
Pada akhirnya, Jessica tidak tidur sampai pagi.
Saat itu, Jessica ingin melarikan diri dan mencari pertolongan dari luar. Namun, entah mengapa..., sesuatu yang lain dari dalam dirinya berkata jangan. Seakan-akan keberadaan Demian tidak cukup menakutkan, mengapa ia merasa berat hati untuk melaporkan Demian ke polisi?
Apa karena pria itu tidak benar-benar melakukan kekerasan kepadanya? Apa ancaman verbal dan tingkah kasual pria itu membuat kewaspadaan Jessica turun? Jessica tidak tau sama sekali. Yang pasti, ketika matahari terbit, Jessica masih duduk di sofa. Mata tertuju kepada tempat tidurnya yang sekarang menampung pria asing yang dulu ia kagumi parasnya.
Demian Bellamy.
Rasanya seperti bermimpi. Tidak peduli berapa banyak penjelasan diulang di depan hidungnya, Jessica masih kesulitan merasionalkan situasi yang terjadi sekarang. Karena pria itu adalah Demian, karena Jessica adalah Jessica. Kehidupan mereka bagaikan garis paralel.
Mereka seharusnya tidak bernapas di dalam ruang yang sama, terlebih bila ruangan itu adalah kamar Jessica.
"Tsk!"
Lelah sendirian berpikir, Jessica memutuskan beranjak dari sofa. Ia memutuskan mandi sementara Demian tertidur. Ia perlu menyapa karyawannya jam delapan nanti, dan juga..., Jessica perlu bicara kembali dengan Demian. Untuk itu, ia perlu mempersiapkan dirinya dalam kondisi segar-bugar dan paling penting, waras.
*
Jessica keluar dari kamar mandi 15 menit kemudian. Ia tidak berniat lama-lama di kamar mandi lantaran keberadaan asing yang sedang menguasai kamarnya. Jessica takut bila Demian akan bangun dan melakukan sesuatu yang tidak ia ketahui sama sekali.
"Jangan mencemaskan aku. Situasiku aman untuk sementara waktu. Kau hanya perlu mengabariku mengenai perkembangannya. Juga..., jangan lupakan yang kupesan tadi..."
Saat Jessica keluar, Jessica menemukan Demian berbicara di telepon dengan seseorang yang hanya Tuhan dan Demian tau siapa. Jessica menatap punggung pria itu yang tak dibungkus baju. Kulit tan yang indah seperti madu dan otot-otot kekar yang mampu membuat wanita tersipu.
Ugh, meskipun pria itu adalah seorang kriminal yang sudah menginvasi ruang pribadinya, Jessica tidak bisa menutup mata kalau Demian mempunyai proporsi tubuh yang sempurna.
"Mmm, aku mengerti." Demian berbalik setelah ia mendengar suara langkah. Jessica, masih dalam jubah mandi, melenggang menuju lemari. Aroma lembut strawberry menguar di udara. Sudut bibir Demian tertarik miring tanpa sengaja. Itu pasti aroma shamponya.
"Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti."
Memutuskan panggilan teleponnya, Demian kembali mengantongi ponselnya di saku celana. "Hei, apa kau punya baju yang bisa dipakai?"
Jessica menoleh dengan delikan kejam. "Apa? Sekarang kau mau memakai dress-ku juga?"
"Tsk..., aku pikir kita sudah berdamai semalam. Kau masih cerewet dan menjengkelkan." Demian gerah. Ia bermandi keringat saat bermain petak-umpet dengan musuhnya di jalanan. Sekarang di sinilah dia sekarang--, di kamar Jessica yang masih menatapnya seperti menatap kuman--tanpa pakaian bersih yang bisa dipakai.
"Berdamai, dengkulku!" Jessica masih marah, asal tau saja.
"Kau tidak berniat merengut selamanya, bukan?" Demian bersilang lengan. Pergerakan kecil yang diciptakan Demian membuat otot di lengannya semakin kentara.
Jessica bersumpah, cepat atau lambat ia akan menyongkel biji matanya sendiri karena sudah memperhatikan hal lain.
"Maksudku, kalau kau masih takut padaku, kau tidak mungkin percaya diri keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi," tambah Demian.
__ADS_1
"Ini rumahku. Aku bebas memakai apa pun."
"Pfft...," Demian kembali tertawa. "Well, lupakan saja. Lagipula aku tidak membenci apa yang aku lihat sekarang."
"Hah?"
Demian mengendikkan bahu. Sepasang iris kelamnya kembali menyapu Jessica dari ujung kaki hingga kepala, dan saat itu juga, Demian tidak berdusta. Walau Jessica tidak mempunyai nilai tinggi di hatinya, Demian tidak akan menutup mata kalau tubuh pucat dengan lelehan air di kulitnya tersebut--sangat menarik minatnya. Dia pria normal, oke!
Jessica--tidak merasa nyaman berada di bawah tatapan Demian, segera mengambil pakaiannya dari lemari dan kembali menuju kamar mandi.
*
Sekitar sepuluh menitan mempersiapkan dirinya di dalam kamar kecil itu, Jessica akhirnya keluar. Ia sedikit berharap Demian akan menghilang dari kamarnya, tapi pria itu masih berada di sana. Berbaring di sofanya, masih bertelanjang dada.
"Ambil ini..." ujar Jessica, ia melempar sebuah kaos putih yang ia ambil dari dasar lemarinya ke wajah Demian. "Jangan menebar keringatmu di sofaku."
"Sangat tidak manis sama sekali." Demian merutuk sebal atas perlakuan Jessica. Jika saja wanita itu bukan tuan rumah tempatnya bersembunyi, ia mungkin akan membentak gadis itu sekarang.
