MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
117. Demam.


__ADS_3

Lisa memasuki kamar Jessica. Seperti biasa, di jam sepuluh pagi, ia akan membawakan Jessica senampan cemilan ringan. Disaat-saat seperti itu juga, Lisa akan mengambil waktunya untuk mengamati kondisi Jessica yang sudah terkurung untuk ke-lima harinya di Rhoden manor.


Tidak seperti kemarin-kemarin, ketika Jessica nampak terpuruk dan sangat penuh permusuhan, Jessica yang hadir di depan Lisa hari ini nampak sayu. Wajah jelitanya yang selalu penuh energi memucat pasi. Ia juga memakai pakaian yang lebih tebal dan bersin sesekali. Melihat kondisi Jessica, hanya ada satu kesimpulan yang muncul di benak Lisa.


"Miss. Jessica, apa kau sakit?" Nada suara Lisa menyiratkan kecemasan.


"Apa pedulimu?" Sahutan Jessica berbisa. Namun, itu tidak cukup untuk membuat Lisa terpukul mundur.


Meskipun Jessica kentara sekali membencinya, Lisa tetap bergerak maju dan mengecek suhu tubuh Jessica yang oh Tuhan, sangat panas di telapak tangannya.


"Miss. Jessica, bagaimana bisa ini terjadi?" Lisa menjadi panik. "Aku akan memanggil dokter, beristirahatlah di tempat tidur dan jangan..."


"Jangan mengaturku," tukas Jessica. Kendati demamnya tinggi luar biasa, Jessica melenggang menuju balkon dan duduk di luar sana. "Aku tidak peduli bila aku mati di sini. Itu lebih baik daripada harus hidup dan terpuruk."


"Miss. Jessica, jangan mengatakan sesuatu seperti itu. Kumohon, sekarang kembalilah ke dalam."


"Apa kau akan menyeretku sekarang? Apa mengurungku saja tidak cukup? Kalau kau mau memaksaku, Lisa..., kusarankan kau membawa rantai sekalian. Jangan perlakukan aku seperti manusia lagi. Hanya binatang peliharaan yang tidak mempunyai kebebasan mereka sama sekali."


Wajah Lisa meredup terpana. Ia takut kondisi Jessica semakin buruk. Namun, mendengar ucapan Jessica juga, Lisa tidak tau harus bagaimana agar ia bisa membawa Jessica masuk ke kamar. Lisa tidak mau merebut kebebasan Jessica, sebenarnya. Tapi, ini adalah perintah dari atas. Lisa tidak berniat menyakiti Jessica dan memperlakukannya seperti binatang. Demi Tuhan!


"Tinggalkan aku sendirian," ujar Jessica. "Kalau kau menggangguku, kau mungkin akan benar-benar menjadi saksi dari kematianku nanti."


"MISS. JESSICA!" Lisa berseru tanpa bisa menahan suaranya. "Kumohon berhenti mengatakan hal-hal yang mengerikan seperti itu! Kau tidak akan mati! Kau tidak boleh mati!"


"Kenapa?" Jessica tertawa samar. "Apa kalau aku mati, kau akan ikut mati juga?"


"Miss. Jessica, please..., aku akan menghubungi tuan Demian. Aku tidak akan membiarkanmu mati atau apa pun."


"Kau tidak perlu menghubunginya," sergah Jessica. "Aku tidak mau melihat wajah si keparat itu di sini."


"Maafkan aku, Miss. Walaupun aku tau hubungan kalian sedang tidak baik, tapi aku tidak bisa membiarkanmu menderita sendirian. Kau sedang sakit, kau butuh perawatan. Aku harus memberitahu tuan Demian mengenai kondisimu."


Mendengar penuturan Lisa, Jessica hanya memejamkan mata. Ia tidak peduli pada ucapan Lisa, tidak ketika sekarang kepalanya pening luar biasa.


Kekuatan angin malam memang luar biasa. Jessica sama sekali tidak menduga, membiarkan pintu balkonnya tidak tertutup semalam saja cukup untuk membuatnya diserang demam dan flu berat. 


Jessica berterima kasih pada angin musim gugur yang sudah membantu ia dalam menjalankan rencananya. Hanya saja..., sialan, Jessica berharap ia tidak akan benar-benar mati karena flu yang memberatkan kepalanya saat ini.


Jessica tidak sungguh-sungguh ingin mati. Ia tidak begitu dramatis atau melankolis untuk mengharapkan kematian.


