MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
50. Kesialan.


__ADS_3

Tidak ada alasan berarti mengenai alasan Jessica meninggalkan Elixir. Dia tidak berniat pergi jauh, tidak ketika ia hanya mengenakan pakaian santai.


Jika ada penjelasan yang dapat dijadikan alasan mengenai Jessica yang tiba-tiba melenggang keluar dari kamarnya, maka penjelasan itu adalah Demian. Demian Bellamy sudah menempel di benaknya seperti bisul di pantat.


Jessica ingin mencari cara untuk mengalihkan isi kepalanya dari si bajingan mesum bersurai keriting itu. Jawaban dan solusi dari stresnya tersebut adalah toko buku.


Ketika kamu terbenam dalam kisah kehidupan orang lain, kamu akan melupakan kehidupanmu sendiri. Setidaknya, untuk sejenak, kamu hanya meninggalkan segala permasalahan yang terjadi di hidupmu. Hal tersebut, sensasi melupakan itu adalah hal yang ingin Jessica kejar sekarang.


Jessica ingin melarikan diri dari realitanya dengan menyibukkan diri membaca sejumlah novel.


"Hmmm~~" Bersenandung ringan sambil terus memasukkan buku pilihannya ke dalam keranjang, Jessica merasakan kelegaan. Keretakan yang muncul di hatinya teralihkan oleh sejumlah sinopsis buku yang ia baca barusan.


Oooh, betapa menyenangkan. Ia mempunyai banyak bacaan baru di keranjangnya sekarang.


"Pria terbaik hanya ada di buku, kurasa itu ada benarnya." Jessica bergumam sambil mengambil satu buku lagi.


Kebanyakan buku yang Jessica pilih adalah buku-buku bergenre urban fantasi. Ia menyukai sebuah kisah cinta yang terjadi di dunia berbeda, dengan sihir dan keajaiban lainnya.


Situasi yang mustahil terjadi di dunia nyata.


"Oh, apa aku lupa membawa ponsel?" Jessica baru menyadari hal tersebut setelah dia mengeluarkan dompetnya dari kantong hoodie yang ia pakai.


Sial, karena Demian terus menghubunginya, Jessica jadi enggan menatap ke arah ponselnya dan sekarang, dia melupakan benda itu.


"Aku harap tidak ada hal urgen yang terjadi," adalah kata-kata terakhir yang keluar di bibir Jessica, dan langit langsung mengkhianatinya.


Tepat ketika Jessica menapak di luar toko buku dengan satu tas besar berisi novel-novel baru, hujan deras turun dari langit, menyapa bumi dan memercikkan kaki Jessica dengan air dinginnya yang sudah bercampur dengan pasir di tanah.


"Aaaaah, sial!" Jessica segera mencari tempat berteduh. Ia--di bawah hujan yang jatuh seperti guyuran air sebaskom--menemukan halte bus yang reot. Jessica seketika berlari ke bawahnya dan meneduhkan tubuhnya yang separuh basah.


Untung saja buku-buku yang ia beli memiliki sampul plastik, jika tidak, Jessica bisa menangis lebih deras dari hujan sekarang. Buku--di mata Jessica--adalah benda yang sangat berharga. Apalagi itu adalah buku baru. Jessica akan menjaga mereka seperti menjaga anak sendiri.


"Ugh, kenapa tiba-tiba hujan?"


Setelah memastikan buku-bukunya aman, Jessica menepi dan duduk di atas bangku panjang yang berada dekat pada dinding halte. Saat itu, tidak ada siapa-siapa di sana selain Jessica. Jadi, tanpa merasa segan, Jessica duduk meringkuk sambil memeluk lutut.


Selain dingin, alasan Jessica enggan menurunkan kakinya adalah karena lantai halte yang kotor. Sampah-sampah basah dan busuk berbaur dengan rumput-rumput yang tumbuh liar di sudut dinding. Beberapa poster dari band lama dan pesan-pesan politik menempeli dinding di belakang Jessica, mengelupas dan usang.


Andai saja hujannya tidak sederas sekarang, Jessica mungkin akan berlari dan mencari tempat berteduh di lain. Namun, situasinya tidak seperti itu. Volume air hujan yang menimpa atap halte sekarang begitu kuat dan berat. Jalanan berkabut oleh panas aspal dan air hujan yang seperti tirai, menutupi arah pandang.


