MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
44. Ambigu.


__ADS_3

Ucapan Oscar Brown tertinggal di benak Jessica seperti lumut yang perlahan-lahan menggerogoti dinding bata, mengubahnya menjadi hijau dan kotor. Sama seperti lumut itu, ucapan Oscar sudah menguasai pikiran Jessica, mengotorinya.


Jessica tidak tau mengapa ia begitu terpaku pada cerita cinta Oscar, padahal Oscar bukan dirinya. Bukan orang yang mempunyai pengaruh juga di hidupnya.


Cerita cinta Oscar seharusnya tidak mempengaruhi Jessica yang jelas-jelas jomblo, tapi, anehnya cerita itu beresonansi. Seolah ia bercermin.


Jessica--entah bagaimana, tanpa bisa mengendalikan pikirannya sendiri, jadi membayangkan dirinya di posisi Oscar. Seorang pria yang jatuh cinta dengan rela memberikan segalanya, tapi berakhir nelangsa.


Jessica..., mengingat Demian dalam skenario itu pula. Demian yang hanya jatuh cinta pada Angela, tapi kerap menggodanya.


Betapa Jessica takut bila situasi itu akan terjadi pada dirinya sendiri.


Bagaimana bila sewaktu-waktu ia jatuh cinta pada Demian dan berujung hanya sebagai pelampiasan, sebuah selingan?


Sialan. Semua ini sangat asing bagi Jessica.


Fakta bahwa sekarang ia juga memikirkan kalau ia akan dibuat patah hati oleh Demian lebih aneh lagi. Mengapa Demian? Mengapa peluangnya untuk jatuh cinta hanya akan terjadi pada Demian? Padahal Jake Allendale berada di depannya sekarang. Oscar juga sering menyapanya, Ethan...


Ada banyak peluang untuk Jessica jatuh cinta, tapi mengapa setiap kali ia membuat skema di kepalanya menyangkut orang yang akan ia cintai, wajah Demian muncul dengan alami?


'Aku terlalu banyak menghabiskan waktuku dengan Demian.' pikir Jessica, ia mencoba merasionalkan ketidak-warasannya.


"Aku agak penasaran," Jake Allendale--setelah lama hanya duduk bungkam di sebelah Jessica, mata menatap kepada keramaian jalanan di bawah sana, akhirnya membuka suara. "Bagaimana kabar anakmu sekarang?" Maksud Jake adalah Elixir. Jake ingat kalau Jessica sempat bercerita jika Elixir adalah anaknya.


"Kenapa kau tiba-tiba penasaran?"


Jake mengendikkan bahu. Surai cokelatnya yang mencuat berantakan berayun ditiup angin . "Karena kau bengong beberapa kali, kupikir kau sedang dalam mood yang tidak baik. Antara bisnismu sedang berjalan tidak lancar, atau..., ada masalah lain...?"


"Elixir baik-baik saja," gumam Jessica. "Aku hanya..., kurasa, aku hanya memikirkan masalah yang bukan masalahku, tapi terasa seperti masalahku?" Jessica merasa Jake tidak akan mengerti maksud ucapannya.


"Jadi kau sedang memikirkan masalah orang lain, kau sangat pengertian."


Jessica menghela napas rendah. "Masalahnya, aku merasa cukup terhubung saja pada topik permasalahannya. Sangat terhubung ke tahap itu mengena di hatiku. Hanya saja, tidak seperti masalah orang itu yang sudah mencapai klimaksnya, problemaku baru ditahap awal."


"..."


"Aku takut aku akan mencapai titik yang sama dan berujung putus asa."


Jake menyimak tenang.


"Aku tau ini tolol untuk mencemaskan sesuatu yang belum terjadi, tapi aku tidak bisa mencegah hatiku untuk berhenti paranoid."


"Aku ingin mengatakan sesuatu untuk mendukungmu, tapi aku pun bukan pihak yang pantas untuk mengutarakan omong kosong itu."


Jake sendiri adalah pria yang tidak bijaksana dalam menyelesaikan masalahnya, dia adalah pengecut dan pengalah. Bagaimana mungkin, pria sepertinya, memberikan dukungan pada Jessica?


"Eeei, melihatmu dalam kondisi lebih baik sudah cukup bagiku." Jessica terkekeh.


Saat itu pun, ketika Jessica dan Jake duduk berdampingan di lantai dua sebuah cafe, duduk menghadap jendela kaca yang menyajikan pemandangan jalan raya, Jessica merasa sedikit bebannya terangkat ketika ia bicara.


Mungkin ini lah kelegaan yang Jake rasakan. Ketika isi hatinya tumpah kepada orang asing yang tidak akan mengkritiknya, dia merasakan ketentraman di dada.


"Aku membaik terima kasih padamu." Jake menyahut. "Beberapa minggu lalu, aku yang tidak mengenalmu berada dalam kondisi patah hati yang sangat memalukan. Aku merasa begitu remuk. Namun, setelah bertemu denganmu, kepingan-kepinganku kembali utuh. Aku sangat berterima kasih."


