
Senyum Jessica mengembang tipis ketika Ethan menyapanya. Jessica tidak merasa antusias hari ini. Suasana hatinya memburuk dan semua itu terjadi karena pria yang sekarang berada di kamarnya. Jessica berharap pria itu akan segera pergi. Setidaknya, setelah ia menyelesaikan sarapannya, Jessica berharap ia tidak bertemu dengan Demian lagi.
Pria itu bisa mencari tempat lain untuk bersembunyi dari apa pun itu yang mengincarnya. Jessica tidak mau terlibat pada konflik yang tidak melibatkannya sama sekali. Terlebih ketika konflik itu adalah konflik Demian. Jessica masih bergidik ngeri ketika ia mengingat kembali pemandangan Demian yang memukul seseorang di gang sempit malam itu.
"Jesse, apa kau baik-baik saja?" Ethan menegur Jessica mengingat gadis itu belum menyantap waffle-nya sama sekali.
"Oh?"
"Aku tau ini bukan tempatku untuk ikut campur, tetapi..., bila kau mempunyai sesuatu yang membebani pikiranmu, kau bisa berbagi cerita padaku atau pada Dania. Jangan menampung masalahmu sendirian."
"Aww, apa kau mencemaskanku, Ethan?" Jessica menyetir kecemasan Ethan menjadi candaan. "Apa kau malaikat sungguhan?"
"Berhenti menggodaku dan santap sarapanmu." Sementara Ethan berbalik meninggalkan Jessica. Dentingan lonceng menandakan pelanggan masuk menarik perhatian Jessica. Ia menoleh ke arah pintu dan menemukan seorang pria berdiri garang di sana, dia--daripada terlihat seperti tamu reguler di Elixir, lebih terlihat seperti gangster.
Rambut pirang platina panjang, kemeja satin bermotif dengan tiga kancing terbuka, tatto di dada hingga lehernya, tindik di kiri dan kanan telinga, sepatu boots tentara.
Sebagaimana pekerjaannya, Dania menyapa si pria garang dengan tubuh tinggi yang menyeramkan. Selama Dania dan pria asing itu bertukar kata, Jessica tidak menurunkan perhatiannya sama sekali. Jessica takut sesuatu akan terjadi pada Dania, jadi ia meningkatkan kewaspadaannya.
Tak berselang lama setelah bertukar kata dengan pria itu, Dania melenggang tergesa menuju Jessica.
"Ada apa, Dan?" Sebelum Dania bicara, Jessica sudah menyerobotnya duluan.
"Bos..., umm, pria itu..., dia datang untuk mencarimu."
"Hah?"
"Katanya kau ingin menginstalasi kunci baru untuk pintu balkonmu."
"..." Ini pasti ulah Demian. Si bajingan itu, apa yang dia lakukan? Mengapa ia mengundang pria sebesar beruang itu ke Elixir? Apa dia berniat menakuti reguler di sini?!
"Bos, apa kau benar-benar memanggilnya?" Dania masih sulit percaya. Mustahil tukang kunci datang kemari dengan penampilan seperti itu.
"Aku baru ingat, aku memang membutuhkan kunci baru," kata Jessica akhirnya. Ia turun dari bangkunya dan menepuk lengan Dania pelan. "Aku akan menemuinya, jangan cemas."
"Ugh, kalau begitu...," Dania tidak mampu berkomentar apa-apa. Ia hanya menatap punggung Jessica dengan kekhawatiran.
*
"Apa kau Jessica Cerise?" pria asing dengan piercing yang bergemerincing tersebut menyapa Jessica.
Saat itu, Jessica merasa pria itu bisa membuka toko perhiasan hanya dengan aksesoris yang menempel di badannya. Heck, apa dia toko emas berjalan? Tunggu, apa itu emas sungguhan? Harganya mungkin mahal.
"Jika benar, apa yang membawamu kemari?"
Meskipun pria yang berada di hadapan Jessica sekarang cukup menakutkan, segala ketakutan Jessica menyurut ke jempol kaki. Sekarang, Jessica hanya merasakan jengkel luar biasa. Ia tidak suka bila seseorang menginvasi ruang bisnisnya.
__ADS_1
"Aku Adam," ujar pria itu. "Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku bisa meremukkan wajah aroganmu itu dengan telapak tanganku."
"Haruskah aku memanggil polisi sekarang?"
"..." Adam cukup pandai menyembunyikan ekspresinya. Namun, pupilnya yang membesar cukup membuat Jessica menyadari kalau pria itu terperangah atas balasannya.
"Kau..., apa kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan barusan?"
"Kau mengancamku barusan. Bukankah hal wajar bagiku untuk merasa tidak aman dan memanggil polisi sekarang. Anyway, jika kau datang kemari hanya untuk memuntahkan omong kosong, kau sebaiknya keluar dari sini. Penampilanmu...," Jessica menyorot Adam dengan pandangan menilai. "--cukup mengintimidasi."
"Jeez, aku tidak percaya Demian benar-benar berada di sini." Mau bagaimanapun Adam melihatnya, tempat ini ditambah gadis yang berada di depannya, sangat asing untuk seorang Demian. Darimana pria itu menemukan ide untuk bersembunyi di cafe yang beraroma seperti keluarga berbahagia ini?
"Mr. Adam, sepertinya kau yang tidak mendengarkan ucapanku. Apa tujuanmu kemari?"
"Sabar sedikit, keparat." Adam menyerah. "Biarkan aku beradaptasi dengan ruangan menjijikkan ini."
