MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
90. Akhir dari Keterkaitan.


__ADS_3

Seperti perkataan Jessica, bahwa ia akan menemui Jake dan berbicara dengan pria itu, sekarang, di sinilah Jessica sekarang. Di hadapan Jake Allendale yang menatapnya muram.


Mereka berada di sebuah cafe outdoor yang letaknya tak begitu jauh dari air mancur Bellagio.


Mereka--di balkon lantai dua cafe itu--masih bisa menyaksikan pemandangan air mancur yang menjadi pusat perhatian utama di the strip.


Meskipun mereka sudah bertemu, duduk berhadap-hadapan dengan rentetan kata yang menumpuk matang di kepala, baik itu Jessica maupun Jake tidak tau harus memulai dari mana.


Keduanya terjebak dalam situasi sunyi, hanya mendengar bunyi keramaian orang-orang di bawah sana, riuh-meriah menikmati atraksi di sepanjang trotoar jalan.


Jessica menautkan jari-jemarinya. Mata menyorot ke arah Jake sebentar, sebelum kembali menghindar. Jessica--kendati merupakan orang yang sudah mengundang Jake untuk bertemu--kini dilanda ragu. Jessica takut pada reaksi Jake nanti. Jessica takut pria itu akan sakit hati.


Jessica..., ah, sialan!


"Haaaa..." Jessica menghela napas panjang.


Cukup sudah, pikirnya. Dia sudah tidak bisa menghindari topik ini lagi. Jessica tidak mau membuang waktu Jake dengan ketakutannya dan omong kosongnya. Jake berhak memperoleh kebenaran dari hatinya yang terdalam.


"Jake..." ujar Jessica, memantapkan suara. "Terima kasih sudah mau menemuiku hari ini."


"Aku tidak ingin datang, tapi karena kau bersikeras..., mau bagaimana lagi?"


Jake membalas ucapan Jessica dengan sedikit ketidak-senangan dalam suaranya. Ia memalingkan wajahnya dari Jessica, menghindari menatap gadis itu dengan alasan yang entah apa. Jessica menduga mungkin Jake membencinya setelah apa yang terjadi malam itu.


"Ah-ah, maafkan aku." Jessica menggaruk dagu. "Aku tidak bermaksud memaksamu, aku tau kau sangat sibuk dengan pekerjaan jadi bertemu adalah hal yang cukup sulit. Tetapi..."


"Bukan seperti itu, Jesse."


"Ya?"


Jake meluruskan punggungnya, ekpsresi menjadi lebih muram daripada langit senja. "Aku hanya merasa aku tau apa yang ingin kau katakan, jadi aku menunda pertemuan kita berulang-ulang..., aku--aku tidak mau berpisah denganmu."


"..."


"Aku sudah menduga..., ketika Demian mengakui perasaannya padamu, berani maju dan mengekspos hatinya padamu di depan semua orang, kau mungkin sudah tergoyahkan. Lagipula..., bukankah hal itu yang paling kau inginkan darinya? Kau ingin dia menyukaimu, tapi kau tidak menyukai caranya memperlakukanmu seperti rahasia...,"


"Kau..., mungkin benar." Jessica menunduk. "Aku mungkin sudah tergoyahkan."


"Jessica..., bagaimana denganku? Kupikir kau mau berusaha membuka hati untukku?"


"Aku sudah mengatakan sesuatu yang tidak mampu kulakukan, Jake. Maafkan aku."


Senyum Jake mengembang masam. "Aku tidak bisa melepaskanmu, Jesse. Aku tau kita memulai hubungan ini dengan simbiosis mutualisme. Kita saling mencuri keuntungan dari masing-masing. Aku merasa puas sudah membuat Ange terluka. Itu memang tujuanku awalnya.--


Kau mungkin tidak tau, tapi Ange menemuiku baru-baru ini. Kami bicara dan dia memintaku kembali padanya..., tapi aku tidak bisa melakukan itu, Jesse. Karena kupikir..., kupikir kau akan melakukan hal yang sama dengan Demian. Kau akan menolaknya demi aku."

