MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
91. Janji?


__ADS_3

"Apa yang kau pikirkan termenung sendirian di sini? Apa kau sedang memikirkanku?" Demian membuat lelucon yang berujung membuat Jessica meninju lengannya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" cetus Jessica balik. "Apa kau menguntitku?"


"Aku mencemaskanmu, jadi aku menyusulmu." Demian jujur di situ. Demian tidak bisa membiarkan Jessica melenggang sendirian di Vegas, tidak sekarang. Tidak ketika seorang iblis bernama Erthian Bellamy menetap di kota ini.


"Jadi, bagaimana perbincanganmu dengan Jake?" Demian kembali bicara. "Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk, kan? Maksudku..., kalau dia sampai menyentuhmu, aku tidak segan-segan menggunting putus lidahnya!"


"Ohooo, kau menjadi semakin jujur dengan kebrutalanmu. Apa ini yang kau lakukan di Italy, Mr. Bellamy?"


"Aku tidak pernah melakukan hal buruk di Italy," kata Demian, ia menanggapi ucapan Jessica sambil meraih pergelangan tangan gadis itu yang terasa dingin di jemarinya. Jessica mungkin kedinginan karena cuaca sekarang sedang mengalami transisi menuju musim gugur.


"Tapi itu bukan berarti aku tidak mampu melakukan hal buruk di sini." Demian melanjutkan ucapannya sambil menatap Jessica. "Bagaimanapun, kau sangat berharga bagiku. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu."


"Kau menjadi sangat puitis..." Jessica terkekeh. Tangannya yang berada di genggaman Demian ia gunakan untuk mencubit pipi pria itu. "Aku akan terharu pada ucapanmu andai saja aku sedang tidak kelaparan sekarang."


"Lapar? Kupikir kau bertemu dengan Jake di cafe dekat sini tadi?"


"Aku tidak bisa menyantap apa pun kalau suasananya tidak pas."


"Kalau begitu, mau makan bersamaku?"


Jessica mengangguk.


Pada akhirnya, pemandangan air mancur Bellagio itu tertinggal di belakang mereka. Keduanya berjalan sambil bertaut tangan, melenggang di trotoar jalan demi menemukan restoran yang direkomendasikan Demian sebagai tempat 'paling nikmat'.


Setelah berjalan beberapa meter hingga matahari terbenam, Jessica dan Demian akhirnya tiba di sebuah restoran yang menjual makanan khas Jepang.


"Apa kau menyukai Sushi?" Demian bertanya sambil menarikkan satu bangku untuk Jessica, tindakan bak gentleman-nya membuat Jessica mengulum senyum sambil menahan tawa.


"Aku suka," jawab Jessica. "Aku juga mau Shoyu ramen, Mont Blanc dan Ichigo Daifuku sebagai dessert-nya."


"Kau tau cukup banyak," Demian agak takjub. Sejujurnya, Demian sering singgah ke restoran ini hanya untuk memesan sushi. Demian tidak begitu tau menu lain.


"Well, itu karena aku suka makan."


Jessica sangat menyukai makanan, dan itu tidak hanya pada makanan umum saja. Jessica bahkan tertarik pada makanan dari berbagai dunia. Jepang adalah salah satu negara yang menu makanannya sangat menarik minat Jessica.


"Kalau kau tertarik, yakisoba juga sangat lezat. Aku mencicipinya beberapa tahun lalu dan aku sangat tersentuh atas kenikmatannya yang tiada dua." Jessica berujar seperti blogger makanan.


Demian meninggikan keningnya seketika. Jessica lebih dramatis bila menyangkut makanan, rupanya.


"Kenapa kau tidak memesannya sekarang?"


"Aku juga ingin memakan Shoyu ramen, jadi..., aku hanya akan mencicipi makananmu nanti."


"Itu adalah pemikiran yang licik." Demian berkomentar sambil terkekeh samar. Demian tidak pernah makan di luar bersama Jessica, jadi ini pertama kalinya Demian menyadari sisi nakal gadis itu. "Apa kau menginginkan yang lain?"


"Aku ingin takoyaki..., tapi aku takut aku tidak sanggup menghabiskannya."


