MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
76. Hambatan Jalan.


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Jessica, penjagaan ketat mulai terjadi di Elixir setelahnya. Hari-hari yang berlalu kemudian, kendati penuh ketenangan, ternyata menyimpan rahasia di belakang.


Jessica, tanpa tau apa-apa, mengira kalau ketidak-hadiran Demian beberapa hari belakangan dikarenakan pria itu menuruti kemauannya. Demian mungkin sudah paham posisinya dan menyerah, pikir Jessica.


Jessica merasa lega, tentunya. Namun, disaat bersamaan, ia merasa sedikit hampa. Tidak mudah untuk melupakan seorang pria yang pernah ia cinta. Jessica sekarang hanya menaruh harapan pada waktu agar perasaan itu mengikis dari hatinya.


Jessica--di dalam masa pemulihan sakit hatinya--tidak tau saja kalau Elliot Winchester menarik tali di belakangnya. Menciptakan skema yang membuat baik itu Demian maupun Erthian yang kerap mampir belakangan, terusir pulang.


Elliot Winchester--ketika turun tangan dalam melindungi Jessica--selalu berhasil dan tidak pernah kalah.


Seperti di hari pertama saja, ketika ia mulai menjalankan misinya.


Belum sempat Erthian dan Demian menapakkan selangkah kaki mereka ke dalam Elixir, Elliot sudah mencegat keduanya dengan tangan terlipat di dada. Matanya menatap dua bersaudara itu tanpa keramahan apa pun.


"Demi kenyamanan cafe kami, kalian berdua tidak akan diperbolehkan masuk ke sini lagi." Ucapan Elliot frontal, sama seperti kepribadiannya.


Erthian yang tidak berdosa jadi terheran-heran juga. "Kenapa?"


Demian tidak bertanya, karena dia sudah bisa membaca isi kepala Elliot. Tapi, itu tidak berarti dia akan menuruti ucapan chef itu.


"Kami sangat ingin menghargai tamu-tamu kami, yang dalam artian, kau pun ingin kami hargai. Tetapi, adikmu dan kekasihnya yang tolol itu sudah merusak atmosfir di sini."


"Huh?"


"Jangan mengutarakan omong kosong, Elliot. Tidak, lebih tepatnya jangan ikut campur!" Tatapan Demian meruncing tajam.


"Aku ikut campur karena aku berhak ikut campur. Kalau kau dan saudaramu tidak mau mati kuracun di sini, kalian sebaiknya makan di lain. Demi Tuhan, apa cafe di Las Vegas hanya satu?"


"Tidak seperti itu. Bila kami membuat masalah, setidaknya beritahu aku apa itu...?" Erthian memperhalus suaranya, seolah-olah bersalah. Dia hanya penasaran, sebenarnya.


Apa yang sudah dilakukan Demian sampai dia di-blacklist dari cafe yang ramah pada pengunjung ini?


"Tanya adikmu tuh!" Elliot menyahut acuh tak acuh. "Pokoknya, aku sudah tidak bisa mentolerir keberadaan kalian di sini. Kalau kalian masih ngotot untuk masuk, aku akan melaporkan kalian ke polisi."


"Bercanda, ya?" Demian sama sekali tidak habis pikir. Apa-apaan dengan situasi tolol ini?


"Apa aku terlihat seperti cowok humoris di matamu?" Elliot menapak maju ke depan Demian. "Aku tidak akan seserius ini kalau bukan karena kau dan wanita keparatmu itu sudah melukai bosku."


"Apa sesuatu terjadi pada Jessica?" Erthian mulai bisa merangkai satu dan satu situasi yang terjadi saat itu.


"Untungnya, dia baik-baik saja. Karena itu, sebagai sahabatnya, aku berusaha keras agar situasinya tidak memburuk. Aku berusaha sebaik mungkin agar adikmu tidak menciptakan masalah di kehidupan sahabatku."