Jessica mungkin patah hati tapi..., tidak. Itu tidak cukup untuk membuatnya menginginkan kematian. Ia belum membuat Demian menderita karena sudah melukainya dan tidak mempercayainya. Jessica belum memberikan pria itu pelajaran karena sudah berani memperlakukannya seperti ini.


Sebelum Demian memperoleh karmanya, Jessica tidak akan membiarkan dirinya mati.


"Haaaatchii!" Jessica bersin kembali, udara dingin di balkon itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Pandangannya terhadap pohon-pohon yang terbentang di dekat balkon kamarnya mulai membayang. Seperti melihat dari dinding kaca kamar mandi yang tertutup uap, semuanya samar dan oh sial...


"MISS. JESSICA???"


...*...


Jessica kehilangan kesadarannya.


Berkat informasi yang Demian terima dari Lisa, Demian yang seharusnya menghadiri meeting keluarga, meninggalkan segala urusannya dan mendatangi Rhoden manor untuk mengecek kondisi Jessica langsung. Tanpa mengatakan apa-apa dan menyapa siapa-siapa, Demian bergegas menuju kamar Jessica di lantai tiga. 


Demian melewati Lisa dan Robin yang berdiri di depan pintu kamar Jessica. Ia terus masuk melewati pintu dan setibanya di kamar bernuansa kuning itu, Demian akhirnya menemukan nyawanya, Jessica-nya, tengah terlelap di tempat tidur dengan seorang dokter wanita mengecek kondisinya.


"Apa yang terjadi padanya?" Demian bertanya dengan suara rendah dan lemah. Ia merasa lemas melihat Jessica-nya berwajah pucat. Lingkar hitam samar-samar terlukis di bawah mata Jessica, diikuti dengan wajahnya yang menirus kurus.


"Hanya demam dan flu biasa, diikuti oleh anemia dan kelelahan. Aku sudah memberikannya vitamin dan obat demam. Untuk sementara, biarkan dia beristirahat."


"Kau yakin hanya itu?" Mengapa Jessica-nya nampak begitu sayu? Bahkan bila ia demam, apa itu memungkinkan untuk membuatnya ringkih dan rapuh?


"Tenang saja, tuan Demian. Ini hanya penyakit ringan. Dia akan sembuh setelah mengonsumsi obat dan memperoleh istirahat yang cukup."


Setelah mengutarakan kata-kata yang bermaksud sebagai penenang untuk Demian, si dokter yang sudah mengabdikan jasanya kepada keluarga Rhoden tersebut akhirnya beranjak dari sisi Jessica.

__ADS_1


Wanita itu memberikan ruang untuk Demian habiskan bersama kekasihnya yang sekarang terlelap dalam balutan selimut tebal dan syal. Dia terbungkus hangat, tapi pucat kulitnya seperti dia berada di atlantik.


"Maafkan aku," Demian berbisik sendu. Ia menenggelamkan wajahnya di lengan Jessica sementara perasaan bersalah mulai menguasai dadanya, menghantuinya.


Demian tidak tau apa yang harus ia lakukan, karena itu ia menunda dirinya untuk bertemu Jessica. Menunda dan menunda, dan tanpa sadar, ia berujung mengabaikan Jessica. Ia telah mengurung Jessica di tempat ini, membuatnya depresi. Demian sama sekali tidak menginginkan ini.


"Maafkan aku." Pada akhirnya, di hadapan Jessica, Demian hanya bisa meminta maaf.


Tiga jam lewat beberapa menit kemudian, barulah Jessica menemukan kesadarannya kembali. Sedikit demi sedikit. Ia yang terbaring lunglai di tempat tidur, berusaha membuka matanya. Berusaha mengintip cahaya dari luar yang menyilaukannya. Sembari berupaya membuka mata juga, Jessica berusaha bergerak dan meregangkan tubuhnya. Namun, tebal selimut yang membungkusnya membuat ia kesulitan bergerak.


"Ergh..."


Erangan akhirnya lolos dari bibir Jessica, berpadu-padan dengan helaan napasnya yang berat dan gusar.


Apa-apaan? Siapa yang sudah membungkusnya seperti mumi?


"Jesse..." sebuah suara familiar menyapa kuping Jessica, samar-samar.


