MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
99. Penolakan.


__ADS_3

Jessica terbangun dari tidur panjangnya dengan rasa sakit yang luar biasa menikam kepala. Tangannya seketika naik dan memijit pelipisnya, meredakan serangan ngilu yang membuat napasnya memburu.


Jessica--tanpa benar-benar sadar pada situasinya--memaksakan diri membuka mata. Ia mencoba menenangkan dirinya, mengatur napasnya. Air mata mengalir di pipinya, tumpah begitu saja akibat sakit yang mendera otaknya.


Butuh waktu beberapa lama sebelum rasa sakit itu mereda, dan begitu ngilu di kepalanya perlahan-lahan memudar, kesadaran Jessica pun semakin tebal. Ia semakin sadar pada situasinya sekarang.


Jessica sadar bahwa, alih-alih di kamarnya, ia berada di sebuah kamar asing. Kamar itu mirip dengan kamar hotel. Tidak, ini mungkin memang kamar hotel.


Hanya saja..., mengapa dia di sini? Seingat Jessica ia bertemu Angela tadi dan...


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Seperti kejutan, suara seorang pria di sebelahnya membuat Jessica terperangah. Jessica refleks saja menoleh ke sumber suara. Jessica, dalam keterkejutannya, semakin terkejut begitu melihat Erthian berada di sampingnya. Bersandar di kepala ranjang dengan bertelanjang dada.


"Ka-kau..." Jessica terbata-bata. Ia merasa tersekat di kerongkongannya. Kebingungan melanda benaknya, berbaur dengan sejuta pertanyaan yang mekar di benaknya dengan liar. Pertanyaan yang tidak menemukan jawaban. Tidak terjelaskan.


Seakan tak cukup dengan keterkejutan itu pula, Jessica kembali dilanda syok begitu ia menyadari kondisi dirinya sendiri.


Jessica..., di sebelah Erthian, tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Hanya selapis selimut yang melindunginya dari dingin suhu ruang. Jessica benar-benar tak memakai apa pun di balik selimutnya.


"A-apa yang terjadi?" tubuh Jessica meremang seketika.


Berbagai asumsi bermunculan di benak Jessica, berbaur dengan ketakutan dan perasaan menjijikkan.


Apa yang sudah Erthian lakukan padanya? Mengapa dia berada di tempat ini tanpa busana?


Jessica mencoba menemukan alasan rasional dari situasi tak masuk akal ini. Namun..., Jessica tak menemukan apa pun.


Mengapa ia di sini saja Jessica masih tak mengetahui alasannya. Apa Angela dan Erthian bekerja sama? Apa yang mereka inginkan dan apa yang sudah mereka lakukan? Kepala Jessica berdenyut sakit akan pemikiran-pemikiran yang mengerikan.


"Kau sepertinya begitu syok." Erthian berujar sambil menyibak surai hitam Jessica yang jatuh berantakan di sisi wajahnya. Ia menyibak helai demi helai rambut Jessica dan menyelipkannya ke balik daun telinga. "Apa yang kau pikirkan sampai kau gemetaran?"


"..."


"Ah, apa karena ruangannya dingin?"


"Erthian Bellamy..." Jessica--dengan mata yang mulai berkaca-kaca--menoleh kembali pada si sulung Bellamy tersebut.


"Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Suara Jessica menajam kejam. Erthian bisa mati di bawah tatapannya yang berapi-api.


"Tidakkah kau merasa pertanyaanmu agak kejam?" Erthian menyeringai. "Padahal kita sudah bersenang-senang."


"..."


"Kau dan aku...," Erthian mencondongkan tubuhnya ke hadapan wajah Jessica, kepada sepasang emerald yang kini memerah dan tergenang oleh air mata.


Jessica terlihat begitu waspada, dan disaat bersamaan, begitu terluka.


"Apa kau lupa semuanya, Jesse?" Erthian berbisik sambil melabuhkan hidungnya di rahang Jessica. Ia mengendus lembut aroma tubuh gadis itu sebelum tertawa.


"Me-menjauh!" Jessica segera menarik dirinya mundur. Selimut yang hanya melindungi tubuhnya sebatas dada, ia tarik semakin tinggi hingga leher.


Jessica tidak mau mengekspos dirinya sedikit saja ke hadapan Erthian yang kini memindainya dengan mata yang menggoda. Mata iblis itu..., Jessica ingin menikamnya.


"Ini tidak benar..." Jessica mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku tidak melakukan apa pun. Kau berbohong."


