
Sorrento, Italy.
Di sebuah mansion yang dibangun di area perbukitan, menghadap laut Tirenia dan gunung Vesuvius, Erthian Bellamy menyantap sarapan paginya dengan ketentraman.
Bodyguard berbadan besar berada di sana-sini, menjaganya yang menyantap sarapan sendirian di teras belakang mansion Bellamy.
Angin pagi bertiup dari arah laut, meniupkan surai ikal kecokelatannya yang bergulung panjang di bawah telinga. Selama Erthian menyantap sarapannya, tidak ada suara lain di sana selain suara dedaunan yang bergemerisik di pohon, dan ciutan burung-burung yang bersahutan.
Pagi itu bisa dibilang adalah pagi yang tenang untuk Erthian. Ia merasa begitu nyaman di kesendirian. Setidaknya, untuk beberapa waktu, pagi itu merupakan pagi yang menentramkan untuknya. Sampai akhirnya suara derap langkah Selina Bellamy datang membawa badai dan keributan.
"Erthian," serunya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Erthian merasa tindakannya di sana sudah cukup jelas, jadi ia tidak memberikan jawaban. Terkecuali kalau Selina buta dan tidak bisa melihat aktivitas Erthian, maka itu adalah kasus yang berbeda.
"Erthian," ucap Selina lagi. Kali ini menarik bangku di seberang meja Erthian. Ia lalu menaruh tab-nya di atas meja. Eskpresi tak sabaran dan penuh kekesalan menyeruak di parasnya, merusak pagi Erthian saja.
"Apa kau sudah mendengar laporan dari pamanmu mengenai rapat semalam?"
"Aku mendengar banyak laporan, aku tidak tau yang mana yang kau maksudkan, Ibu." Memanggil Selina Ibu adalah sesuatu yang tidak lagi tabu untuk Erthian, walau pada realitanya gadis itu lebih muda setahun darinya.
Satu-satunya alasan mengapa Selina dapat berkeliaran di mansion Bellamy dan mendapat kehormatan yang tinggi di rumah itu adalah karena Erthian yang memperlakukan Selina layak Ibu sendiri. Jika bukan karena Erthian yang memvalidasi keberadaan Selina, Selina selamanya, di sana, akan dipandang miring sebagai wanita murahan.
Christian--kepala keluarga di Bellamy--tidak pernah mempedulikan kedudukan Selina di rumahnya. Selama ia sudah memberikan gadis itu status, uang dan atap untuk bernaung, Christian tidak peduli pada apa pun yang terjadi pada Selina lagi. Bahkan bila gadis itu merengek ke kakinya, Christian akan mengusir Selina tanpa perasaan.
Selina harusnya bersyukur!--adalah kata-kata yang selalu Selina dengar setiap harinya. Ia tidak berhak mempunyai komplain terhadap pandangan menghina yang ia terima di rumah megah itu. Ia tidak berhak bersedih ataupun murka. Ia sudah memperoleh segalanya.
"Kalau kau sudah mendengar laporan dari paman Kenan-mu, kau seharusnya tidak bersantai sekarang! Posisimu bisa terancam, Erthian!"
Selina tau ia tidak mempunyai kekuatan untuk bersuara di rumah itu. Namun, Selina juga mengetahui satu hal, yaitu, Erthian memihaknya. Selama ia mampu menyetir opini Erthian, Selina akan berkuasa. Ia tidak perlu merengek di depan Christian kalau ia bisa membuat si sulung Bellamy itu menjadi suaranya.
"Oh, apa ini menyangkut apa yang Papa ucapkan semalam?"
Semalam, di rapat pertemuan keluarga, dua pihak keluarga berseteru. Pihak keluarga dari mendiang ibu Erthian yang sesungguhnya, dan pihak dari keluarga Bellamy. Meskipun Christian sudah menikah dengan Selina, pihak ibu dari Erthian masih mempunyai kekuatan dan pengaruh yang besar di mansion itu.
Mereka, semalam, mendebatkan mengenai peresmian posisi Erthian sebagai kepala di Bellamy untuk berikutnya. Pihak keluarga Bellamy memaksakan Christian untuk meresmikan posisi Erthian, sementara pihak ibunya meminta Christian memikirkan ulang peresmian tersebut dan menunggu Demian kembali.
"Kita tidak boleh gegabah dalam menentukan penerus utama di Bellamy, Chris. Tergesa-gesa dalam membuat keputusan hanya akan membuat kita karam." Hestia--ipar dan pihak dari keluarga istri pertama Christian--bersuara dengan lantang.
"Apa kau beranggapan Erthian adalah pilihan yang gegabah? Apa kau meremehkan Erthian? Kau adalah bibinya, kau seharusnya mendukung keponakanmu untuk maju." Kenan Bellamy, sepupu Christian meraung lebih agresif.
"Erthian belum siap." tukas Hestia. "Karena aku bibinya, aku tau benar potensi keponakanku. Tidak sepertimu, aku yang merawat mereka sejak Halinda meninggal dunia."
"..."
