MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
93. Risiko Dalam Pilihan.


__ADS_3

Angela sudah membulatkan tekadnya, entah bagaimanapun caranya, ia wajib berbicara empat mata dengan Demian. Angela merasa ia berhak menerima penjelasan mengenai pengkhianatan yang sudah Demian lakukan padanya.


Demian tidak bisa begitu saja berlalu dari hidupnya setelah menciptakan luka di hatinya, Demian harus bertanggung jawab.


Angela pikir ia bisa mempercayai Demian selama ini. Ia memberikan kepercayaan penuh pada Demian dan berpikir kalau Demian akan selalu berada di sisinya. Demian akan melindunginya. Angela tidak pernah menduga kalau akan ada hari Demian berdiri membelakanginya, mengkhianatinya.


Sejenak, Angela mengira Demian bekerja sama dengan Jake untuk melukainya. Namun, ketika Angela mengingat reaksi Jake malam itu, Angela tau kalau Jake juga sama terkejutnya dengan Angela. Angela tau kalau Jake juga terluka.


"Jessica benar-benar sudah merampas semuanya dariku," Angela bergumam sambil memandang ke arah balkon kamar Jessica di kejauhan. Di benak Angela, ia bersumpah akan membuat Jessica merasakan penderitaan yang sudah ia alami sekarang.


Jessica tidak berhak berbahagia di atas dukanya. Gadis itu adalah iblis penggoda yang sudah merusak keharmonisan hidup Angela selama ini. Dia sudah mengambil segala hal yang begitu berarti di hidup Angela. Baik itu pekerjaannya, Jake kekasihnya, dan Demian..., Demian adalah sandaran Angela sekarang. Angela sangat membutuhkan Demian.


Angela sudah menguatkan tekadnya untuk menemui Demian hari ini, karena itu..., hari ini pula, ia mendatangi Elixir.


Angela tidak tau di mana tempat tinggal Demian selama ini, Angela tidak tau di mana Demian biasa menghabiskan waktunya. Karena itu, satu-satunya tempat yang dapat Angela pikirkan hanyalah Elixir.


"Oh, oh, oh." Dania--sebagai penyambut tamu di Elixir--spontan membatasi langkah Angela ketika ia melihat wanita itu masuk. "Apa yang Miss. Angela lakukan di sini? Seingatku, aku sudah memberikanmu peringatan untuk tidak muncul di hadapanku lagi."


"Minggir, Dania. Aku tidak punya urusan denganmu!"


"Cafe ini adalah wilayahku," ujar Dania. Tangan Dania menangkap pundak Angela yang hendak melaluinya dan mendorong Angela kembali ke posisinya semula. "Segala yang terjadi di sini merupakan urusanku."


"Kau hanya kacung Jessica, jangan ikut campur urusanku de--AAWWW!"


Dania tidak membiarkan Angela menyelesaikan ucapannya, ia langsung saja menjambak surai Angela dan membuat gadis itu mengerang kesakitan di hadapannya.


Ethan, Jessica dan Demian yang sedang menyantap sarapan di konter, spontan terkesiap begitu menyaksikan ulah Dania. Demian lebih terkejut lagi begitu ia tau korban Dania adalah Angela.


"Apa yang terjadi di sini?" Demian menghampiri mereka seketika. "Dania, lepaskan Angela."


"Apa yang aku lakukan?" Dania menatap Demian menantang. "Aku hanya menertibkan Elixir dari pembawa masalah."


"Dania, tolong lepaskan dia." Jessica turut bicara. "Dia sepertinya ingin bertemu dengan pacarnya." ejekan sinis lolos dari bibir Jessica setelah itu juga.


Sikap protektif Demian terhadap Angela sedikit menciptakan ketidak-senangan dalam diri Jessica. Namun, Jessica tidak bisa berkata banyak mengingat Angela adalah sahabat Demian sejak lama.


"Jesse, please. Tidak sekarang."


"Apa?" Jessica membalas tatapan Demian. "Aku hanya bercanda."


Masalahnya, dari ekspresi Jessica saja, Demian tau kalau Jessica sama sekali tidak bercanda. Gadis itu mencibirnya, sengaja. Dia mungkin masih marah juga.


"Dania, ayoo. Jangan buang waktumu dengannya."


Jessica hanya fokus bicara pada Dania. Jessica menolak beramah-tamah pada Angela atau menunjukkan iba. Tidak ikut memukul Angela di sana saja adalah bentuk kompromi Jessica sekarang, tapi hanya sebatas itu. Jessica sudah muak berurusan dengan Angela. Meskipun Angela adalah sahabat Demian, Jessica tidak akan segan untuk memulai pertikaian.