Ucapan Erthian tidak mungkin mengandung kebenaran. Pria itu pasti sengaja berbohong untuk menyakitinya. Dia adalah iblis, tidak ada ucapannya yang benar. Dia..., pokoknya ini tidak mungkin!


"Aku lihat kau berusaha menyangkal apa pun yang sudah kukatakan..." Erthian turun dari tempat tidur hanya menggunakan sebuah boxer. "Itu masuk akal karena kita sudah melewatkannya ketika kau terlelap lemah."


"Tidak..."


"Kau bahkan tidak sadar berapa kali aku melakukannya. Ah..., haruskah aku mempraktikkannya ulang, mumpung kau sudah sadar sekarang?"


"Jangan bicara omong kosong! Kau pembohong!!!"


Seakan-akan tidak mendengar ucapan Jessica, Erthian lanjut bicara. "Aku sudah kehabisan pengaman, sih. Jika kita melakukannya lagi, maka itu agak berbahaya. Aku tidak mau menghamili kekasih adikku tercinta."


"Kau--"


HOEK!!!


Mendengarkan setiap untai kata keluar dari mulut Erthian, Jessica spontan memuntahkan isi perutnya di lantai. Pemikiran bahwa ia sudah berhubungan badan dengan Erthian membuatnya mual. Seisi perutnya seperti berputar dan meninju kerongkongannya untuk keluar.


Itu tidak benar. Jessica percaya pria itu hanya menipunya. Dia tidak akan bertindak sejauh itu.


"Pfffttt..." Erthian tertawa jenaka. Ia menatap Jessica yang kini mengelap sudut bibirnya.

__ADS_1


"Mengapa reaksimu semenyedihkan itu, Jessica? Apa pemikiran bercumbu denganku begitu menjijikkan bagimu?" Erthian mendekat, ia memanjat tempat tidur dan berhenti tepat di hadapan Jessica. "Padahal kau mendesah paling keras ketika aku melakukannya, berulang-ulang..., aaahh..., aku pikir aku masih bisa satu kali putaran lagi..., bag--"


Plakk!


Satu tamparan mendarat di wajah Erthian saat itu juga. Jessica menatapnya penuh kebencian yang kentara. "Kau adalah iblis, Erthian. Aku tidak mempercayaimu sedikit pun."


"Kau tidak bisa mempercayaiku, atau kau hanya tidak mau mempercayaiku. Dua hal itu sangat berbeda, Jessica." Erthian--mengabaikan fakta kalau dirinya barusan digampar oleh Jessica--memaksakan dirinya mendekati wajah pucat dan basah itu. "Kalau kau tidak bisa mempercayaiku, kau seharusnya tidak menunjukkan ekspresi ketakutan itu."


"..."


"Jauh di dasar hatimu, aku percaya..., kau sadar kalau aku jujur sekarang. Hahahahahaha."


"Biadab!!!"


"Aaaah,,, menggemaskan sekali." Erthian kembali bangkit dari posisinya semula dan memungut celananya di lantai. "Aku akan meminta Carlos mengantarkan pakaian baru untukmu. Aku tidak bisa memberikan pakaianmu sebelumnya karena aku tak sengaja merobeknya."


Jessica tidak mau mendengarkan Erthian lagi. Ia tidak tau harus melakukan apa, ia begitu takut terhadap situasi yang tidak ia ketahui. Ia tidak tau apa yang sudah terjadi, tak bisa mengingat apa pun yang sudah terlewat.


Jessica tidak mau mempercayai Erthian, tetapi..., bagaimana bisa ia berada di sini tanpa pakaian sama sekali? Pria itu juga mengatakan hal-hal menjijikkan di depan wajahnya.


Hieks!!!


Jessica berujung terisak di sana.


Jessica butuh Demian. Jessica begitu ketakutan.


Selesai memakai pakaiannya yang berserakan di lantai, Erthian kembali memandang ke arah Jessica. Seringai pria itu melebar jenaka.


Pemandangan itu begitu memuaskan inderanya. Ia bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Demian setelahnya. Kalau dia tau apa yang sudah terjadi pada Jessica..., Aaaah, adiknya tercinta itu pasti begitu marah, kan?


Sayangnya, apa yang bisa dia lakukan?


*


Tak berselang lama setelah kepergian Erthian, seorang pelayan wanita memasuki kamar tempat Jessica berada sekarang. Wanita itu membawakan Jessica pakaian ganti. Satu celana training dan hoodie berwarna abu-abu.


"Tuan Erthian menginginkan kau segera berganti pakaian. Katanya, tuan Demian akan menjemputmu setengah jam lagi."


