MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
80. Kunjungan dan Kejutan.


__ADS_3

Hari-hari menjelang ulang tahun Jessica membuat Elixir menjadi lebih sibuk daripada biasanya.


Orang yang paling sibuk, tentunya, adalah Dania. Karena dia sangat sibuk dan cerewet juga, dia menularkan kesibukannya tersebut pada pekerja lain. Terutama Ethan dan Elliot.


Jessica--sebagai bos dan sahabat Dania--tidak berkomentar banyak. Ia hanya bertopang dagu mendengar rengekan Dania, memberikan sedikit pendapat di sana-sini, dan kembali termenung di temani sepiring strawberry.


Jessica--terima kasih pada Demian yang bajingan--menjadi muram setelah bertemu dengan pria itu.


Baik itu Dania, Ethan dan Elliot berusaha menghiburnya, menarik perhatiannya, tapi itu tidak benar-benar berhasil. Entah apa yang sudah Demian katakan pada Jessica, yang Dania tau, ketika Jessica kembali, gadis itu langsung mengambil sebotol bir dari laci.


Dania berupaya mencegah Jessica dalam beberapa hal tapi, bila Jessica menampakkan diri dengan pesan 'Jangan mendekat!' terpampang tak kasat mata di jidatnya, Dania juga segan bersuara. Dania tidak mau menjadi korban semprotan amukan Jessica, jadi ia memutuskan bungkam pada situasi yang terjadi pada Jessica sekarang.


Dania hanya berdoa kalau bir yang terus menghilang dari laci bukan ulah Jessica lagi. Walau harapan itu harapan kosong.


Oh, Demian keparat!


Dania jadi merutuk marah.


Hari ini lagi, kendati lusa adalah hari perayaan ulang tahunnya, hari yang istimewa, Jessica turun ke Elixir dengan ekspresi tak berminat sama sekali. Jessica mungkin berusaha berkontribusi dan menunjukkan apresiasi pada Dania yang sudah bekerja keras, tapi Dania tau kalau sepasang emerald itu tak antusias sama sekali.


"Sekarang aku merasa sedikit mengerti alasan mengapa aku tidak mau berpacaran," Dania berujar kepada Ethan.


"Rasanya agak deja vu karena Jesse pernah mengatakan hal yang sama padaku." Ethan terkekeh.


"Ethan, kau seharusnya tidak bersantai."


"Apa yang harus aku lakukan, memangnya?"


"Tidak tau. Lakukan sesuatu, kita tidak bisa membiarkan Jesse meniup kue ulang tahunnya dengan ekspresi zombie itu, kan? Aku merayakan ulang tahunnya karena aku ingin dia berbahagia, tapi kalau situasinya seperti ini, aku merasa aku akan menangis."


Ethan tersenyum. "Aku bisa saja bicara padanya, memberikannya beberapa kata mutiara..., tapi, itu tidak berarti hatinya akan sembuh seperti sedia kala, Dani.--


Menurutku, Jessica butuh waktu untuk memproses patah hatinya. Biarkan dia menangis dan nelangsa untuk beberapa waktu, dia akan kembali seperti sedia kala kalau dia sudah selesai dengan perang batinnya."


"Itu akan bagus kalau dia hanya menangis saja. Tapi, apa kau tidak lihat berapa banyak bir yang dia bawa naik ke kamarnya setiap malam?"


"Aku tau apa yang kau cemaskan," ujar Ethan. "Aku akan berusaha bicara dengannya."


"Please, Ethan. Dia hanya akan mendengarkanmu." Dania menghela napas berat dan panjang. "Aku tidak bisa tidur karena terus kepikiran situasi di masa lalu. Aku tidak mau kita kembali seperti dulu."


"Tenang saja, kita tidak akan kembali seperti dulu." Ethan mengusap pundak Dania, menenangkannya. "Jessica sudah lebih dewasa dari dirinya yang dulu, dia tidak akan mengkhianati janjinya di masa lalu."


"Kuharap, Ethan. Kuharap..."


Sementara Ethan dan Dania bertukar kata di balik meja bar, seorang pria datang membawa sebuket bunga mawar. Kedatangannya pun membuat Dania menoleh dengan kening terangkat sebelah.