"Aku tidak menentang posisi Erthian sebagai penerus Bellamy, tapi aku menentang Christian untuk membuat keputusannya segera. Hanya karena Erthian yang ada di Bellamy sekarang, itu tidak menjadikan dia satu-satunya yang pantas. Kalian tidak boleh melupakan Demian."
"Ujung-ujungnya kau juga mempunyai agenda tersendiri, bukan? Demian sudah mencampakkan rumah ini, Chris. Dia seharusnya tidak masuk hitungan lagi!"
Saat itu, ketika Hestia dan Kenan beradu mulut di ruang tengah yang dipenuhi oleh para tetua dan keluarga inti yang mengambil bagian penting di Bellamy, tidak ada yang ingin terlibat aktif dalam keributan itu sama sekali.
Walau dalam hati, beberapa sudah mengambil pihak dan sisi. Mereka hanya menggunakan Hestia dan Kenan sebagai pedang permusuhan dalam dua inti yang berseberangan tersebut.
"Hanya karena Demian memegang nama Bellamy di belakangnya, dia tidak perlu diperhitungkan lagi. Dia yang sudah meninggalkan kita, tidak berhak memimpin kita sama sekali." Kenan mendeklarasikan ucapannya dengan penuh percaya diri. Ia merasa atmosfir di ruangan itu sudah menguntungkannya.
Dia menyuarakan logika, Demian memang sudah mencampakkan mereka. Hestia perlu membuka mata!
Kenan menyeringai bangga ketika ia berhasil menyudutkan Hestia. Wanita itu boleh saja mengatakan ini itu menyangkut pentingnya posisi Demian, tapi dia tidak akan bisa menyangkal kalau Demian melarikan diri dari rumah ini.
Demian tidak perlu diperhitungkan lagi!!!
__ADS_1
Demian tidak--
"Jika kau masih mau bernapas di ruangan ini, Kenan. Kusarankan kau berhenti mengucapkan hal yang tidak menyenangkan." Christian membuka suara. Dingin ucapannya menembus tulang dan membuat seisi ruang menegang.
Hanya dalam sekali ucapan Christian, situasi berbalik tak menguntungkan di posisi Kenan. Para petinggi dan keluarga yang mem-backing Kenan dilanda kebingungan. Tidak ada yang tau di mana posisi Christian sekarang, dan itu menakutkan.
"Demian dan Erthian mempunyai potensi mereka masing-masing," ujar Christian lagi. "Untuk siapa yang lebih tepat untuk memimpin Bellamy, itu adalah keputusan yang akan kutentukan sendiri. Tugas kalian di sini adalah untuk mendukung siapa pun penerusku nanti."
"Aku akan mendukung siapa pun yang kau pilih, Chris." Hestia menimpali, suara tegas dan gigih. "Maafkan aku sudah membuat keributan. Aku hanya tidak ingin keberadaan Demian dilupakan. Dia adalah bagian di keluarga Bellamy, bahkan bila dia tidak berada di sini."
"Aku mengerti ucapanmu, Hes." Christian berujar sambil menatap satu-persatu wajah yang berada di ruangan itu. "Aku juga tau tidak ada satu pun orang di ruangan ini yang melupakan keberadaan puteraku."
"Mu-mustahil kami melupakan Demian." Istri Kenan mengibaskan tangan seraya tersenyum masam. "Demian adalah keponakan kami yang berharga. Kami hanya menyayangkan kepergiannya."
"Kepergian Demian masih berada di bawah persetujuanku. Dia tidak melarikan diri dari sini, dia tidak meninggalkan siapa pun. Jika aku memutuskannya untuk kembali, dia akan kembali."
"..."
"..."
Ruangan menjadi sunyi.
Christian, sekali lagi, meninggalkan mereka dalam jawaban ambigu. Tidak akan ada yang tau siapa yang akan menjadi penerusnya hingga hari terakhir mahkota itu berlabuh di atas kepala.
Tidak akan ada yang tau, apakah itu Erthian yang berada di Bellamy, atau Demian yang berada di sin city...
Kembali pada Erthian dan Selina...
Setelah apa yang terjadi semalam, Selina menjadi panik. Posisinya sebagai Ibu di Bellamy sedang terancam sekarang. Bila Demian di angkat sebagai penerus di Bellamy, Demian tidak akan sungkan-sungkan menendangnya keluar bumi. Pria itu membencinya sampai ke tulang, dan tidak ada cara untuk mengubah kebencian itu menjadi relasi baik.
Tidak. Tidak ada jalan memutar untuk mengubah kebencian Demian. Tidak setelah apa yang ia lakukan...
"Apa kau memintaku mengemis-ngemis posisi pemimpin di kaki Papa? Apa kau bercanda?" Erthian terkekeh. "Aku?"
"Wajar bila anak meminta sesuatu pada ayahnya. Itu tidak menjadikanmu pengemis, Erthian. Kau adalah puteranya, kau berhak meminta apa pun pada Chris."
"Lalu, bagaimana denganmu sebagai ibuku? Apa aku mempunyai hak untuk meminta apa pun darimu?"