Menuruti ucapan Jessica, Dania pada akhirnya menepiskan surai tebal Angela dari tangannya. Beberapa helai rambut Angela tersisa di tangan Dania, rontok akibat jambakannya.


"Menjengkelkan," keluh Dania. "Kau yakin mau membiarkan iblis itu bicara dengan Demian? Apa kau tidak takut Demian dicuri olehnya?"


"Kalau seorang pria gampang dicuri, berarti hatinya sejak awal memang sudah tidak stabil." Elliot menimbrung. "Anyway, apa yang kau pikirkan sampai membuat keributan di depan pintu? Rating kita baru-baru ini meninggi terima kasih pada rekomendasi Oscar Brown, kau sebaiknya tidak menciptakan masalah, Dani!"


"Aku sudah berjanji padanya akan merobek mulutnya kalau kami bertemu kembali. Aku berpikir ingin menepati janji tersebut karena dia sudah berani menantang otoritasku di sini."


"Wah, waaah...," Ethan tertawa. "Apa yang dia katakan?"


"Dia bilang aku kacung Jessica? Seriusan, yaa? Apa begitu terbaca?"


"Kita semua memang kacung Jessica." Ethan terbahak-bahak begitu saja. "Iyakan, Jesse?"

__ADS_1


"Jangan memikirkan ucapannya," tukas Jessica, ia agak mencebik ketika digoda oleh kawan-kawannya. "Sudah berapa kali kukatakan kalau kita semua mempunyai otoritas yang sama di cafe ini, bukan? Lagipula, yang memaksaku menjadi bos di sini adalah kalian."


Jika bukan karena Jessica kalah dalam gunting batu kertas yang mereka lakukan beberapa tahun lalu, Jessica mungkin tidak akan menjadi pemimpin di Elixir. Padahal, kalau dari segi kemampuan, sosok yang lebih pandai dalam mengurus keuangan dan dunia perbisnisan adalah Ethan.


Karena Ethan malas melibatkan dirinya dalam hal-hal rumit, Ethan menolak posisi pemimpin dan mendorong Jessica sebagai kandidat.


"Ngomong-ngomong, apa yang dibicarakan Angela dan Demian sekarang?" Dania berujar sambil melirik ke arah pintu. Keduanya sudah menghilang dari sana, tentunya.


"Jesse, apa kau tidak penasaran?" Elliot ikut bertanya.


"Demian membiarkanku bicara empat mata pada Jake, jadi aku ingin melakukan hal yang sama." Jessica mencoba bijaksana.


"Tapi, apa kau penasaran?"


"Lu-lumayan, mungkin? Tapi, itu bukan wilayahku untuk ikut campur. Jika itu penting, Demian akan bicara padaku." Jessica salah tingkah.


Elliot menciptakan ekspresi remeh di parasnya.


Elliot--tidak seperti Jessica yang berusaha bijaksana--malah menyuarakan ide setannya di sana. Ketiga temannya seketika memberikan Elliot tatapan 'Jangan bercanda!'. Namun, pada akhirnya, mereka mengikuti ajakan Elliot. Rasa penasaran mereka lebih unggul daripada perasaan berdosa.


"Mau menguping apa yang mereka bicarakan?" adalah ujaran Elliot sebelumnya, seperti anak nakal berumur sembilan tahun. Dania menjadi yang pertama setuju. Lalu, Dania memaksa Jessica untuk mau. Ethan--sebagai orang yang tidak mau teman-temannya terlibat dalam bahaya--ikut terlibat demi menjaga ketiganya.


*


"Bagaimana bisa kau membiarkanku dipermalukan seperti barusan?"


Baru beberapa langkah ketika mereka tiba di samping Elixir, Angela langsung mengonfrontasi Demian dengan suaranya yang melengking penuh kebencian. "Apa kau tidak melihat bagaimana cara mereka memperlakukanku barusan?"


"Ange, tenanglah sedikit." Demian tidak memberikan reaksi banyak atas dorongan dan pukulan yang Angela berikan di dadanya. Ia hanya berusaha menenangkan Angela dan bila itu berarti ia akan menerima sedikit pukulan di sana-sini, Demian menerima kondisi itu.


"Aku tidak tau situasi yang terjadi di antaramu dan Dania, Ange. Aku sudah melakukan apa yang kubisa untuk menghentikan pertikaian kalian barusan. Apalagi yang harus kulakukan?"


