
Tok! Tok! Tok!
Sebuah ketukan mendarat di pintu jati berwarna gading tersebut. Setelah ketukan itu, sebuah suara menyusul dan memperkenalkan keberadaan si pengetuk yang merupakan Hestia Bellamy.
"Christian, ini aku." kata Hestia. Ia menunggu tanggapan dari dalam.
"Masuk, Hestia."
Setelah mendengarkan tanggapan dari dalam, pintu jati itu pun terbuka. Dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu itu membiarkan Hestia masuk hanya setelah mendapat izin dari si pemilik ruang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Christian Bellamy, pria yang memimpin mansion ini.
Hestia--sebagai bawahan Christian--menapak masuk dengan raut kusut. Ternyata, Christian tidak sendirian di dalam. Ada Carlos yang langsung membungkuk sopan ketika menemukan kedatangannya.
Ketika Hestia datang juga, segala perbincangan di antara Carlos dan Christian tersegel dalam sunyi. Carlos pamit undur diri sementara Hestia mengantar kepergiannya dengan tatapan menikam waspada.
"Kulihat kau mulai menggerakkan pionmu kemana-mana, Chris." Dari sepengetahuan Hestia, Carlos yang merupakan salah satu pengawal pribadi Christian sekarang bergerak melindungi Erthian.
"Apa alasanmu datang kemari pagi-pagi begini, Hes?"
Christian Bellamy, pria berusia 56 tahun yang tidak terlihat seperti pria berusia 56 tahun itu--dalam kata lain, dia terlihat seperti berusia 30 tahun--menyapa Hestia dengan gestur santai yang membuat Hestia kesal.
Bagaimana Christian bisa santai ketika puteranya nyaris saling membunuh satu sama lain kemarin?
"Aku mendengar apa yang terjadi terhadap Demian dan Erthian...," ujar Hestia. Ia menahan intonasinya agar tidak lebih tinggi daripada intonasi Christian. Hestia tidak mau menciptakan kesan seperti ia melawan atasannya tersebut.
Kendati Hestia adalah seorang Bellamy juga, hestia masih berada jauh dari Christian yang murni seorang Bellamy. Hestia sebagai sepupu dari sepupu dari sepupu Bellamy, tidak berada di pangkat yang setara dengan Christian.
Alasan Hestia sampai memiliki arti di mansion ini semata-mata karena saudara Hestia--Maureen Bellamy yang jelita--berhasil memikat mata Christian. Jika bukan karena Maureen, Hestia hanya akan menjadi seorang Bellamy yang tidak dipedulikan keberadaannya.
"Mereka baru beberapa hari bertemu, dan mereka sudah berusaha saling membunuh. Aku mencemaskan mereka, Chris. Apa tidak ada solusi untuk mereka bisa tenang sedikit saja?"
Maksud pertanyaan Hestia, apa Christian tidak bisa sebentar saja mengontrol Erthian?
Masalahnya, putera favorite Christian tersebut sudah membully Demian sejak lama. Hestia takut Demian akan benar-benar pergi bersama Jessica bila bullying ini berkelanjutan.
"Aku mengerti kau sangat pengertian dan peduli pada mereka. Namun, mereka bukan anak-anak lagi, Hestia. Mereka bisa berpikir apa hal yang baik dan tepat yang perlu mereka lakukan. Kalau hal-hal sepele semacam pertikaian saja mereka masih perlu diatur oleh orang dewasa, mereka tidak akan bisa memimpin keluarga kita ke depannya."
"Tapi..., kau tau kondisi Erthian bagaimana..." Erthian bisa mati kalau dia terus-terusan mengganggu Demian, demi Tuhan!
"Carlos akan melindunginya."
"Apa karena itu kau menempatkan Carlos sebagai bodyguard, Erthian?"
Christian menyandarkan punggung dan lehernya di bangku. Ia menatap Hestia sementara iris kelamnya menunjukkan ketenangan yang ambigu. "Kurasa..."