"Haaaa..." Akhirnya, yang Jessica dapat lakukan adalah menerima keadaan.


Situasinya memang sial, bukan?


Hari ini pun memang di isi oleh kesialan.


Hujan malam itu tidak hanya membawa angin, tapi juga membawa kenangan yang berusaha Jessica lupakan sebelumnya.


Perlahan-lahan mendengar bunyi hujan, Jessica menjadi teringat alasannya berada di luar sekarang.


Dia berusaha melupakan Demian.


Pria sialan itu...


Di mana pun Jessica memandang, bayangannya selalu muncul. Karena itu lah, Jessica jadi enggan berada di kamarnya dan di cafe. Jessica tidak ingin mengingat Demian barang sejenak saja, setidaknya sampai ngilu di dadanya mereda. Namun, situasi itu berakhir sia-sia, dia malah memperoleh kesialan tambahan.


"Semuanya gara-gara Demian..." Jessica merutuk dalam kesedihan.


Rasa sakit yang mencengkram jantungnya kembali terasa. Ia mengingat bagaimana Demian baik terhadapnya, mengingat setiap kali pria itu muncul di kamarnya dan menggoyahkan perasaannya. Jessica mengingat betapa setiap memori itu berarti baginya, tapi tidak untuk Demian. Rasanya sangat menyakitkan.


Pria itu seharusnya tidak pernah datang di hidupnya..., setidaknya, dengan begitu, hati Jessica tidak akan dilanda duka.


Haaaah, sialan!


Sementara dia menderita di bawah halte usang dan menjijikkan ini, Demian di suatu tempat sana pasti bersenang-senang sekarang! Dia hanya memikirkan Angela, selama Angela baik-baik saja, dia pasti tidak memedulikan pada apa yang terjadi.

__ADS_1


'Dia tidak akan peduli padaku!' batin Jessica bersuara iba.


Tidak seperti Angela yang hidup di kepala Demian kapan saja, keberadaan Jessica--kemungkinan besar--hanyalah sebuah figuran. Demian hanya mendatanginya untuk melepas jenuh. Sebuah selingan yang akan ia temui ketika dia membutuhkan sesuatu lebih. Sesuatu yang tidak bisa dia peroleh dari Angela karena wanita itu belum membuka hati untuknya.


"Aku mungkin hanya--"


--pelampiasan.


Jessica enggan melanjutkan ucapannya, karena ia takut menerima hal tersebut sebagai realita. Ia benci mengakui bila pada akhirnya, keberadaannya di hidup Demian tidak lebih dan tidak kurang hanya sebuah mainan dan hiburan.


"Aaaaahhh, hujan ini sampai kapan tidak mau berhenti?!" Jessica melepaskan amarahnya dengan berteriak di sana. Dia menatap kepada langit yang semakin malam semakin hitam, dan tidak ada tanda-tanda kalau hujan akan mereda.


Jessica duduk sendirian di sana, sesekali mengutuk langit dan sesekali lagi tenggelam dalam nelangsa. Ia tidak memiliki teman lain di sana yang mampu diajaknya bicara, tidak pula ia memiliki hal yang mampu meredakan dan mengalihkan perhatiannya.


Dia di sana, dengan Demian di kepalanya. Menghantuinya.


Hampir dua jam Jessica berada di bawah halte bus tua itu. Angin semakin kuat, membawa air hujan hingga tempias dan membasahi lantai halte yang memang kotor dan berpasir.


Tubuh Jessica mulai kebas terhadap terpaan angin yang membekukannya.


Berbagai hal sudah Jessica pikirkan untuk menyelamatkan dirinya dari hujan badai yang terus turun dengan konstan tersebut. Namun, Jessica tidak menemukan solusi yang bisa menyelamatkannya selain mempertambah buruk keadaan.


Karena volume hujan yang membahayakan pengendara, tidak ada satu mobil pun melintas di depan Jessica. Seolah-olah Vegas sudah menjadi kota mati.


Segala-galanya sunyi.


Segala-galanya harusnya sunyi, tapi sebuah cahaya membelah tirai hujan.


Sebuah sedan hitam berkendara laju di jalanan, Jessica memperhatikan mobil itu dengan dahi mengerut heran. Siapa yang cukup gila berkendara di tengah hujan deras ini?


