MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
72. Kabar Gembira.


__ADS_3

Sosok yang membocorkan rencana pertemuan Jessica dan Jake kepada Demian, cukup mengejutkan, adalah Ethan.


Sehari sebelum pertemuan Jessica dan Jake, Demian datang dan mencari Jessica ke Elixir. Meski sudah pernah diusir oleh owner cafe itu langsung, Demian masih tebal muka datang dan mengantar dirinya ke sana.


Malangnya hari itu juga, Jessica tidak ada. Jessica diajak keluar oleh Dania untuk mempersiapkan diri menyangkut pertemuan Jessica dan Jake esok hari. Dania berencana menampilkan Jessica dengan keindahan tiada dua semata-mata agar Demian cemburu saja.


Dania berencana memanas-panasi Demian, tentunya, setelah Jessica dan Jake berkencan.


Namun, perencanaan Dania tersebut digagalkan oleh Ethan. Ethan yang mendengar celotehan Dania menyangkut keinginannya membuat Jessica cantik seperti dewi yunani, menyampaikan informasi tersebut ke Demian.


"Bukannya aku memihakmu atau apa pun, tapi besok..., Jake dan Jessica akan berkencan." adalah pengakuan Ethan. Sisi malaikatnya yang kerap dipuja-puji Jessica menjadi begitu bersinar di mata Demian. Ia sampai menyalami tangan Ethan karena hormatnya yang tinggi.


"Kau memang pria terbaik di sini," Demian trenyuh tanpa tau kalau penyebab Ethan bermulut ember semata-mata karena Ethan ingin menyabotase Dania. Ethan--mengesampingkan imej malaikatnya--hanya ingin menjahili Dania dan melihat perempuan itu kebingungan ekstra.


'Salah sendiri sudah main rahasia-rahasia!' pikir Ethan, dia mengaduk kopinya sambil menyeringai setan. Ethan sudah dikecualikan dari topik yang entah bagaimana, sudah diketahui oleh semua orang selain dirinya.


Meskipun Ethan tidak mau memaksakan diri untuk tau, Ethan juga akan kesal kalau dikecualikan. Jadi..., biarkan Ethan melancarkan rencananya sendiri.


Setelah hari itu, Ethan kembali bekerja dengan ekspresi biasa. Tanpa menunjukkan kalau dia adalah dalang yang sudah menyabotase rencana Dania, Ethan memperhatikan ekspresi heran Dania.


"Kenapa kau pagi-pagi sudah merengut?" Ethan menyerahkan secangkir caramel machiato ke Dania. "Ini pagi yang cerah, tersenyumlah."


"Mungkin karena ini pagi yang cerah, aku jadi malas tersenyum." Dania mendumel. "Anyway, apa kau ada melihat Jesse pagi ini? Aku datang ke kamarnya dan dia sudah tidak ada di sana."


Dania ingin tau perkembangan situasi Jessica setelah kencan tempo hari. Soalnya, setelah kencan itu terjadi, Jessica hanya mengirim seutas pesan yang mengatakan kalau Jake tidak datang dan dia menghabiskan waktu seharian bersama Demian.


Dania spontan saja terheran-heran.


Walau Dania ingin bosnya tersebut berpacaran dengan Demian, Dania tidak mau bosnya dimanipulasi oleh si keparat keriting itu dengan gampang. Dania tidak mau Jessica semudah itu memaafkan Demian dan berakhir patah hati lagi.


Kalau Jessica dan Demian hendak berdamai, Dania maunya itu terjadi setelah Demian menangis-nangis di kaki Jessica. Memohon ampun dengan hati terluka.


Oke, itu harapan yang berlebihan.


Memang, hidup bukanlah dunia fiksi. Tidak semua orang memperoleh 'character development' ataupun 'redemption'. Beberapa orang--terkadang--hanya memiliki plot armor, yaitu, tidak peduli apa yang terjadi, mereka akan selalu menang mengikuti arahan si penulis.


Demian juga, dia adalah pria dengan buff dan plot armor yang luar biasa. Dia sampai sekarang tidak menyadari kesalahannya yang sudah mempermainkan Jessica. Sang pencipta pasti sangat mencintainya. Dia terus menang dan Jessica terus menang--is.