Jika bukan karena Demian dan Jessica menyela, Angela mungkin akan lumer di telapak kaki Dania. Dania--daripada Angela--adalah wanita yang semakin nekad begitu diprovokasi.


"Well, pertama-tama, aku bukan Jake. Kedua, aku sudah menghentikan pertikaian kalian. Itu saja. Aku tidak diposisi untuk menghakimi siapa pun dan memberikan pelajaran pada siapa pun. Terlebih bila aku tidak tau apa masalah kalian."


Lagipula, apa harapan Angela? Demian memukul Dania untuknya, begitu? Jangan bercanda!


Menerima tanggapan panjang dari Demian, mata Angela spontan berkaca-kaca. Lekukan bibirnya jatuh ke bawah. Tangisnya pecah.


"Kau sama sekali tidak peduli padaku lagi, Demian. Kau sudah berubah. Kau menjadi sangat buruk sekarang." Angela mundur beberapa langkah dari Demian, punggung tangannya menutup isakan.


"Aku sangat percaya padamu, aku memberikan seluruh kepercayaanku padamu. Mengapa kau malah memperlakukanku seperti ini? Kau bilang kau mencintaiku, mengapa kau malah mengkhianatiku?!"


Tangisan Angela tak mereda, suara yang keluar dari mulutnya serak, berbaur dengan isakan. "Apa kau juga melakukan ini padaku karena kau ingin membalas dendam pernah kutolak dulu?"


"Angela, apa kau sadar dengan ucapanmu?" Demian mengambil satu langkah mendekat. "Aku tidak mengkhianati siapa pun. Aku hanya tidak mencintaimu seperti dulu. Aku sudah mengatakan ini padamu, perasaanku sudah berubah. Berubah! Bagian mana yang lewat dari pendengaranmu?"


"Haaa..., jadi begitu saja, kau melupakanku dan berpaling ke Jessica? Jangan menipuku, Demian! Kau harusnya berhenti sekarang! Apa yang sudah aku lakukan sampai kalian begitu jahat padaku?"


"Ange, tidak ada yang jahat padamu di sini. Aku tidak ada niat apa pun untuk melukaimu. Kau adalah temanku."


Seriusan, Demian hanya ingin Angela paham kalau cinta yang dulu ia rasakan telah memudar habis. Jika ada alasan mengapa Demian baik kepada Angela, itu sudah seratus persen karena Demian mengapresiasi kebaikan Angela selama ini terhadapnya. Wanita itu sudah menjadi teman setianya di kota yang asing ini.


Itu saja!


"Kalau kau tidak ingin melukaiku, kau harus meninggalkan Jessica!"


"Apa?"

__ADS_1


Angela--dengan mata yang masih basah--menatap Demian garang. "Buktikan kalau kau adalah temanku, Demian! Kau harus meninggalkan Jessica sekarang juga. Lupakan dia, lupakan segala hal yang berkaitan dengannya. Hidup kita tidak seperti ini sebelumnya. Kita berbahagia ketika kita bersama. Sekarang, semuanya menjadi berantakan."


"..."


"Tinggalkan dia, dan kembali seperti semula!"


"Angela, Jessica adalah--'"


"Jessica, Jessica, Jessica!!! AKU MUAK MENDENGAR SEMUA ORANG MENARUH PEDULI PADANYA! Dia sudah merusak hidupku, Demian! Apa kau tidak sadar! Dia sudah merebut semua hal yang berharga dariku!"


Angela meraih leher kaos Demian, mencengkeramnya kuat seperti elang. "Sadarlah, Demian! Orang yang kau cintai itu aku! Hanya aku! Apa yang harus aku lakukan supaya kau sadar? Haruskah aku memberikan tubuhku? Kau mau itu?"


"Angela, cukup." Demian menarik turun pergelangan tangan Angela dari bajunya secara paksa. Demian sudah merasa cukup mendengar omong kosong Angela. Gadis itu sudah bicara terlalu banyak. Demian tidak mau Angela berujung mempermalukan dirinya sendiri hanya karena kondisinya yang tak begitu stabil.


"Kau butuh istirahat." ujar Demian kembali, lebih tegas lagi. "Kau harus menenangkan dirimu sendiri dan sadarlah, apa yang sudah kau katakan hari ini bukan hal baik sama sekali. Kau seharusnya tidak seperti ini."


