MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
48. Kebenaran.


__ADS_3

Satu hari sebelumnya.


Kendati memiliki kekayaan yang mampu untuk membeli harga diri seseorang, Jake Allendale tidak pernah menganggap kekayaannya sebagai suatu keunggulan. Jujur saja, jika ada hal yang dapat ia ubah di hidupnya, Jake akan memilih mengubah statusnya menjadi pria yang biasa-biasa saja.


Tidak, bukan berarti Jake membenci keluarganya dan mengutuk mereka semua. Tidak sama sekali. Satu-satunya hal yang Jake benci dari statusnya sekarang adalah kesulitannya dalam menemukan ketulusan.


Kebanyakan orang yang keluar masuk di hidup Jake selalu memiliki agenda terselubung. Entah itu untuk mengejar kekayaannya, menempeli statusnya, menginginkan pengaruhnya. Jika pun ia menemukan ketulusan dari perlakuan orang-orang, ia akan berujung dihindari dan ditakuti ketika mereka mengetahui besar tekanan dari kekuatan nama belakangnya.


Jake terasingkan di mana pun ia berada. Ada begitu banyak wajah familiar berbaur dalam kepalsuan.


Jake tau konflik yang bergumul di hidupnya adalah kemewahan yang tidak seharusnya ia keluhkan. Namun, permasalahan adalah permasalahan. Sakit yang ia rasakan nyata, menyesakkan napasnya.


Jake Allendale--setelah segala kepalsuan yang mengatmosfir di sekitarnya--mengira ia tidak akan pernah keluar dari lubang neraka itu. Ia berpikir selamanya, ia akan hidup di antara keserakahan yang memperebutkannya layak piagam.


Namun, ia bertemu Angela..., persepsi negatifnya pada dunia berubah dalam sekali kejapan mata. Terlalu indah menjadi realita.


"Aku pikir kekayaanmu tidak ada sangkut-pautnya dengan kepribadianmu. Kalau kau jahat, itu artinya kau jahat. Tapi kau baik, dan kekayaanmu tidak ada kaitannya dengan itu. Karena itu..., aku menyukaimu. Hehehe. Selama kau baik..., aku pikir aku akan selalu menyukaimu."


Ucapan Angela seperti sihir di telinga.


Jake mengenang ucapan gadis itu dengan mata yang kembali basah.


Dia terlalu naif dan mudah.


Ucapan yang layaknya kata mutiara di sosial media sudah menggoyahkannya. Semua ini salahnya. Dia pada akhirnya dikhianati oleh manis ucapan Angela.


Gadis itu mencampakkannya.


Jake mengira, kepergian Angela adalah karena gadis itu tidak cukup tegar dalam memegang ucapannya. Dia ditelan oleh kebencian dan perasaan yang selalu merasa kurang. Angela meninggalkan Jake dan melupakan segala kebaikan yang ia tinggikan.


Jake mengira, ketulusan Angela terkikis oleh hartanya yang terlalu mengintimidasi.


Namun..., ketulusan itu tidak pernah ada sejak awal.


Jake berpijak di realita, setelah sekian bulan dan minggu tenggelam dalam derita.


Kejujuran menyapanya.


"Aku meninggalkan Italy untuk memperoleh kehidupan yang stabil. Meskipun Demian adalah pria yang baik, aku tidak bisa menerimanya karena sama sepertinya..., kami terombang-ambing tanpa tau kehidupan seperti yang akan kami hadapi ke depannya. Tapi Jake berbeda..., dia baik. Dia mampu memberikanku kehidupan yang kudambakan."


Suara Angela seperti jarum yang menusuk jantung.


"Kau mengatakannya dengan romantis, tapi..., bukankah itu artinya kau hanya mengejar uang Jake?"


"Aku tidak mengejar uangnya. Dia hanya kebetulan kaya-raya."


"Lalu, bagaimana kalau Demian mempunyai kehidupan yang katakan 'Stabil'. Apa kau akan menerimanya?"


"...Mungkin? Tapi itu tidak bisa terjadi. Jake sangat berharga bagiku, aku akan selalu memilih Jake."


