri dongeng. 


Ah, Andai saja Demian mempunyai setetes karisma Oscar, dia pasti akan menjadi bad boy yang sempurna. Bad boy ala-ala novel romansa yang mengutuk dunia dengan tatapan tajamnya, tapi meluluh lunak di bawah kaki wanita yang ia cinta.


Itu..., mustahil sih.


Jessica mengembuskan napas.


"Aku lebih percaya Demian mematahkan kaki orang yang dia sayang, daripada mencintai seorang wanita dengan kelembutan." Jessica bicara pada dirinya sendiri.


"Si keparat itu, dia pasti merasa di atas awan karena sudah bisa berkencan dengan Angela. Dia datang kemari hanya sesuka-hatinya sendiri."


Jessica kembali bangkit dari posisi rebahannya. Ia duduk dan menatap parfume merah muda yang terletak di atas nakasnya. "Lihat saja nanti, Demian. Aku akan mengganti kunci pintuku. Aku akan memastikan bajingan keparat sepertimu tidak menggoyahkan hatiku. Hahahaaha."


"..."


"Haahahahaaha"


Haha.


Ha!


Jessica mengusap wajahnya. Segala kebahagiaan setelah bertemu Oscar, tenggelam karam ketika ia mengingat tindakan Demian. Berani-beraninya pria itu menggodanya, mengaburkan akal sehatnya dengan intimasi yang membuat Jessica panas dingin gelisah, ketika pada realitanya, pria itu sangat bertekuk lutut kepada Angela.


Bagaimana bisa dia memperlakukan Angela seperti itu? Meskipun dia bad boy, dia seharusnya memperlakukan wanita yang dia cintai dengan istimewa. 


'Mempermainkanku dan berharap Angela menerimanya dengan tulus, apa dia pikir dia bisa seenak jidatnya!'


Jessica tidak akan membiarkan dirinya dipermainkan Demian lagi. Bahkan bila pria itu datang kemari, Jessica bersumpah ia akan menciptakan batasan-batasan yang lebih jelas di antara kedekatan mereka. Tidak, jika bisa, Jessica akan mengusirnya.

__ADS_1


"Aku akan menendangmu keluar dari balkon kamarku!" Jessica menggebu-gebu. Ia meraih botol parfume yang Demian berikan padanya dan melempar benda itu ke laci terbawah nakasnya. Ke laci tempat barang-barang tak terpakainya berada.


"Blacklist!"


Drrrttt..., drrrrrtttt!


Di tengah api amarah Jessica yang berkobar, sebuah getaran dari atas meja sofa menarik perhatian Jessica. Ia pun melompat turun dari tempat tidur dan melaju menuju sofa. Jessica menyamankan duduknya di sofa kuning itu sebelum membaca nama pemanggil yang menghubunginya.


Jake Allendale.


"Oho..., apalagi maunya sekarang?" Jessica--setelah membaca nama Jake di sana, langsung menjawab panggilan telepon dari pria itu. "Halo?"


"Halo, Jessica. Apa kabar?" Jake menyapanya seperti template dialog yang ada di buku pelajaran bahasa inggris.


"Aku baik," kata Jessica. "Bagaimana denganmu? Kau tidak menghubungiku belakangan ini, kupikir kau sudah terjerambab mabuk di salah satu kamar mandi club malam."


"Apa kau mengejekku sekarang?"


Jessica mengangguk, walau ia tau Jake tidak akan melihatnya. "Aku cemas, itu saja. Hahahaha. Maafkan aku, aku tidak serius kok. Tapi kau benar baik-baik saja, kan?"


"Mm, aku merasa cukup baik. Aku tidak menghubungimu belakangan karena aku mempunyai pekerjaan menumpuk di kantor. Aku mengejar ketertinggalanku karena sempat dengan seenak hatinya mengambil cuti seminggu."


"Waaah, kau beruntung tidak dipecat." Jessica tertawa.


Jake turut menertawakan ucapan Jessica. "Dipecat, ya? Itu ungkapan yang lucu."


"Hmm, maksudnya?"


"Tidak, tidak ada. Aku hanya memikirkanmu sekarang..., sebagai teman, apa kau punya waktu luang untuk menemaniku merayakan kebebasanku dari pekerjaan yang menumpuk?"


Jessica menimbang-timbang sesaat. Ia perlu memilih hari yang tepat. "Aku rasa..., apa tidak masalah?"


"Kenapa?"


"Maksudku...," rasanya aneh bagi Jessica bila ia harus menemani Jake. Walau sebenarnya Jake sudah berulang kali mengatakan ingin berteman, dan Jessica sudah berulang kali menyetujui permintaan pria itu.


Jessica, sejujurnya, belum terbiasa berada di sekitar Jake. Pria itu terlalu memukau untuk berada di sekitar kentang sepertinya.


"Apa kau sibuk?" suara Jake kedengaran agak kecewa.


Sialan, lagi-lagi...


"Mana mungkin," Jessica menyangkal cepat. "Lupakan yang kuucapkan tadi. Mari bertemu hari Jumat nanti."


"Baiklah, aku senang mendengarnya."


"Aku senang kau terdengar baik. Jangan lupa menjaga kesehatanmu, oke? Aku akan mengecekmu hari Jumat nanti. Kalau aku menemukanmu dalam keadaan murung, berkantung mata dan tidak mempunyai minat hidup, aku akan mengantarkanmu ke terapist langsung."


"Ada apa dengan itu?" Jake terkekeh. Jessica bisa membayangkan senyuman pria itu mekar dengan indah. Haaah, sangat disayangkan!


'Mengapa kau mencampakkan emas seperti Jake Allendale, Angela? Apa pria bad boy adalah tipe idealmu yang sebenarnya?'


Jessica mengembuskan napas saat ia memikirkan situasi Jake Allendale kembali. Bagaimana kondisi pria itu setelah patah hati...


"Apa aku tidak bisa menjadi temanmu kalau aku tidak mempunyai masalah yang tidak bisa kuselesaikan sendiri, Jessica?" Jake kembali bertanya.


"Ya..., tapi, bukankah alasanmu ingin berteman denganku adalah karena kau membutuhkanku menjadi pendengarmu?"


"Itu..., memang."


"Kau tidak perlu mengakuinya dengan nada seolah-olah berdosa. Itu bukan hal yang salah, kok. Jika aku membutuhkan sesuatu darimu, aku juga akan melakukan hal sama. Jadi santai saja."


Jessica mengangkat sebelah kakinya di udara, ia memandang ujung-ujung jari kakinya yang mulai memanjang dan butuh perawatan. "Kalau begitu, sampai bertemu Jumat malam nanti."


"Ok, then..., see you later."


"Mm, later."

__ADS_1


*


__ADS_2