
Rasanya sangat abnormal.
Demian membasuh wajahnya di wastafel sekali lagi, dengan lebih keras sampai kulit wajahnya memerah. Demian--kendati sudah berdiri di kakinya sendiri, sudah membuka mata dan mampu menggunakan otaknya untuk berpikir--berupaya keras untuk bangun. Bangun dalam kata lain, menemukan kewarasannya sendiri.
Sesuatu sedang terjadi di kepalanya saat ini, sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan akan terjadi.
"Apa aku sudah melakukannya secara berlebihan?"
Demian mengenang malam panas yang ia lewatkan bersama Jessica di hujan badai itu. Tiga hari sudah berlalu dan pikirannya masih dipenuhi oleh hal-hal yang berkaitan pada malam itu, berulang-ulang tanpa ada satu momen pun terlewatkan.
Sampai sekarang pun, Demian masih bisa mengingat bagaimana rasa kulit Jessica di lidahnya. Kelembutan dan kehalusan dari tubuhnya yang terekspos polos..., semuanya, semua itu tumbuh seperti racun.
Demian sulit menemukan kewarasan.
Demi Tuhan, malam itu bukan malam pertamanya. Dia bukan seorang lajang yang baru pertama kali berhubungan badan.
TIDAK! Sama sekali tidak! Demian sudah mencicipi berbagai wanita di hidupnya. Terlalu banyak, dan itu wajar. ya ampun, dia sudah 29 tahun. Pria berusia 29 tahun di kota Vegas, Normal baginya menggonta-ganti pasangan.
Yang tidak normal adalah ketika ia masih terngiang-ngiang pada hal sepele tersebut.
"Apa kabar Jessica sekarang...?"
Disela-sela frustasinya itu pun, Demian jadi memikirkan Jessica. Hari setelah malam itu, Jessica kembali menutup dirinya. Dia hanya bicara seminimal mungkin dan tidak menatap Demian di mata. Dia seperti kerang dengan cangkang keras menutupinya.
Demian menginginkan perasaan kikuk dan malu Jessica mereda, jadi ia meninggalkan gadis itu sendirian untuk sementara. Namun, hasilnya sekarang adalah Demian yang nyaris gila. Ia tidak ingat sudah berapa kali ia berbolak-balik di tempat tidurnya, mandi air dingin dan membentur keningnya ke dinding. Demian mati-matian mencoba mematikan gairah s-ksualnya.
"Ah benar juga..."
Setelah mengelap wajahnya dengan handuk, Demian teringat pada satu realita yang nyaris dilupakan benaknya. Malam sebelum Jessica menghilang, Demian mencari gadis itu karena ia mempunyai sesuatu yang ingin ia katakan kepada Jessica. Sesuatu menyangkut keberadaan Jake Allendale yang sudah muncul di hidupnya seperti kuman.
Demian ingin memangkas hama itu habis.
Dengan tekad itu di kepala, Demian membuat keputusan untuk menemui Jake Allendale hari ini.
*
Di sisi lain, hari ketika Demian mengantar Jessica pulang dengan aman, Jessica di sambut oleh satu kawannya yang memilih menetap di Elixir sampai Jessica pulang. Seorang kawan yang tidak ia antisipasikan hadirnya itu adalah Dania.
Di pagi-pagi buta, ketika Jessica masuk ke Elixir menggunakan kunci yang dititipkan Ethan melalui Demian, Jessica masuk dan tercengang. Matanya melebar terpana atas keberadaan Dania di ujung tangga. Sahabat pirangnya itu berdiri di sana, memakai piyama menginap yang ia simpan di sudut lemari Jessica.
Dania di sana..., menatap ke arah Jessica seperti melihat hantu.
"Kau..., pulang...," bukan pulangnya Jessica yang membuat Dania terpana, melainkan karena keberadaan Demian yang membayangi langkah Jessica. Tidak, bukan hanya itu..., penampilan Jessica juga sangat..., membingungkan?
Maksud Dania, ada apa dengan Jessica yang tiba-tiba memakai kaos hitam kebesaran milik seorang pria, dengan kemeja flanel familiar milik Demian dan..., tanpa...TANPA BAWAHAN?!
"Apa aku berhalusinasi?" Dania sangat yakin Jessica tidak memakai apa pun di balik kaos hitam itu.
"Da-Dani..., tunggu sebentar..., kau, tidak..."
"Aku akan meninggalkan penjelasannya padamu," adalah pilihan yang dibuat Demian. Sengaja agar Jessica kalang-kabut di sana.
Setelah Demian pergi meninggalkan mereka, barulah Jessica menjelaskan situasinya pada Dania. Situasi yang sebenar-benarnya terjadi. Jessica pun pasrah-pasrah saja ketika Dania memekik histeris di kamarnya,mendengarkan setiap kisah yang keluar dari bibir Jessica dengan keantusiasan yang berpadu dengan keterkejutan.