Mendengar nama Demian di sebutkan, Jessica spontan mengangkat wajahnya. Matanya yang basah oleh air mata membuat tatapan pelayan itu melembut iba. "Bergantilah, aku harus segera membersihkan kamar ini."


Sadar kalau ia tidak bisa terus menangis di sana, Jessica memutuskan menarik pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Jessica memakai setelan pakaian itu dengan tubuh yang masih bergetar. Setiap gesekan benang di tubuhnya membuat ia meriang. Perasaan menjijikkan dan menakutkan belum memudar hilang.


Jessica--sambil menghindari jejak muntahannya--menapak di lantai tanpa alas kaki. Dingin lantai marmer menyetrum kulitnya, tapi seakan-akan mati rasa, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tidak hingga ia menginjak sesuatu yang licin dan lengket...


Itu...


Mata Jessica melebar penuh teror. Jantungnya yang berdegup normal, kembali berpacu dengan laju.


"Ti-tidak..." Jessica berujar susah-payah. Ia berusaha menyangkal apa yang sudah Erthian ucapkan padanya. Menyangkal hal yang sudah disaksikan matanya. Namun, sebuah pengaman bekas yang baru saja ia injak membuatnya merinding sampai ke otak. Jessica--untuk kesekian kalinya malam itu--menangis histeris.


Ia tidak ingin mempercayai Erthian. Pria itu sudah berbohong. Dia hanya mengatakan kebohongan.


Jessica tidak mungkin membiarkan dirinya berhubungan dengan iblis itu.


"Ini tidak mungkin terjadi." Seseorang, tolong katakan kalau semua ini hanya mimpi. Jessica lebih baik mati daripada menerima ucapan Erthian sebagai kebenaran. Pria itu...


"Aku mendengar seseorang menangis dari dalam," ujar seseorang.


Bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka, seorang wanita dalam balutan dress hitam menapak masuk di sana. "Maafkan aku yang sudah menerobos masuk. Aku takut sesuatu terjadi padamu dan membuat rencanaku...," wanita itu menyeret ucapannya sementara ia menatap situasi Jessica. "...gagal."


Jessica menatap ke arah wanita itu sebentar dan menyadari kalau wanita itu bukan pelayan sama sekali. Tidak dengan penampilannya yang menjeritkan kemewahan dan elegan.


"Jessica Cerise, bukan?" si wanita melenggang menghampiri Jessica. Ia--tanpa menunggu reaksi Jessica--menarik paksa lengan Jessica yang masih terduduk di lantai. Ia membawa Jessica duduk ke sofa dan memesan pelayan untuk membawakan secangkir teh hangat.


"Aku Hestia Bellamy," katanya. "Aku adalah bibi Demian."


"..."


Jessica menatap wanita itu dengan kegundahan. Ia tidak tau apakah wanita ini adalah iblis lain yang akan menghancurkannya.


"Melihat penampilanmu dan situasimu, sepertinya Erthian sudah melakukan sesuatu."


"Dia tidak melakukan apa pun." Jessica menyangkal cepat. Jessica--demi apa pun--tidak akan mempercayai apa yang sudah Erthian racaukan. Ketakutan Jessica yang membuncah terlahap oleh kemarahan.


"Untuk orang yang sudah tidak melakukan apa pun padamu, tidakkah reaksimu agak..., berlebihan?"

__ADS_1


"Dia memaksaku kemari, dia menculikku. Apa kau pikir aku akan berbahagia di sini?"


Hestia menjaga ekspresinya tetap tenang di sana. Ia tidak terprovokasi sama sekali oleh bentakan Jessica.


"Aku hanya ingin mengatakan ini, Jessica. Aku sangat mengenal keponakan-keponakanku. Aku tau kapasitas mereka dengan sangat baik. Aku tau kebiasaan mereka dan sangat tau..., kalau Erthian tidak akan berdiam diri begitu menangkapmu dalam genggamannya."


"..."


"Aku tidak akan menyalahkanmu atau menyudutkanmu di sini." Hestia menyilangkan kaki. "Sejauh aku mampu mengingat, ketika Demian memiliki kekasih, Erthian selalu mengambil kesempatan untuk merasakan kekasih Demian. Dalam arti lain...,"


"Dia tidak melakukan apa pun padaku! Bagian mana dari kalimat itu yang tidak kau mengerti?!!" Suara Jessica meninggi tak terkendali.


"Baiklah, jika itu pendapatmu."


"Itu bukan hanya pendapatku, si keparat itu memang tidak--" ucapan Jessica terhenti ketika Erthian masuk. Jessica spontan merasakan kengerian. Ia ketakutan.