Angela adalah wanita baik hati. Demian tau itu karena ia sudah menghabiskan beberapa tahunnya sebagai sahabat wanita itu.


Hari ketika Angela berpisah dengan Jake, Jake bukan satu-satunya yang mengalami penderitaan dan luka mendalam.


Semenjak Angela berpisah dengan Jake, sesuatu berubah dalam pola pikir wanita itu. Ia menjadi lebih negatif kepada orang-orang. Kebencian dan kedengkian membaur hitam di kepalanya, membuat ia merasa selalu disudutkan dan dibenci semua orang. Ketidak-percayaan diri yang tidak pernah ia miliki, hadir dan menciptakan tragedi.


Angela yang Demian kenali bukanlah wanita yang akan haus terhadap atensi. Namun, dia sudah berubah terlalu jauh.


Angela bergantung pada perhatian Demian sebagai bentuk validasi dari keberadaannya saat ini. Bahwa, menjadi jelita itu cukup. Ia tidak butuh kecerdasan atau kemandirian. Bahwa, keluarga Jake yang memandang remeh dirinya adalah pihak yang salah.


Apa salahnya memang kalau dia kurang teredukasi dalam berbagai hal? Yang salah adalah Janette yang menuntut terlalu banyak darinya dan memandang remeh keberadaannya seperti lintah.


Bersama Demian, Angela merasa aman. Pria itu tidak pernah menuntutnya untuk harus cerdas, harus mandiri, harus ini dan itu. Bersama Demian, Angela merasa dirinya cukup. Namun, bila Demian juga meninggalkannya, bukankah itu berarti omongan Janette selama ini akan menjadi kebenaran?


'Kalau kau berpikir kau bisa hidup dari topangan orang lain, kau akan berujung sendirian, Angela. Lintah, sejak awal, bukan seekor hewan yang dapat dijadikan peliharaan.'


"Kau tidak tau aku sama sekali, Demian." Angela menepis tangan Demian yang berlabuh di pundaknya, berupaya menenangkannya. "Kau dan Jake sama saja. Kalian berpaling dariku. Perasaan kalian semuanya palsu!"


"Ange..."


"Kalian pikir kalian bisa melakukan ini padaku hanya karena aku lemah? Lihat saja, Demian..., aku akan membuatmu merasakan luka dan penghinaan yang sudah kau berikan padaku."


"Angela, jangan mengancamku." Ekspresi Demian berubah di situ. Demian mungkin mampu menoleransi ucapan Angela, tapi bila wanita itu sampai mengancam ketentramannya, Demian tidak akan segan menunjukkan taringnya juga.


"Jangan buat aku menjadi musuhmu." tegas Demian, tenang.


"Kalau begitu, tinggalkan Jessica sekarang!"


"Perasaanku pada jessica tidak ada kaitannya padamu. Aku mencintainya, sangat. Aku tidak akan meninggalkannya hanya karena kau memintaku, Angela. Bahkan bila kau bersujud di tanah, aku tidak akan melakukannya!"


Angela mengangguk-angguk, ia mencerna penolakan Demian dengan air mata yang kembali bercucuran. "Kalau begitu, kau siap menerima risikomu."


"Angela, aku peringatkan kau sekali lagi. Gunakan akal sehatmu dan berhenti terpaku pada masa-lalu. Tidak segala hal berkaitan denganmu di sini. Hubunganku dengan Jesse tidak seharusnya melukaimu."


"Kau mengatakan itu karena kau tidak tau posisiku..." Angela menyeka air matanya. "Kau tidak tau rasanya ditinggalkan oleh orang yang paling kau percaya."


"Kita masih bisa berteman, itu bukan masalah."


Angela mendorong Demian sekali lagi, amarah tak kunjung mereda di hatinya. Yang ada, api di matanya berkobar semakin besar. "Itu masalahnya, Demian. Aku membenci Jessica! Aku membencinya! Dia sudah merenggut segala kebahagiaanku!"


"Kalau begitu..., aku dengan kecewa akan mengakhiri pertemanan kita, Angela."


Demian sampai pada keputusan bulatnya di sana. Kendati Angela adalah sosok yang sudah menjadi kawannya sejak lama. Cinta Demian kepada Jessica lebih mendominasi seluruh ruang di hatinya. Demian rela mencampakkan Angela bila itu berarti ia tetap bersama Jessica.

__ADS_1


"Kau akan mendapat sanksi karena sudah melukaiku hari ini, Demian." Angela bicara penuh kesungguhan.


...****************...


__ADS_2