"Jadi kau bukan perawan lagi?" Pertanyaan vulgar itu menusuk kuping.
Tanpa perlu menjawab Dania pun, sebenarnya situasi itu sudah terbaca. Dania mempunyai dua bola mata yang sehat untuk bisa melihat situasi tubuh Jessica sekarang. Jejak gigitan di mana-mana berpadu dengan kissmark. Jessica seperti pejuang yang baru pulang dari pertempuran, Dia begitu kelelahan.
"Aku tidak menyangka Demian akan menjadi pria yang mengambil pengalaman pertamamu. Apa dia luar biasa? Apa..., kau tau, di bawah sana, ukurannya?"
"Oh, ya ampun, Dania..., jangan menanyakan hal tolol, bisa?"
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Itu salahku sudah penasaran." Dania mengibaskan tangan sambil menahan senyuman. "Sulit untuk tidak penasaran, tau. Habisnya itu adalah Demian dari semua orang. Dia pasti sangat hebat di ranjang, mengingat reputasinya yang mengerikan."
"Aku tidak tau kenapa itu berkaitan." Jessica mendecih sebal atas kesimpulan Dania yang tidak bersangkutan, tapi ia tidak akan membantah kalau Demian memang mempunyai stamina dan skill yang mumpuni. Dia sudah pasti bajingan berpengalaman. Sialan!
"Aku tidak menyangka Jessica, jadi selama ini kau menyembunyikan hubunganmu dan Demian dariku. Untung saja instingku tajam. Tanpa kau mengatakan apa pun, aku langsung tau kalau kalian mempunyai 'sesuatu' yang sedang terjadi."
"Maafkan aku,"
"Bayanganku hanya tidak sampai ke kisah kalau kalian akan berhubungan badan..., apa dia memakai pengaman?"
"Dania!"
"Ahahahaha..., hanya memastikan, hanya memastikan. Jangan sampai melupakan hal yang paling penting, oke?" Dania mengedipkan sebelah matanya jenaka.
"Aaah, rasanya sangat menyenangkan, aku menyesal sudah mencemaskanmu semalaman. Andai saja aku tau kalau kau sedang menyantap mayones Demiaa--mmmpphh!" Dania di bekap habis oleh Jessica. Rasa malu yang menggerogotinya membuat ia membungkus wajah sahabatnya itu dengan selimut.
Mereka bergumul beberapa detik di sana, sampai akhirnya Dania berteriak menyerah...
Dania mundur menjauh dari Jessica dengan wajah memerah. Dia menatap Jessica seolah-olah sahabatnya itu adalah monster dari bawah tempat tidurnya. "Apa kau mau membunuhku?"
"Salahmu sendiri sudah mengatakan hal kotor."
"Mengatakan dan melakukan adalah dua hal yang berbeda," tukas Dania. "Aku hanya mengatakan, toh, yang melakukannya adalah kau."
"Dania, kau benar-benar mau mati, ya?"
Dania seketika siaga, tangan terangkat siap menangkis serangan Jessica. "Aku hanya bercanda, ya ampun. Kau kenapa begitu sensitif, sih? Menjengkelkan."
"Yang menjengkelkan adalah kau, sinting."
Tau kalau Jessica lemah terhadap godaan dan akan berujung memakinya, Dania pun menghentikan godaannya sementara. Ia kembali dalam mode seriusnya dan memperhatikan keranjang pakaian kotor Jessica. Sekarang, Jessica sudah berganti pakaian dengan piyama yang nyaman. Akan tetapi, itu tidak membuat Dania melupakan penampilan Jessica sebelumnya.
"Ngomong-ngomong, idiot, di mana celanamu? Kau tidak keluar dari motel tanpa celana, kan?"
Dia memakai celana sebelumnya. Dia bukan wanita gila yang akan berjalan di depan publik tanpa celana.
Namun, mungkin dia agak gila...?
Di mobil, di perjalanan menuju Elixir, Demian tiba-tiba menepi dan mereka berakhir melakukan itu lagi untuk terakhir kali. Di sanalah Jessica kehilangan celananya. Bukan, celananya tidak benar-benar hilang, ia hanya kehilangan kekuatan untuk kembali berpakaian dengan normal. Yang memakaikannya baju sebelum turun dari mobil pun adalah Demian, karena Jessica sangat kelelahan.
Pria mesum itu, ugh!
"Waaah, pasangan baru memang penuh energi, huh..., aku iri. Sialan, aku sangat iri." Dania--tanpa mendengar tanggapan Jessica--bisa menarik kesimpulan sendiri. Dia bergidik ngeri.
"Jessica, carikan pacar untukku juga. Demian pasti mempunyai teman pria, kan? Aku juga ingin berpacaran seperti kalian."