"Te-tentu saja."
Erthian menaruh garpu di piring sebelum bicara, "Kalau begitu, bisa kau menutup mulutmu?"
"..."
Eh?
EEEHHH???
Serius???
Selina terperangah.
Erthian menjemput sebuah raspberry di keranjang buah. Sambil menatap Selina, ia meremukkan buah itu di mulutnya.
"Aku sudah mengatakan ini beberapa kali, sarapan adalah hal yang penting bagiku. Untuk bisa beraktivitas normal, aku perlu mengisi energiku di pagi hari. Jika tidak, ketika siang hari, aku bisa kolaps."
Erthian--pada realitanya, memang bukan sosok yang sehat sempurna. Dia mempunyai tubuh yang gampang letih dan rentan terhadap penyakit.
"Aku hanya ingin menyantap sarapanku dengan tenang, tapi kau dari tadi membuat keributan dengan keluhanmu yang tidak penting."
__ADS_1
"Aku hanya mencemaskanmu," ujar Selina, suaranya rendah dan hilang kepercayaan diri.
"Ketulusanmu sebagai Ibu sangat menyentuh hatiku." Erthian sinis. "Kalau kau sudah puas dengan keluhanmu, tinggalkan aku!"
"Ba-baiklah, Thian..., tapi kuharap kau memikirkan ucapanku kembali."
"Kau pun sebaiknya memikirkan ucapanku." Erthian membalas.
"Juga...," tepat ketika Selina beranjak dari hadapannya, Erthian kembali bersuara. Ia menusuk tomat di piringnya dengan garpu. "Aku harap kau berhenti dengan permainanmu."
"Permainan?"
"Demian," ujar Erthian. "Aku tau apa yang kau lakukan di luar sana terhadapnya. Kau dan komplotan paman Kenan."
"Kami melakukan itu untukmu, Erthian. Kami hanya ingin mengamankan posisimu di keluarga ini." Selina menjadi defensif.
"Aku selamanya adalah Bellamy," senyum Erthian merekah tipis. "Jadi atau tidaknya aku sebagai pemimpin, statusku tidak akan berubah. Namun, situasi itu tentunya tidak akan terjadi padamu, bukan?"
"..."
"Seorang Ibu yang jatuh cinta pada puteranya sendiri. kau tidak akan berakhir bahagia bila pada akhirnya Demian yang memimpin Bellamy."
"ERTHIAN!"
"Aku hanya mencemaskanmu, Ibu. Karena kau sudah mencemaskanku." Erthian mengunyah tomat di bibirnya dalam gerak lamban. Ia menikmati setiap kedutan urat di leher dan pelipis Selina yang menegang dalam amarah.
"Kalau kau begitu mencemaskan posisiku," kata Erthian lagi. "Berhenti menyentuh hidup Demian. Kau sudah menyentuhnya ketika dia di sini, bukan? Menjijikkan. Kau sebaiknya tau diri selama aku masih bersikap baik."
Erthian tidak akan melupakan segala kegilaan dan obsesi Selina terhadap Demian. Obsesi yang sudah membuat saudara bungsunya itu meninggalkan Bellamy penuh kebencian.
Erthian selama ini menutup mulutnya karena ia merasa penderitaan Demian cukup menghibur matanya. Akan tetapi..., ketika mainan itu pergi, ia terjerambab dalam sepi. Ia tidak mempunyai hiburannya lagi.
"Demian adalah adikku, aku yang berhak mengganggunya." gumam Erthian lagi. "Kau bukan siapa-siapa. Jika papa tau apa yang sudah kau lakukan pada Demian, dia pasti akan membunuhmu, Selina. Karena itu, kau harusnya berterima kasih dan mematuhiku!"
Warna menghilang dari wajah Selina. Ia memucat pasi di sana. Degup jantung menggebu di dalam bahaya.
"Sekarang, menyingkir dari hadapanku. Kau membuat nafsu makanku hilang dengan mengingat aksi menjijikkanmu."
"..." Tanpa bisa membantah ucapan Erthian saat itu juga, Selina menelan segala egonya dan mematuhi Erthian tanpa suara. Ia meninggalkan Erthian di sana. Di teras belakang Bellamy yang berangin.
Sambil kembali menyantap sarapannya, Erthian lalu melambaikan tangan kepada seorang pria yang sudah mengamatinya dari kejauhan. Pria yang merupakan asisten pribadinya.
"Siapkan pakaianku untuk bepergian," kata Erthian ketika pria itu mendekat.
"Eh, apa kau akan pergi, Bos?"
"Rencananya."
"Ah..., kalau begitu, untuk beberapa hari?"
"Entahlah, mungkin sampai aku bosan." Erthian menyesap jus jeruknya kemudian.
"Huh?"
"Siapkan visa dan pasport-ku juga."
"E-eh?" si asisten--Donovan--terperangah heran. "Apa kau akan ke luar negeri?"
"Begitulah," kata Erthian tenang. "Aku ingin mengecek kabar adikku yang malang."
__ADS_1
*