MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
39. Masuk Akal.


__ADS_3

Ketika berhadap-hadapan dengan Demian, Jessica merasa lega ia mempunyai kontrol diri yang tinggi.


Meski Jessica merasa terkejut atas kedatangan dan interupsi yang pria itu lakukan, Jessica tidak serta-merta memaki Demian di tempat. Tidak juga ia mencecar Demian dengan rentetan pertanyaan yang menyiratkan kekesalan.


Malam itu, hal pertama yang Jessica putuskan ketika Demian datang dan memperlakukannya sewenang-wenang, adalah meminta pengertian Jake untuk mengakhiri pertemuan mereka sampai di situ saja.


"Aku akan menghubungi di lain waktu," kata Jessica waktu itu, sebelum akhirnya menarik jaket kulit yang Demian pakai dan membawa pria itu keluar dari bar.


Setelahnya, dia dan Demian pun berjalan di trotoar jalan. Jessica berjalan beberapa meter di depan Demian, kekesalannya menyeruak perlahan-lahan ketika ia hanya sendirian dengan pria itu.


Demian di sisi lain, menyadari kalau ia sudah memicu kekesalan dalam diri Jessica, jadi ia menjaga jarak sampai Jessica siap bicara.


Demian, jujur saja, tidak merasa bersalah sudah menginterupsi malam Jessica dan Jake. Terlebih ketika ia melihat bagaimana Jake menatap Jessica-nya, Demian ingin melempar wajah Jake dengan bangku.


Mereka terus berjalan sampai Jessica menemukan persimpangan jalan yang ramai oleh kendaraan yang terparkir di bibir jalan. Cafe dan hotel berjajar berdampingan tak beraturan.


Jauh dari tempat Jessica berdiri, sebuah replika tower eifell yang tidak begitu tinggi, berdiri indah. Jessica menghentikan langkahnya dan singgah di sebuah kedai kopi yang menyediakan beberapa bangku di trotoar jalan.


Demian duduk di depan Jessica, masih diam. Sepasang iris kelamnya menyorot ke arah Jessica, memperhatikan bagaimana ekspresi gadis itu sekarang. Apakah dia masih marah atau tidak?


Jawabannya, masih.


"Sampai kapan kau mau marah?" tanya Demian akhirnya. Dia tidak mau Jessica bungkam.


"Apa aku kelihatan marah?" tanya Jessica sinis.


"Apa kau kesal aku mengganggu kencanmu dengan Jake? Apa kau sebegitu senangnya berjalan dengan Jake seharian?"


"Mungkin."


"Jessica, kau tidak menyukai Jake, kan? Bukankah sudah kubilang, dia itu bajingan."


Jessica mengembuskan napas panjang. "Dan?"


"Dan apalagi? Aku tidak setuju."


Jika Demian adalah saudaranya, kerabatnya, Jessica mungkin akan mendengarkan ucapan Demian dengan anggukan kepala dan senyum mengembang tulus percaya. Namun, Demian bukan siapa-siapa. Demi Tuhan, Demian tidak berada di posisi mana pun untuk mengkritiknya.


"Demian, apa kau menyukaiku?" tanya Jessica membuat Demian menurunkan gelas kopinya.


"Eh, apa?" Demian bertanya balik.


"Apa kau, Demian, menyukaiku? Apa kau mempunyai perasaan khusus padaku?"


Jessica menanyakan itu demi mengonfirmasi situasi dan rasa ingin tahunya yang membuncah tinggi.


Mengapa Demian bertingkah seolah Jessica adalah hak miliknya? Mengapa dia menggoyahkan Jessica dengan segala komplainnya ketika pada realita, dia mempunyai Angela di dekapannya?!


Demian menatap mata emerald Jessica sambil menggigit bibirnya. Ia seketika mengerti apa maksud pertanyaan Jessica di sana. "Itu cukup adil," ujar Demian. "Apa aku harus menyukaimu terlebih dulu agar boleh memberikan masukan kepadamu?"


