
Kendati mereka berada di bawah atap yang sama, baik itu Jessica maupun Demian, tidak serta-merta membangun kedekatan.
Jessica--walaupun ia memperlakukan Demian dengan keramahan seorang tuan rumah kepada tamunya, masih merasa risih atas keberadaan Demian di sekitarnya. Demian pun, walau ia bergantung pada Jessica untuk sementara, ia tidak banyak menunjukkan jati dirinya yang asli pada Jessica.
Beberapa hari belakangan, mereka hanya berbincang ketika makan siang dan makan malam. Di waktu-waktu selain itu, Jessica menyibukkan dirinya di cafe, dan Demian menyibukkan dirinya dengan tidur seharian.
Mereka tidak banyak berinteraksi, dan jika mereka berinteraksi pun, mereka tidak mengatakan sesuatu yang penting.
Jessica, sebenarnya, mempunyai banyak tanya mengenai Demian. Apa alasan keluarganya mengejarnya? Mengapa ia melarikan diri dari keluarganya? Siapa dia?
masih banyak perihal lain menumpuk di benak Jessica. Namun, demi menjaga dirinya dari kepedulian yang berlebihan, Jessica memutuskan bungkam.
Menurut Jessica, semakin ia mengetahui situasi seseorang dan bersimpati pada orang tersebut, dia akan sulit menemukan kebijakan untuk dirinya sendiri.
Demian sukses membuat Jessica melunak hanya dengan satu kisah sedih. Jessica tidak bisa membayangkan akan sebanyak apa ia rela berkorban bila Demian menumpahkan keluh-kesah kepadanya.
Ugh, memikirkannya saja membuat Jessica bergidik ngeri. Jessica tidak mau luluh di kaki Demian, tidak lagi!
"Strawberry?"
"Huh?"
Dania--rekan kerja Jessica--menyodorkan semangkuk strawberry segar kepada Jessica yang sejak tadi duduk di depan bar dengan ekspresi bengong. Dania agak mencemaskan Jessica yang sering merenung belakangan, dan sekarang, Dania sudah tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Apa kau baik-baik saja, Bos? Kau kelihatannya banyak pikiran belakangan."
Menurut pengawasan Dania, perubahan sikap Jessica dimulai ketika seorang pria berpenampilan layaknya gangster, muncul di Elixir. Dania tidak tau apakah dua hal itu bersangkutan, akan tetapi, Dania sudah tidak bisa diam.
"Aku..., baik. Oh, terima kasih atas strawberry-nya." Jessica memalsukan senyuman.
"Kau yakin kau baik-baik saja? Maksudku, Bos. Jujur saja, sikapmu belakangan cukup aneh. Tidak hanya aku, Elli dan Ethan pun berpendapat demikian. Kau menjadi agak misterius, sering menghabiskan waktu di kamar, sering merenung dan ah, kau juga tidak banyak bicara belakangan."
Masalahnya, Jessica menjadi pendiam karena ia takut keceplosan dan menceritakan mengenai keberadaan Demian pada teman-temannya.
Jessica merasa, masalahnya terkait Demian tidak perlu dibesar-besarkan. Ketika satu minggu berlalu, Demian akan menghilang dari kamarnya dan jalan mereka akan berpisah selamanya. Begitu saja!
"Kau tidak perlu mencemaskan apa pun. Aku hanya banyak pekerjaan." Jessica menenangkan Dania seraya tersenyum jenaka. "Ketika pekerjaanku selesai, bagaimana kalau sabtu malam ini kita pergi clubbing?"
"Eh?"
"Kenapa? Apa jadwalmu penuh?"
"Tidak. Bukan itu." Dania melotot terpana. "Aku hanya tidak menyangka kau akan mengajakku clubbing. Ini pertama kalinya tahun ini! Seriusan, apa kau sehat, Bos?"
"Jangan berlebihan deh. Aku memang sedang sumpek saja. Pekerjaanku menumpuk dan menciptakan stress. Aku butuh refreshing."
Tidak, lebih tepatnya, Jessica ingin merayakan hari kebebasannya dari Demian. Jika Demian pergi dari kamarnya, masalah yang sudah membebani mental Jessica akan terlepas juga. Jessica--tanpa perlu mencemaskan keberadaan Demian lagi, akan menemukan kenyamanannya kembali.
__ADS_1
Ia tidak perlu berpakaian di kamar mandi, tidak perlu mencuri makanan di lemari pendingin, tidak perlu mengkhawatirkan apakah pria di kamarnya sudah makan. Bebas, Jessica akan bebas dari tamu tak diundangnya. Dia hanya perlu bertahan dua hari lagi!
"Aku tidak keberatan," kata Dania. "Kalau begitu, haruskah kita tutup lebih awal hari sabtu nanti?"
"Kurasa," tanggap Jessica. Selain ingin membawa Dania, Jessica juga ingin mengundang Ethan dan Elliot bersamanya. Sudah lama mereka tidak bersenang-senang bersama, kan?
"Baiklah, kalau begitu aku akan membatasi jumlah reservasi di hari sabtu." Dania tersenyum lebar. Jelas sekali, invitasi Jessica membuatnya sangat bahagia. Namun, saat ia hendak memulai pekerjaannya kembali, Dania yang sudah berseri-seri kembali teringat pada sesuatu.
"Ah, satu lagi..." ujar Dania. Ia menaruh tab-nya di atas meja. "Angela menghubungiku baru-baru ini."
Angela Lancaster?
Jessica mengernyitkan dahi saat nama wanita yang merupakan mantan waitress di cafe-nya, kembali menyapa telinga. Angela, gadis yang sudah berhasil mengundang banyak pengunjung ke Elixir melalui sosial medianya. Angela, si gadis yang merupakan pemeran utama di kisah cinta segitiga yang sempat terjadi di Elixir.