"Aaaah!" Jessica tiba-tiba bertepuk tangan. "Kalau kau mau diperlakukan dengan manis, kau seharusnya tinggal bersama Angela. Bila kuingat-ingat kembali, bukankah dia sahabatmu. Meskipun dia sudah mempunyai pacar sekarang, kurasa dia tidak akan cukup kejam untuk menolak membantumu. Bagaimana menurutmu?"
Jessica baru menyadari ini. Demian bisa pergi ke tempat Angela. Pria itu tidak perlu bersarang di rumahnya dan mengganggu rutinitas tenangnya.
"Aku tidak mau merepotkan Angela," gumam Demian, suaranya melunak samar.
Demian mengangguk. "Kau berbeda. Karena kau sudah mengungkit Angela, aku akan mengungkit tindakanmu malam itu."
"..."
"Asal tau saja, aku tidak mempunyai toleransi tinggi pada orang yang gemar ikut campur dalam urusanku. Kau tau apa yang biasa kulakukan pada orang yang menguping pembicaraanku? Aku akan mencongkel telinga orang itu hingga ia tidak bisa mendengar sama sekali."
"Kau...," Jessica mengacungkan telunjuknya. Ia mendekati Demian yang duduk di sofa dan menatap pria itu dengan frustasi. "Kau mengancamku lagi!"
"Aku hanya sedikit bernostalgia." Demian menyambut telunjuk Jessica yang masih teracung di depan hidungnya. "Sekarang, bagaimana kalau kau sopan sedikit?"
"Kau tidak bisa berharap kesopanan ketika kau adalah tamu yang masuk tanpa izin. Kau kriminal."
Demian menghela napas. Ia menarik pergelangan tangan Jessica dan memaksa gadis itu agar duduk di sampingnya. Jessica menurut walau matanya berbinar waspada.
Sungguh lucu, seakan-akan dia mampu melindungi dirinya saja. Demian mau tertawa.
"Kau bersikap tegang seperti ini pertama kalinya kau membawa pria masuk kemari." Demian berusaha mencairkan ketegangan dengan menggoda Jessica, akan tetapi..., ekspresi tersinggung Jessica malah membuat Demian ternganga.
"Tidak..., bohong, kan?" Apa gadis itu benar-benar tidak pernah membawa pria masuk ke kamarnya?
__ADS_1
Ini Vegas, demi Tuhan. Rasanya sangat tidak wajar ketika ia menemukan seorang wanita yang tidak pernah membawa pria ke kamarnya. Terlebih lagi, Jessica bukan gadis yang berada di awal usia 20-nya. Dia setidaknya, sudah berada di usia 25 tahun ke atas.
"Apa yang kau bicarakan?" Jessica menghindari topik itu dengan berlagak ketus. Rona samar merayap di pipi dan daun telinganya. "Mau aku pernah membawa pria ke kamarku atau tidak, itu bukan urusanmu."
"Oke, then..." Demian menahan senyuman. "Kalau begitu, kau seharusnya baik-baik saja dengan aku menetap di kamarmu untuk sementara waktu."
"???"
Jessica sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Demian. Seingat Jessica, pria itu adalah pria arogan dengan sikap dingin yang menawan. Sekarang, kenapa dia jadi banyak bicara?
"Maksudku, kalau kau tidak nyaman dengan keberadaanku yang layaknya tamu tak diundang, seorang kriminal..., bagaimana kalau kau mengubah sudut pandangmu tentangku?"
"Apa?"
"Kau tau, aku bisa menjadi pacar yang kau bawa ke kamarmu, kalau kau mau?"
"PA-PACAR?" Ide tentang Demian yang menjadi pacarnya spontan membuat Jessica memekik terpana. Ia menarik tubuhnya mundur dan menabrak bahu sofa. "Kau bercanda, kan?"
"Aku rela memberikan service apa pun bila itu artinya kau mau menampungku." Demian mengangkat ujung jemari Jessica menuju bibirnya. Ia mengecup punggung tangan putih itu dan memberikan sedikit gigitan ringan di ujung telunjuk yang sempat teracung ke depan hidungnya.
Ia bergerak menggoda Jessica di sana, masih bertelanjang dada. Surai ikalnya sedikit berantakan dan menutupi keningnya. Dalam tatapan mata teduh yang menyiratkan hasrat terselubung, Demian meraih dagu Jessica, hendak memberikan kecupan di bibir merah muda yang terbuka tipis akibat terpana.
Saat itu juga...
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Demian. Jessica menatapnya dengan ketertegunan.
Jessica bukan penikmat kekerasan dan ia juga tidak pernah menampar pria sebelumnya. Menampar Demian, entah bagaimana, tidak memberikannya kepuasan. Jessica merasa sedikit bersalah, tapi ia tidak ingin merasa bersalah. Ia melakukan hal yang benar. Demian nyaris mencuri ciumannya.
"Jika kau berani-berani menyentuhku lagi, aku akan mengusirmu dari sini!" Jessica mengancam Demian sebelum berlari keluar dari kamar.
Demian mendecih.
Sepasang iris kelamnya menyorot ke arah pintu kamar Jessica sambil bertanya-tanya. Metode apa yang harus ia lakukan agar gadis itu tidak mengusirnya?
Pendekatan menggunakan ancaman tidak berhasil, dan menggunakan intimasi pun tidak mempan. Apa dia tidak cukup tampan sampai Jessica menolak keberadaannya?
Sialan, percuma saja Demian banyak bicara.
"Haruskah aku menggunakan metode itu saja?"
Satu solusi terakhir menggantung di benak Demian, pada akhirnya.
__ADS_1
*