Jawaban itu menjengkelkan!
"Sekedar informasi saja, Chris, Demian bukan sosok yang bisa kau ringkus dengan gampang. Dia--" Berbahaya!
"Aku sudah memberikan jawabanku," ujar Christian. "Aku tidak menjawabmu untuk menenangkanmu. Kalau kau tidak merasa tindakanku cukup, bagaimana kalau kau melakukan sesuatu dan berhenti merengek di depanku?"
"Christian..., aku..., aku tidak..." Hestia mana mungkin berani menentang Christian. Hestia--hanya saja--meresahkan posisi Demian sekarang. Hestia takut Demian melarikan diri lagi.
"Aku dengar banyak orang bersorak-sorai ketika Demian pulang, kebanyakan dari mereka adalah orang yang sangat mendukung Demian menjadi pemimpin, bukan?"
Mereka yang dimaksudkan Christian adalah fraksi yang sebelumnya pasif dalam setiap pertemuan keluarga. Mereka tidak banyak bicara, tidak memprotes apa-apa. Tapi, dalam diam mereka, mereka tidak mendukung Erthian sebagai pemimpin di Bellamy juga.
Tentunya, mereka tidak semasif pendukung Erthian yang jelas-jelas sangat vokal menolak keberadaan Demian. Namun, belakangan, mereka menjadi sangat berisik. Seperti semut yang berjejalan keluar dari sarangnya.
"Aku percaya mereka hanya sangat antusias melihat kedatangan Demian." Hestia tidak menyembunyikan senyumannya sedikit pun. Ia terang-terangan menunjukkan kalau dirinya juga bagian dari keriuhan tersebut.
"Apa pun itu...," tukas Christian, "Pastikan kebisingan mereka tidak menciptakan konflik yang tidak perlu."
Sekarang dua kubu sedang menegang, bila ada sedikit percikan api, dua kubu ini bisa saling menyerang dan menciptakan perpecahan dalam rantai pimpinan Christian. Jika perpecahan terjadi, Christian tidak akan segan sama sekali menunjukkan kekuasaan terakhirnya sebagai pemimpin di Bellamy.
Jika mereka menginginkan pertumpahan darah, Christian tidak akan segan-segan untuk menumpahkan darah mereka semua.
"Aku akan memastikan segala situasi terkendali, Christian. Bagaimanapun, keputusanmu adalah hal yang paling utama di sini."
"Aku mempercayakan hal tersebut padamu." ucapan Christian yang seharusnya memberikan kebanggaan, di telinga Hestia terdengar seperti ancaman.
Entah sejak kapan, kepercayaan yang Christian berikan padanya seperti pedang yang jatuh di pundaknya. Jika Hestia mengkhianati kepercayaan tersebut, pedang itu akan terayun dan menebas kepalanya.
__ADS_1
"Ah..." Christian tiba-tiba teringat sesuatu. Atmosfir mencekam yang melingkupi mereka sebelumnya perlahan-lahan mereda. "Aku dengar Demian membawa kekasihnya kemari. Apa kabarnya?"
"Kau mendengarnya?"
"Erthian menceritakan hal itu padaku."
Hestia, mendengar ucapan Christian, mau tidak mau mengingat pertemuannya dengan Jessica tadi pagi. Senyum Hestia merekah masam. "Tidak ada yang pelu kau cemaskan tentangnya. Dia akan kembali ke Vegas beberapa hari lagi."
"Bersama Demian?"
"Apa maksudmu bersama Demian?" Hestia tersenyum samar. "Dia hanya akan pulang sendirian. Bagaimanapun, keberadaannya tidak sepenting itu di mata Demian."
Christian mengangguk tenang. "Kau tau banyak hal, Hestia."
"Hal klise seperti itu tidak membutuhkan pengetahuan apa pun."
...*...