"Memikirkan kembali waktu-waktu itu, jujur saja, aku menjadi sangat penasaran pada alasan kau dan Angela berpisah. Maksudku, kalian dulu adalah pasangan yang sangat meramaikan cafeku. Kalian sudah seperti princess and prince charming."


Jake tersenyum atas analogi Jessica yang menggambarkannya sebagai prince charming.


Apa Jessica masih menaruh impresi yang sama terhadapnya? Jake bertanya-tanya.


Apa Jessica, masih menganggapnya layak pangeran yang menawan?

__ADS_1


"Aku mengerti hubungan bisa berakhir kapan saja, tapi..., seintens apa perpisahan kalian---akkk, maaf." Jessica terkesiap. Dia sudah terlalu asik bicara sampai ia melupakan kalau dia sudah kebablasan dalam menyuarakan keingintahuannya, padahal dia bukan siapa-siapa dan masalah Jake bukan masalahnya.


"Aku tidak bermaksud serius 'ingin tahu'. Itu hanya sesuatu yang kupikirkan secara dangkal. Maafkan aku."


Jake memperhatikan Jessica, senyum samar terukir di parasnya. "Tidak masalah, kok. Wajar bagimu untuk penasaran. Kau sendiri melihat langsung bagaimana meriahnya hubungan asmaraku dan Angela di hari-hari pertama. Wajar bagimu terkejut ketika kami yang menebar hubungan harmonis, berujung kandas dengan tragis."


"Yaaah..., aku tidak bisa membenarkan sesuatu hanya karena itu wajar. Ikut campur pada masalah orang lain bukan hal yang patut diwajarkan."


Obrolan di antara Jessica dan Jake kembali mereda setelah Jessica memberikan tanggapannya. Jake termenung sambil menyesap jus jeruknya. Jessica di sisi lain, asik memperhatikan turis-turis berlalu-lalang di jalanan Vegas. Penampilan mereka mengingatkan Jessica pada Oscar beberapa hari lalu. Seolah-olah mereka datang dari Honolulu.


"Jessica," Jake kembali bergumam.


"Hmm?"


"Apa kau dekat dengan Demian?"


"Huh?" pertanyaan Jake membuat Jessica menoleh.


"Aku tau aku sudah menanyakan ini, tapi..., sulit merasionalkan kedekatan kalian sebagai hubungan antara pelanggan dan owner cafe saja, kan? Terlebih ketika dia begitu nyaman di dekatmu. Kau juga..."


"Siapa nyaman dengan siapa?" Jessica menepis ucapan Jake seketika.


Penyangkalan berebutan keluar dari mulutnya, menciptakan kereta kata menerobos keluar dari kerongkongannya dengan laju. "Dia hanya bertingkah sesuka hatinya. Demian itu pria tidak berperasaan dan menjengkelkan, dia bertindak sewenang-wenang padaku, seolah-olah dia berhak melakukan itu."


Jessica menggebu-gebu.


"Aaah, jadi kalian memang dekat."


"Tidak dekat," tukas Jessica. "Mustahil kami dekat. Dia itu diktator gila, dan kau memang benar..., kami tidak hanya sebatas tamu reguler dan tuan rumah..., bagaimana, ya, cara menjelaskannya?"


Jessica tidak bisa seenak hatinya mengungkapkan rahasia kalau Demian kerap tinggal di rumahnya, itu hanya akan menciptakan kesalah-pahaman yang menjengkelkan.


"Apa..., pacar?"


Bagaimana bisa Jessica berpacaran dengan pria yang bahkan tidak menyukainya? Jessica juga, Jessica tidak tau perasaan seperti apa yang ia miliki terhadap Demian. Meskipun berhubungan ranjang terasa menyenangkan, tapi..., sialan!


Tidak, tidak. Lupakan!


"Kami rutin bertemu di cafe." kata Jessica akhirnya. "Awalnya, kedekatan kami hanya sebatas keramahan profesionalku, begitu? Tetapi, karena dia sering berkunjung, dia jadi cukup dekat dengan teman-temanku."


"Oh?"


"Tapi itu tidak berarti kami menjadi sangat dekat. Dia hanya akrab dengan teman-temanku, dia juga senang mengusiliku. Kau tau, kami sangat tidak cocok."


Jake memiringkan kepala, "Itu luar biasa dia bisa menjadi dekat dengan kalian. Di ingatanku, Demian tidak seantusias itu. Walau kami sering bertemu, dia masih menatapku penuh permusuhan."


"Itu karena kalian memperebutkan wanita yang sama!" tandas Jessica.


"Ah...," Tidak. Jessica tidak mengerti poin ucapan Jake.