"Apa yang kalian ributkan?" ujar Erthian, tanpa perasaan berdosa, ia menghampiri Jessica dan merangkul pundak gadis itu rapat ke dadanya. "Suaramu kedengaran sampai keluar," bisiknya pada Jessica, dan setelah itu juga, ia terdorong mundur oleh lengan Jessica.


"Menjauh dariku!" geram Jessica. Ia merasakan jijik yang berlipat-lipat ketika Erthian merangkulnya. Pria itu adalah keparat yang sudah mengacaukan isi kepalanya.


"Erthian, apa maumu kemari?" Hestia menunjukkan ekspresi tak senang pada keponakannya yang satu itu. "Aku sudah memintamu menunggu di lain."


"Aku ingin mengatakan kalau keponakanmu tercinta sudah sampai di lobby." Erthian lalu menoleh ke Jessica. "Pangeranmu sudah datang, hanya saja..., agak terlabat, kurasa."


"Erthian, cukup!" Hestia mempelototi keponakannya tersebut. "Tunggu kami di luar. Aku dan Jessica perlu bicara sebentar."


"Tsk, membosankan." Meninggalkan bibinya yang menatapnya nyalang, Erthian pun akhirnya kembali keluar.


Tidak baik melawan orang-tua seperti Hestia, pikir Erthian. Wanita itu sekarang datang atas perintah ayahnya.


"Hanya karena Kenan sudah berkhianat, mak lampir itu jadi naik tahta sebagai orang kepercayaan ayah. Menyebalkan."


Ketika Erthian telah keluar, Hestia lalu mendekati Jessica. Ia menenangkan Jessica yang nampak terguncang. Ekspresi Jessica penuh paranoia. Ujung jemarinya dingin seperti antartika, membeku dalam teror yang menakutkan.


"Duduklah sebentar, Jessica." Hestia menggenggam pergelangan tangan Jessica. Menyalurkan hangat tubuhnya kepada gadis muda itu.


Hestia merasa sedikit prihatin, sebenarnya. Namun, ia tidak bisa melakukan banyak. Tidak setelah ia datang terlambat. Jessica mungkin sudah merasakan langsung hitam dan menakutkannya seorang Erthian Bellamy.


Walau Hestia tidak tau kebenaran sesungguhnya, tapi melihat situasi Jessica dan kamar tempat wanita itu berada, Hestia sudah bisa membayangkan apa saja yang sudah keponakan laknatnya itu lakukan pada wanita malang ini.


"Tenangkan dirimu, Demian akan datang." ujar Hestia.


Benar, Demian akan datang. Satu-satunya orang tempat Jessica merasa aman adalah pria itu. Jessica butuh Demian sekarang.


"Jessica..., ketika Demian datang...," Hestia memunculkan corak aslinya. Niat terselubungnya. "Aku harap kau tidak mengatakan sesuatu yang bisa memicu amarahnya."


"Apa?"


"Kau tau, mengenai apa yang terjadi malam ini. Aku ingin kau tidak mengatakan apa pun."


"..."


Bingung, Jessica dilanda kebingungan.


"Apa maksudmu?" Jessica mendorong keramahan Hestia, ia tidak membutuhkan kehangatan palsu yang wanita itu berikan padanya.


"Apa yang Erthian lakukan, aku tidak ingin kau mengatakannya pada Demian."


"Apa yang sudah Erthian lakukan? Bukankah sudah kukatakan, dia tidak melakukan apa pun padaku!"


"Kalau kau merasa begitu, maka itu baik." Hestia menekan suaranya. "Hanya..., jangan mengatakan apa pun."


"..." Apa wanita ini waras? Bahkan bila Erthian memang melakukan sesuatu, bukan haknya atau posisinya untuk mengatur apa yang harus Jessica katakan!


"Aku mengatakan ini demi kebaikan semua orang." Hestia melanjutkan. "Jika Demian mengetahui sesuatu telah terjadi di antara kau dan Erthian, dia akan meninggalkanmu."


"Ha?"


"Setiap wanita yang pernah tidur bersama Erthian selalu berakhir dicampakkan oleh Demian. Mereka kehilangan nilai di matanya. Karena itu..., kalau kau masih mau bersamanya, kau sebaiknya tutup mulut."


"Aku tidak akan berbohong pada Demian," tukas Jessica. "Aku akan jujur padanya. Erthian..., bajingan keparat itu tidak melakukan apa pun padaku!"


Jessica percaya itu, tetapi...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2