Memikirkan pria itu..., Dania jadi mau mengumpat!


Keparat!


'Aku harap Jesse tidak patah hati lagi setelah bertemu Demian kemarin,' Dania membatin sambil menopang dagu.


"Jessica pergi pagi-pagi sekali hari ini." Ethan memberikan jawaban. "Dia sepertinya sangat bergembira, kalau kau melihatnya..., dia seperti gadis yang sedang kasmaran begitu."


"Eh?" Dania menolak percaya. "Kau yakin?"


"Tentunya. Dia bahkan bersiul-siul dan menyapaku ceria. Mungkin musim seminya telah tiba." Ethan pikir itu karena ulahnya kemarin. Mungkin, Demian sudah memenangkan hati sobatnya tersebut. Siapa yang tau.


"Aaaah..., itu aneh. Aneh sekali, aneh." Dania sulit percaya. "Kau tidak salah lihat, kan? Maksudku..., kau yakin itu tawa bahagia, bukan tawa maniak karena depresi?"


"Apa?"


"Tidak, Jesse tidak mungkin berubah gila dalam semalam." Dania menyangkal pemikirannya sendiri. "Apa kau tau dia pergi kemana?"


Jessica tidak mungkin bertemu Demian, kan? Apa Jessica jadian dengan si bajingan itu? Apa mereka sudah menuntaskan segala masalah yang lalu?


Tapi, bagaimana dengan Angela?


"Aku tidak tau dia kemana. Aku tidak bertanya."


"Kenapa kau tidak bertanya?"


"Hah?"


Dania mengibaskan tangan. "Lupakan saja."


Apa sebenarnya yang terjadi hari ini? Hanya karena cuaca pagi ini cerah, Jessica tidak mungkin berubah menjadi gadis yang sumringah, kan? Toh, cuaca dan suasana hati tidak saling bersangkutan...

__ADS_1


Jessica berbahagia, kah? Jika Jessica berbahagia, gadis itu seharusnya menanggapi setumpuk pesan yang Dania spam di handphone-nya. Namun nihil.


Selagi Dania menyusun puzzle yang berantakan di benaknya, sesosok pria memasuki cafe dengan langkah ringan. Senyumnya terlihat merekah di kejauhan.


Pria itu adalah Demian Bellamy yang selalu setia dengan kemeja flanelnya.


Melihat pria itu memasuki Elixir, baik Dania maupun Ethan sama-sama kebingungan. Teori mengenai alasan kebahagiaan Jessica hari ini sudah ditepiskan oleh keberadaan Demian yang memasuki Elixir sendirian.


Jika Jessica tidak menemui pria itu, maka...


"Good morning, everyone." Demian menyapa Ethan dan Dania yang sekarang menatapnya seperti alien dari Mars.


"Good morning," Ethan yang menjawab duluan. "Sendirian?" tanya Ethan kemudian.


"Seperti yang kau lihat," jawab Demian. Ia lalu menoleh ke arah Dania dengan agak heran. "Apa ada sesuatu yang terjadi...?"


"Kau," tanggapan Dania ambigu. "Kau lah yang terjadi."


"Huh?"


"Bukan apa-apa," tukas Ethan segera. "Kami hanya agak terkejut kau datang sendirian. Kami pikir kau akan datang bersama saudaramu hari ini."


"Dia akan datang, sayangnya, sebentar lagi." Demian agak kecewa.


Jika bukan karena Erthian yang menghubunginya dan mengajak ia bertemu di Elixir, Demian mungkin bisa bertemu santai dengan Jessica seperti biasa. Sayangnya dia tidak bisa. Dia harus berpura-pura menjadi orang asing di depan gadis itu.


Dan di depan Erthian.


"Kenapa kalian tidak datang bersama-sama?"


"Karena kami tidak tinggal di tempat yang sama," jawaban Demian jujur. "Lupakan sebentar mengenai saudaraku, di mana Jessica? Jangan bilang dia belum bangun. Dia pasti sangat kelelahan." Demian mengulum senyum arogan. Ia percaya diri kalau ulahnya mungkin akan berdampak pada kurangnya stamina Jessica hari ini.


