
"Demian, mengapa kau di sini? Bukankah kau sudah berjanji hanya akan datang kalau aku berada di kamarku? Kau seharusnya tidak datang ketika aku tidak ada--"
"Jessica," tegas Demian sekali lagi. "Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?" Jessica membalas ucapan Demian tak kalah tegas. Jessica tidak ada merasa yang lebih penting untuk dibicarakan sekarang selain fakta bahwa Demian melanggar janjinya. "Kau tau pertanyaanku lebih penting, kan?"
"Jessica, apa kau baru saja berbicara dengan Jake Allendale di telepon?" kesabaran Demian sudah di ujung kuku.
Sudah cukup ia mendengar omong kosong Jake hari ini. Demian tidak menginginkan bila si bajingan keparat itu menjadikan ucapannya sebagai kebenaran. Demian tidak mau Jessica berhubungan dengan Jake, tidak sedikit pun.
"Jake..." Jessica kebingungan sebentar. "Kenapa itu penting?"
"Tentu saja itu penting!"
"Kenapa kau meneriakiku?" suara besar Demian mengejutkan Jessica. Bukankah seharusnya Jessica yang kesal di sini karena pria itu sudah melanggar janjinya? Kenapa malah dia yang berujung diteriaki?
Jessica menatap Demian seperti pria itu datang dari planet yang berbeda. Dia begitu aneh dan tidak dimengerti. "Oh, oh, oh..., seharusnya aku yang marah di sini! Kenapa jadi kau yang memarahiku? Apa yang sudah aku lakukan?"
Benar-benar tidak jelas. Apa karena cuaca panas otak Demian jadi mencair? Apa pun, itu Jessica sudah tidak mau tau. Dia memilih meninggalkan Demian dan memutuskan mandi. Ia perlu mendinginkan kepalanya sebelum ia tertular gila.
"Jessica...," Demian menangkap pergelangan tangan Jessica. Ia menyentak pergelangan tangan kecil itu agar tidak berlalu dari hadapannya. Cengkeramannya yang kuat membuat Jessica sampai meringis sengit. "Aku belum selesai bicara," ucap Demian, kali ini begitu rapat di telinga Jessica.
"Ya ampun, apalagi yang mau kau bicarakan, hah?" Jessica spontan saja mendorong dada Demian menjauh dari hadapannya. Namun, terima kasih atas perbedaan besar mereka. Dorongan itu tidak membuat Demian bergeser seinci pun.
"Aku bertanya padamu, tapi kau tidak menjawabku. Kau malah menanyakan hal lain? Apa seperti ini yang bisa kau sebut bicara? Untuk berbicara, kau seharusnya menjawabku terlebih dulu, ya ampun! Kau tidak bisa mencecarku dan berharap aku mematuhimu!"
Lagipula, Jessica tidak mengerti. Mengapa perihal Jake lebih penting? Apa ini karena Angela lagi? Jangan bilang Demian juga berbagi sudut pandang yang sama dengan Angela!
"Karena pertanyaanmu tidak penting! Kenapa aku harus peduli pada aturan bodoh yang kau buat?" Demian kehabisan kesabaran. "Ini hanya kamar biasa, tidak ada hal di dalamnya yang berharga yang membuatmu perlu mencemaskan keberadaanku di dalamnya!"
"..."
__ADS_1
"Apa kau pikir aku akan mencuri sesuatu? Dengar, Jessica..., tidak ada satu hal pun yang berada di kamar ini menarik minatku! Aku tidak peduli pada janji-janji tolol yang kau ucapkan!"
Jessica terhenyak. Suara besar Demian tidak hanya mengejutkannya, tapi membuatnya kehilangan kata-kata. Seperti sebuah anak panah menancap di dadanya, ia merasakan perih menjalar di sana.
Tidak ada satu pun hal yang menarik minat Demian di kamar ini, dan dipikiran Jessica, ucapan Demian juga termasuk pada keberadaannya. Jika pada ucapannya saja Demian tidak peduli, apalagi pada dirinya.
Menelan saliva, Jessica mencoba meredam debaran kuat yang menyakitkan di dadanya. Ia--setengah mati--menahan agar suaranya tak retak di sana. Setengah mati menyembunyikan lukanya.
"Jadi begitu, huh? Tidak ada satu hal pun yang berarti di kamar ini bagimu?"