"Ada perbedaan antara masukan dan gangguan, Demian. Hari ini kau sudah menggangguku. Kau menginvasi waktu personalku. Apa menginvasi tempat tinggalku tidak cukup, kau juga mau tau di mana aku berada, dan apa yang aku lakukan?"


Iya, aku mau tau semuanya! --Jawaban itu keluar dari benak Demian lebih cepat dari kesempatan Demian memikirkan jawaban. Demian terkejut atas pikirannya sendiri. Apa yang baru saja ia pikirkan? Apa dia berhalusinasi atau otaknya memang menyuarakan jawaban posesif itu?


"Aku mencemaskanmu karena kau tidak menjawab pesanku sama sekali." Demian mengganti jawabannya menjadi lebih rasional.


Demian tau dia sudah melakukan kesalahan. Tentunya, apa yang Jessica lontarkan adalah kebenaran. Namun, Demian tidak peduli pada semua itu. Dia memutuskan melakukan kesalahan itu dengan sadar.


"Mengenai pesan itu juga..., sebentar." Jessica mempunyai terlalu banyak uneg-uneg yang ingin ia muntahkan di depan Demian, ia sampai mengatur napasnya dengan teratur agar dia tidak lepas kendali dan memuntahkan ucapannya secara berantakan.


"Aku mempunyai banyak pikiran sampai kepalaku mau pecah," keluhan kemudian keluar dari bibir Jessica. Ia kali ini menatap Demian dan berharap, apa pun yang ia katakan akan menjadi jalan agar Demian bisa memahaminya.


"Demian," mulai Jessica. Kali ini lebih tenang. "Aku akan menanyakanmu kembali, apa kau..., sejujur-jujurnya, menyukaiku?"


"..."


"Aku mempertanyakan ini agar aku bisa menemukan rasionalitas dalam hubunganmu dan aku yang agak berlebihan, kurasa? Ya. Hubungan ini bisa dikatakan cukup berlebihan. Jadi, apa kau menyukaiku?"

__ADS_1


Demian menyisir surai ikalnya ke belakang. Sebelum ia memberikan jawaban, ia mendecak lidahnya dalam kekesalan. "Kenapa itu penting?" sahut Demian. "Suka atau tidak, itu tidak menurunkan kepedulianku padamu, aku--"


"Cukup," potong Jessica. "Apa kau menyukai Angela?"


"Aku tidak merasa aku perlu menjawab itu."


Jawaban untuk pertanyaan itu cukup personal bagi Demian. Jessica tau itu. Jessica hanya ingin memberikan Demian rasa pahit yang sama ketika dia dengan sesuka hati menginvasi masalah personal Jessica.


"Aku akan berasumsi kau masih menyukainya," kata Jessica. "Lagipula, tidak butuh jawaban apa pun, siapa yang mempunyai mata pasti bisa menarik kesimpulan dari kedekatan kalian."


Jessica merasakan sedikit cubitan di dadanya. Aneh, seakan-akan dia terluka. Apa dia terluka?


"Demian," gumam Jessica. Kali ini intonasi Jessica mereda lembut dan ramah, sebuah suara yang kerap ia berikan kepada Demian ketika mereka bersama. Ketika ia menunjukkan kepedulian yang tulus dari ekspresi dan suaranya.


"Aku tidak mau salah paham."


Huh?


"Kau tau..., terakhir kali kita bertemu, apa yang aku lakukan, apa yang kita lakukan..., itu cukup..., di luar batasanku." Jessica menggaruk pipi seraya tersipu. "Aku, asal kau tau saja, tidak bisa melupakan aksiku. Aku tidak mengerti sama sekali mengapa aku melakukan itu."


Demian sudah mengira kalau kejadian malam itu akan menjadi salah satu alasan Jessica menghindarinya. Namun, Demian sama sekali tidak mengira maknanya akan berbeda.