"Jake?" sapa Dania. "Kau datang."


"Apa kau hendak memesan kopi?"


"Aku berencana menemui Jesse, sebenarnya." Jake lalu menunjukkan mawar di dekapannya.


"Oh, romantisnya..." Dania mengejek seraya tertawa. "Sebentar, aku akan memanggilnya."


"Apa Jesse masih di kamar?"


Dania mengangguk. "Dia hanya turun untuk sarapan tadi."


"Karena sekarang sudah dipenghujung bulan, Jesse biasa menjadi lebih sibuk dengan masalah cafe." Ethan menambahkan penjelasan.


"Begitu, umm..." Jake menatap Dania dengan agak dilema. Ia ragu dalam melanjutkan ucapannya.


"Apa ada sesuatu yang lain?" Dania agak heran.


"Itu..., hanya, boleh aku yang ke kamarnya saja?"


"..."


"Karena aku pacarnya, aku ingin memberikan dia kejutan dengan kedatanganku, begitu."


"Surprise, huh?" Dania melirik Ethan dengan kebimbangan. Apa yang harus ia lakukan? Dapatkah ia memberikan izin kepada pria yang berstatus pacar Jessica ini, naik ke lantai dua?


*

__ADS_1


Apa yang dapat Dania lakukan kepada seorang gentleman yang ingin mengunjungi kekasihnya sanbil mendekap mawar di dada, wajah tampan mempesona?


Mana mungkin Dania bisa menolak seorang Jake Allendale yang berlaku sopan dan elegan di depannya.


Karena pria tampan yang baik hati adalah kelemahan Dania, mau tidak mau ia membukakan jalan kepada si tampan itu agar dia bisa menemui Jessica langsung.


"Aku harap aku tidak melakukan kesalahan," kata Dania setelah berhasil menunjukkan Jake jalan menuju kamar Jessica. Ethan yang menjadi teman ngobrol Dania hanya mengendikkan bahu.


Setelah memperoleh izin dari Dania juga, Jake mendaki tangga dengan senyum sumringah terpatri di parasnya. Jake antusias karena ini pertama kalinya dia mengunjungi kamar Jessica. Kamar yang menjadi zona aman gadis itu.


Jake penasaran, akan seperti apa kamar Jessica? Apakah dia tipe gadis yang berantakan atau rapi dan bersih?


Tok! Tok! Tok!


Sampai di depan pintu kamar Jessica, Jake memberikan ketukan pelan di pintu. Ia menunggu dengan jantung yang berdegup laju.


"Sebentar..." sebuah sahutan terdengar dari dalam, beserta langkah kaki yang terseret malas-malasan.


Jessica--di dalam--mengira yang datang adalah Dania. Mengingat sahabat wanitanya itu menjadi sangat sibuk membahas topik ulang tahunnya lusa. Namun, tepat ketika Jessica membukakan pintu kamarnya, pemandangan seorang Jake Allendale di sana. Pria itu berdiri tampan dengan sebuket mawar merah yang elegan. Jessica spontan terpana.


"Selamat pagi," sapa Jake, suaranya lembut dan manis.


"Pa-pagi..." sahutan Jessica terbata-bata. Ia masih tak menyangka Jake berkunjung ke kamarnya. Kamarnya!!!


Oh my God, apa-apaan ini?


"Ini untukmu," ujar Jake sambil menyerahkan buket bunganya pada Jessica.


"Wa-waah, ini indah. Te-terima kasih..., ummm, aku sangat berterima kasih." Seraya tersenyum tolol, Jessica menyambut bunga pemberian Jake.


Aroma mawar yang menguar kuat dan tajam membuatnya cukup..., terkesan? Sungguhan, Jessica masih sulit memproses kedatangan Jake di sini.


Apa yang harus ia lakukan? Dia tidak mungkin akan mengusir Jake, kan? Tapi, membiarkan pria itu masuk ke kamarnya juga agak..., berisiko?


Jessica tidak merasa nyaman dengan mengekspos kamarnya pada pria lain. Tidak setelah Demian.


"Apa kita hanya akan berdiri di sini?" Jake mengindikasikan kalau ia ingin masuk.


'Keparat!' Jessica jadi mengumpat dalam hati.