"Kenapa kau mau tau?" Dania menanggapi agak defensif.


"Karena aku penasaran, apa lagi?"


"Kau seharusnya memikirkan urusanmu sendiri. Pacarmu, tuh, sibuk bekerja di dapur."


Belum selesai Demian bicara, sosok yang disebutkan Dania sudah muncul di sana.


Mengenakan kaos merah khas Elixir dan sebuah apron hitam melingkar sebatas pinggang, Angela Lancaster muncul dengan seulas senyum riang.


"Demiaaaaan," katanya menyapa. Suara se-oktaf lebih tinggi lantaran bahagia.


Demian spontan turun dari barstool dan menyapa Angela yang menyapa. Dania yang duduk tidak jauh dari Demian, menyeringai sinis.


"Panjang umur," ejeknya. "Baru saja dibicarakan."


"Selamat pagi, Demian..." Angela datang dan meraih pergelangan tangan Demian. Ia menggenggam kedua pergelangan tangan pria itu manja, wajah merah merona. "Kau seharusnya bilang kalau kau akan datang."


"Aku hanya singgah sebentar karena Erthian mengajakku bertemu di sini untuk breakfast."


"Jadi, di mana dia?"


"Dia akan datang sebentar lagi." Demian menanggapi sambil sebisa mungkin melepaskan genggaman tangan Angela di tangannya tanpa membuat gadis itu tersinggung.


Demian sudah memutuskan untuk mengejar hati Jessica, ia tidak mau menimbulkan kesalah-pahaman yang lebih panjang dengan menanggapi keakraban yang Angela berikan.


Tentunya, Angela tidak salah apa-apa karena dia hanya manja kepada sahabatnya seperti biasa. Namun, di mata yang memandang, itu bisa menyakitkan. Demian tidak mau menyakiti Jessica, walau Demian sendiri tidak tau apakah gadis itu sudah jatuh hati padanya atau tidak.


"Angela, apa pekerjaan di dapur sudah selesai?" Dania ikut menyapa.


"Aku sudah melakukan sebagian pekerjaanku di dapur. Elliot memintaku untuk membantu di luar sekarang."


"Ooh."


Jadi, apa menurutmu ngobrol dengan pacarmu tercinta adalah bentuk 'membantu di luar' Angela? Dania merutuk kesal di kepalanya. Ia bisa menjambak rambutnya sendiri sampai botak saking kesalnya.


"Duuuh, kemana sih perginya Jessica?" Dania mengeluh risih. Sudah cukup Dania merasa jengkel terhadap Demian, sekarang, Dania tambah jengkel karena Dania tidak tau kondisi mental sahabatnya itu sekarang.

__ADS_1


Dania mencemaskan Jessica. Kendati Ethan mengatakan sahabatnya itu terlihat bahagia, terlihat bahagia dan merasa bahagia adalah dua hal yang berbeda!


Mendengar keluhan Dania, Demian dalam hatinya jadi bertanya-tanya. Apa Jessica tidak ada di kamarnya?


"Oh, oh..., akhirnya orang yang kalian tunggu-tunggu datang." Ethan--sebagai pihak netral--bersuara begitu ia melihat Jessica melenggang masuk ke Elixir.


Jessica yang tampil jelita dalam summer dress hijau yang melekat indah dan memamerkan bentuk tubuhnya. Penampilan Jessica saat itu--jujur saja--begitu mempesona, Demian yang ikut menoleh ke arah pintu sampai tidak menyadari kalau gadis itu datang dengan dua orang pria yang paling ia benci.


Tidak sampai Angela menyadarkannya.


"Erthian juga datang..." ujar Angela, oktaf suaranya menurun sesaat setelah ia menyadari keberadaan Jake Allendale di sebelah kiri Jessica.


Jessica, dengan senyum sumringah yang menawan, menggandeng lengan Jake. Ia sesekali bertukar obrolan dengan Erthian yang ia temui di luar cafe, dan sesekali lagi, ia menatap ke arah kerumunan kawan-kawannya.