Begitu Hestia keluar dari ruang kerja Christian, Hestia disambar oleh keberadaan lain yang muncul dari kejauhan dan berteriak memanggil namanya. Hestia spontan berhenti melangkah dan menatap sosok yang sekarang ngos-ngosan di depan hidungnya.
Sosok itu, siapa lagi kalau bukan Demian Bellamy. Si bungsu Bellamy itu menyapa Hestia dengan tergesa-gesa. Ia sedang berada di sisi lain mansion ketika ia mendengar informasi kalau Hestia datang berkunjung pagi ini.
"Aku rasa kau sudah tidak di usia untuk perlu ditegur mengenai larangan berlari di koridor, Demian?" Hestia menyilangkan lengan di dada, matanya memindai keponakannya tersebut dengan kejemuan yang kentara. "Apa kau lupa hidungmu pernah patah karena jatuh dari tangga?"
"Apa kau lupa aku akan berusia 30 tahun depan?" Demian menanggapi setelah deru napasnya mereda. "Aku tidak di usia yang akan terjatuh dengan hidung menghantam lantai lagi, Hestia."
Demian bukan anak-anak. Demian percaya dia sudah mempunyai kontrol penuh terhadap tubuhnya. Dia tidak akan mengalami patah hidung yang sama.
"Usia tidak membuatmu kebal terhadap hidung yang patah, Demian."
"Tsk, mengesampingkan masalah hidung patah..., aku baik-baik saja sekarang. Kau tidak perlu mencemaskanku secara berlebihan."
"Kalau kau bukan keponakanku, aku tidak akan peduli bahkan bila lehermu terpelintir di depan wajahku." Hestia memberikan jawaban sambil membuka langkahnya meninggalkan pintu depan ruang kerja Christian.
Hestia--bersama Demian di sampingnya--mulai melenggang santai di koridor kecil yang menghubungkan mereka menuju ruang keluarga yang berada di lantai lima.
"Hestia, aku ingin menanyakan kabar Jessica..., kemarin, aku seharusnya datang..., aku tidak bisa datang..." Demian perlahan-lahan bungkam. Ekspresinya berubah muram.
"Meskipun dia paham, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian."
"Kau bukan anak-anak lagi. Kau tidak akan mati kalau kau tidak melihatnya sehari saja." Hestia merotasikan matanya.
"Pikirkan gambaran besarnya. Apa yang perlu kau lakukan sekarang lebih penting untuk masa depanmu. Beberapa hari tidak berjumpa dengannya tidak akan memberi pengaruh apa-apa di hidupmu. Namun, meninggalkan kewajibanmu di sini, di masa-masa krusial ini akan sangat berpengaruh untuk masa depanmu, Demian."
Hestia lanjut menjelaskan, "Tentunya, tidak menemui Jessica akan membuatnya merana satu atau dua hari..., tapi kau bisa memperoleh permintaan maafnya kalau kau memelas manja di hadapannya.--
Dia akan memaafkanmu kalau dia mencintaimu. Namun, situasimu dengan ayahmu berbeda. Pria itu tidak menarik ucapannya, Demian. Kau harus mengorbankan beberapa hal kecil untuk bisa mendapat support ayahmu."
Yang tidak Hestia mengerti adalah Jessica lebih dari sekedar hal kecil bagi Demian. Mengesampingkan Jessica merupakan pengorbanan besar bagi Demian. Tidak hanya ia mencemaskan Jessica, Demian sendiri tidak merasa mampu bertahan tanpa menemui gadis itu sekali saja.
Demian mempunyai ketergantungan terhadap keberadaan Jessica, seperti candu. Demian membutuhkan Jessica Cerise untuk dirinya, untuk melegakan kehampaan yang mengisi hatinya.
"Demian," panggil Hestia. "Serahkan Jessica padaku. Lakukan apa yang perlu kau lakukan sekarang. Apa kau paham?"
