MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
98. Pencarian.


__ADS_3

Sekembalinya Demian setelah bertemu Adam, yang menyambutnya adalah sebuah kamar kosong. Demian tidak menemukan Jessica, tidak di kamar mandi dan tidak pula di sepenjuru Elixir. Sepanjang langkah yang dibuat Demian pula, degupan jantungnya meningkat pesat. Rasa takut dan gugup membaur di dadanya, menciptakan nyeri di sana.


Tidak. Demian seharusnya berpikir positif. Jessica bisa saja pergi ke--brugh!


"Demian, apa kau tidak apa-apa?" Dania segera mengejar Demian yang terduduk di lantai. Demian kehilangan kekuatan di kakinya hingga membuat ia terjatuh di depan pintu Elixir. Beberapa tamu yang meninggalkan cafe itu memberikan Demian tatapan heran. Namun tidak ada yang benar-benar menaruh kepedulian.


"Apa yang terjadi? Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?" Seingat Dania, ketika Demian memasuki Elixir, pria itu berjalan dengan enteng. Dia sangat sehat. Dia tidak sepucat sekarang.


"Dania, apa kau tau kemana Jessica pergi?" Menepiskan kekhawatiran Dania, Demian memilih mencari informasi tentang Jessica. Demian telah bertanya dengan Elliot dan Ethan sebelumnya, tetapi mereka berdua tidak sadar sama sekali kalau Jessica sudah menghilang.


'Dia di luar kurasa,' adalah jawaban Elliot sementara Ethan dengan entengnya mengatakan 'di kamar.'


"Jesse..., dia bilang dia ada urusan di luar sebentar." Dania memberikan jawaban. "Katanya dia hanya pergi sebentar..., tapi..., benar juga..." Dania mengecek jam di tangannya dan menyadari kalau Jessica sudah berada di luar terlalu lama.


"Demian..., mengapa ekspresimu seperti itu. Jesse tidak dalam bahaya, kan?"


"Sejak jam berapa dia pergi?" tanya Demian lagi. Lebih baik tidak membuat kepanikan pada teman-teman Jessica, mereka bisa memperumit situasinya.


"Tiga jam yang lalu," sahut Dania. Jantungnya terbenam dalam kecemasan seiring ia membaca ekspresi Demian. Pria itu memancarkan ketenangan yang menakutkan. Seperti ia siap membantai siapa saja yang berada di hadapannya sekarang.


"Demian..." Dania kembali berbicara, kali ini suaranya penuh kehati-hatian. Dania dilanda ketakutan. "Jessica..., baik-baik saja, kan?"


Memberikan Dania anggukan kecil, Demian pun kembali melenggang menuju pintu keluar. "Dia akan baik-baik saja." ujar Demian, suara penuh kepastian.


Setelah Demian bergegas meninggalkan Elixir, Demian segera menghubungi Adam dan Oscar.


Kendati di kepalanya ia mempunyai hasrat tinggi untuk menghardik keduanya karena sudah gagal menjaga Jessica, Demian lebih memilih menahan suaranya dan fokus pada hal utama.


"Bantu aku menemukan Jessica, sekarang juga!" titah itu keluar dari mulutnya, dingin dan penuh amarah.


Adam dan Oscar yang mendengar perintah Demian sangat terkejut ketika mendengar kabar kalau Jessica telah menghilang. Karena demi Tuhan, orang-orang yang Oscar tanam di Almond street sebagai penjaga Jessica jumlahnya lebih banyak daripada penghuni yang tinggal di jalanan itu. Jessica tidak mungkin lepas segampang itu dari pengawasan mereka.


"Kumpulkan semua orang," tutur Oscar. "Juga..., hubungi sepupuku di Carson untuk mengecek daftar nama tamu-tamu di hotel Vegas. Cari siapa pun yang kemungkinan mempunyai keterkaitan dengan Bellamy."


"Hotel, bos?"


"Satu-satunya orang yang mungkin menculik Jessica adalah Erthian Bellamy. Pria penyakitan itu tidak akan bisa berada di tempat kumuh selain di hotel. Dia terlalu bangsawan untuk itu."


Erthian tidak akan merisikokan kesehatannya untuk Jessica. Setidaknya, Oscar cukup paham pola pikir pria bajingan itu.


'Ah, keparat!' Oscar menjadi sakit kepala memikirkan probabilitas yang akan ia hadapi ke depannya. Sebuah bencana. Sudah pasti sebuah bencana!