Demian berada di sana, dengan Angela menggenggam pergelangan tangannya.


Melihat Demian dan Angela, Jessica lalu menoleh ke arah Jake sekilas. Pria itu membalas tatapan Jessica dengan seulas senyum tipis. Senyuman yang seakan-akan mengatakan tidak apa. Bahwa, ia sudah siaga. Bahwa..., Jake sudah siap.


Seusai menautkan jari-jemarinya dengan jari-jari kurus Jessica, Jake dengan percaya diri melangkah setara dengan gadis itu. Mereka melenggang menuju konter tempat Demian dan Angela berada. Tempat orang-orang yang menatapnya dengan penuh tanya.


Erthian yang berada di sana terabaikan oleh Demian. Si adik hanya mengunci tatapannya ke arah Jessica dan di mana tangan gadis itu berada.


Mengapa..., mengapa Jessica-nya masuk bersama Jake dengan tangan yang saling bertautan?


Mengapa..., keduanya begitu berbahagia...?


"Hollaaaaa...," Jessica--tanpa mempedulikan Demian di sana--menyapa Dania yang tercengang menatap ke arahnya. Dania tercengang atas penampilan Jessica yang tidak biasa.


Dari mana datangnya gaun seksi tersebut?


Seingat Dania, Jessica tidak punya gaun musim panas dengan potongan rendah itu di dalam lemarinya..., tidak, lebih penting, mengapa Jake dan Jessica datang bersama-sama?


"My girlll..." Jessica meraih pundak Dania dan memberikan pelukan ringan pada sahabatnya tersebut. "My best support, bestfriend and my everything..."


"Eh..., ya?"


"Aku tidak menyangka kalian ada semua di sini...," Jessica menatap wajah-wajah yang berada di sana dengan cengiran riang. "Maaf, Angela..., Demian dan..., Thian, walau kau sudah tau..., ahahaha." Jessica menarik Jake lebih rapat ke hadapan Dania yang sekarang menatapnya dengan alis meninggi heran.


"Aku ingin mengumumkan hal istimewa pada teman-temanku, terutama Ethan dan Dania..., karena Elli sibuk bekerja, kalian akan mendengar duluan..."


"Pengumuman apa?"


Jessica, dengan dramatis, mengangkat tangannya dan tangan Jake yang bertautan.


"Temanmu yang single seratus tahun ini akhirnya sudah mempunyai pacar sekaraang...TADAA!!!"


"Aku dan Jessica sudah resmi berpacaran." Jake menambahkan dengan gaya yang lebih dewasa, tapi ekspresi bahagianya masih kentara.


"Eh...,?" EEEEEHHHHHH??? Dania melotot terpana.


Tidak hanya Dania, Demian dan Angela seperti dilanda tsunami..., informasi itu membuat keduanya pucat pasi. Demian dengan keterkejutan yang dominan dan Angela dengan kecemburuannya yang bertubi-tubi.


"Aku ingin mengumumkan ini pada teman-temanku lebih awal, tapi karena aku bertemu Erthian di pintu depan, dia menjadi orang yang tau duluan." Jessica merangkul lengan Jake sambil memberikan tatapan ke arah Erthian.


Pria itu berinsting tajam, pikir Jessica. Tanpa diberitahu, dia sudah menebak tepat sasaran.


"Bukan salahku kalau kalian terlihat begitu serasi."


"Aku berterima-kasih."


Kawan-kawan Jessica--Dania dan Ethan--berupaya mencerna situasi itu tanpa menunjukkan sikap yang menyinggung. Mereka memaksakan tawa di bawah kebingungan mereka, pujian-pujian juga mereka berikan walau isi kepala mereka dipenuhi pertanyaan.


Serius, Dania sama sekali tidak memahami apa yang terjadi saat ini?


Dan Demian..., oh Demian...


Pria itu dilahap api.


Ketertegunan yang berpadu-padan dengan kebingungan itu tak seberapa, ia hanya begitu membenci dekapan Jake di tubuh Jessica. Gadis yang seharusnya miliknya, kini..., entah bagaimana, mendeklarasikan diri sebagai milik orang lain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2