MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
37. Amarah.


__ADS_3

[Kenapa kau tidak membalas pesanku? Apa kau marah pada sesuatu yang tidak kuketahui?]


[Jessica Cerise?]


[Apa aku membuat kesalahan yang tidak kuketahui lagi?]


Setumpuk pesan dari nomor yang sama, nomor Demian muncul di ponsel Jessica. Pesan itu muncul berulang-ulang dengan inti yang sama. Demian ingin Jessica membalas pesannya. Sayangnya, tidak seperti tumpukan pesan itu akan mengubah pemikiran Jessica, Jessica masih mengabaikan pesan Demian.


Jessica, untuk menaruh fokusnya hanya pada pekerjaan dan melupakan apa yang sudah terjadi di antara dirinya dan Demian, memutuskan untuk mengabaikan rentetan pesan Demian. Jessica tidak mau terbawa perasaan pada hujan pesan teks yang muncul di layar ponselnya. Jessica meyakini dirinya sendiri kalau Demian juga pasti melakukan hal serupa pada Angela.


Perlakuan Demian sama sekali tidak istimewa. Dia tidak boleh salah paham.


"Mr. Ander akan datang jam delapan bersama tunangannya, dia meminta kue ulang tahun dan musiknya agar diputar sepuluh menit setelah mereka tiba."


Dania sedang memimpin rapat kepada lima karyawan yang ia pilih khusus untuk mempersiapkan request dari tamu spesial di Elixir malam ini.


Tepatnya, sebuah perayaan ulang tahun disertai lamaran akan dilaksanakan di Elixir. Tuan Ander yang sudah menjadi reguler di Elixir sejak tiga tahun belakangan, ingin merayakan malam istimewanya di Elixir. Demi memenuhi keinginan tuan Ander pun, situasi di Elixir menjadi lebih sibuk hari ini.


Jessica tidak begitu terlibat dalam perencanaan acara karena itu adalah skill Dania. Jessica di sisi lain, hanya mengamati dengan seksama dan melibatkan opininya di sana-sini.


"Aku ingin kau mengetes audionya sekali lagi dan pastikan musiknya sinkron dengan timing kue-nya keluar. Elli, bagaimana dengan kue ulang tahunnya?"


"Sudah aman."


"Tunangan tuan Ander alergi terhadap seafood, pastikan tidak ada makanan berat yang melibatkan seafood di sana." Jessica turut bersuara.


"Ketika tuan Ander mengeluarkan cincinnya," Dania melempar tatapan pada Angela. "Pastikan botol sampanye sudah berada di tanganmu. Lalu, ketika tunangan tuan Ander mengatakan iya, Baaaammm..., buka botol sampanye itu, dan pastikan tepuk tangan riuh untuk selebrasi."


Dania sangat bersemangat dalam mempersiapkan request tuan Ander. Dia sampai bisa membayangkan setiap kejadian terjadi di depan matanya, nyata sebelum terlaksana.


"Da-Dania..." Angela mengangkat tangan gugup.


"Ya?"


"Bagaimana kalau tunangan tuan Ander menolak?"


Jessica mengangkat wajahnya dari tab secara spontan. Ia memandang Angela dengan alis bertautan.


"Angela, ini hari istimewa untuk tuan Ander dan tunangannya, mari tidak merusak momen spesial ini dengan pemikiran pesimis dan negatif, oke?" Antusiasme Dania terkuras seketika. Ia menatap Angela sambil berkacak pinggang.


"Maafkan aku. Aku hanya merasa setidaknya, kita membutuhkan plan B kalau-kalau rencana ini gagal."


"Satu-satunya hal yang mampu menggagalkan perencanaan tuan Ander adalah tunangannya sendiri. Bila dia menolak, tidak ada plan B yang akan berguna dan mampu membuat tunangan tuan Ander mengatakan ya."


"O-oh, ba-baiklah. Maafkan aku."


"Optimis sedikit, Angela. Jangan menanyakan hal yang sia-sia."


Setelah membubarkan rapat dengan para karyawan di Elixir, Dania menuju konter bersama Elliot dan Jessica. Dania melirik Jessica dan Elliot dengan sorotan mata jengah yang kentara. Tanpa menafsirkan alasan kejengahan Dania pula, Elliot dan Jessica sudah tau alasannya.


"Apa aku salah?" tanya Dania. "Maksudku, kalau aku mempersiapkan sebuah acara dengan pemikiran bahwa acara itu bisa gagal kapan saja, tidakkah menerima request dari tuan Ander adalah hal yang sia-sia?"

__ADS_1


Elliot duduk di samping Jessica, dia melirik Dania di sebelah Jessica yang mendumel sambil menyambut segelas fruit punch dari Ethan.