*


Tak berselang lama setelah Oscar mengeluarkan perintahnya, Demian bergabung bersama mereka di Bronze dan bertemu dengan orang-orang yang sudah berjaga di Elixir belakangan ini. Mereka--dengan penampilan bak berandalan--berbaris di lantai VIP Bronze yang sepi. Menghadap kepada Oscar, Adam dan Demian. Tiga serangkai yang menguasai jalanan Vegas.


"Aku bersumpah kami tidak lengah sama sekali." Seorang pria yang mempunyai kontrol lebih tinggi dari kerumunannya, berupaya membela diri dengan gelisah.


"Aku tidak peduli bagaimana kualitas kerjamu, aku ingin tau apa yang sudah terjadi!" Adam menjadi pembicara yang mewakili Demian dan Oscar di sana.


Adam mau tak mau turun tangan karena kalau itu Demian, dia akan merobek mulut orang-orang yang berada di sini dan pertumpahan darah akan terjadi. Oscar juga tidak mau terlibat dalam hal gampangan dan memilih menghubungi kolega-koleganya yang kemungkinan tau satu atau dua hal tentang keberadaan Erthian.


"A-aku..." seorang pemuda mengangkat tangannya, dia nampak dilanda perasaan bersalah. "Aku sedang mengawasi Jessica saat itu."


Demian spontan mengangkat kepalanya, mata mendelik sebuas singa.


"Dia pergi minum bersama temannya di pub. Perbincangan mereka berlangsung singkat se-sebelum..."


"Sebelum? Bicara yang jelas, idiot!"


"Jessica kelihatan sangat sakit di sana."

__ADS_1


"Huh?"


"Dia seperti akan pingsan jadi..., aku berusaha membantu tapi..., temannya menolak bantuanku. Aku pikir akan baik-baik saja karena mereka bersama..., jadi aku membiarkannya."


Jessica sudah pasti dibius oleh mereka. Mereka sudah membawanya dengan paksa!


Orang-orang licik yang senang bermain dengan racun dan obat-obat terlarang itu hanya Erthian. Si keparat itu, apa yang akan dia lakukan kepada Jessica? Apa Jessica baik-baik saja? Bagaimana kalau ia menangis ketakutan?


Memikirkan kalau sekarang Jessica-nya bersama Erthian, Demian merasakan sakit yang luar biasa menikam kepalanya. Jantungnya berdegup gelisah, gerah. Ia akan mati bila ia tidak melakukan apa-apa di sini. Demian butuh informasi keberadaan Jessica sekarang juga. Ia tidak bisa berdiam diri di Bronze tanpa melakukan sesuatu sama sekali!


"Jangan melakukan hal bodoh, Demian." Oscar mencegahnya kembali dengan pesan yang sama. "Kau tidak akan menemukan petunjuk apa pun dengan bertindak gegabah."


Ucapan Oscar mungkin ada benarnya. Demian pun, bila berada di posisi Oscar akan melakukan hal yang sama. Namun..., tidak melakukan apa-apa membuat Demian semakin terpuruk di sana.


Waktu terus berputar dan malam semakin kelam. Semakin lama Demian duduk diam menunggu, Jessica di suatu tempat sana, bisa saja mengalami situasi yang lebih buruk.


Demian sudah gagal sepenuhnya. Ia telah gagal melindungi Jessica!


"Apa kau mengenal teman Jessica bertemu sore tadi?" Adam--sebagai pihak yang masih berkepala dingin di sana--lanjut bertanya.


Tidak mungkin anak buahnya menjadi lengah tanpa alasan. Mereka bukan idiot sungguhan. Orang-orang yang Adam kumpulkan di lantai Bronze hari ini sebagiannya adalah orang yang sudah mempunyai pengalaman dalam hal pengintaian. Mereka seharusnya lebih peka terhadap bahaya.


"Di-dia adalah teman bos Demian juga, kurasa..."


Demian beranjak dan menghampiri saksi terakhir yang sudah melihat Jessica dijemput pergi. Ia melayangkan tinjunya di wajah pucat itu. Ia butuh karung tinju untuk melepaskan amarahnya.


"Demian, apa yang kau lakukan?"


"Jika bukan karena dia yang lengah, aku tidak akan kehilangan Jessica sekarang!" Demian hendak menyerang kembali anak buah Adam yang tersungkur di lantai. Namun, sebelum kakinya sampai dan menginjak perut pemuda itu, teriakan yang menyiratkan perlawanan menghentikan Demian.