"Silakan masuk," ujar Jessica akhirnya, pahit terasa di lidahnya. "Kamarku agak berantakan, tapi..."


"Tidak masalah, Jesse." Jake mendekat tanpa aba-aba dan memberikan kecupan di pipi Jessica. Keantusiasannya begitu kentara, Jessica sampai tidak bisa berkata apa-apa.


"Terima kasih sudah mengizinkanku masuk."


Jake bicara sambil melenggang masuk meninggalkan Jessica yang masih membatu di depan pintu. Sepasang iris hazelnya memindai seisi kamar Jessica, kepada tempat tidurnya yang berseprei merah muda, kepada kertas-kertas yang menumpuk di atas meja, laptop yang masih terbuka.


Jake menatap kesana-kemari, memandang setiap detail kamar Jessica dengan teliti. Ketertarikan yang terpatri di parasnya membuat Jessica tidak nyaman, tapi ia tidak mampu mengatakan apa pun menyangkut ketidak-nyamanannya tersebut.


"Apa kau mau kopi atau teh?" Jessica hanya bisa bersikap seperti tuan rumah yang ramah.


"Teh saja," sahut Jake. Selesai mengamati ini dan itu, Jake pun menghampiri Jessica di dapur. Senyum pria itu masih merekah ceria.


"Serius, ya. Aku tidak menyangka aku akan pernah bisa menapak ke kamarmu."


"Apa aneh?"


"Daripada aneh, rasanya agak menegangkan. Kau tau kita..., hubungan kita..., semuanya begitu asing di awal."


"Aku mengerti." Jessica tersenyum tipis. "Siapa yang akan menyangka kalau pria yang kerap berkunjung ke cafeku untuk bertemu gebetannya, sekarang malah berkeliaran di kamarku."


Jake terkekeh. "Rasanya seperti patah hati telah membawaku bertemu dengan orang yang lebih baik."


"Aku tidak tau tentang orang yang lebih baik," ujar Jessica. Ia melenggang melewati Jake sambil membawa dua mug berisikan teh hangat. "Kurasa Angela masih mempunyai keunggulan dalam banyak hal."


Jessica tidak menyukai dibandingkan dengan Angela, meskipun itu akan berakhir sebagai pujian untuknya. Jessica merasa itu tidak adil karena Angela dan dirinya adalah dua orang dengan kepribadian yang berbeda, mereka tidak bisa dibandingkan.


Juga, meskipun Jake memuji tinggi dirinya saat ini, Jessica tidak akan serta-merta lupa betapa mabuk cintanya pria itu dulu pada Angela. Ketahap ia sampai depresi ketika wanita itu pergi.


"Kau begitu rendah hati," Jake memuji seraya melenggang mengikuti punggung Jessica yang menuju balkon. Jake merasa gadis itu masih sulit untuk menerima pujian darinya dan itu agak mengesalkan.


Jake ingin Jessica melunak sedikit saja padanya, tapi harapan itu sepertinya masih begitu jauh. Apa ini karena Demian Bellamy? Jake menjadi iritasi ketika ia mengingat pria itu lagi.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, Jessica..."


Tidak mau menyeret topik yang sama, Jake pun memutuskan membahas perihal lain. Ia berdiri di samping Jessica yang bertopang lengan di pagar balkon, dan menerima secangkir teh hangat yang gadis itu berikan.


Jessica menunggu ucapan Jake dengan seksama.


"Hadiah ulang tahunmu nanti..., apa kau punya harapan tersendiri?"


"Huh?"


"Kau tau..., aku hanya bingung harus memberikanmu apa. Karena hubungan kita terjadi secara tiba-tiba, aku belum begitu mengetahui apa yang kau suka dan tidak suka...,"


"Ahahaha..., apa-apaan?" Jessica menatap Jake dengan kegelian. "Kau tidak perlu memberikanku apa pun, Jake. Yaaah, maksudku, kau datang saja sudah bagus."


"Bagaimana bisa kau mengatakan itu pada pacarmu?"


"Kenapa memangnya? Aku serius, kok. Aku tidak mengharapkan apa pun dari siapa pun. Aku sudah cukup senang kalian mau merayakan hari ulang tahunku. Aku sangat mengapresiasi itu."


"..."