__ADS_1


"Jake, apa kau mencintaiku?" pertanyaan Jessica menyentak Jake ke tahap ia ternganga dengan mata melebar terpana.


Jake terdiam tanpa suara.


"Jake...," ujar Jessica kembali. "Aku ingin tau, bagaimana pandanganmu terhadap aku? Apa kau..., ketika melihatku, merasakan cinta? Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?"


"Kau adalah wanita yang tepat, Jesse." Jake menghindari tanya itu. "Kau adalah pilihan terbaik yang sudah kubuat. Saudaraku menyukaimu, kau adalah tipe wanita yang mampu membuatku nyaman, kau menyenangkan. Aku bisa mencintaimu lebih baik, Jessica."


"..."


"Kita bisa menjadi lebih baik bersama. Kau hanya perlu memberiku kesempatan."


"Jake," ucap Jessica lagi. "Tanpa berbelit-belit, apa kau mencintaiku?"


"Belum..., tapi aku bisa..."


"Aku pikir itu jawaban yang cukup, Jake."


Jessica merasa iba pada Jake, jujur saja. Pria itu hanya membutuhkan seorang teman. Dia dilanda kesepian, dia patah hati dan membutuhkan seorang teman. Jessica memberikannya apa yang paling ia butuhkan, seorang kawan. Namun, salah penafsiran tidak bisa dihindari dalam hubungan yang rapuh ini.


"Aku sudah membuatmu salah paham atas intensiku malam itu," ujar Jessica. "Aku sudah membuatmu menginginkan hal lebih daripada seorang teman. Maafkan aku.--


Walaupun kau mempunyai niat terselubung dan ingin memanfaatkanku, aku percaya bila aku tetap pada batasanku, kau tidak akan sampai pada tahap ini, Jake. Hubungan pertemanan kita kusetujui karena aku ingin membantumu bangkit kembali. Aku tidak berniat melukaimu lagi."


"Ini bukan tentang Demian ataupun Angela, ini tentang kau dan aku. Aku ingin berbicara sebagai sahabatmu..." Jessica menatap Jake dengan binar sendu. "Hubungan kita dibangun pada landasan yang tidak kuat. Kita bahkan tidak mempunyai rasa terhadap satu sama lain. Aku--aku hanya memanfaatkanmu sebagaimana kau memanfaatkanku."


"Kau hanya ingin meminta maaf dan meninggalkanku," tukas Jake. Ia sudah menarik inti dari topik pembicaraan ini. Ia sudah mengerti kalau pada akhirnya, hasilnya hanya itu. Ia akan dicampakkan oleh Jessica.


"Aku mencintai Demian," Jessica mengaku dengan keseriusan. "Bahkan bila aku tidak memilih Demian, dan memilihmu. Hatiku tidak bisa berbohong. Aku menyukainya, sangat-sangat menyukainya. Aku--aku tidak mau membohongi diriku sendiri dan membuat pilihan yang akan berujung menyakitimu juga. Aku ingin jujur pada diriku sendiri, Jake."


"Dia tidak tepat untukmu, Jesse."


"Aku tau."


"Dia tidak mengerti dirimu."


"Itu..., aku tau."


"Dia egois dan hanya mengutamakan kemauannya sendiri, Jesse. Dia hanya akan menyakitimu."


Jessica mengangguk seraya tersenyum kaku. "Ada berbagai peluang yang dapat terjadi pada hubunganku dan Demian di masa depan, Jake. Kemungkinan, dia akan melakukan hal-hal yang sudah kau sebutkan. Dia akan melukaiku, mematahkan hatiku, mungkin dia akan meninggalkanku. Namun..."


Ucapan Jessica terjeda, ia menatap Jake dengan kesungguhan di matanya. Jessica berharap, kesungguhannya akan menyentuh hati Jake saat itu juga. Ia berharap Jake memahami keputusannya, mengikhlaskannya.