Jessica bicara dengan kedua sudut bibirnya melekuk ke bawah. Demian memperhatikan ekspresi gadis itu dengan kegemasan. Ia ingin mencubit pipi Jessica sekarang.


Bagaimana bisa dia sangat menggemaskan hanya dengan membahas makanan?


Karena Jessica takut membuang-buang makanan dengan memesan berlebihan, pada akhirnya Jessica hanya memesan makanan yang sanggup ia makan saja. Demian pun sama. Walau Demian ingin membelikan Jessica makanan yang wanita itu suka, Demian tidak bisa melanggar ucapan Jessica yang melarangnya membeli berlebihan.


Sungguh istri idaman. Ralat, calon istri idaman!


"Jadi..."


Setelah beberapa waktu terlewat, Demian kembali mengajak Jessica bicara seusai Jessica kembali dari kamar mandi. "Bagaimana pembicaraanmu dan Jake hari ini?"


"Tidak ada yang istimewa..., pembicaraan kami berjalan cukup lancar." Jessica bicara secara umum saja. Ia tidak mau menjelaskan sedetail apa pembicaraannya dengan Jake pada Demian. Karena itu memalukan, itu sama saja dengan mengekspos dirinya sendiri yang sudah membela Demian tadi.


Pria itu bisa semakin besar kepala.


"Jadi..., maksudmu..., apa kalian, umm, berpisah?" Demian sangat menantikan ini, sebenarnya. Ia sangat ingin menendang Jake keluar dari kehidupan Jessica.


"Aku dan Jake memutuskan kalau hubungan kami tidak bisa berjalan baik, jadi..., sayangnya kami terpaksa berpisah." Jessica memberikan pengakuan yang membuat Demian mengernyit tak senang.

__ADS_1


"Kau kedengaran sangat tidak rela berpisah dengannya."


"Tentu saja..." sahut Jessica, sengaja. "Habisnya Jake merupakan pria yang memahamiku sangat baik. Kau tau, dia bahkan mengaku bisa mencintaiku lebih baik, aaah..., rasanya begitu menyedihkan ketika aku harus meninggalkan pria sebaik dia."


"Apa maksudnya aku tidak baik, begitu?"


Tidak bisa menahan dirinya lebih lama, Jessica akhirnya tertawa. "Bukan berarti kau tidak baik, tapi dia hanya lebih baik. Setidaknya..., dalam berkomunikasi, Jake lebih baik daripada dirimu yang lebih memilih menipuku."


Jleb!


Ucapan Jessica menikam Demian seperti pedang. Demian kembali teringat pada fakta kalau sekarang pun, Jessica belum memberikannya pengampunan. Gadis itu masih marah padanya. Dia yang sudah menanamkan luka pada Jessica.


Akibat ucapan Jessica, suasana di meja itu menjadi muram seketika. Demian tersenyum masam sambil menahan kepedihan. Ia belum di posisi aman sekarang. Jessica bisa saja membuat keputusan yang berakhir meninggalkannya dalam kesendirian. Gadis itu mungkin saja lebih memilih mencampakkannya sama seperti dia mencampakkan Jake.


"Demian?" Panggilan Jessica membuat Demian mengangkat kepalanya otomatis. Ia cukup takjub pada reflek reaksinya saat itu, Jessica benar-benar mempengaruhi saraf sensoriknya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Jessica mengalir tenang.


"Kau..." sahut Demian. "Aku memikirkanmu."


"Aku ada di sini, di depanmu. Apa yang kau pikirkan sampai kau meninggalkanku dalam lamunan?"


Demian mengendikkan bahu. "Aku tidak tau, aku mencemaskan keputusanmu, mungkin?--


Kau cukup pandai berkomunikasi, aku takut bila kau jujur padaku menyangkut isi hatimu, dan itu bukanlah kejujuran yang kuharapkan, aku bisa saja menuruti kemauanmu."


Jika Jessica meminta Demian untuk menghilang dengan ucapan dan penjelasan yang penuh logika, Demian bisa saja tersudutkan dan menuruti kemauan wanita itu. Habisnya, tak hanya gadis itu pandai dalam meyakinkannya, Demian juga sangat mengutamakan Jessica sekarang. Apa yang Jessica inginkan, Demian selalu ingin mengabulkan keinginannya.