"Aku sudah berusia 29 tahun, setidaknya, beberapa hari lagi. Aku tidak mengharapkan hal lebih dari siapa pun." Toh, pikir Jessica, bila ia menginginkan sesuatu, dia lebih baik mengusahakan dan membeli sesuatu itu dengan upayanya sendiri.


Jessica tidak mau menjadi beban.


"Jessica," ujar Jake lebih tenang dari sebelumnya. Karena ia hendak bicara serius juga, Jake jadi menaruh tehnya ke atas meja kecil yang terletak di dekat jendela kamar Jessica.


"Aku tau kau mandiri, dan aku bangga pada fakta itu, tapi..., menjadi manja dan mengeluh pada pacarmu bukanlah kesalahan. Aku akan lebih senang kalau kau merengek dan menginginkan sesuatu dariku."


"Maafkan aku, haruskah aku melakukan itu?"


"Bukan berarti itu harus..., hanya saja..., kita akan menjadi lebih dekat bila kau seperti itu."


Jessica mengulum senyum. "Maafkan aku, aku tidak begitu paham aturan berpacaran. Seperti yang kukatakan malam itu, aku tidak pernah menjalin hubungan apa pun."


Sesuatu semacam asmara, aturan dalam jatuh cinta, Jessica tidak tau apa-apa. Ia sudah terlalu banyak mengalami hal yang terbilang 'abnormal' untuk bisa mengerti hal-hal normal yang baru saja Jake terangkan.


"Apa ada hal lain yang harus aku lakukan?" Jessica menunggu lanjutan ucapan Jake sambil mendongak menatap wajah pria itu. Sepasang mata emerald-nya berbinar cermat, membulat.


Jake membalas tatapan Jessica jadi menahan tawa. Ia sulit bicara ketika gadis yang berada di hadapannya bertingkah seperti pegawai magang yang baru pertama kali mendengar arahan dari si atasan. Jake merasa seperti sedang di ruang kerja, sedang melantik bawahan barunya.


Ia...


Terpana?


Sambil mengulum senyumannya, sepasang iris hazel Jake bergulir tanpa sengaja ke arah jalan raya. Tidak, lebih tepatnya kepada seorang pria yang sedang berdiri di bibir jalan raya, mata terpaku tajam ke arah mereka.


Jake mengarahkan kembali tatapannya pada Jessica yang tidak menyadari apa-apa. Dia berdiri begitu polos tanpa tau kalau seekor singa sedang mengintainya, menatapnya dengan taring dan kuku yang siaga untuk mencabiknya. Memangsanya.


"Jesse...," ujar Jake. Ia tersenyum lembut sambil menepikan surai hitam Jessica yang tertiup angin pagi, jatuh berantakan di dekat pipi.


"Mau tau apa lagi yang perlu dilakukan sepasang kekasih?"


"Seseorang sepertinya begitu berpengalaman."


"Tidak bisa dikatakan berpengalaman, hanya saja, aku cukup paham."


"Oh, oh..., jadi, apalagi?" Jessica menunggu sambil menyandarkan punggungnya ke pagar balkon. Ia membelakangi jalan raya sepenuhnya, membelakangi pria yang sejak tadi enggan menurunkan tatapan darinya.


"Ini..." ujar Jake, seperti bisikan.


Tanpa aba-aba dan keterangan lanjutan, Jake melabuhkan sebuah kecupan di bibir Jessica. Tubuh gadis itu tersentak tak siaga, tapi Jake tak melepaskannya. Tak menarik diri dan meminta maaf karena sudah menjadi lancang hari ini.


Sebaliknya, ia..., tanpa sepertujuan Jessica, memperdalam kecupannya. Melahap Jessica dengan pagutan yang menyiratkan kehausan.


Jessica--kendati sulit memproses situasi yang terjadi--memejamkan mata demi tidak melukai Jake dengan penolakannya.


Tidak apa-apa. Ini adalah hal yang wajar. Jake adalah kekasihnya, sudah normal bila pria itu ingin menciumnya.


Ini adalah tindakan yang benar, tetapi...


Jessica merasa jantungnya begitu sakit.


Seperti tikaman pisau yang mendarat di dada, kecupan itu tidak mendatangkan gairah untuknya, Jessica saat itu hanya merasakan duka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2