"AKU TIDAK AKAN LENGAH KALAU WANITA YANG BERSAMANYA TADI SORE BUKAN TEMANMU! AKU TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN APA PUN!" Anak buah Adam tersebut meraung dalam ketakutan dan kemurkaan.


Dia sudah puas menyaksikan bagaimana Demian kehilangan kesabaran dan bisa sebrutal apa pria itu ketika mengamuk. Karena Demian bukan pria yang kerap memberikan ampunan, demi apa pun, anak buah Adam itu tidak mau menjadi korban Demian.


"Siapa maksudmu?" Adam bicara sambil mendorong Demian mundur.


"A-Angela? Dia adalah Angela. Jessica pergi bersamanya."


*


Angela Lancaster tidak pernah begitu ambil pusing pada fakta ia masih bernapas sekarang. Maksudnya, kemampuan bernapas itu sendiri adalah sesuatu yang lazim, jadi ia tidak pernah menganggap kemampuan itu sebagai sebuah kelebihan dari Tuhan atau apa pun.


Bernapas hanya sesuatu yang natural. Angela tidak pernah benar-benar mengapresiasi kemampuannya dalam menghirup oksigen dengan bebas sampai tangan kekar itu menghimpit lehernya. Membelenggu napasnya.


"Le-lepaskan..." Angela merintih dalam kepanikan. Ia akan mati bila tangan itu tidak melonggar sama sekali.


"Aku ingat sudah memberikanmu peringatan untuk tidak menjadikanku musuhmu, Angela?" suara Demian dingin dan menikam kulitnya.


Angela sama sekali tidak menyangka kalau Demian yang berada di hadapannya sekarang adalah Demian yang sama yang sudah menghujaninya dengan kasih sayang selama ini. Ini bukan Demian sama sekali. Pria yang mencekiknya sekarang adalah iblis!


"De-De-Demian...uhkk..." Angela menepuk lengan Demian, ia sudah tak mampu bertahan. Wajahnya telah berubah merah padam.


Jika bukan karena Demian tidak ingin menjadi pembunuh untuk Jessica, Demian mungkin akan mematahkan leher wanita itu di sana. Namun, Demian berhenti. Demian melempar Angela ke lantai sementara tangannya terayun kuat menghantam dinding.


Menemukan napasnya kembali, Angela segera meraup oksigen dan memenuhi paru-parunya yang sempat kehabisan pasokan udara. Setelah sakit di kerongkongannya sedikit mereda, Angela merebahkan kepalanya di lantai marmer yang dingin. Jantungnya berpacu kencang, ketakutan. Ia mengira akan mati barusan.


"Mengapa kau melakukan ini?" sambil terbatuk-batuk, Angela memaksa dirinya bicara. Ia menatap Demian yang sedang mondar-mandir di dekat sofa. Dua teman Demian nampak begitu serius dan memancarkan aura berbahaya, tapi Demian lebih menakutkan di sana.


"Kau seharusnya berterima-kasih!" seru Angela, tangisnya tumpah seketika. "Aku melakukan ini untukmu."


"Daripada mengatakan omong kosong, Angela. Kau sebaiknya berdoa agar Jessica tidak kenapa-napa." Oscar menghela napas lelah. Sekarang sudah jam satu pagi, ya ampun! Oscar butuh tidur.

__ADS_1


Mengambil waktu sejenak untuk beristirahat, Oscar pun menghampiri Angela yang nampak mengenaskan di lantai. Oscar memperhatikan wajah jelita Angela yang sekarang kotor oleh lelehan air mata dan mascara. Surai cokelatnya berantakan.


"Kau sudah menciptakan kekacauan...," ujar Oscar. Ia mengeluarkan senjata api dari saku jasnya, penampakan senjata itu juga membuat bibir Angela mengering waspada. "Jika sesuatu terjadi pada Jessica, percayalah..., orang itu..." Oscar menunjuk Demian dengan pistolnya, "Demian Bellamy akan membunuhmu. Kau akan menghilang tanpa jejak dari bumi ini."


"..."


"Demian sama sekali sudah tidak menaruh peduli pada keberadaanmu, tapi aku peduli." Oscar tersenyum tipis. "karena kau berada di sini, di ruang kerjaku..., di rumahku. Kalau kau sampai membuat suara lagi di sini, aku akan menghiasi dinding kerjaku dengan otakmu. Bagaimana dengan itu?"


