
Suasana hati Demian sedang buruk, sebenarnya. Ia bertengkar dengan Jessica dan tanpa sadar sudah membuat gadis itu terluka. Tempat teraman dan ternyamannya sekarang menolak keberadaannya. Demian mengutuk dirinya sendiri di kepala--berulang-ulang. Ia menyesal sudah berkata kasar pada Jessica.
Demian sangat membutuhkan waktu sendirian sekarang, dan alkohol. Ia perlu menemukan cara untuk kembali masuk ke hidup Jessica. Ia tidak bisa pergi begitu saja setelah Jessica mengusirnya.
Demian mungkin mundur waktu itu, tapi dia belum menyerah. Demian tidak mau menyerah dari Jessica. Gadis itu hanya marah, dan itu wajar. Sangat wajar. Demian sudah keterlaluan.
Demian tidak menyalahkan Jessica sama sekali. Yang salah di sini adalah Jake yang tidak tau diri! Bajingan itu benar-benar ingin mati!
Saat itu pula, kendati suasana hati Demian sedang buruk, Demian tidak bisa melakukan apa-apa selain meladeni seorang Elliot Winchester. Sahabat dekat Jessica yang merupakan chef di Elixir itu--tadi sore--memergoki Demian yang melompat turun dari balkon kamar Jessica.
Seketika, Elliot memaksa Demian untuk memberikan penjelasan mengenai apa kaitan Demian dan Jessica. Mengapa Demian--dari semua orang--turun dari kamar Jessica seperti maling?
"Aku akan menjelaskan situasinya padamu, tapi tidak di sini."
Demian tidak ingin menimbulkan kericuhan di samping kamar Jessica. Gadis itu sudah cukup marah padanya, Demian tidak mau menambahkan daftar alasan untuk Jessica semakin mengutuk keberadaannya.
Elliot ingin memperoleh jawaban di tempat, jujur saja. Namun, setelah ditatap Demian dengan sepasang iris memohon kompromi, Elliot jadi menelan keki.
Pada akhirnya, mereka bertemu di Lumon, sebuah bar yang berada di area the strip.
Duduk berdampingan walau ekspresi mereka menunjukkan ketegangan dan ketidak-senangan.
"Sekarang jelaskan, aku sudah tidak bisa menunggu." Elliot memerintah.
Jika saja Elliot bukan sahabat Jessica, Demian mungkin akan memukul pria itu sekarang juga. Siapa dia berani-berani memerintah seorang Demian?
"Kau bukan orang yang sabaran, rupanya." Demian sengaja menyeret topik itu lebih panjang. Salahkan Elliot yang sudah memancing kekesalannya.
"Aku hanya tidak suka berbasa-basi. Terlebih kepada pria asing yang sudah memanjat kamar sahabatku sesuka hatinya."
Demian mencebik. "Aku tidak melakukan itu sesuka hatiku. Aku sudah mendapatkan izin dari Jessica."
Walau sebenarnya izin itu ia peroleh setelah memaksa Jessica dengan negosiasi sepihak dan memanfaatkan empati gadis itu yang tinggi.
Haaah, memikirkan masalah izin, bukankah salah satu alasan dia ditendang keluar oleh Jessica juga karena dia sudah melanggar janji yang dia buat? Keparat!
"Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja. Jessica bukan tipikal wanita yang akan membiarkan pria masuk ke zona nyamannya. Terlebih bila pria itu sepertimu. Mohon maaf saja, kau adalah orang terakhir yang seharusnya berada di kamar sahabatku."
"Apa maksud ucapanmu? Apa yang salah dariku?" Demian jadi tersinggung.
Hei, dia adalah seorang Demian Bellamy. Dia--walaupun tidak mengumbar dollar di tangannya--mampu memukau wanita mana saja dengan tampangnya. Dia adalah pria dengan sejuta pesona, ya ampun. Vegas akan hampa tanpa keberadaannya.
"Kau bahkan tidak bisa berkaca?" Elliot menyesap habis bir dari gelasnya dengan sekali tegukan. "Aku mengatakan ini, kau dan Jessica seharusnya tidak berada di ruang yang sama. Aku tidak cukup tolol untuk tidak tau gaya hidupmu."
"Bagaimana gaya hidupku, memangnya?"
"Berandalan tanpa masa depan." Elliot bicara tanpa pertimbangan pada perasaan Demian. Sialan, dan dia tepat sasaran.
"Apa-apaan?" Apa dia perlu begitu jujur? Demian tertohok.
"Jika aku mengatakan kesalahan, kau bebas mengoreksiku."
Demian merotasikan mata, "Tidak perlu. Tidak ada yang salah dari ucapanmu. Aku memang bukan tipikal pria yang terpaku pada masa depan. Aku hanya hidup untuk momen sekarang."
"Setidaknya aku tidak salah dalam menarik kesimpulan." Elliot menyerahkan gelas kosongnya kepada di bartender. "Jessica sudah berteman lama denganku, aku tau orang-orang seperti apa yang berada di dalam lingkar sosialnya. Kau sudah jelas bukan orang yang akan berada di sana.--
Jadi, sekarang, bisa kau jelaskan mengapa aku memergokimu turun dari kamar Jessica tadi siang?"