Sementara Jessica menatap kepada pergerakan mobil itu, si pengendara mobil memperlamban laju kendaraannya hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan halte.


Segalanya terasa asing bagi Jessica. Misterius dan menakutkan. Perasaan waspada merayap di tubuh beku Jessica, menciptakan ingatan-ingatan menakutkan bermunculan di benaknya.


Bagaimana bila itu adalah pembunuh berantai yang berburu mangsa di tengah hujan? Pria mesum? Atau malah, itu adalah malaikat maut?


Jessica kembali teringat bahwa ia berada di Las Vegas sekarang, kota itu tidak akan terkenal sebagai kota penuh dosa bila penghuninya adalah malaikat semua. Iblis berkeliaran bebas di kota ini..., dan...


Bagaimana bila yang menghampirinya saat ini adalah...


"Jessica..."


"Huh?"


Samar-samar, di tengah rintikan hujan, suara si pengendara yang berlari keluar dari mobilnya mencapai Jessica. Suara itu begitu familiar, begitu tidak masuk akal.


Maksud Jessica..., apa ini serius?


"IDIOT, APA YANG KAU LAKUKAN KELUAR TANPA MEMBAWA HANDPHONE-MU?!" Amukan itu semakin terdengar jelas. Begitu keras.


Jessica mengerjapkan mata, berharap bahwa objek tatapannya bukan ilusi semata. Jessica berharap bahwa matanya sedang tidak menipunya. Tidak sekarang ketika merasakan haru kelegaan yang membuncah bercampur dengan kebahagiaan.


"De-Demian..."


Demian Bellamy--setelah mencari Jessica kesana-kemari, akhirnya menemukan gadis itu sendirian di halte tua yang tak terpakai. Perasaan lega membanjiri dadanya, membuat sesak di jantungnya mereda. Ia turun dari mobilnya dan hal yang pertama ia lakukan adalah mencecar gadis itu dengan amukan.


Demian marah kepada Jessica. Sangat marah ketika gadis itu membahayakan dirinya sendiri di situasi ini. Demian tidak tau apa yang membuat Jessica seceroboh ini, padahal, bila itu orang lain dia begitu perhatian dan sangat teliti.


Jessica...


"Bagaimana bila sesuatu yang buruk terjadi padamu, sialan?" Panik Demian mereda ketika akhirnya ia mendekap gadis itu di dadanya. Jessica sudah kembali di dalam dekapannya, tidak ada yang lebih melegakan daripada itu sekarang.


Ia menurunkan pandangannya pada Jessica dan menyadari kalau gadis itu bergetar kedinginan. Demian--tanpa pikir panjang, langsung menggendong Jessica di dadanya.


"Bertahan sebentar," gumam Demian. "Aku akan menghangatkanmu."

__ADS_1


Jessica mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Ia mengencangkan pegangannya di leher Demian, merasakan hangat tubuh pria itu mengalir ke tubuhnya. Membagikan kehangatan yang terasa begitu menenangkan. Jessica merasa aman.


Jessica, akhirnya..., kembali berada di dekapan Demian.


Kebahagiaan yang menguar di dadanya sekarang seperti bara panas. Kendati hujan kembali tumpah di kepalanya sesaat, Jessica mencair dalam perasaan yang membuncah hangat.


Demian menaruh Jessica di bangku belakang, berharap gadis itu akan berbaring dan menyamankan dirinya dengan selimut yang sudah Demian sediakan di sana. Namun, setelah Demian membaringkan Jessica di sana dengan penuh kehati-hatian dan kepedulian, Jessica menahan lengannya yang hendak berpindah ke bangku depan.


Demian berbalik dan mendapati Jessica kembali menariknya dalam dekapan yang erat.


"Terima kasih," bisik Jessica. Napasnya jatuh dengan dingin di perpatahan leher Demian yang beraroma tajam.


"Kalau kau berterima-kasih, kau harus membayarku mahal." Demian membuat lelucon sambil mengusap surai Jessica yang basah. "Jangan pernah pergi sendirian lagi."


"Aku tidak berjanji menyangkut hal itu," kata Jessica, "Tapi aku akan berusaha keras lebih teliti ke depannya."


"Aku akan memegang ucapanmu."


