MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
118. Sebelum Matahari Terbenam.


__ADS_3

Mengatakan dirinya terpana rasanya tidak cukup untuk menggambarkan perasaan Jessica sekarang. Lebih dari ketakjuban, ia merasa kehindahan laut biru di hadapannya seperti menyita habis seluruh perhatiannya. Menjeda debaran jantungnya, waktunya.


Dunia seperti bergerak lambat dalam lensa mata Jessica, lebih jelas dan lebih sempurna. Segala keindahan itu memukaunya. Jessica tidak menyangka pergi ke pantai akan memberikannya kelegaan dan kebahagiaan tiada dua.


Jessica sama sekali tidak menyangka kalau mendatangi pantai yang selama ini hanya mampu ia lihat dari balkon kamarnya, akan berujung memberikan kehangatan di sekujur tubuhnya.


Sempurna.


"Apa ini pertama kalinya kau ke pantai?" Demian bertanya sambil merangkulkan jaketnya di pundak Jessica.


"Kau tidak perlu memberikanku jaketmu, aku sudah cukup hangat..." Jessica menyorot tubuh Demian dan menyadari kalau sekarang, pria itu hanya memakai kemeja putih longgar membingkai tubuhnya. Kemeja tipis pula. Dia bisa mati beku kalau dia ke pantai dengan pakaian tipis itu.


"Pakai kembali jaketmu," ujar Jessica. Ketika ia hendak melepaskan jaket Demian dari pundaknya, Demian menahan pergelangan tangannya dan memutuskan merangkul Jessica dari belakang, Dagunya berlabuh di pundak Jessica. "Aku akan hangat kalau seperti ini." ujarnya.


"Kau hanya menyiksa dirimu sendiri."


Demian terkekeh. "Tidak tersiksa kalau aku bahagia, kan?"


"Terserah." Jessica memutar mata, malas mendebat Demian yang terlalu manja. Jessica--daripada mendebat Demian--memilih melempar tatapannya kembali pada laut tirenia yang terbentang seperti permata sapphire di hadapannya.


"Ini bukan pertama kali aku ke pantai," ujar Jessica kemudian. "Tapi ini pertama kalinya aku ke pantai dan menikmati pemandangannya."


"Terakhir kali kau ke pantai, apa yang kau lakukan?"


"Aku..., mm, aku menjual lemonade."


"Huh?"


"Aku banyak bekerja ketika aku berusia 22. Kendati memperoleh warisan Elixir dari Charlotte, aku tidak serta-merta mau mengurus cafe itu langsung. Butuh beberapa tahun..., aku membiarkan Elixir dan menjalani berbagai macam pekerjaan..., itu adalah masa yang suram." Masa-masa itu adalah masa ketika Jessica mempunyai ketergantungan besar pada alkohol.


"Apa kau berjualan menggunakan bikini?"


"Pertanyaan macam apa itu?"


"Hanya penasaran..." Demian terkekeh.


"Kau mempunyai imajinasi yang selalu kotor, Demian." Jessica menyikut Demian, sikutan yang cukup kuat untuk membuat Demian mundur dan melepaskan dekapan dari punggungnya.


Melempar tatapan sinis pada Demian, Jessica pun berlalu dari hadapan pria itu. Ia mulai melangkah menuju pasir yang basah. Kakinya terbenam di dalam pasir itu yang anehnya, cukup hangat. Jessica kira ia akan mendapat setruman dingin dari air yang menyapu kakinya, tapi hangat pasir itu membuatnya tidak begitu kedinginan.


"Aku ingatkan kalau kau masih demam, my princess..." Demian mendekat dan kembali merangkul pundak Jessica. Menjadikan dirinya topangan kalau-kalau Jessica kehilangan keseimbangan.


Celana panjang Demian tergulung hingga lutut ketika ia bergabung dan menapak di pasir basah itu. Ia menapak di sebelah Jessica dan menatap bagaimana ekspresi kekasihnya merona ceria.


"Besok..., kalau kau sudah baikan, mau menyewa fery ke Capri?"


Jika Jessica bisa menyengir bahagia seperti sekarang, Demian tidak akan keberatan membawa Jessica untuk menyusuri lautan Tirenia yang terbentang di hadapan mereka sekarang. Demian rela melakukan apa saja selama Jessica-nya bisa tersenyum bahagia.