"Apa aku perlu menjelaskan apa pun padamu?"
Elliot mengangguk. "Aku adalah teman sekaligus pengawasnya. Setiap tindakan Jessica, teman bergaulnya, aku wajib tau semuanya."
"HAAAA?" Apa-apaan? Sekarang, apa Elliot bercanda dengannya barusan?
__ADS_1
"Karena kami sudah seperti saudara..." Elliot membaca kebingungan Demian yang kentara, ia pun memberikan keterangan tambahan. "Sudah sewajarnya aku mencemaskan Jessica."
Aah, seperti itu rupanya. Sialan! Demian mengira Elliot adalah agen FBI yang menempeli Jessica demi misi khusus menyelamatkan dunia. Tolol, apa dia sudah mabuk?
"Kau tau kau mempunyai selera humor yang buruk, bukan?" Demian jadi ingin meninju wajah Elliot yang terlalu datar. Apa dia es batu diberi nyawa?
"Aku bukan pria humoris." Daripada humoris, Elliot lebih mendeskripsikan dirinya sebagai pria temperamen dan sinis.
Jujur saja, jika bukan karena Demian sudah menginvasi kamar sahabatnya, Elliot mana mau membuang-buang waktu off-nya dengan bicara pada si berandalan Bellamy itu.
"Jadi, bisa kau jelaskan apa hubunganmu dan Jessica?"
"Baiklah, tapi aku tidak akan menceritakan semuanya secara mendetail."
"Huh, kenapa?"
Apa maksudmu kenapa? Tolol, apa kau mau tau berapa kali aku berhubungan badan dengan Jessica dan posisi semacam apa yang aku suka?
"Beberapa hal hanya bukan urusanmu, keparat. Berterima-kasihlah aku masih mau bicara denganmu di sini."
*
Pada akhirnya, Demian bercerita panjang menyangkut permulaan hubungannya dan Jessica. Bagaimana mereka bertemu, akrab dan dekat. Demian bahkan mengatakan kalau kedekatannya dan Jessica lebih dari sekedar sahabat, semua itu ia ungkapkan agar Elliot tidak terlalu menempel di Jessica lagi.
Diingatan Demian, Elliot adalah seorang sahabat Jessica yang terlalu nyaman bersama Jessica. Demian masih ingat bagaimana Elliot bermanjaan dengan memeluk Jessica dari belakang sambil melabuhkan dagunya di puncak kepala Jessica.
Pemandangan itu membuat Demian mendidih jengah.
Demian mengira, setelah memberikan penjelasan panjang kepada Elliot, si pria bermata kelabu itu akan memahami situasinya dan memberikannya sebuah pemahaman dan kata 'baiklah, aku mengerti'. Namun, tidak. Elliot malah memberikan Demian peringatan agar berhenti mendekati Jessica!
WTF?
"Aku tidak mau Jessica terluka dengan bergaul padamu, karena itu, kurasa tidak ada jalan lebih baik selain kau yang menjauhinya. Jessica sudah mempunyai cukup masalah di hidupnya. Dia seharusnya hanya berbahagia sekarang. Aku tidak mau kau merusak masa tenangnya."
Ucapan Elliot saat itu kembali terngiang di telinga Demian. Seperti jarum yang menusuk kuping.
Apa Jessica masih marah padanya? Demian bertanya-tanya. Ia kembali merasakan perih merayap di jantungnya ketika ia mengingat ekspresi Jessica. Sepasang emerald yang berkaca-kaca, pemandangan itu seperti pedang yang mengiris dada.
"Sempurna, Demian. Kau benar-benar pandai dalam berurusan dengan perempuan!" Demian membully dirinya sendiri. Dirinya yang sudah berurusan dengan beragam wanita seharusnya paham hal-hal menyangkut wanita.
Mengapa sekarang dia malah terjebak di jalan yang berduri dan buntu?
Apa yang harus ia lakukan agar gadis itu memaafkannya?
Jessica...
"Demian..."
"Huh?"
Mata Demian yang terbelalak, kembali normal saat ia menemukan kalau sosok yang menyapanya adalah Angela. Ekspresinya juga..., seolah-olah Angela bukanlah orang yang dia nantikan di sana.
Sikap Demian yang seperti itu membuat dahi Angela mengerut. "Ada apa?" Tanya Angela seketika. "Kau seperti tidak senang melihat kedatanganku."
"Huh, aku? Mana mungkin." Demian memaksakan senyuman. "Memangnya apalagi alasanku kemari kalau bukan menunggumu?"
"Kau yakin?"
"Angela..., kau tidak perlu meragukanku."
"Bukan seperti itu. Hanya saja ekspresimu barusan seperti kecewa. Kupikir kau tidak senang melihatku."
"Mana mungkin aku tidak senang melihatmu." Benar, jika ada orang yang paling senang Demian pandangi, maka itu adalah Angela. Gadis itu adalah bagian terpenting di hidupnya. Angela sudah hadir di masa-masa tersulit di hidupnya. Menjadi pelipur lara dan energi yang membantunya bangkit kembali.