"Apa yang Angela cemaskan bisa terjadi." kata Elliot kemudian. "Tapi kita sebagai pihak yang bertugas mempersiapkan acara tidak di posisi untuk memikirkan peluang itu. Tugas kita adalah men-support malam istimewa tuan Ander menjadi realita."


"Aku setuju dengan Elli," tambah Jessica. "Jangan memikirkan sesuatu yang di luar kontrolmu."


"Lagipula, bahkan bila tunangan tuan Ander menolak lamaran itu, kita hanya bisa berhenti di tengah jalan seperti biasa. Kita tidak bisa lanjut menuangkan sampanye kepada dua pasangan yang kandas di tengah jalan, kan?"


"Pertanyaan yang Angela lontarkan sangat tidak perlu ditanyakan sama sekali," keluh Dania akhirnya. Segelas fruit punch itu seperti mendinginkan otaknya.


"Apa dia tidak tau apa itu improvisasi? Dia hanya perlu membaca situasinya, ya Tuhan. Huh, sungguh menjengkelkan."


Jessica mengangguk-angguk atas omelan Dania dan obrolan tiga sahabatnya di sana. Jessica tidak begitu berminat pada konversasi itu karena dia lebih tertarik menyantap sepiring waffle strawberry yang disodorkan Ethan dari lemari pendingin.


"Bicara soal Angela," kata Ethan lagi. "Sudah lama aku tidak melihat kekasihnya kemari."


"Jake? Mereka sudah putus." Dania memberikan jawaban. "Kau tau Jake sekarang dekat dengan Jesse, kan? Angela sampai menuduh Jessica mendekati Jake untuk memanfaatkannya. Wanita gila."


Jessica melebarkan mata. Kenapa Dania memuntahkan rahasianya dengan enteng. Bahkan bila itu di depan Elliot dan Ethan, Jessica merasa malu untuk menyebar informasi itu.


"Serius dia mengatakan itu?" Ethan terpana.


"Padahal, kalau gadis sekelas Jessica yang mandiri dan memiliki usaha sendiri, mendekati Jake untuk memanfaatkannya, bagaimana dengan dia sendiri yang tidak memiliki apa-apa? Bukankah dia lebih berpeluang untuk memanfaatkan Jake untuk dirinya sendiri?" 


Ucapan Elliot setajam pedang. Jessica jadi melirik kiri dan kanan. Jessica takut ada yang mendengar ucapan Elliot karena itu sangat kasar.


Berbeda dari Jessica yang mempelototi kawan-kawannya dengan peringatan dan kecemasan, Dania dan Elliot melakukan tos. Dania setuju dengan apa yang Elliot katakan, seratus persen. Dasar!


Setelah Dania dan Elliot puas me-roasting Angela, Ethan pun akhirnya mengangkat suara. "Padahal aku menanyakan Demian," ujar Ethan. "Aku sudah lama tidak melihatnya datang."


Saat itu pun, Jessica membeku kaku. Nama Demian membuatnya mengingat akan keberadaan seorang pria yang kerap bertenda di dalam ponselnya.


Jessica ingat terakhir kali ia bicara dengan Demian di telepon. Pria itu mengatakan akan bersembunyi untuk beberapa waktu. Setelah itu, setelah sepuluh hari berlalu, pria itu belum menampakkan dirinya sama sekali.


Sepuluh hari, kah? Itu waktu yang cukup lama, rupanya.


Jessica kembali terjebak dalam perasaan hampa.


*


Malamnya, seperti yang sudah direncanakan, tuan Ander bersama tunangannya, nona Vivian muncul di Elixir tepat pukul delapan malam. Di antara tamu-tamu yang kebetulan berada di Elixir malam itu, meja reservasi tuan Ander mendapatkan perhatian khusus dari para pelayan yang berlalu-lalang.


Sepuluh menit kemudian, musik perayaan ulang tahun kemudian bergema di dalam Elixir. Berpasang-pasang mata dari tamu yang ada, mencari sosok yang berulang tahun malam itu. Hingga akhirnya kue keluar dari arah dapur dan menuju meja tuan Ander dan pasangannya.


Para tamu yang ada ikut menyanyi dan mengselebrasikan ulang tahun nona Vivian.


Jessica di sudut ruang memperhatikan situasi itu dengan seulas senyum riang. Jessica turut berbahagia kepada mereka di sana. Jessica senang bisa menjadikan Elixir sebagai tempat untuk orang-orang berbagi kebahagiaan.


Situasi itu berjalan dengan lancar. Untungnya, tidak seperti praduga Angela, ketika tuan Ander mengeluarkan cincin dari saku jasnya dan bersimpuh dengan satu lutut menapak di tanah, nona Vivian terbenam dalam haru yang luar biasa. Ia menyetujui lamaran tuan Ander dan memberikannya sebuah kecupan dan dekapan yang menyiratkan kehangatan.