"Jesse, bagaimana perasaanmu sekarang?" Ucapan itu kembali datang, disertai dengan sentuhan ringan di pipi dan keningnya. Jessica yang sedikit demi sedikit berhasil mengumpulkan kesadarannya pun membuka mata, menatap cahaya yang menyilaukan netranya sebelum melihat kepada pria yang sekarang menggenggam tangannya.


"Demy?" suara Jessica serak. "Apa aku berhalusinasi?"


"Ini aku, Jesse." Demian berujar sambil mengusap kening Jessica, lembut sentuhannya membuat Jessica mengernyit tak suka.


"Keparat..., apa yang kau lakukan di sini?" Bukannya memperoleh sambutan hangat, tepat ketika Jessica berhasil mengonfirmasi keberadaan Demian di sana benar-benar nyata, bukan ilusi yang diciptakan sakit kepalanya, Jessica malah dilanda kekesalan. Demian ditatapnya garang.


"Kau seharusnya mengabaikanku sampai kiamat," ketus Jessica kembali.


"Aku tau kau marah padaku, tapi jangan banyak bergerak dulu. Beristirahatlah. Jangan buang energimu untuk memakiku." Demian berujar sambil mengusap surai hitam Jessica yang lebat dan jatuh berantakan di bantal satin itu.


"Kenapa kau datang?" Jessica menuruti perintah Demian, mau tidak mau. Ia tidak bisa bangkit, tidak dengan kepalanya yang masih sakit. "Asal tau saja, meskipun aku sampai mati di sini, aku tidak akan mengikuti kemauanmu sama sekali."


"Aku tau."


"Bukan hanya karena aku membenci latar belakangmu, tapi..., aku juga membencimu yang tidak mempercayaiku. Aku kecewa padamu."


"Aku tau."


"Aku tau."


"Aku mau pulang."


"Aku tau."


"Apa kau tidak punya tanggapan lain daripada itu?" Diberikan jawaban yang sama berulang-ulang membuat Jessica jengkel juga. Seolah-olah Demian tidak serius dalam menanggapinya, tidak peduli.


Jessica membuka matanya sekali lagi dan menemukan raut teduh Demian masih setia menatap ke arahnya. Masih setia memasang telinga dan mendengarkan racauannya.


"Aku mengerti maksud ucapanmu, Jessica. Aku paham kalau kau membenciku dan mengharapkan aku mati..."


"Aku tidak seekstrim itu," ralat Jessica seketika. Kenapa Demian senang sekali berasumsi sesuka hatinya?


"Jadi, apa itu artinya kau tidak mau aku mati?"


"Jika ada hal yang kuinginkan sekarang, maka itu adalah kembali ke Elixir." Jessica menimpali letih.


"Aku tau."


"Kau tau..., apa itu artinya kau akan membiarkanku pulang?"


Demian terdiam.


"Tidak, ya? Itu sudah pasti tidak, kan?" Jessica mendengus bosan. "Lupakan saja kalau begitu."


"Jesse..., aku tidak mau kau pergi." Demian tau ini bukan waktu yang tepat untuk bernegosiasi, terutama ketika kondisi Jessica sedang tidak baik. Namun, Demian tidak ingin Jessica pergi. Demian tidak akan pernah membiarkan gadis itu lolos dari genggamannya, meninggalkannya. Jessica adalah sosok yang sangat berarti bagi Demian, lebih berarti dari apa pun yang ia miliki sekarang.

__ADS_1


"Aku juga tau kau tidak mau pergi, kan?"


Persetan kalau mereka baru berhubungan empat bulan. Empat bulan ini Demian merasa sangat bahagia, lebih bahagia daripada seumur hidupnya. Empat bulan ini lebih dari cukup untuk Demian menarik kesimpulan kalau Jessica adalah sosok yang paling berharga baginya. Demian tidak mungkin akan membiarkan kebahagiaan itu lepas dari cengkeramannya.


"Belakangan ini..." Jessica menatap Demian dan menarik sejuntai surai ikal Demian yang berada di samping daun telinganya. Jessica menggulung rambut Demian di sela-sela jarinya, seperti cincin. "Aku banyak memikirkan Angela," lanjut Jessica. Nama yang tidak Demian duga akan keluar dari bibir Jessica membuat Demian agak melebarkan mata.


"Aku membencinya karena dia sudah meracuni minumanku tapi..., mengingat kembali hubungannya dengan Jake, aku pikir aku sedikit mengerti situasi yang Angela alami saat itu. Mungkin, karena itu juga, aku tidak pernah benar-benar menyalahkannya. Aku hanya tidak senang ia menjadi plin-plan karena berusaha kembali bersama Jake yang sudah dia buang."