"Seratus persen!" Amarah Demian sedikit menyusut ketika sepasang iris emerald Jessica menatapnya tajam. Sialan, dia sudah melakukan kesalahan...
"Kalau tidak ada hal yang berarti bagimu di kamar ini, jika aku tidak penting sama sekali..., kau seharusnya tidak ikut campur terhadap apa pun yang terjadi di hidupku! Mau aku berbicara dengan Jake di telepon, berkencan dengannya, atau bahkan tidur dengannya sekalian, itu bukan urusanmu sama sekali!"
"Apa katamu barusan?!"
"Kau mendengar apa yang kukatakan!"
"Jessica," Demian menggeram. Sepasang iris kelamnya semakin tajam menikam. "Kau tidak boleh mendekati Jake!"
"Ini bukan masalah siapa mengatur siapa, bukan?" Demian menatap Jessica dengan tatapan meremehkan. "Kau memang ingin mendekatinya!"
"..."
"Apa? Apa yang kau sukai darinya? Apa karena dia kaya-raya? Apa karena itu kau--"
Plakkk!
Tangan Jessica menggantung di udara, telapak tangannya memerah panas akibat tamparan kuat yang sudah ia layangkan di wajah Demian.
Saat itu juga, amarah yang bergemuruh di dada Jessica tak bisa dipendam lagi. Air matanya tumpah tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
Sambil menatap Demian dengan kebencian, Jessica meberikan pria itu satu peringatan terakhir. "Pergi dari sini dan jangan pernah kembali."
"Jesse..." Surut sudah seluruh amarah Demian. Tamparan Jessica barusan tidak hanya menyakiti fisiknya, tapi juga menyadarkannya akan hal nista yang sudah ia tudingkan kepada Jessica.
Jessica--dari sekian banyak wanita--adalah sosok terakhir yang seharusnya ia tuding mengincar harta seorang Jake Allendale. Demian tau Jessica dengan sangat baik untuk tidak menudingnya macam-macam...
Demian seharusnya tau Jessica sangat baik...
"Jessica, maafkan aku." Demian menelan kepahitan ketika sepasang emerald itu menatapnya penuh kebencian.
Ya Tuhan, apa yang sudah ia lakukan? Bagaimana bisa ia membuat Jessica meneteskan air mata?
Terkutuk, kau Demian, terkutuk!
"Jika kau tidak pergi, aku akan memanggil Ethan dan Elliot untuk mengusirmu dari sini." suara Jessica datar tak beremosi. Namun, sepasang matanya yang berkaca-kaca sudah cukup menunjukkan betapa berdampak kuat ucapan tajam Demian barusan.
"Jessica, please..., aku sudah melakukan kesalahan, kau boleh memukulku, aku tidak akan menyalahkanmu. Maafkan aku, Jessica." Tolong, jangan usir aku dari sini.
Jessica menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali menguatkan diri untuk menghadap Demian. "Kau tidak bisa menghina seseorang dan mendapatkan pengampunan, Demian. Kau adalah pria menjijikkan. Kalau kau memang berpikir aku mendekati Jake untuk mengejar uangnya, maka kau bebas berpikir demikian. Tapi..., jangan pernah berharap aku akan memaafkanmu lagi."
"..."
"Aku membencimu Demian, dan aku mengatakan ini dengan kesungguhan. Sekarang, menyingkir dari kamar yang tidak penting ini dan jangan pernah kembali!"
Menyadari bahwa permohonan ampunnya tidak akan cukup untuk meluluhkan hati Jessica yang sudah ia lukai dengan lisannya, Demian menerima kekalahan itu dengan kepahitan di lidah. Ia mundur dari hadapan Jessica dan menyingkir dari sana.
Demian sudah tidak mempunyai kata-kata yang mampu ia ucapkan untuk mengemis maaf dari Jessica. Gadis itu sudah begitu terluka dan itu adalah kewajaran.
Yang salah di sini adalah Demian.
"Apa yang sudah aku katakan?" Demian meratapi nasibnya ketika ia mendarat di bibir gang. Saat itu pun, ketika ia hendak meninggalkan gang sempit itu, mata Demian bertemu dengan sepasang iris kelabu yang menyorotnya dengan keterkejutan.
__ADS_1
Seseorang, beberapa meter tidak jauh dari lokasi Demian berdiri sekarang, menatap Demian seperti menatap hantu. Seseorang itu, sialnya, adalah Elliot Winchester.
*