"Apa?" Erthian menjadi sangat penasaran terhadap situasi yang sudah terjadi. Masalah apa yang sudah Angela dan Demian ciptakan terhadap Jessica, dan apa penyebabnya? Erthian butuh kronologi mendetail.


"Erthian, kau dengar kita tidak boleh masuk, kan? Ayo, pergi ke lain!"

__ADS_1


Kendati tidak terima sudah diusir, Demian merasa tidak begitu buruk. Setidaknya, dia sudah bisa menjauhkan Erthian dari Jessica. Hanya saja..., bagaimana bila situasi ini terjadi seterusnya? Apa dia akan selamanya di-blacklist dari Elixir?


Setelah membawa Erthian pergi, Demian memberikan sedikit briefing menyangkut situasi yang sudah terjadi antara Angela dan Jessica. Tentunya, Demian tidak mengungkapkan keterlibatannya di sana. Dia hanya mengatakan kalau Angela masih cukup cemburu pada Jessica.


"Karena aku pacar Angela, kurasa melihatku pun membuat mereka marah." Demian menutup penjelasannya dengan pundak merosot lesu.


Padahal dia ingin melihat Jessica hari ini...


"Aku tidak mengerti, bagaimana bisa kau mau-mau saja berpacaran dengan wanita seperti Angela?"


"Huh?"


Erthian menatap adiknya dengan sedikit curiga. "Aku pikir kau suka perempuan cerdas."


"Apa maksudmu Angela tidak cerdas?"


"Apa menurutmu dia cerdas?"


"Dia hanya patah hati. Sedikit masalah terjadi dan mengaburkan pandangannya, dia hanya perlu waktu untuk kembali seperti semula."


"Ketidak-mampuan dalam mengontrol diri sendiri adalah bentuk kebodohan, bukan? Ayah sering mengatakan itu dulu ketika mengedukasimu."


"Dan ayah salah." Demian jadi mendengus tak senang seusai Christian dilibatkan. Ayahnya itu bukan panutan. Tidak ada ajarannya yang patut dijadikan contoh.


"Lepas kendali adalah hal yang wajar terjadi pada manusia. Karena manusia mempunyai emosi."


Sahutan Erthian membuat Demian sadar kalau bicara dengan saudaranya itu percuma. Dia adalah iblis dari neraka, percuma membahas masalah kemanusiaan dengannya.


"Lupakan saja," tukas Demian.


Setelah bertukar kata dengan Erthian, Demian kembali memikirkan Jessica. Demian ingin bertemu dengannya, melihat wajahnya, meminta maaf kalau bisa. Bertukar kata.


Apa pun itu, Demian membutuhkan sedikit saja Jessica di hidupnya. Tanpa menemukan gadis itu sehari saja, Demian merasa hatinya menjadi hampa.


Ia merindukan Jessica, ia juga ingin menjelaskan situasi yang berkaitan dengan Angela...


Demian ingin gadis itu mengerti kalau ia dan Angela tidak berpacaran.


Bahwa, Jessica yang menjalin hubungan dengannya bukanlah kesalahan. Jessica tidak perlu merasa berdosa dan merasa bersalah. Demian--demi Tuhan--hanya mencintai Jessica, ia tidak pernah berniat menjadikan gadis itu sebagai selingannya.


Jessica, oh, Jessica.


Betapa Demian berharap ia bisa sedikit saja bertukar kata dengannya. Meluruskan kesalah-pahaman yang sudah menjadi racun di dalam hubungan mereka.


*

__ADS_1


Harapan Demian kembali dipatahkan ketika ia menapakkan kakinya di depan Elixir keesokan hari. Elliot, masih persisten seperti biasa, menyambut Demian dengan lengan tersilang di dada.


Demian sungguh-sungguh tidak mengerti, mengapa pria yang seharusnya berada di dapur Elixir sekarang berada di pintu depan? Apa dia begitu kurang kerjaan?


"Aku sudah menanyakan ini kemarin, tapi akan kutanyakan sekali lagi, apa tidak ada cafe lain di Las Vegas, selain di sini?" Sama seperti Demian yang terheran-heran atas keberadaan Elliot. Elliot pun sama herannya dengan Demian yang lagi-lagi datang.