Angela adalah wanita yang Demian cintai setengah mati. Sampai saat ini, ketika Demian mengingat sesuatu tentang Angela, dia selalu berujung nelangsa.
Jessica--sebagai supporter Demian, merasa agak kecewa pada pilihan Angela. Namun, ia tidak menyalahkan pilihan gadis itu lagi. Tidak setelah Jessica melihat sekilas betapa berbahayanya seorang Demian.
"Ada apa dengan Angela?" tanya Jessica.
"Dia ingin kembali bekerja."
"Huh?"
"Sebenarnya, aku ingin menolak permintaannya. Toh, aku sudah mendapatkan karyawan baru. Akan tetapi, memikirkan kembali kontribusinya dalam mempromosikan Elixir, aku rasa kau lebih berhak memutuskan akan menerimanya kembali atau tidak."
"Apa masalah personalnya sudah terselesaikan?"
"Juga...?"
"Dia berpisah dengan Jake."
"???" Mata Jessica membulat sempurna. Ia tidak menyangka, cinta segitiga yang membara dan terjadi di cafenya selama berbulan-bulan, hanya bertahan selama dua bulan? Dua bulan?
Apa-apaan?
Mana happy ever after yang seharusnya terjadi? Jika dia akan melukai Demian, dia seharusnya berbahagia dengan pilihannya sekarang!
Jiwa fangirl Jessica jadi menggebu murka!
"Aku mengerti arti tatapanmu," ejek Dania. "Jadi, apa kau akan menolaknya karena dia mempunyai kisah cinta yang sia-sia?"
"Itu bukan urusanku," tukas Jessica akhirnya. "Haaaah..., seperti yang kau katakan, karena dia sudah berkontribusi dalam mempromosikan Elixir, aku rasa tidak ada salahnya untuk menerima dia kembali di sini."
Lagipula, jika Angela tidak berakhir dengan Jake, apa itu artinya Demian mempunyai kesempatan untuk merebut kembali hati Angela? Kisah cinta segitiga mereka, apa itu berarti dramanya belum berhenti?
Jessica mengetuk-ketukkan jemarinya di atas meja. Strawberry yang berada di mangkuknya ia kunyah satu-persatu sementara ia kembali termangu.
__ADS_1
*
[Main street sudah cukup aman, kau bisa kembali kapan saja sekarang. Adam sudah menyebar kelompoknya untuk berpatroli di setiap jalan raya. Sejauh ini, kepolisian telah menarik diri dari mencarimu. Kau tidak perlu bersembunyi lagi.]
Sebuah pesan panjang muncul di layar ponsel Demian. Ia membaca setiap untai kata yang tertera di sana dengan ekspresi muram. Situasi sudah terkendali sekarang, ia sudah bisa menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia tidak perlu menjadi bulan-bulanan keluarganya untuk sementara.
Demian tidak perlu menjadi beban untuk Jessica.
Demian merasa waktu seperti kembali berputar untuknya. Ia yang sudah menjalani kehidupan statis di dalam rumah dan cafe ini--tidak perlu merasa terpenjara lagi. Ia bisa keluar dari persembunyiannya dan meninggalkan Jessica.
Demian seharusnya berbahagia, tapi entah mengapa ia tidak bisa mempercayai keamanan yang sudah dijanjikan sobatnya untuknya. Jika ini adalah perintah Selina, kondisi jalanan tidak akan secepat ini mereda. Ada apa?
[Bagaimana kondisi di Bellamy?] Demian mengirim tanggapan.
Sementara ia menunggu jawaban, Jessica datang dari lantai pertama.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, di pikiran Demian, jika Jessica datang, maka gadis itu sudah pasti membawa makanan. Gadis itu sudah merawatnya seperti anjing peliharaan, dan Demian tidak merasa keberatan. Ia cukup senang mendapat perhatian dan perawatan intensif dari Jessica.
Setiap makanan dan minuman yang gadis itu bawa selalu menggugah selera. Demian bahkan tidak berpikir ia akan mendapat perlakuan yang lebih baik di luar tempat ini.
Malang sekali, situasi ini akan segera berakhir. Demian merasa pahit.
"Aku membawakanmu popsicle," kata Jessica. Ia menutup pintu sebelum berjalan menghampiri Demian. Kedatangan gadis itu begitu familiar, Demian akan merindukannya ketika mereka berpisah.
Jessica dan aroma strawberry kentalnya.
"Ah, terima kasih." Demian, berlagak santai, menjejelkan ponselnya ke saku celana dan menghampiri Jessica. Ia menyambut setangkai ice cream berbentuk balok tersebut dari Jessica dan menyantapnya dalam gigitan besar.
Asam manis strawberry mencair perlahan di kunyahan Demian.
Sementara ia menyantap popsicle pemberian Jessica, Demian kembali teringat pada pesan yang mendarat di ponselnya. Bahwa, ia sudah bisa kembali ke tempatnya semula. Ke dunia yang familiar pada keberadaannya. Ia tidak perlu menunggu hari sabtu datang untuk perpisahan. Ia bisa pergi sekarang.
"Jessica," panggil Demian.
"Hmm?"
'Boleh aku menetap lebih lama?' pertanyaan itu muncul di benak Demian saat ia memandang wajah Jessica. Namun, tanya itu ia tahan di kerongkongannya.
"Ada apa?" Jessica penasaran.
"Terima kasih sudah menampungku dengan baik selama ini."
Mendapat perlakuan baik dari Jessica sudah cukup. Ia seharusnya tidak menaruh ekspektasi lebih.
"Mm. Bukan masalah."
Tidak, itu adalah masalah.
__ADS_1
Jessica yang terlalu baik adalah masalah.
*