"Demian," tutur Jessica memulai. "Aku sangat ingin membicarakan itu denganmu sekarang."


"Bicara..., menyingkirkanku?"


Jessica lagi-lagi tertawa. "Bukan itu," sangkalnya. "Aku ingin membicarakan kita."


"Kita?"


"Aku...," Jessica menatap sepasang netra kelam itu, dan sebelum dia bicara, seorang pelayan melabuhkan semangkuk shoyu ramen ke hadapannya, disertai dengan sepiring sushi, yakisoba dan dua cangkir teh matcha.


"Waaaaaah, aromanya sangat sedap, bukan?" Jessica sengaja mengganti topik di sana. Ia ingin menguji kesabaran Demian lebih lama. "Ayo, makan. Akan lebih baik bicara setelah makanannya, habis, kan?"


"Serius, Jesse?"


Jessica mengangguk sambil tersenyum riang. "Aku serius."


Sialan!


Demian mau tak mau menuruti kemauan Jessica sekarang.


Sementara Demian menyantap makanan yang direkomendasikan Jessica, ia sama sekali tidak menduga kalau Jessica akan menjatuhkan bom informasi di hadapannya.


"Apa kau tau, Demian?" Jessica memulai bicara sambil menyesap kuah ramen di mangkuknya. "Aku menghabiskan masa remajaku di penjara remaja."


Dan begitu saja..., yakisoba yang berada di mulut Demian seperti kehilangan rasa. "Apa?" Tanya Demian setelahnya, tidak percaya.


"Aku...di usia 13 mungkin, atau 14?" Jessica tidak begitu yakin. "Aku--di usia seperti itu--di penjara karena sudah memukul ibuku sampai dia meninggal dunia."


"..."


"Apa kau masih menyukaiku setelah kau mengetahui fakta itu?"


Demian termangu. Apa Jessica mengutarakan kebenaran atau bukan?


Demian tidak bisa membedakannya sama sekali.


Jessica terlihat begitu rileks, terlalu rileks untuk seorang yang sedang mengakui kesalahannya sekarang. Tapi, bahkan bila ia bercanda, candaan itu terlalu di luar nalar.


"Apa kau..., bercanda?"


"Aku serius," tanggap Jessica. "Kau bisa mengecek riwayat hidupku, kalau kau mau. Kau mafia, bukan? Aku percaya kau mampu melakukan penyelidikanmu sendiri."

__ADS_1


"Tunggu..., eh, apa kau serius?"


"Aku serius." Jessica mengulang jawabannya.


"Tapi..., kenapa?" Jika Jessica memang membunuh ibunya, dia pasti memiliki alasan.


"Aku lapar...," jawaban Jessica terlalu ringkas. "Itu saja."


"Hah?"


"Jadi, kembali pada pertanyaanku..., dengan riwayatku yang seperti itu, apa kau masih mau bersamaku?"


"Aku menyukai kau yang berada di hadapanku sekarang, Jesse. Bukan kau di beberapa tahun lalu, atau kau yang berada di beberapa tahun ke depan. Aku menyukaimu yang sekarang." Jawaban Demian mantap dari hati.


Meskipun Jessica mempunyai riwayat hidup yang cukup mencengangkan, Demian percaya Jessica tidak akan melakukan itu semua tanpa alasan yang jelas.


Jessica adalah gadis dengan empati tinggi, dia terlalu gampang bersimpati. Dia adalah sosok yang baik hati.


"Waaaah, jawabanmu benar-benar membuatku terharu..." Jessica tertawa samar. "Kau pasti tidak takut padaku karena kau adalah mafia, kau mempunyai kenalan yang lebih gila daripada seorang pembunuh, sih."


"Jessica..., aku tanya sekali lagi..., mengapa? Maksudku..., kau..., apa yang terjadi?"


Sungguhan, Demian menyesal sudah tidak mencaritahu latar belakang Jessica selama ini. Kalau Demian tau gadis itu adalah kotak pandora berjalan, Demian sudah pasti menelisik setiap detail masa-lalu gadis itu. Dia tidak akan perlu tampil seperti pria gua yang baru pertama kali melihat api.


Jessica mengambil waktu untuk menjawab Demian karena ia sedang menelan segulung mie di kerongkongannya sekarang. Ketika ia selesai, barulah ia memberikan Demian jawaban.