"Itu dia, aku akan melaporkanmu ke polisi sekarang." Jessica meraih ponselnya dan menghubungi 911 segera. Adam seketika bangkit dari ponselnya, mata melebar kesal.
"Baiklah, baiklah! Aku akan mengatakan tujuanku! Wanita macam apa yang tidak tau sabar sepertimu!"
Jessica mengendikkan bahu. Ia mengakhiri panggilannya dan kembali menghadapi Adam dengan kesabaran yang tersisa seujung jari. "Aku hanya mengatur prioritasku."
Meskipun pria yang berada di hadapannya sekarang berpenampilan layaknya gangster yang memang bisa meremukkan tulang-tulangnya, Jessica merasa ia mampu memenangkan pembicaraan itu karena Demian adalah tawanannya sekarang.
"Kalau begitu, akan kukatakan langsung. Aku datang kemari untuk mengantar titipan Demian." Dua buah tas besar disorong ke dekat kaki Jessica.
"Apa ini?"
"Kau bisa menanyakannya langsung pada Demian. Aku hanya mengantar pesanannya."
"Aaah, jadi kau hanya kurir?" Jessica agak terpana. Untuk seorang kurir, penampilan pria itu sangat--ekstra?
"HAH? Apa maksudmu kurir? Aku adalah...tsk, lupakan." Adam hampir saja mengekspos identitasnya. "Pokoknya, karena Demian akan bersamamu sekarang, kusarankan kau memperlakukannya dengan istimewa."
'Apa-apaan?' keluh Jessica. Ia tidak berniat menampung Demian lama di kamarnya. Sore ini--, harapan Jessica, ia bisa mendepak Demian keluar dari kamarnya sore ini!
"Aku tidak tau apa hubunganmu dengan Demian. Kalau kau merasa kau bisa memperlakukannya lebih baik, bagaimana kalau kau saja yang menampungnya. Aku tidak mempunyai niat menggemukkan hama di kamarku!"
"Hama? Siapa yang kau sebut hama?"
"Aku percaya kita membicarakan orang yang sama." Jessica berdiri dari bangkunya. Ia sudah tidak memiliki minat meladeni Adam. Jadi, bahkan ketika pria itu melanjutkan ucapannya, Jessica berlalu dari sana seolah-olah ia tidak mendengarkan apa-apa.
Seolah-olah kata 'Dia adalah pria paling berbahaya di Vegas!' tidak tertangkap oleh indera pendengarannya sama sekali.
*
__ADS_1
"Seorang pria bernama Adam mengantar dua tas ini barusan." Jessica bicara sambil melabuhkan dua tas hitam ke atas sofa. Demian yang sekarang memakai kaos putih polos pemberiannya tadi pagi, menerima tas itu dengan helaan napas puas.
"Akhirnya, si bajingan itu ternyata berguna juga." Demian bicara pada dirinya sendiri.
"Demian?" panggil Jessica, untuk pertama kalinya, ia melafalkan nama pria itu dengan suara keras. Rasanya sangat asing dan tidak nyaman. "Kau tidak benar-benar berniat menjadikan rumahku posko bencanamu, kan?"
"Huh?" Demian menatap Jessica. Konfrontasi pengusirannya sudah tiba.
"Aku sudah berbaik hati padamu hari ini, tapi..., aku tidak bisa menoleransi keberadaanmu lebih lama lagi. Jika kau memaksakan dirimu menetap di sini, aku akan sungguh-sungguh memanggil polisi ke sini."
"Apa tidak ada jalan lain agar kita bisa mencapai kesepakatan bersama?" Demian kembali membuka negosiasi.
"Aku akan sangat berterima kasih bila kau pergi sore ini."
"Aku tidak bisa pergi," ujar Demian kembali. Kali ini lebih serius daripada tadi pagi. "Jika aku keluar, aku akan mati."
"Menyembunyikanmu di sini lebih berbahaya bagiku juga, bukan? Lagipula, kalau ancaman yang mengikutimu begitu menakutkan. Kau seharusnya pergi ke kantor polisi, bukan di sini."
"Masalahnya..."
"Ya?"
"Pihak yang mengejarku semalam adalah polisi."
Sialan, apa Demian benar-benar seorang kriminal? Apa ini berarti pria itu buronan? Apa yang dia lakukan sampai--
"Sebelum kau berfantasi terlalu jauh, biarkan kujelaskan sedikit. Keluargaku, memanfaatkan kepolisian untuk menemukanku, begitu? Aku bukan buronan atau apa pun. Aku hanya..., sedang melarikan diri dari rumah?"
"Apa kau bocah?" Jessica akan percaya bila Demian adalah remaja. Sayangnya, pria itu sudah sangat dewasa. Untuk apa orang tuanya mencari-cari dia kesana-kemari, terlebih menggunakan polisi? Sehebat apa keluarganya..., ah?
Pria berbahaya di Vegas? Apa itu arti ucapan Adam barusan? Apa Demian..., mafia?
"Tsk..., aku menyesal sudah menjelaskan situasiku padamu. Kau sepertinya membangun spekulasi yang lebih liar di kepalamu."
"Kau tidak berharap aku akan mendengar omonganmu dengan senyuman dan anggukan, kan?" Jessica melawan. "Wajar bila aku tidak mempercayaimu. Lagipula, kalau kau memang sedang dicari, kau sebaiknya pulang saja."
"Aku dicari semata-mata agar bisa disingkirkan, apa kau tidak mengerti?"
"..."
Disingkirkan, kah?
Ah, jika itu..., Jessica rasanya sangat mengerti. Karena, bagaimanapun, situasi itu sangat familiar baginya. Sangat dekat dengannya.
*
__ADS_1