"Mengapa kalian setega ini padaku? Apa yang sudah kulakukan? Apa kalian tidak mempunyai kemanusiaan sama sekali?"


"Itu pertanyaan yang bijaksana, andai saja tidak datang dari orang sepertimu. Di mana kemanusiaanmu ketika kau mengantar Jessica kepada Erthian, huh?"


"Aku tidak melakukan kesalahan." pungkas Angela. Ia masih teguh pada keputusannya. "Jessica sudah merengut segalanya dariku, ini adalah karmanya."


Angela melemparkan tatapannya ke arah Demian yang sekarang terpuruk tenang. Demian sedang berusaha mendinginkan kepalanya, menemukan petunjuk yang mungkin bisa mengantarkannya ke kaki Jessica. Apa saja..., berpikir! Berpikir!


"AKU HARAP KAU TERLAMBAT!" seruan Angela menyapa telinga Demian saat itu juga. "KAU TIDAK AKAN BISA MEMUTAR WAKTU. SEKARANG, JESSICA SUDAH MENJADI PELACUR UNTUK SAUDARA--"


Dorrrr!!!


Bunyi ledakan kuat dari senjata api itu memenuhi ruang, mengejutkan dan menakutkan. Oscar dan Adam saling melempar tatapan.


Demian--orang yang sudah merebut senjata api dari tangan Oscar--berdiri dengan sebelah kaki menginjak pundak Angela. Hanya beberapa centi dari kepala Angela, sebuah lubang yang merupakan jejak peluru, mengeluarkan asap tipis dari sana.


Jantung Angela membeku seketika.


Demian Bellamy yang masih setia menapak di pundaknya, monster yang telah menarik pelatuk itu tanpa iba, menatapnya dengan binar mata menantang. Demian begitu ingin melihat Angela untuk bersuara lagi, menyuarakan isi kepalanya yang hitam.


Demian ingin melihat sejauh apa Angela berani untuk bicara. Sejauh apa ia berani mempertaruhkan nyawanya.


Saat itu juga, baik Oscar maupun Adam tidak ada niat untuk mencegah Demian ataupun menenangkan pria itu. Pemandangan bahwa sekarang semua orang tidak mempedulikan nyawanya membuat Angela merasa begitu lemah dan kecil di sana. Ia merasa seperti serangga. Eksistensinya, nyawanya tak berarti apa-apa.


Angela kecewa.


"Ma-maafkan aku," Angela mengucapkan kata-kata itu dengan suara tersekat. selongsong peluru terarah tepat di wajahnya, siap menghapus eksistensinya.


"Demian..., maafkan aku..."


"Aku menyesal sudah pernah mengenalmu, Angela." ucapan Demian lolos dengan perasaan menjijikkan yang kentara. Ia nyaris mengakhiri nyawa wanita itu juga di sana, tetapi getaran di saku celananya membuat fokus Demian berubah.


Melupakan Angela, Demian lalu merogoh ponselnya dan menatap benda persegi panjang itu penuh harap. Ia berharap nama Jessica akan berada di sana, atau Erthian. Namun, alih-alih dua orang itu..., Demian menemukan nomor asing.


"Halo?" Demian mengangkat telepon itu penuh antisipasi. Tidak menutup kemungkinan kalau yang meneleponnya sekarang masih berkaitan dengan Erthian.


"Demian, kaukah itu?"


"..."


"..."


"Demian?"


Wajah Demian menegang kaku. "Hestia?" sapanya kembali, seperti menelan belati. "Mengapa kau menghubungiku sekarang?"


Jika telepon itu masih berkaitan pada topik di Bellamy yang memaksanya pulang, Demian tidak peduli. Demian sedang menghadapi masalah urgen sekarang. Juga, bagaimana bisa Hestia memperoleh kontaknya?


"Aku percaya kau sedang kehilangan sesuatu yang berharga sekarang..." suara Hestia mendiktenya diam. "Jessica Cerise, bukan?"


"Apa yang sudah kau lakukan?!"


"Aku tidak melakukan apa pun. Dia bersama Erthian. Kalau kau ingin menyelamatkannya dari saudara psikomu itu, mari bertemu di hotel Diamond. Aku dan kekasihmu tercinta berada di sana. Jangan sampai terlambat."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2