Demian mengambil waktu panjang untuk menjawab Hestia. Demian dilanda dilema. Demian hanya ingin menemui Jessica dan melarikan diri dari mansion ini, lepas dari segala permasalahan yang terjadi dan menghantui hidupnya selama ini. Namun, di luar praduganya, sebuah masalah bertambah.
"Demian," tegur Hestia sekali lagi, suara penuh penekanan. "Jangan kekanakan. Minggu depan, ayahmu akan menunjuk penerus utamanya. Pilihannya hanya dua, kau dan Erthian. Aku hanya memintamu bertahan sampai hari itu, setelahnya terserah. Kau bisa membawa Jessica kemana pun kau mau. Tidak..., kau bisa membawanya tinggal di sini kalau perlu."
"Hestia, apa yang kau bicarakan?"
Hestia mengendikkan bahu. "Kau bisa menjadi penerus ayahmu, Demian. Apa yang salah dari itu? Aku percaya Jessica akan sangat berbahagia bisa menjadi pendampingmu di rumah megah ini."
Sementara Hestia dan Demian melenggang dan berbincang di koridor lantai lima, langkah keduanya terhenti begitu pemandangan Selina diseret paksa oleh dua pengawal menarik perhatian mereka. Carlos yang sebelumnya berada di ruang kerja Christian berada di sana, menenteng koper merah yang berisi barang-barang Selina.
Wanita itu meronta-ronta sambil bersimbah air mata.
Hestia memperhatikan pengusiran wanita yang merupakan istri kedua Christian itu tanpa ekspresi. Cepat atau lambat, pikir Hestia, situasi itu akan terjadi.
"Christian sudah melakukan hal yang benar," ujar Hestia. Ia berbicara pada Demian yang mengamati pemandangan tersebut dengan sedikit kelegaan.
Di pikiran Demian, sepertinya Erthian telah menarik support-nya dari wanita iblis itu. Sekarang, sebagai pion yang tak berguna, Selina pun didepak keluar dari mansion.
__ADS_1
"Carlos mungkin sudah mengadukan beberapa hal tadi pagi." Hestia kembali berujar. "Aku tidak tau apa yang wanita itu lakukan, tapi melihatnya disingkirkan dari sini sudah cukup."
"Aku terkejut butuh waktu lama untuk Christian mengusirnya." Demian ikut berkomentar.
"Lupakan tentangnya..." Hestia lalu beralih menatap Demian, "Aku percaya Christian mempunyai tugas untukmu hari ini."
"Dia memintaku bertemu dengan paman Fiero."
"Itu bagus, pamanmu sudah lama tidak bertemu denganmu."
"Aku berencana membawa Jessica ke sana, bagaimana menurutmu?"
"Apa kau pikir Jessica akan menyukai bertemu dengan keluargamu?" Hestia terkekeh. "Demian, Jessica mempunyai penilaian menyimpang mengenai keluarga kita dan itu terlihat dari keengganannya dalam mengikutimu kemari.--
Tentu saja, penilaiannya tidak salah. Di mata dunia, bisnis keluarga kita adalah hal yang kotor dan nista. Kau tidak mau dia terlibat dan melihat hal-hal yang ia benci, bukan? Itu bukan honeymoon yang menyenangkan."
"..."
Senyum Demian terlukis masam.
Hestia ada benarnya. Jessica terlalu murni untuk dunia ini. Bila ia mengikutinya ke tempat paman Fiero, Jessica kemungkinan akan menanyai alasan mereka berkunjung ke sana dan Demian tidak mau membohongi Jessica kalau ia akan membahas tentang perdangangan senjata yang ditangani pamannya. Jessica tidak akan menganggap hal itu sebagai hal normal.
"Seperti yang sudah kukatakan, serahkan Jessica padaku. Dia punya banyak hal menyenangkan yang bisa dia lakukan di Rhoden Manor. Aku akan pastikan kekasihmu tercinta tidak mati bosan."