Jessica yang mengamati dari kejauhan turut bertepuk tangan bersama para tamu yang berada di sana dan turut menyaksikan kisah cinta keduanya tersegel dengan indah.

__ADS_1


"Aaah, romantisnya." Dania--si penyelenggara utama dari event kejutan itu, mundur mendekati Jessica setelah misinya berjalan dengan sempurna.


Suasana riuh di Elixir mereda. Musik pop romantis kemudian terputar memenuhi ruangan, menemani para tamu reguler menyantap makanan mereka dengan nyaman.


"Selamat, Dania. Kau sudah bekerja keras." Jessica memuji Dania yang sekarang mendekapnya. Segala lelah Dania terbayarkan dengan misinya yang berjalan dengan sukses.


"Aku berharap momen ini akan menjadi kenangan istimewa di kehidupan tuan Ander," ujar Dania. "Aku merasa sangat lelah dan sangat bahagia."


Jessica tersenyum. "Kau boleh mengambil libur besok."


"Tidak, tidak." sangkal Dania secepatnya. "Ini hanya satu event, Jess. Aku berencana menerima event yang lebih besar dan lebih hebat lagi kedepannya. Untuk itu, aku perlu membiasakan diriku untuk sibuk."


"Uuhh, aku jadi termotivasi." Jessica balas merangkul pundak Dania. "Haruskah aku bekerja lembur malam ini?"


"Kau sudah terbiasa lembur, idiot. Kalau kau termotivasi, kau sebaiknya tidur tepat waktu dan minum vitaminmu."


Selagi Jessica dan Dania kembali meledek satu sama lain mengenai kebiasaan buruk mereka, seorang pria memasuki Elixir dengan penampilan familiarnya.


Sepasang sepatu kets, celana jeans hitam, kaos abu-abu kusam, dan sebuah kemeja flanel berkombinasi warna putih dan hitam. Sosok itu mengamati ke seluruh ruangan. Sosok itu adalah Demian.


Jessica yang menyadari kedatangan Demian, tanpa sadar melonggarkan rangkulannya dari Dania. Ia tersenyum lebar saat menyadari keberadaan Demian di sana. Di seberang ruangan dengan sepasang iris kelam yang kebingungan.


Jessica hendak melambaikan tangan, menyapa Demian yang setelah sekian hari, akhirnya kembali. Namun, lambaian tangan Jessica terhenti ketika ia menyadari kemana arah mata Demian berhenti.


Angela Lancaster melambaikan tangan ke arah Demian. Senyum polos mengembang riang. Dengan mengambil langkah lebar dan tidak sabar, Angela menghampiri Demian dan memberikan pria itu dekapan di lehernya dengan kencang.


"Wah, wah, wah..., romansa bertebaran di mana-mana." Dania bergumam di sebelah Jessica. "Aku jadi iri melihat Angela."


"Huh, begitukah?" Jessica berbalik menatap Dania. Senyum masam merekah di parasnya. "Aku tidak merasa ada yang perlu diirikan di sana."


"Itu karena kau tidak berperasaan sama sekali, Jesse. Kalau kau mengerti hatiku yang lemah ini, kau pasti mengerti betapa pemandangan dari dua orang yang jatuh cinta bisa membuatmu yang sudah sendirian semakin kesepian. Rasanya seperti tragedi."


Jessica mengendikkan bahu. "Kau hanya kekurangan hobi, Dania. Coba temukan sesuatu yang baru dan berhenti menganggap asmara sebagai sesuatu yang istimewa."


"Seperti dirimu?"


Jessica kembali mengangguk. "Ya, seperti diriku."


Bagi Jessica, sekarang, daripada merasakan asmara, ia lebih baik tidak merasakan apa-apa.


"Aku akan bertemu dengan Jake besok," ujar Jessica, kali ini bicara pada Ethan. "Bisa kau tangani situasi di cafe, Ethan?"


"Tentunya. Anyway..., apa kau akan benar-benar menemui Jake? Maksudku..., kupikir ucapan Angela..."


"Ucapannya tidak mempunyai pengaruh dalam relasiku pada siapa pun di dunia ini, Ethan. Toh, kurasa dia sudah mempunyai pacar baru. Bila aku dekat dengan Jake, itu bukan urusannya atau apa pun."


"O--key? Kau tidak marah pada pertanyaanku, kan?"


"Mana mungkin."


Tapi di mata Ethan, tidak ada kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan ekspresi Jessica selain marah. Gadis itu..., padahal baru saja ia bertepuk tangan meriah, apa yang mengubah mood-nya menjadi merah?

__ADS_1


*


__ADS_2