"Dania...," tegur Jessica, kali ini suaranya melemah. "Aku dan Demian tidak berpacaran, aku pikir aku sudah menjelaskan itu."
"Huh?"
"Itu hanya...,"
"Hanya?"
"Aku tidak begitu tau, apa mereka menyebutnya FWB?"
"FWB my head, apa kau serius?"
Jessica mengangguk lesu.
"Jadi dia hanya memanfaatkanmu, begitu?"
__ADS_1
"Tidak tau..., kurasa, mungkin..., dia menyukai Angela, Dani."
Segala keantusiasan Dania merosot ke jempol kaki. Dia menatap Jessica dengan bibir berkedut menahan umpatan. Bercanda, kan? Apa Jessica bercanda?
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau menyukainya?"
Jessica meneguk ludah, matanya perlahan dilema. "Ku-kurasa..., aku sudah menyukainya..."
Oh, ya ampun!
Dania termangu. Perasaan iba yang merayap di dadanya tak seberapa. Amukan dan kebencian mendominasinya. Ini sama sekali tidak bisa dibiarkan!
"Kalau begitu..." Sambil berusaha meredakan amarahnya, Dania merapatkan duduknya di samping Jessica. Ia meraih pundak sahabatnya tersebut dan mengguncangnya agar kembali bangun. Agar segala kesedihan yang menumpuk di benaknya, luruh.
"Aku sudah membuat keputusan," ujar Dania. Matanya menatap Jessica penuh ambisi. "Mari membuat Demian jatuh hati padamu."
"E-EH?" Mana mungkin hal semacam itu bisa terjadi.
"Aku menanyakanmu sekali lagi Jesse, kau mencintai Demian, kan?"
"Y-ya..., tapi..."
Dania memotong ucapan Jessica lebih cepat. "Apa kau mau dia menjadi milikmu?"
Sangat. "A-aku ingin, tapi Dania..."
Senyum Dania merekah dengan jahanam. "Tidak ada tapi-tapian kalau begitu, Jessica. Untuk ke depannya, sebagai event organizer di Elixir, aku akan mengorganisir event asmaramu sampai Demian bertekuk lutut."
"Heeeh?" Apa itu memungkinkan? Maksud Jessica, Dania sendiri adalah gadis yang sudah menjomblo tiga tahun belakangan ini. Sejak kapan dia menjadi guru cinta?
"Percaya padaku, Jessica. Kita akan mementaskan sebuah drama."
*
Mempunyai teman yang ambisius dan protektif itu baik, tapi..., dalam beberapa kesempatan, itu menakutkan.
Tiga hari setelah Jessica berpisah dengan Demian di pintu masuk Elixir, Dania sudah menyibukkan dirinya dengan segala perencanaan yang membuat leher Jessica meremang.
Jessica tidak yakin melibatkan dirinya dalam perencanaan Dania adalah kebenaran, karena menurut Jessica, cinta adalah sesuatu yang muncul secara alami. Bukan sesuatu yang bisa diciptakan sendiri.
Kendati Jessica mempunyai pemikiran idealnya sendiri, menolak keantusiasan Dania juga bukan sesuatu yang gampang. Tidak ketika Dania begitu tulus ingin membantunya. Jessica tidak mau mematahkan semangat sahabatnya itu.
"Aku akan menuruti kemauanmu, selama itu tidak berlebihan." Jessica berucap tak tenang.
Mengesampingkan kegilaan Dania pula, untungnya, sobat pirangnya tersebut menuruti kemauan Jessica untuk tutup mulut. Alhasil, baik itu Ethan dan Elliot, tidak ada yang tau jelas mengenai detail situasi yang terjadi malam itu. Tidak ada yang tau kalau semalaman, ia menjeritkan nama Demian dengan tubuh mengejang dalam kenikmatan.
Untungnya..., huh?
'Apa itu menguntungkan ketika aku terpaksa berbohong pada teman-temanku?' Jessica membatin sendu.
Dia tidak ingin membohongi Ethan dan Elliot, tapi Jessica tidak mau kalau dua sahabatnya itu tau. Keduanya--dibandingkan Dania, lebih protektif. Ketika mereka tidak setuju pada sesuatu, mereka serius. Berbeda sekali dari Dania yang akan melumer bila Jessica merayunya.
"Ah, situasinya semakin rumit sekarang..." Jessica mengembuskan napas panjang. Untuk kesekian kalinya siang itu, Jessica melenguh lesu.
"Jika kau memikirkannya terus, situasinya akan menjadi rumit."
"Eh?"
"Merindukanku?"
Di depan Jessica, Oscar Brown datang menyapa. Pria manis ber-babyface itu menyeringai tipis.
__ADS_1
"Senang sudah bisa melihatmu," kata Oscar lagi. Tentu saja, tanpa makna yang murni.
*