Demian mengira Jessica menghindarinya karena gadis itu terbenam dalam perasaan malu luar biasa, dan tidak tau cara menghadapinya. Akan tetapi, sesuatu yang lebih besar bergumul di benak Jessica.


"Demian, aku..., aku tidak mau menyukaimu."


"???"


"Aku bukan perempuan yang bisa terjebak dalam relasi kasual. Aku..., aku adalah perempuan yang cukup serius dan perasaanku entah bagaimana akan menguasaiku dalam situasi apa pun. Aku..., aku tidak mendekati pria mana pun sejauh ini adalah karena alasan itu."


Jessica jujur di sana. Ia--untuk pertama kalinya mengungkapkan alasan mengapa ia tidak pernah menjalin intimasi dengan pria mana pun sebelum Demian.


"Aku tidak mau menaruh perasaan istimewa padamu karena itu akan berakhir membebaniku. Karena, aku tau benar bagaimana kau sangat menyukai Angela. Aku juga tidak akan pernah bersaing dengan wanita lain jika itu menyangkut asmara. Jadi..., yeah."


"Aku mengerti apa yang kau maksudkan." Demian sendiri mengerti bagaimana rasanya menaruh perasaan kepada orang yang jatuh cinta kepada orang lain. Demian tau betapa tidak menyenangkannya perasaan itu.


Hanya saja...


"Kedekatanku dan Jake hanya sebatas pertemanan. Dia tidak mendekatiku secara berlebihan. Apa yang terjadi di antara aku dan Jake cukup berbeda dari apa yang sudah kita lakukan."


Itu harus, pikir Demian. Jika Jake sampai menyentuh Jessica, Demian berani bertaruh ia akan merontokkan gigi bajingan itu sampai habis!


"Jadi, menghindariku adalah jawaban dari semua keluhanmu?"


Jessica mengangguk. "Aku merasa, kita sebaiknya tidak bertemu lagi."


"Hah?"


"Maksudku, kau boleh ke cafe, tapi ke kamarku...,"


"Apa aku yang muncul ke kamarmu juga bisa membuatmu salah paham?"


"Ya," sahut Jessica. "Tidak ada kenormalan dari hubungan kita, Demian. Aku sudah menoleransimu kejauhan. Aku tidak mau kehilangan kendali pada perasaanku sendiri."


Sulit untuk mendeskripsikan apa yang Demian rasakan sekarang. Daripada kekecewaan, ia merasakan kehilangan. Seolah-olah seorang samurai datang dan menikamnya dari belakang.


Mengapa Jessica harus memikirkan segala sesuatunya secara mendalam?


"Jessica," panggil Demian lagi.


"Ya?"


"Jika aku mengatakan aku mencintaimu pada pertanyaan pertamamu, apa kau akan mengatakan hal-hal lain yang pada ujungnya akan menolak keberadaanku juga?"


"Huh?"


Demian menarik gelas kopi Jessica di meja dan menyesap isinya setengah. "Entah mengapa, kurasa, apa pun jawabanku. Kau pada akhirnya akan menolakku."

__ADS_1


"...."


Tatapan mereka bersua, saling membaca makna yang terselubung di dalam jernih permukaannya.


"Aku merasa...," gumam Demian lagi, menyeret halus suaranya. "Sepertinya kau sudah menyukaiku dan takut pada realita itu. Jadi kau membuat berbagai alasan untuk membenarkan ketakutanmu. Apa aku salah?"


Dalam kata lain, Jessica hanya berusaha menghindarinya lagi dengan segala rangkaian kata yang terdengar masuk akal di telinga.


Demian tidak mengenal Jessica dalam kurun waktu lama, tapi dia cukup pandai dalam membaca perilaku Jessica yang selalu melarikan diri darinya.