"Dan juga..." Jessica melonggarkan dekapannya dari Demian, mata emerald teduhnya menyorot kepada kelam iris Demian. "Aku akan membayarmu sekarang."


Sambil mengucapkan kalimat terakhirnya, Jessica menarik tengkuk Demian lebih dekat ke arahnya. Sambil saling merengkuh tubuh yang basah, Jessica melabuhkan kecupannya di bibir Demian.


Demian menerima undangan itu dengan seulas seringai.


Kecupan lembut yang mereka tukarkan perlahan-lahan berubah menjadi pagutan. Demian, di tengah hujan dan di bibir jalan yang sunyi dan temaram, melepaskan jaket hitam yang ia kenakan. Ia bergabung naik di atas Jessica, melingkupi gadis itu dalam panas tubuhnya.


"Jangan menarik ucapanmu," ujar Demian. Tangannya membelai tubuh Jessica yang dingin luar biasa. Gadis itu berada di luar terlalu lama.


"Aku hanya ingin memberikanmu ciuman tadi, kenapa kau membuka bajumu?" Jessica mengejek Demian yang sekarang bertelanjang dada di atasnya. Sibuk menghujaninya dengan kecupan dan gigitan yang meninggalkan jejak kemerahan.


"Kenapa, ya?" Demian membalas tanya Jessica, kali ini sambil melepaskan kaitan celana hotpants Jessica yang sama basah. Matanya tertuju ke arah Jessica, tau jelas kalau gadis itu sekarang menggodanya. Bermain-main setelah berani membuatnya cemas luar biasa.


Demian sama sekali tidak mengerti dari mana datangnya keberanian Jessica?


Apa karena gadis itu tidak mengetahui jati dirinya. Namun, walaupun begitu..., ada batasan yang harus dibuat dalam memperlakukan orang yang kau kenal.


'Jessica Cerise, kau seharusnya tidak mempermainkanku.'


Dengan tekad itu bermain di benaknya, bercampur dengan kejahilan yang menyiratkan bahaya, Demian kembali melanjutkan hujan sentuhannya di tubuh Jessica. Membuat gadis itu terengah dalam setiap sentuhan dan pagutan yang ia berikan.


"Demy..." Jessica mengerang lagi, kali ini sambil menggelinjang panik. Tubuhnya terpulas dalam kenikmatan, tangan mencengkeram erat surai-surai ikal Demian yang berada di antara kakinya, menggelitik kulitnya. Jessica ingin melarikan diri dari sana. Ia terlalu takut pada stimulasi yang dirasakan tubuhnya.


Jessica takut ia akan kehilangan kewarasannya pada gerak lidah Demian yang berpadu dengan pagutan dan gigitan yang memancing erangan. Jessica sudah tidak tahan...


Jessica...


"Haha..." Demian menarik kepalanya mundur dari sela-sela kaki Jessica yang terbuka. Ia menaruh dagunya di lutut Jessica sementara sepasang iris kelamnya menatap Jessica dengan godaan manja.


"Aku tidak akan membuatmu ******* sebelum waktunya," ujar Demian. Ia lalu bergerak naik dan menyamaratakan wajahnya dengan Jessica.


"Mari lanjutkan di tempat lain," bisiknya, sengaja menggoda Jessica.


Saat itu juga, Demian merasakan kepuasan tiada dua ketika memperhatikan wajah Jessica yang memerah. Gadis itu sudah di ambang batasnya barusan, dan Demian mengambil segala kenikmatan yang hampir gadis itu rasakan.


Hahahaha...


"Kau sudah cukup hangat sekarang," ujar Demian sekali lagi. Kali ini sambil menyeka bibirnya yang basah oleh saliva. Tangan Demian dengan ramahnya menepuk pucuk kepala Jessica, memanjakannya.


"Pakai baju dan selimutmu sekarang, aku tidak mau kau kembali kedinginan."


Jessica yang gagal mencapai klimaksnya menatap Demian penuh permusuhan, bibirnya mengatup rapat menahan kekesalan. Jessica tidak berani mengatakan keberatan atas tindakan Demian. Ia tidak bisa mengatakan kalau betapa besar ia menginginkan pria itu sekarang.


Sialan!


Ia dipermainkan!

__ADS_1


*


__ADS_2