"Seperti yang sudah kukatakan," ujar Jessica. "Aku begitu kelaparan, jadi..., karena sudah tidak tahan lagi, aku memukul tengkuk ibuku dengan sebongkah bata. Setelah itu, aku melarikan diri dari rumah dan meraup makanan apa pun yang bisa kutemukan."


"..."


"Ketika aku pulang, polisi sudah memenuhi teras rumahku..., dan dengan begitu saja, aku pun menghadapi hukuman atas ulahku." Jessica sedikit bernostalgia, senyum getir terukir di parasnya. "Aku tidak menyangka ayunan tanganku waktu itu cukup untuk menghabisinya."


"Apa hubunganmu dan ibumu tidak cukup baik, Jesse?"


Jessica terkekeh. "Ibu sangat mencintaiku, sebenarnya. Itu adalah masalah yang membuatku hampir mati. Dia takut aku kenapa-napa, jadi dia mengurungku di lemari hingga berhari-hari. Dia sangat takut ayahku kembali dan memukulku, jadi dia berusaha keras untuk melindungiku..."


"..."


"Perlindungannya akan sangat berarti bagiku andai saja ayahku memang sering datang dan menciptakan bencana, tetapi...ayahku telah meninggal sejak lama, overdosis di pinggir jalan raya. Dia tidak pernah pulang..., tapi teror yang ia tinggalkan pada ibuku begitu dalam."


Pada akhirnya, rasa takut itu membesar dan menciptakan hantu tak kasat mata di benaknya. Jessica sebagai anak, berujung menjadi korban dari rasa takut yang mendera ibunya.


"Aku mencoba melarikan diri beberapa kali, tapi karena aku yang begitu tolol...mungkin? Aku selalu kembali ke rumah itu. Meskipun dia membuatku kelaparan berhari-hari dan nyaris mati."


"..."


"Aku ingin melindunginya, dan menyadarkannya..., tapi pada akhirnya, aku menyingkirkannya."


Demian merasa seperti batu berat jatuh di pundaknya, menekannya. Iba yang tiada dua pada Jessica membuat Demian merasa luka masa kecilnya di Italy menjadi tak seberapa. Gadis itu sudah menghadapi neraka yang lebih berat darinya, dan dia mampu tumbuh memukau dan mempesona.


"Apa yang terjadi setelah itu?" Demian berusaha memahami Jessica lebih baik lagi, ia ingin tahu pahit manis kenangan yang tersimpan di balik teduh emerald itu.


"Aku bertemu seorang psikiater yang bertugas menangani remaja bermasalah. Dia mendengarkan keluhanku pagi dan malam, bertahun-tahun..., sampai akhirnya aku menemukan kebebasan. Aku begitu bergantung padanya dan melihatnya sebagai ibu kedua. Ibu ideal di imajinasiku."


"..."


"Dia memperkenalkanku pada Ethan, Elli dan Dania..., anak-anak asuh yang ia selamatkan dari penjara. Kami hidup bersama beberapa waktu sebelum dia tiba-tiba menghilang dan mewariskan Elixir atas namaku."


"Menghilang?" Menghilang, bukan mati?


"Karena aku sangat mencintainya, kurasa...sejak kehilangannya, aku bergantung dengan alkohol sebagai pelarian dari realita."


Jessica menyesap teh matcha di meja sembari tersenyum samar di sana. "Aku seperti ini, Demian." Jessica lalu melanjutkan. "Ketika aku jatuh cinta..., aku menyerahkan seluruh hatiku dan hidupku untuk orang itu. Kau juga..., jika aku mencintaimu, aku akan menyerahkan segalanya."


"..." Demian mendengarkan Jessica dengan seksama, tak mau melewatkan sepatah kata.


"Aku seperti ini," ujar Jessica lagi. "Aku terlalu lemah pada afeksi, jika aku jatuh cinta, ketergantungan pasti tercipta. Masalahnya adalah, apa kau sanggup bila aku mencintaimu seperti itu?"


"..."

__ADS_1


"Apa kau sanggup, berjanji dan bersumpah tidak akan pernah meninggalkanku?"


...****************...


__ADS_2