MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
29. Sentimen.


__ADS_3

Seharian bersama Jake Allendale cukup menyenangkan. Tidak, lebih tepatnya, sangat menyenangkan.


Jessica--untuk pertama kalinya bulan ini, merasa lepas dan bebas. Ia tertawa puas, kehilangan napas, dan berkeringat. Jake Allendale benar-benar menepati ucapannya kepada Jessica untuk membawa gadis itu bersenang-senang.


Jake, tidak hanya membawa Jessica berjalan-jalan dengan mobil mewahnya, juga membawa Jessica singgah ke cafe yang menjual dessert lezat. Setelah menghabiskan dua atau tiga iris tart strawberry dan segelas jus semangka, mereka pun lanjut berjalan, hanya saja, kali ini mereka meninggalkan mobil Jake di depan dessert cafe itu.


Kata Jake, seseorang nantinya akan menjemput mobilnya pulang. Jessica tidak menaruh tanya panjang mengenai siapa orang itu dan mengikuti Jake melenggang di trotoar jalan teramai di Vegas.


Hotel-hotel berdiri tinggi membingkai setiap sudut jalan, bersama dengan berbagai mall dan tempat hiburan.


Jessica dan Jake lalu memasuki sebuah bianglala high roller yang berdiri tinggi di tengah kota Vegas. Mereka berada di dalamnya, berbagi cemilan sambil bercerita singkat mengenai tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi.


"Meskipun terpajang besar di tengah kota, aku tidak menyangka warga lokal sepertimu baru pertama kali ini menaiki high roller."


"Bukan hanya high roller," kata Jessica. "Aku tidak pernah menaiki bianglala di mana pun sebelumnya."


"Serius? Jangan bilang kau tidak pernah ke Disneyland?"


"Aku pernah bekerja di sana," ujar Jessica.


"Hah?"


"Aku mempunyai orang tua yang cukup ketat," ujaran Jessica menjawab keterkejutan Jake. "Aku baru memperoleh kebebasan ketika keduanya meninggal dunia."


"Ah..."


Senyum Jessica merekah sayu. Sebuah kenangan yang tidak ingin ia pikirkan menyeruak ke benak Jessica, membuatnya tanpa sadar meremas pergelangan tangannya sendiri. Menahan gemuruh yang muncul di dada, bersama rasa tak menyenangkan lainnya.


"Aku harap aku bisa melihat Elixir dari sini," Jessica bergumam sambil menyandarkan kepalanya ke dinding kaca. Jake yang berdiri di sampingnya, alih-alih menatap pemandangan kota, malah menatap pantulan samar dirinya dan Jessica di sana.


"Aku pernah membawa Angela kemari," Jake tiba-tiba membuat pengakuan. Mungkin karena ia merasa berhutang sudah membuat Jessica mengungkit kenangan tak menyenangkan.


"Wah, apa itu perjalanan yang romantis?"


Jake tersenyum pahit. "Kami pulang dengan penuh pertengkaran setelah itu."


"..."


"Angela, tidak seperti yang kupikirkan, memiliki banyak pandangan yang bertentangan dariku. Mungkin karena itu kami runtuh."


"Wah, lihat..." perhatian Jessica teralihkan. "Ada layang-layang. Aku ingin mencoba memainkannya. Ayo main itu setelah ini."


Jake tersenyum tipis. "Baiklah."


Perjalanan Jake dan Jessica tidak berhenti di satu atau dua tempat. Mereka melakukan berbagai hal yang berujung membuat mereka kewalahan.


Mereka mencicipi jajanan di pinggir jalan, menari mengikuti musik dari seniman jalanan, bergabung bersama para turis. Tidak hanya itu, mereka juga mencoba tatto kembar berbentuk api di pergelangan tangan yang katanya, hanya bertahan dua hari.


Mereka berdiri berdampingan di pagar pembatas yang membatasi mereka dari air mancur Bellagio yang menyembur indah di bawah warna warni lampu. Menikmati sekaleng bir dan menikmati musik yang terputar nyaring di lokasi itu.


"Aku tidak menyangka aku menghabiskan hariku berlarian kesana-kemari dengan seorang Jake Allendale." Jessica bicara sambil menatap takjub ke arah atraksi air mancur yang sedang terjadi di depan mereka.

__ADS_1


"Kenapa, memangnya? Apa itu aneh?"


"Sangat aneh," sahut Jessica. Ia kembali tertawa.


Di mata Jessica, Jake Allendale memiliki kedudukan yang sama dengan Demian. Tidak pernah muncul di dalam pikiran Jessica selama ini kalau ia akan menghabiskan malamnya bersenang-senang bersama salah satu dari keduanya.


Fakta bahwa ia diam-diam menjalin hubungan absurd dengan Demian Bellamy saja sudah cukup aneh, sekarang ia malah berteman dengan Jake Allendale.


"Menurutku, kau yang berpikir kalau situasi kita sekarang aneh, lebih aneh lagi."


"Aku?"


Jake mengangguk. "Berteman denganmu bukan sebuah keanehan, menurutku."


"Meskipun kita mempunyai rute hidup yang sangat jauh berbeda?" Jessica menyesap birnya. Ia sudah cukup teler, sebenarnya.


"Aku adalah pengunjung reguler di Elixir, setidaknya, untuk beberapa waktu. Tidakkah itu cukup menjadi alasan untuk memulai pertemanan?"