"Demian akan melukaiku, mematahkan hatiku, mungkin dia akan meninggalkanku. Namun..., aku tetap ingin bersamanya sampai waktu itu tiba. Aku ingin bersama Demian sebelum kehilangannya, aku ingin mencoba segala kemungkinan dan peluang yang dapat terjadi di antara kami, Jake.--

__ADS_1


Kami mungkin akan berbahagia, peluang itu juga kemungkinan ada. Karena itu, aku tidak mau menyesali apa pun yang belum kulakukan."


Jessica jujur di sana. Bahkan bila ia membuat kesalahan dalam keputusannya nanti, Jessica sudah bertekad ingin menjalani dan menghadapi kesalahan yang sudah ia pilih.


"..."


"Aku tidak mau meninggalkan, Demian." Dan itu adalah keputusan mutlak yang Jessica buat sekarang.


Jake berdiri dan menganggukkan kepala, "Kalau begitu, aku serahkan semuanya kembali padamu, Jesse. Aku harap kau tidak mempunyai penyesalan apa pun."


Jawaban Jessica saat itu seperti penutup dari segala upaya Jake untuk meyakinkan Jessica kalau Demian bukanlah pria yang tepat untuknya.


Gadis itu sudah sampai kepada keputusan bulat yang sudah tidak bisa diganggu-gugat.


Jake tidak bisa meyakinkan Jessica untuk menetap di sisinya, tidak ketika gadis itu terus menaruh hati pada Demian.


Jessica benar. Bahkan bila Jessica memilih Jake, hati Jessica tidak akan serta-merta berubah. Jake juga, dia bahkan belum mampu menghapus sosok Angela dalam mimpinya. Bila hubungan mereka diteruskan, pada akhirnya, mereka hanya akan menipu satu sama lain, saling menyalahkan dan berujung saling meninggalkan.


"Aku sangat berterima kasih kau sudah mau menjadi temanku, Jessica. Aku sangat mengapresiasi keberadaanmu selama ini." Jessica mengangguk dan tersenyum sayu.


"Aku juga..., aku harap kau menemukan orang yang bisa kau cintai dengan tulus ke depannya."


Setelah mereka berjabat tangan di sana, Jessica mengingat satu hal lagi sebelum Jake pergi.


"Aku tidak bisa menerima ini," adalah ucap Jessica terakhir kali, senyumnya merekah lega setelah mengembalikan hadiah yang diberikan Jake dan Janette untuknya.


Hadiah itu sangat berharga, pikir Jessica. Hadiah istimewa itu hanya berhak diterima oleh sosok yang benar-benar mengapresiasi mereka.


Sosok seperti Jessica--yang sudah memanfaatkan Jake untuk kepentingan pribadinya--sangat tidak layak menerima pemberian mahal itu.


Setelah pertemuan itu juga...


Jessica melenggang lamban di trotoar jalan. Ia menikmati pemandangan sore hari di area the strip yang tak pernah sepi dari turis. Jessica melalui para turis-turis yang berlalu-lalang di jalan sambil mendengarkan musik yang dimainkan musisi jalanan.


Perjalanan yang menentramkan itu mengantarkan Jessica ke hadapan air mancur Bellagio. Lampu-lampu mulai menyala di sana, menyajikan pemandangan jelita dari cahayanya yang menyeruak bersama atraksi air mancur yang menyita mata.


Sementara Jessica menikmati pemandangan indah itu, sekaleng kopi hangat tiba-tiba berlabuh di pipinya, mengejutkan sarafnya. Jessica spontan berkilah, dan ketika ia menoleh kepada sosok yang sudah mengejutkannya, Jessica menemukan Demian berdiri di sebelahnya.


Terima kasih kepada matahari yang mengambil waktu cukup lama untuk terbenam, cahaya jingganya di langit Vegas membuat surai kecokelatan Demian yang ikal dan berantakan menjadi keemasan di bawah cahaya matahari yang perlahan-lahan temaram.


Menawan.


Jessica terpukau dalam diam.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2