"..." Ucapan singkat Demian, dalam satu kali penarikan kesimpulan, berujung membuat isi kepala Jessica kosong seketika.


"A-apa yang kau katakan?" Hilang sudah ketenangan yang berusaha Jessica kendalikan. Ia melebarkan mata terpana, tawa lirih keluar dari bibirnya.


"Ba-bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Aku...,"


Tidak, demi apa pun, Jessica tidak akan pernah mengakui ucapan Demian sebagai kebenaran. Dia tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh cinta. Terlebih bila itu kepada Demian.


"Kau..., kau hanya membicarakan omong kosong." Ucapan Demian bukan kebenaran. Dia membuat analisa sesuka hatinya. "Padahal aku sudah berusaha bicara baik-baik denganmu di sini!"


"Jessica," sela Demian. Ia menahan pergelangan tangan Jessica. Menahan gadis itu dari melarikan diri darinya.


"Boleh aku putar balik pertanyaanmu barusan?"


Jessica tau pertanyaan mana yang Demian maksudkan. Jadi, sebagai tanggapan, Jessica menepis tangan Demian dari pergelangan tangannya.


"Aku mengantuk," tukas Jessica. "Aku bosan bicara denganmu."


Demian mengulum senyumnya. Di sana, ia telah memperoleh jawabannya.


"Apa itu berarti segala pembicaraan barusan tidak akan berarti apa-apa?" Demian mengikuti Jessica berdiri. Ia menapak di atas bayangan Jessica seraya menenggelamkan tangannya di saku celana.


"Aku menyesal sudah membuang-buang waktuku bicara denganmu," Jessica membayar kopinya dan melenggang menuju trotoar jalan. Ia menunggu taksi tanpa ada niat menatap Demian sama sekali.


"Jessica, bahkan bila kau mengatakan berbagai alasan untuk menghindariku, aku menginginkan kau tau satu hal..." Demian merangkul pundak Jessica sesuka hatinya.


Jessica mau tidak mau menoleh dengan kesal. Matanya menyiratkan 'Apa-apaan?'.


"Jessica," bisik Demian tenang. "Apa kau pikir aku akan mendengarkanmu?"


"Huh?"


"Kau tau, segala racauanmu tadi..., apa kau pikir, aku akan mendengarkanmu?"


Jessica menarik dirinya lepas dari rangkulan Demian. "Mengapa tidak?"


Seringai Demian mengembang nyaman. "Kurasa kau belum mengenaliku begitu jauh kalau kau berpikir kata-kata cukup untuk mengusirku dari hidupmu."


Jessica--saat itu pula, meneguk ludah. Tubuhnya meriang panas di bawah tatapan Demian yang tajam. Seolah-olah ia berada di bawah ancaman.


"A-apa kau bangga dengan keegoisan itu?" Jessica kembali teringat pada kebrutalan Demian yang tak sengaja ia temukan. Pria itu mungkin manis kepadanya, tapi itu tidak menutup realita kalau dia adalah monster berbahaya.


Demian mengangguk. "Jadi jangan melarikan diri dariku lagi...,"


"Kau menjijikkan!"


"Terima kasih." sahut Demian, perangainya berubah drastis seperti iblis. Jessica berupaya sekuat tenaga menampilkan kecuekan di sana, meskipun kakinya bergetar dalam intimidasi dan perasaan ngeri.


"Aku akan membunuhmu kalau Angela sampai mengataiku lagi, awas saja!" Jessica memuntahkan omong kosong demi meredakan debaran jantungnya yang menggila.


"Huh?"


Tunggu, Demian mungkin tidak tau perihal itu.


"Lupakan saja."


Demian menatap Jessica, bertanya-tanya.

__ADS_1


Masalahnya, Demian tidak akan melupakan sesuatu yang mengganggu benaknya. Apa arti ucapan Jessica barusan? Apa Angela mengatakan sesuatu yang buruk kepada Jessica?


*


__ADS_2