"..."


"Angela tidak bisa mencintai latar belakang Jake, dan Jake..., malangnya untuk Jake, dia tidak bisa mengubah latar belakangnya sama sekali."


Demian sedikit mengerti arah pembicaraan Jessica. Kemungkinan gadis itu sedang menganggap dirinya dan Angela berada di posisi yang sama, dan itu tidak benar-benar salah juga.


"Kau pasti merasa hubungan kita dengan mereka agak sama, kan?" Jessica terkekeh miris.


"Jesse..."


"Aku tidak akan mengubah pendapatku, Demian. Orang yang aku cintai adalah Demian Bellamy yang melarikan diri dari Italy, aku menyukaimu karena kau memilih kehidupan normal di Vegas, kau memilih kehidupan yang baik."


"..."


"Meskipun kau mengatakan semua pilihan yang kau buat itu untukku, tapi..., aku tidak menginginkan apa pun darimu kalau itu berarti kau harus mengorbankan dirimu sendiri."


Jessica menghela napas.


"Aku tidak mau menjadi orang yang akan kau salahkan ketika kau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan."


"Aku tidak akan pernah melakukan itu, Jessica. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu."


"Kau tidak tau," Jari Jessica yang bermain dengan surai ikal Demian berpindah ke kening tebal pria itu. Ia memberikan usapan ringan di kening Demian, memberikannya ketenangan.


"Ketika kau membuat keputusan demi orang lain, kau hanya akan berujung membenci orang lain itu. Ketika kau terkena sial, ketika kau marah..., kau akan menyalahkanku yang sudah membuatmu memilih keputusan itu."


"Haaaa, lupakan sejenak masalah itu...," Senyum Jessica kemudian merekah samar. "Setelah kupikirkan kembali, walaupun jendela kamarku menghadap pantai dan aku puas berkeliling Italy bersamamu hari itu..., aku belum pernah ke pantai sama sekali."


Pergantian topik Jessica yang terkesan tiba-tiba membuat Demian mengerutkan keningnya heran.


"Apa kau ingin pergi ke pantai?"


"Kurasa..., aku jengah dikurung di sini seperti ayam."


"Aku akan membawamu ke pantai ketika kau baikan..., untuk sekarang, beristirahatlah."


"Aku ingin pergi sekarang..."


"Huh?"


Jessica menatap Demian tepat di mata. "Aku kesulitan bernapas di sini, Demy. Sebentar saja..., setelah membawaku ke pantai..., kau boleh mengurungku satu minggu lagi, hanya..., biarkan aku bernapas sebentar. Aku tidak akan membencimu hari ini, aku serius. Aku akan menunda marahku sampai besok."


Demian membantu Jessica yang hendak bangkit dari posisi rebahannya. Ia menangkup pipi Jessica dan merasakan panas samar masih melekat di kulit pucat gadis itu. Keluar ke pantai sekarang bukanlah pilihan yang tepat dan benar. Namun, mendengar suara lesu Jessica yang menyiratkan luka, Demian melunak dalam iba.


"Sekali ini saja..." gumam Jessica. "Kupikir aku akan lebih baik kalau aku bisa menapakkan kakiku di pasir dan oh..., aku juga ingin merasakan angin laut."


"Apa kau yakin kau sanggup?"


Jessica mengangguk dengan keantusiasan samar. "Mm...," gumam Jessica. "Aku akan bersiap-siap."


Demian tidak tau apakah yang ia lakukan sekarang adalah kebenaran, tapi melihat Jessica tersenyum antusias dalam keputusannya membuat Demian merasa begitu lega. Setidaknya, pikir Demian, ia bisa melihat Jessica tersenyum riang ke arahnya. Itu lebih baik daripada ditatap penuh kebencian.


"Aku sudah siap...," ujar Jessica. Ia memakai sebuah mantel cokelat tebal di balik sweater rajut berwarna cream yang ia kenakan. Melihat penampilan Jessica, senyum Demian merekah juga.


"Apa wajar untuk tampil semenggemaskan itu?"


"Jangan mempertanyakan yang tidak perlu," ujar Jessica, pipinya memerah. "Aku selalu menggemaskan."

__ADS_1


"Benar juga." Demian menghampiri Jessica dan menarik gadis itu dalam rangkulannya. "Kau memang menggemaskan."


...***...


__ADS_2