"Baiklah..." Demian menghela napas. "Aku akan serahkan segalanya padamu. Katakan pada Jessica aku akan menemuinya ketika urusanku selesai di sini."
"Kau tau kau masih bisa menghubunginya lewat handphone, kan?"
"Aku tau..., aku juga akan menghubunginya lagi nanti."
"Good boy."
...*...
Demian tidak bisa menemuinya untuk beberapa waktu kedepan adalah informasi yang Jessica terima tidak hanya dari Hestia, tapi dari Demian juga. Setelah panggilan teleponnya dan Demian berakhir hari ini, Jessica yang masih berdiri sendirian di balkon, menggenggam ponselnya erat-erat.
Jessica tau ia mempunyai kepercayaan penuh pada Demian. Bahwa, apa pun yang sedang terjadi pada Demian sekarang, semua itu Demian lakukan semata-mata agar mereka bisa kembali ke Vegas secepatnya.
Jessica percaya pada Demian kendati pria itu tidak memberikannya informasi apa pun yang mampu meredakan kecemasan Jessica. Tidak ada alasan mengapa dia tidak bisa datang, tidak ada penjelasan mengenai situasinya sekarang. Jessica tidak tau hal apa yang sedang Demian sibukkan sekarang dan itu membuat Jessica dilanda kebingungan dan ketakutan.
Jessica takut ia akan mencerna ucapan Hestia sebagai kebenaran. Bahwa, sekarang Demian sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi penerus di Bellamy.
"Itu omong kosong," Jessica berujar pada dirinya sendiri. "Demian tidak akan melakukan itu."
"Miss. Jessica, makan malam sudah tiba." Lisa--sebagai pengawal yang bebas keluar masuk kamar Jessica--membawakan senampan makanan yang dari aromanya, sangat menggiurkan. Jessica menatap mangkuk makanan tersebut dengan seulas senyum masam.
"Lisa," ujar Jessica. "Bisa aku meminta beberapa buah juga?"
"Eh, buah lagi? Kau sudah memakan banyak buah hari ini."
Jessica mengangguk. "Aku suka buah."
"Ah. Kalau begitu, aku akan mengambilkanmu beberapa buah dari dapur. Hanya, pastikan saja kau menghabiskan makananmu, oke?"
"Tentu saja." Tentu saja tidak, adalah jawaban lengkap Jessica.
Setelah memperoleh bingkisan dari Erthian kemarin, Jessica kehilangan kepercayaan sepenuhnya pada keamanan rumah ini. Jessica mengingatkan dirinya kalau ia masih berada di telapak tangan musuhnya. Jessica--kendati memperoleh pelayanan istimewa--enggan menyentuh makanan yang sudah tersaji lezat di hadapannya.
Jessica hanya memakan buah seharian ini, seperti tupai pohon. Jessica bahkan minum dari air keran.
Katakanlah ini adalah penyakit paranoid dan Jessica hanya bertingkah berlebihan, Jessica tidak peduli. Ia lebih baik bermain aman daripada terjebak dalam permainan hitam Erthian.
Pria itu berupaya meracuni benaknya dengan sebuah kebohongan. Malangnya, Jessica bukan gadis yang akan termakan kebohongan itu dengan gampang. Jessica percaya pada dirinya sendiri kalau Erthian tidak melakukan apa pun padanya, pria itu tidak menodainya. Tidak sedikit pun.
Jessica tau dirinya dengan sangat baik. Jessica tau Tuhan melindunginya dari Erthian. Pria bajingan itu tidak akan mampu membuat Jessica kehilangan kepercayaan dirinya sendiri. Jessica tidak akan membiarkan dirinya meragukan kemurniannya.
Jessica tidak akan membiarkan trik murahan Erthian mengonsumsi pikirannya.
Jessica percaya pada dirinya sendiri, dan Demian juga mempercayainya. Itu cukup.
...*...
__ADS_1