"Tentunya, aku juga akan berada di pihak yang sama. Pria yang berada lebih baik daripada pria yang tidak memiliki apa-apa."


"Tapi aku tidak mengejar uang Jake sama sekali."


"Kestabilan yang kau inginkan datang dari pekerjaan dan uangnya yang tumpah-ruah, Angela. Kau pikir dia akan memiliki apartemen mewah di usia 30 tanpa backing-an keluarganya, huh? Kau tidak perlu menyangkal, tidak ada yang salah dari perempuan materialistis. Itu wajar."

__ADS_1


"Yah, kurasa itu memang wajar."


"Kita perempuan butuh diperlakukan seperti tuan puteri. Uang adalah bagian dari pelayanan itu, hehehe. Apa aku salah?"


"Kau mungkin..., benar."


Pesan suara itu muncul di ponsel Jake tadi malam, dikirim oleh saudara perempuannya yang entah bagaimana, mendapatkan rekaman suara tersebut.


Saudara perempuan Jake--Janette Allendale adalah orang yang begitu menentang hubungan Jake dan Angela. Janette adalah orang yang membuat segala kepercayaan diri Angela terkikis habis.


Meskipun Angela menerima Jake untuk mengejar kestabilan, ia terpukul mundur setelah berulang-ulang memperoleh intimidasi dari Jane.


[Aku sudah katakan padamu, pelacur itu bukan untukmu.]


Pesan Jane muncul di bawah file audio yang dia kirimkan sebelumnya.


Jake memejamkan mata..., realita itu melukainya.


Jake sudah merasa bersalah teramat-sangat ketika ia tidak mampu menahan Angela di hidupnya. Jake menderita, terluka, dan tercekik oleh kesedihan yang tidak ada habisnya. Jake tidak menyangka..., bahwa pada akhirnya, dia hanya berujung dimanfaatkan.


Untuk apa dia menangis dan mengutuk hidupnya selama ini?


Ketulusan yang ia kejar-kejar selama ini hanya ilusi.


Jika pada akhirnya dia akan dimanfaatkan dan terbuang, untuk apa dia selama ini bertahan dalam kebaikan?


"Apa aku terlalu mudah untuk kalian?" Jake mengembuskan napasnya seraya tertawa. Hatinya pecah-belah.


"Angela...," gumaman Jake lepas dengan tawa lemah. "Jika aku membalas tindakanmu padaku, aku harap kau mewajarkanku."


Lagipula, sebagai pria kaya-raya dengan pengaruh besar di tangannya, adalah hal wajar bila ia menggunakan kekuatan itu untuk menyingkirkan orang yang sudah menjadi lintah di hidupnya, kan?


"Aku tau apa yang paling kau benci, Angela...," Jake mengelap sudut matanya.


Wajah Jessica Cerise muncul di benaknya.


Jessica adalah wanita yang hidup dalam dunia impian Angela. Wanita yang membangun karirnya dari nol, mempunyai teman-teman yang mendukungnya dengan ketulusan, reputasi tanpa noda, dan kebaikan yang seimbang dengan kebijaksanaan.


Dia adalah segala hal yang tidak mampu Angela capai.


Jessica Cerise adalah sumber kedengkian Angela. Jika Jake menempel padanya..., ia penasaran akan sehancur apa Angela...


Itu akan menjadi pemandangan yang cukup memuaskan.


"Maafkan aku, Jessica. Kupikir kau adalah teman yang menyenangkan. Namun, aku sudah tidak bisa mempercayai siapa pun sekarang. Kau pun..., meskipun aku mau mengapresiasi bantuanmu selama ini..." Jake mengepalkan tangannya tanpa sadar.


"Aku tidak akan mempercayai kebaikanmu."


*


Sekarang...


"Kau berbohong, kan?" Angela menatap Jake dengan sepasang mata yang basah. "Kau mustahil menyukai Jessica, dia bukan gadis yang akan menarik minatmu."


"Apa maksudmu?" Jake menyilangkan lengan sambil tersenyum kaku. "Memangnya wanita seperti apa yang akan menarik minatku, Angela?"