"Tidak semua cafe memiliki Jessica di dalamnya." Demian menanggapi santai. "Jadi, apa kau akan membiarkanku masuk hari ini, atau kita harus berkelahi?"


"Aku tidak keberatan pada opsi kedua, tapi akan kupastikan wajah aroganmu itu mendarat di kantor polisi setelahnya."


Mendengar ancaman Elliot, sejujurnya Demian merasa agak tersudutkan. Selain karena Demian tidak mau ditangkap polisi, Demian juga tidak mau memperburuk imejnya di depan Jessica.


Jika ia memukul Elliot di sini, orang yang akan sangat marah adalah Jessica. Gadis itu sangat peduli pada temannya. Terlalu peduli sampai Demian terkadang merasa iri.


"Dengarkan aku, Demian..." Elliot bicara dengan sedikit santai daripada sebelumnya. "Aku tidak mengerti dirimu sama sekali. Apa sih maumu dengan Jessica?"


"Apa pun itu, sudah pasti itu bukan urusanmu."


"Nah, ini dia hal yang gagal kau pahami. Kami di Elixir sudah seperti keluarga. Aku, Dania, Ethan dan Jessica..., kami tidak menyimpan rahasia. Kami menjaga satu sama lain. Jessica--, dia adalah orang yang paling kami lindungi di sini."


"Sebentar..., sebelum kau memintaku untuk memahami situasi kalian, bagaimana kalau kau memahami situasiku terlebih dahulu?" Demian menanggapi Elliot dengan kesabaran yang menyusut tipis. "Aku membutuhkan Jessica di sini, dan hanya membutuhkannya. Aku tidak membutuhkanmu atau siapa pun berdiri di depanku dan mengatakan omong kosong yang tidak perlu!"


"Itu dia masalahnya, kan?"


Oh, Tuhan. Apa sih mau si bajingan ini? Apalagi yang jadi masalah?


Elliot menmandang Demian prihatin.


"Kau hanya peduli pada situasimu sendiri." vonis Elliot. "Kau tidak peduli pada situasi Jessica dan mengapa kami sangat protektif padanya. Tidak, kau tidak mau tau apa pun karena menurutmu, kepentinganmu adalah nomor satu."


"..."


"Kau tidak peduli apakah tindakanmu akan melukai Jessica atau tidak, kau tidak peduli." Elliot mendorong pundak Demian sekali. "Bagaimana, sebelum kau kembali ke sini, kau berkaca atas kesalahan-kesalahan yang sudah kau berikan pada temanku selama ini? Mungkin dengan bercermin, kau akan tau mengapa kami semua tidak menginginkan kedatanganmu, dan ini tidak hanya berlaku padaku, Jessica sendiri sudah tidak mau melihatmu, dan kau tau itu!"


Gigi Demian bergemeletuk geram. Sepasang netra kelamnya berkobar dalam kebencian.


Ia membenci Elliot yang sudah membatasinya menemui Jessica, dan ia membenci dirinya yang tak mampu berkata apa-apa. Ia tidak bisa menyanggah ucapan Elliot yang jatuh seperti hinaan, tidak..., karena sebagian dari itu adalah kebenaran.


Demian sudah melakukan terlalu banyak kesalahan.


Bahkan bila Jessica membencinya, Jessica tidak salah apa-apa.


Jessica sudah terlalu banyak berkompromi, terlalu banyak dilukai dan terlalu baik. Demian memanfaatkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri, seperti keserakahan yang tidak pernah habis.


"Kalau kau masih peduli pada Jessica, sebaiknya kau mempertimbangkan kembali apa yang paling Jessica inginkan sekarang." Elliot melanjutkan ucapannya, kali ini dengan kesungguhan.

__ADS_1


..."Jessica sudah tidak ingin mempunyai urusan apa pun denganmu, aku harap kau menghormati keputusannya itu."...


...****************...


__ADS_2