"Aku rasa itu tawaran yang menarik," jawaban Jessica tidak seperti ia menyetujui, tapi tidak pula ia menolak. "Aku akan memikirkannya kembali."


"Hmm, baiklah." Demian mengulum senyum. "Untuk sekarang, aku akan menemanimu bersenang-senang di sini."


"Huuuft, aku ingin berenang." Jessica menapak satu langkah lebih dekat kepada bibir pantai. Kakinya terbenam lebih dalam. "Demian, apa kau bisa berenang?"


"Mustahil tidak." jawaban Demian seperti ejekan. "Aku tumbuh dan besar di sini. Di kota yang sepanjang matamu memandang, hanya ada air laut."


"Oh...," senyum Jessica merekah keruh. "Benar juga. Aku lupa kalau kau adalah penduduk asli kota ini." Jessica lalu melanjutkan dengan ekspresi tenang. "Pasti sangat sulit untuk meninggalkan tempatmu di lahirkan. Apalagi kalau kau tumbuh besar di kota ini."


Karena Demian tumbuh besar di sini, pikir Jessica, meninggalkan kota itu dan hidup di benua lain yang mempunyai gaya hidup yang jauh berbeda pasti sulit untuk Demian.


Kalau dipikir-pikir lebih dalam juga, pantas-pantas saja kalau Demian memilih keluarganya.


Apa masuk akal meninggalkan keluarga yang sudah tumbuh bersamamu puluhan tahun, hanya demi wanita yang baru dia temui beberapa bulan?


"Aku pasti sangat narsis sampai berpikir kalau kau akan memilihku." ucapan Jessica mengalir lemah. Meremehkan dirinya rendah.


"Jessica,"


"Tidak apa-apa, Demian." Jessica mencegah Demian yang hendak mengoreksinya, atau apa pun itu yang hendak dia katakan. Jessica tidak ingin bertengkar sekarang. "Kau tidak perlu mengatakan apa pun."


"..."


"Tempat ini sangat indah. Begitu indah. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah mau mengajakku kemari. Ke Sorrento, melihat-lihat tempat yang tidak pernah kuduga akan kukunjungi.-


Kota ini sangat menawan, aku jujur. Jika suatu hari nanti aku mempunyai cukup uang, mungkin..., aku akan berjalan-jalan kembali ke sini."


"Kau tidak perlu memikirkan hal semacam itu, kan? Kau bisa tinggal di sini bersamaku, Jesse."


"Masih keras kepala," keluh Jessica. Namun, tidak seperti ia menunjukkan amarah, ia hanya mengekspresikan lelah. "Aku agak dingin, ayo kembali ke atas."

__ADS_1


Mengikuti permintaan Jessica, Demian pun merangkul Jessica menuju kursi panjang yang menghadap pantai. Ia membantu Jessica duduk di sana seolah-olah Jessica adalah wanita jompo yang sudah kehilangan kekuatan dan energinya. Diperlakukan seperti barang yang mudah pecah membuat Jessica jadi iritasi. "Aku bisa duduk sendiri," ujar Jessica.


"Aku hanya demam, bukan akan mati."


"Aku tau," Demian mencubit pipi Jessica. "Tapi sakit tetap saja sakit. Aku tidak mau kau meremehkan penyakitmu. Mau itu demam atau flu!"


"Bawel."


"Siapa mengatai siapa bawel?" Demian kembali mendekap Jessica, ia mencuri kehangatan gadis itu untuk dirinya sendiri. "Aku tidak bisa hidup tanpamu, Jesse. Jadi jangan pernah sakit atau berpikir untuk meninggalkanku sendirian."


"Apa kau mencuri kata-kata itu dari novel?"


Demian mengangguk. "Aku belajar satu atau dua hal dari Alecto-mu itu."


"Jadi kau memang membacanya..., seru, kan?"


"Lumayan. Dengan membaca novel itu, aku jadi mengerti selera priamu seperti apa."


"Oh, oh..., seperti apa?"


"Tampan."


"Well, itu sudah pasti, kan? Lalu?"


"Tinggi dan berotot..., untungnya aku, aku mempunyai tubuh yang tinggi dan berotot juga."


"Kenapa kau melibatkan dirimu?"


Demian terkekeh. "Soalnya, aku tidak mau kalah dari si bajingan fiksi itu."


"Haaa,,, cemburuan."