__ADS_1


Aku..., adalah jawaban yang tidak bisa Angela ucapkan. Mustahil mengatakan hal tersebut ketika Jake sudah tidak menatapnya dengan damba yang sama seperti dulu.


Apa perasaan pria itu benar-benar luruh?


"Angela, aku menyukai Jessica. Aku serius." Jake kembali melanjutkan omongannya. "Kami mungkin baru-baru ini saja bertemu, tapi dia sudah meninggalkan kesan yang menyenangkan bagiku. Dia baik dan ramah, dia berdiri setara di depanku tanpa menatap kekayaanku sebagai sesuatu yang perlu dia takutkan."


"Kau hanya mencari cara untuk menyakitiku! Itu maumu yang sebenarnya, kan? Jessica lebih pantas daripada aku, apa itu yang mau kau katakan?"


"Aku mengatakan dia menerimaku apa-adanya," tegas Jake sekali lagi. "Dia tidak mempunyai niat terselubung untuk dekat padaku, Angela. Tidak juga dia menaruh perasaan dengki padaku. Dan kau memang benar, dia lebih pantas darimu."


"..."


"Aku ingin bersama wanita yang tidak membenci kekayaanku, takdir hidupku. Aku tidak ingin seseorang yang menaruh harapan spesifik tentangku dan kecewa ketika harapan itu tidak sesuai realita..."


"Apa maksudmu?"


Jake menghela napasnya. "Aku tidak menyalahkanmu sama sekali, Angela. Aku tau menjadi wanita materialistis adalah hal yang wajar."


Sebuah deja vu mendarat di benak Angela. Mengingatkannya pada konversasi lama.


"Jake..., aku...,"


"Kau tidak salah, Angela. Aku hanya mempunyai ekspektasi tinggi padamu. Setidaknya, dulu aku mengira kau bukan gadis kebanyakan yang mendekatiku dengan niat tertentu. Namun, ternyata..., yang membedakanmu dari kebanyakan orang yang sudah mengelilingiku hanyalah kau tidak menyadari keserakahanmu."


"..."


"..."


*


"Demian, tolong aku..., Demian. Aku tidak bisa bernapas sekarang. Rasanya sangat menyakitkan. Hieks, aku..., aku membenci Jake Allendale, Demian. Kumohon..., temui aku sekarang. Aku..., hieekss..., dia sudah melukaiku terlampau jauh!"


"Tenanglah sebentar, Ange. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Di dalam rumit suara isakan Angela, Demian mendengarkan setiap keluhan Angela dengan seksama. Ia tidak tau apa yang terjadi sekarang, tapi yang pasti, Angela sangat histeris.


'Apalagi yang si keparat itu lakukan kepada Angela?' Demian bertanya-tanya sambil menjauhkan dirinya dari keramaian meja perjudian. Ia duduk di sofa dan menyimak segala keluhan Angela, berjanji akan menemui gadis itu segera.


Saat itu pula, Demian hanya merasakan kecemasan dan keprihatinan. Ia ingin menenangkan Angela dan meredakan tangisannya. Hanya itu saja.


Demian sama sekali tidak menyangka, bahwa sedikit pengakuan Angela akan berakhir membuatnya melebarkan mata, murka. Api tak kasat mata berkobar di matanya, meningkatkan panas di tubuhnya.


Demian..., saat itu dimakan oleh kebencian.


"Demian...., Jake, Jake bilang dia menyukai Jessica." Ucapan itu bak sulutan api. Darah Demian seperti bensin.


"Dia..., mengatakan itu?"


"Demian, bagaimana ini..., Jake ingin menjadikan Jessica wanitanya. Dia akan melupakanku, Demian...Jake akan--"


Segala ucapan Angela kemudian memudar di pendengaran Demian. Ia berhenti mendengar apa pun yang Angela ucapkan setelah Jake ingin menjadikan Jessica wanitanya. Pria bajingan itu, apa dia bercanda?


Jake Allendale, huh...


Tawa Demian tertahan bersama geraman dan amukan.

__ADS_1


...Aku harap kau tidak bersungguh-sungguh!...


*


__ADS_2