"Yaaaah, rasanya masih aneh. Pertemanan..., pertemanan seharusnya, memiliki fondasi yang lebih...mmm, kuat, begitu?"


Jake menahan pinggang Jessica yang nyaris terhuyung rebah.


"Hati-hati," ujar Jake. Ia menyandarkan kepala Jessica di pundaknya. Sepasang emerald gadis itu berbinar-binar.


"Kau sudah sangat teler."


"Aku tidak..., ukhm..., aku hanya..., tidak seimbang?"


"Aku akan mengantarkanmu pulang," Jake membuat keputusan. Lagipula, sekarang sudah pukul sepuluh. Jessica sudah menemaninya seharian, gadis itu butuh istirahat.


"Shuuush, duduklah." Jake memasukkan Jessica ke dalam taksi, memposisikan gadis itu dalam posisi nyaman sebelum menyusul masuk.


"Jake Allendale," panggil Jessica lagi. Kali ini penuh ambisi. "Aku..."


"???"


"Aku akan membuatmu melupakan Angela. Ehehehehe. Aku punya banyak teman wanita, tau..., kalau kau mau...aku...mmmm..."


Jake merapikan rambut Jessica yang berantakan menutupi wajahnya. Gadis itu sudah terlelap sepenuhnya.


"Itu tawaran yang menarik," gumam Jake. Ia lalu meraih pergelangan tangan Jessica yang terkulai di sisinya. Tatto berbentuk kobaran api melekat di lengan gadis itu, Jake menatapnya dengan tersipu.


Ini pertama kalinya bagi Jake, berbagi tatto persahabatan, bersenang-senang dengan seorang kawan.


Ini pertama kalinya bagi seorang Jake Allendale melayangkan sebuah kecupan di pergelangan tangan seseorang.


*


Elixir tutup pukul sepuluh malam. Sebagai salah seorang karyawan yang mengambil shift malam, Angela Lancaster baru pulang ketika teman-teman sesama karyawannya menutup cafe.


Saat itu, Demian menunggu Angela di depan pintu. Kata Demian, dia akan mengantarkan Angela pulang. Mengingat Angela sekarang tidak tinggal bersama Jake lagi dan dia sekarang pulang sendirian, Demian mencemaskan keselamatan Angela di jalan Las Vegas yang berbahaya.

__ADS_1


"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, semua..." Dania melambaikan tangan kepada karyawan-karyawan yang berpisah jalan dengan mereka. Ia juga melambaikan tangan pada Angela yang sekarang berlari menghampiri Demian.


"Good job, Angela..." kata Dania, dia terabaikan begitu saja. Miris.


"Good job, Dani." Ethan yang menyahut. "Mau minum habis ini?"


"Aku mau," Elliot menyambung.


"Haruskah aku menghubungi Jesse, dia kemana sih?" Dania penasaran, untuk beberapa minggu belakangan, Jessica kerap menghilang.


"Apa kau tidak tau, kudengar dia berkencan." Elliot mengada-ada.


"Serius?"


"Ahahahahaha..., lihat ekspresi Dania? Apa kau seterkejut itu?"


"Ya-yah, habisnya ini Jessica. Kapan dia pernah dekat dengan pria?"


Sudah bukan rahasia lagi di pertemanan mereka kalau Jessica adalah gadis yang tidak pernah bersosialisasi dengan pria. Dia adalah calon perawan tua!


Mustahil dia berpa--


Sebuah cahaya taksi memotong isi kepala tiga sekawan yang masih bertengger di bibir jalan itu. Mereka menoleh ke sumber cahaya dan menemukan taksi itu berhenti tepat di depan mereka.


Angela dan Demian yang baru selesai mendaki motor dan memakai helm turut menoleh ke arah taksi itu.


Mereka memperhatikan siapa gerangan yang turun dari sana dengan tubuh lunglai tak bertenaga.


Itu adalah Jessica. Bersama Jessica pula, seorang Jake Allendale berdiri tegap sambil menahan Jessica di dadanya.


"Selamat malam," sapa Jake kepada trio yang sekarang tercengang.


"Mmm, ini..., Jessica kebanyakan minum, jadi aku mengantarnya pulang..."


Elliot orang pertama yang duluan bereaksi. "Oh, biar kubantu."


Elliot memapah Jessica di sisi lain. Ethan pun, menyusul Elliot, langsung membuka pintu cafe kembali.


Selama teman-teman Jessica dan Jake menyibukkan diri membantu membawa Jessica masuk, Angela yang duduk di belakang motor Demian menatap pemandangan itu dengan mata memerah menahan amarah.


"Demian..., yang barusan itu..., Jake, kan?"


Demian memandang ke arah cafe dengan delikan tajam menikam. "Itu adalah Jake Allendale," gumam Demian.


Apakah itu artinya Jessica menghilang seharian untuk bertemu Jake? Pertanyaan itu muncul di benak Demian seperti jarum tajam yang tertanam di benaknya.


Ia merasa panas luar biasa.


Ucapan Oscar tanpa sadar kembali bergema di benak Demian. Bahwa, bagaimana bila suatu-waktu, Jessica akan direbut oleh pria yang sama?


Jessica yang merupakan properti pribadinya, miliknya. Demian menggenggam stang motornya dengan penuh kekuatan.

__ADS_1


Keinginan untuk meremukkan seseorang bermain di kepalanya, membakarnya. Angela berbagi sentimen yang sama.


*


__ADS_2