"Yups, kau juga suka pria cemburuan, kan? Sedikit posesif dan pemaksa juga? Untungnya lagi, aku sangat posesif terhadap wanita yang aku cintai."


Jessica manggut-manggut menahan senyuman. Ucapan Demian menggemaskan. Demian secara menyeluruh sangat menggemaskan. Jessica sangat ingin mencubit pipi pria itu dan menghujaninya dengan ciuman.


"Sekarang, apa lagi?"


"Kau suka pria yang hebat di ranjang?"


"Itu tidak ada!" Satu sentilan kemudian mendarat di kening Demian. Baru saja ia menganggap pria itu menggemaskan, secepat kilat, Demian malah membuatnya kesal dengan lelucon kotornya.


"Aku serius. Dari yang kubaca, Alecto terkenal buas di tempat tidur. Walau, ketika si penulis mendeskripsikannya, dia tidak begitu agresif seperti ekspektasiku."


"Aku ingin tau apakah rumor tentangnya sesuai dengan realita." Demian mempertahankan argumennya dengan serius. "Menurutku, aku lebih hebat daripada dia di ranjang."


"Kenapa kau jadi membahas ini?" Sekujur tubuh Jessica yang dingin menjadi panas ketika ia--tanpa bisa mengendalikan pikirannya--jadi mengingat skill Demian ketika mereka berhubungan. Tidak, apa tepat untuk mengatakan hal nista itu sebagai skill? Demian hanya pria yang terlalu banyak energi, dia sadis!


"Melihat ekspresimu, kau sedang mereview-ku di benakmu, hmm?" Suara Demian menyiratkan godaan. "Jadi, berapa rating-ku?"


"Kenapa kau jadi menyebalkan?"


Demian mengeratkan dekapannya di pinggang Jessica. Ia sudah seperti bayi koala yang manja. "Aku tidak akan membiarkanmu mengganti topik! Sekarang! Katakan!"


"Apa yang kau inginkan?"


"Rating-ku..."


"Tsk!" Apa wajar untuk memberikan pria sebuah rating menyangkut kemampuan dan ketahanannya dalam berhubungan badan? Jessica merasa itu agak tidak etis.


"Demy..."


"Jesse..."


"Ugh, baiklah!" Jessica menjauhkan wajahnya dari pipi Demian yang melengket di rahangnya. Pria itu pandai dalam melunakkan pertahanannya. Pandai dalam mempermainkannya.


"Tujuh...," jawab Jessica akhirnya. Seperti bisikan. Wajahnya semakin merah setelah memberikan Demian rating yang pria itu inginkan. Walau sebenarnya di mata Jessica pria itu 11/10. Jessica sengaja memberikan pria itu 7 supaya dia kesal.


"Tujuh?" suara Demian merekah riang. "Jadi aku sehebat itu di matamu, huh?"


"Eh?"


"Aku hanya memintamu memberikanku rating 1/5. Aku tidak menyangka kau memberiku rating 7. Itu sudah melampaui ekspektasiku."


"Ah, eh..., tunggu. Aku membicarakan dari skala satu sampai--"


"I love you, Jessica." Demian memotong ucapan Jessica dengan gumamannya yang manja. Ia menghujani pipi Jessica dengan kecupan hangatnya. Sampai akhirnya, Jessica tidak mampu melakukan apa-apa selain membiarkan pria itu memanjakannya dan mendekapnya.


"Aku harap kau akan menetap di sisiku selamanya."

__ADS_1


"Aku harap," gumam Jessica. Selagi ia menyandarkan tubuhnya di dada Demian, sepasang emerald Jessica memperhatikan sebuah kapal pesiar yang berada di dermaga. Sambil memperhatikan kapal pesiar itu juga, Jessica kembali teringat pada tujuan utamanya ke pantai ini bersama Demian.


Jessica--kendati mencintai pria yang mendekapnya erat saat ini--masih memilih pergi dari Demian. Bagi Jessica, dirinya sama seperti Demian. Dia dan Demian sama-sama tidak bisa membuat pilihan yang akan berujung membuat keduanya senang.


Seperti Demian yang tidak ingin meninggalkan keluarganya, Jessica juga tidak mau meninggalkan moralitasnya. Ia tidak mau menjadi bagian dari keluarga yang menjalankan bisnis hitam.