__ADS_1
Jika ada orang lain yang seharusnya membuat Demian uring-uringan, maka itu seharusnya adalah Angela.
Mengapa hatinya malah dilanda nelangsa atas keberadaan Jessica yang hanya berada di hidupnya dalam kurun waktu yang tak begitu lama?
"Maafkan aku," kata Demian kemudian. "Aku hanya banyak pikiran belakangan."
"Jadi kau tidak membenciku?"
"Kenapa kau menarik kesimpulan sejauh itu?"
Angela membalas pertanyaan Demian dengan pundak merosot layu. "Entahlah, belakangan aku merasa semua orang jadi membenciku."
"Apa ini karena Jake lagi?"
Angela mengangguk kecil. Sebelum melanjutkan ucapannya, ia lalu melenggang di trotoar jalan bersama Demian di sebelahnya.
"Demian..., aku tidak ingin menyesali keputusan yang sudah kubuat, karena itu bertentangan dengan prinsip hidup dan martabatku. Tetapi..., kupikir hatiku yang sakit lebih membutuhkan Jake. Aku tidak tau apa yang kurasakan sekarang..."
"..."
"Kupikir melupakannya akan mudah, karena aku yang meninggalkannya. Namun, sampai sekarang, hanya aku yang menderita. Dia..., Jake sekarang sudah berbahagia, Demian." Langkah Angela melamban, ia terbenam dalam kesedihan.
Ini adalah masalah Angela sekarang. Masalah yang Demian sendiri tidak tau harus seperti apa dalam menanggapi. Maksud Demian, dia bukan ahli dalam mengobati permasalahan hati. Masalahnya dan Jessica saja sudah membuatnya kebingungan luar biasa.
Demian ingin Angela menemukan kedamaian dalam hatinya dan move on dari si Allendale keparat itu, tapi Angela tidak pernah bisa. Setiap ia membuka mulutnya di depan Demian, maka itu akan menjadi Jake lagi dan Jake lagi.
Daripada merasakan simpati, sialannya, Demian muak.
Ugh! Sampai kapan ia harus mendengar nama Jake dari mulut Angela?!
Apa Angela tidak bosan menangisi pria yang sama berulang-ulang?
"Angela, jika kau merasa kau masih mencintai Jake, kau sebaiknya memperjuangkannya kembali." Berhenti meratapinya seperti orang yang sudah mati, demi Tuhan!
Demian tidak ingat sudah berapa kali ia mengatakan nasihat ini. Rasanya ia sudah seperti alarm rusak yang terus-terusan mengatakan hal yang sama terhadap Angela yang terus-terusan menangisi permasalahan itu-itu saja!
"Jake tidak akan mau kembali padaku, Demian. Dia membenciku!"
Yah, setidaknya tanggapan Angela kali ini berbeda.
"Aku tidak tau tentang kebencian, tapi kurasa itu memang cukup berat..."
Demian kembali mengingat tampang si keparat Allendale itu saat mengatakan terang-terangan bahwa ia ingin menjadikan Jessica kekasihnya. Si biadab tidak tau diri!
Jake mungkin sudah menutup hati sepenuhnya dari Angela yang sudah mencampakkannya, dan itu wajar. Tidak semua orang mempunyai loyalitas dan kesabaran untuk menunggu satu orang untuk kembali ke dalam dekapan mereka lagi. Beberapa orang memutuskan menyerah dan mencari kebahagiaan baru dari orang yang baru juga.
"Demian...," rengek Angela kembali. "Aku sudah tidak tau lagi..., bantu aku, Demian."
"Aku sangat ingin membantumu, Angela..."
Andai saja Demian tau apa yang dapat ia lakukan, Demian akan dengan senang hati membantu Angela. Namun, ia tidak tau cara mengobati hati yang terluka. Terlebih bila itu karena cinta, itu..., mustahil.
"Demian..." Angela menarik ujung lengan kemeja flanel Demian. Dengan mata yang basah oleh tangisan, ia menatap Demian penuh permohonan.
"Bantu aku melupakan Jake, please. Aku sudah tidak sanggup lagi..., hatiku..., rasanya sakit sekali."
"Bantu..., bantuan seperti apa...?"
"Malam ini..." Angela mengambil satu langkah lebih dekat ke arah Demian. "Jangan tinggalkan aku malam ini."
Dengan permintaan itu pula, Angela melayangkan satu kecupan di bibir Demian yang terbuka. Satu kecupan yang dampaknya seperti setruman kuat di dada, Demian lekas mengambil selangkah mundur dari Angela. Mata melebar terpana.
Degupan jantungnya menggila, panik tak menerima. Ia--saat itu juga, dalam gerak reflek, melempar tatapannya ke arah balkon kamar Jessica yang tidak begitu jauh dari lokasinya berdiri.
__ADS_1
Saat itu pun, di sana..., Jessica dengan mug berisi hot cocoa, menatap ke arah mereka tanpa ekspresi yang bermakna.
*