Di mata Jake Allendale yang sudah puas berselisih jalan dengan Demian, pria itu adalah pria angkuh yang tidak bersosialisasi dengan siapa pun. Dia irit bicara dan hanya menaruh fokusnya pada Angela. Ketika bersama Angela juga, Demian bukan tipikal pria yang akan melumer hangat. Dia tetap sekokoh es batu.


Karena kesan Demian di kepala Jake sangat berbeda dari yang dicerita Jessica, Jake jadi merasa kalau kedekatan Jessica dan Demian 'sangat dekat'.


Terlebih malam itu..., Demian begitu posesif terhadap Jessica. Baik itu dari perlakuannya yang terbilang sewenang-wenang, atau dari cara Demian menatap Jake seperti musuh, segala gesturnya menjeritkan kalau 'Jessica adalah milikku!'.


"Aku penasaran..." gumam Jake perlahan, ia menusuk pipi Jessica dengan telunjuknya. "Kau terlalu meremehkan keberadaanmu, Jessica."


Jake penasaran, sampai kapan Jessica akan menutup mata pada obsesi Demian terhadapnya?


"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan," kata Jessica. "Tapi antara aku dan Demian tidak akan terjadi apa-apa. Dia hanya...,"

__ADS_1


Hanya...


Tidak ada kejelasan di sana. Tindakan absurd Demian dan kelengketan mereka belakangan tidak mempunyai penjelasan. Entahkah itu hanya nafsu atau sesuatu, Jessica sudah menyerah untuk mencaritahu.


Jessica memutuskan untuk menjalani relasinya dengan Demian tanpa niat mengharapkan kejelasan. Dia sudah cukup tersesat dengan segala pemikirannya sekarang, Jessica pikir menutup mata di kegelapan adalah solusinya sekarang.


"Apa kau lupa kalau Demian menyukai Angela?" Jessica tiba-tiba menjentikkan jarinya.


"Ahahahaha, benar juga. Bagaimana kau bisa mengira kami berpacaran ketika cowok bajingan itu menempeli Angela 24/7. Dia itu sudah cinta mati pada Angela, percaya padaku."


Jake tidak bisa menyangkal realita itu juga. Ucapan Jessica ada benarnya di sana. Demian sejak lama--selalu mendamba Jessica.


"Jadi kau tidak mempunyai siapa pun sekarang?" Jake kembali bertanya. Kali ini seraya menatap wajah Jessica. Kepada iris hijaunya yang teduh seperti hutan, bibir merah mudanya yang terbuka tipis, hidung kecilnya, pipi halusnya...,


Jake menatap Jessica dengan debaran asing menggedor rusuknya. Mengingatkan ia pada sebuah perasaan yang sempat hinggap di hatinya. Perasaan yang membuat segala warna menjadi cerah ceria, bunga-bunga bermekaran jelita, panas teduh di sekujur tubuhnya, sebuah perasaan suka.


"Aku tidak ada niat berpacaran," ujar Jessica, dia balik menatap Jake yang sekarang menyorotnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.


Apa ada cabe menyangkut di giginya? Bedak tebal sebelah? LipstickĀ  yang retak? Jessica jadi merasa tidak nyaman.


"Jake?" Panggil Jessica. "Apa ada sesuatu yang salah pada wajahku?"


"Huh?"


"Kau menatapku dari tadi..." Jessica tertawa hambar. Cermin, sekarang Jessica butuh cermin.


"Ah, apa aku membuatmu tak nyaman?" Jake gelagapan.


"Yah, tidak juga."


Senyum Jake kemudian merekah. Senyum salah tingkah. "Maafkan aku, aku hanya penasaran mengapa kau tidak mempunyai pacar ketika kau mempunyai wajah yang cantik."


Ca-cantik? Jake Allendale memujinya..., cantik?


Drrrrrttt!!!


Drrrrrrttttt!!!


Sebuah panggilan menyela interaksi awkward di antara mereka.


Menyadari kalau getaran itu bersumber dari ponselnya, Jessica dengan segera merogoh saku.


Nama Elliot tertera di layar ponsel Jessica, memanggilnya.


Uwaahhh!


Untung saja Elliot memanggilnya. Sungguh keselamatan yang diberikan dewi fortuna. Jessica ingin memeluk Elliot sekarang juga.


'Terima kasih sudah membantuku dari jauh, sobat.'


Jika Elliot tidak menyela, Jessica bisa-bisa membisu selamanya. Ia sama sekali tidak tau harus menanggapi ucapan Jake seperti apa. Tidak juga ia mempercayai pria itu seketika.


Hanya saja...


Sebuah nada suara yang mengimplentasikan pujian, tatapan mata menyiratkan dambaan, Jessica takut kalau penafsirannya atas tindakan Jake adalah apa yang sedang terjadi di kenyataan.


Ia takut salah paham. Karena, Jake Allendale tidak mungkin menggodanya, kan?


Jake dari semua orang...


Itu membingungkan.

__ADS_1


*


__ADS_2