Jessica tau bisnis-bisnis ilegal semacam itu sudah menciptakan berbagai masalah di tempat lain, menyakiti orang lain dan sudah memakan banyak korban. Karena itu, Jessica--walau dirinya tidak mempunyai kontribusi baik di dunia--tidak ingin menjadi bagian dalam memperburuk bumi ini bersama mereka.


"Aku agak lapar," gumam Jessica akhirnya. "Apa Lisa mempersiapkan bekal yang kuminta tadi?"


"Dia sudah mempersiapkannya." Demian berujar sambil mengisyaratkan sesuatu kepada dua bodyguard yang berdiri jauh di belakang mereka. Hanya ada dua bodyguard yang mengikuti mereka ke pantai, dan jujur saja, itu membuat Jessica merasa lega.


Jessica berharap rencananya berjalan sempurna.


"Apa kau tidak keberatan memakannya? Kurasa ini sudah agak dingin." Demian berujar sambil menaruh kotak bekal yang dibawanya dari Rhoden manor. "Kalau kau mau, kita bisa singgah ke restoran saja setelah ini."


"Aku tidak cerewet masalah makanan, dingin atau panas. Selama itu belum basi. Lagian, kasihan chef di Rhoden sudah mempersiapkan makanan ini untukku. Aku tidak mau membuang-buang makanan."


"Bijaknya..."


"Aku agak miris ketika kau menganggap kewajaran sebagai hal bijak. Kau tidak boleh membiasakan dirimu membuang makanan, Demian."


"Baiklah, Miss. Jessica. Aku akan mematuh titahmu. Ada lagi?"


"Jangan pernah telat makan."


"Mm?"


"Jangan lupa beristirahat juga. Kau seperti panda dengan kantung mata dan lingkar hitam itu. Hanya karena sekarang kau mempunyai pekerjaan, bukan berarti kau bisa menguras tenagamu habis-habisan."


"Baiklah, aku akan tidur tepat waktu malam ini."


"Ah, satu lagi..." Jessica mengangkat wajahnya. Ia yang baru selesai membuka kotak bekalnya mengeluarkan satu sushi rolls dari sana. "Ini..., buka mulutmu."


"Aku pikir kau yang lapar."


"Jangan bawel. Aku ingin tau apa makanannya beracun atau tidak."


"Apa-apaan dengan asumsi itu? Tidak akan ada orang di Rhoden manor yang berani meracunimu atau menyakitimu."


"Kau mengatakan itu, tapi..., apa kau tau aku hanya makan buah seminggu belakangan?"


"..."


Jessica kembali mengungkit kenangan lamanya tersebut, dan itu membuat Demian terkejut.


Jika bukan karena Gianna, Jessica mungkin akan mati kelaparan di sana. Gianna membuat Jessica kembali percaya pada makanan di Rhoden manor.


"Demian, seperti yang kukatakan, aku tidak bisa mempercayai siapa pun di keluargamu. Tidak setelah apa yang terjadi. Aku juga tidak bisa berkompromi pada mereka."


"Jessica,"


"Anyway, kembali pada sushi-nya..., buka mulutmu!"


Menuruti ucapan Jessica, Demian pun membiarkan satu gulung sushi itu mendarat di mulutnya. Ia mengunyah sushi itu perlahan sambil memperhatikan Jessica dengan sedikit keprihatinan. Ia tidak tau sama sekali kalau Jessica sebegitu membenci keluarganya.


Demian mengira selama ini Jessica mampu beristirahat nyaman di sana. Pantas saja Jessica menjadi lebih kurus daripada biasa. Itu menyakitkan bagi Demian ketika ia tau Jessica yang sangat mencintai makanan jadi takut terhadap hal yang paling wanita itu cintai. Demian merasa sangat bersalah sudah membuat Jessica mengalami pengalaman buruk itu.


"Demian..."


"Hmm?"


"Apa kau baik-baik saja? Makanannya tidak beracun, kan?"


"Tidak, Jesse." Demian tersenyum tipis. "Kalau makanannya beracun, aku akan..."


"Kau akan mengantuk sekarang," Jessica menjawab dengan sedikit iba. Ia mengusap pipi Demian penuh kelembutan. "Maaf sudah pergi seperti ini. Aku harap kau berbahagia dengan pilihan yang kau pilih."


"Jesse?" Tatapan Demian menjadi berkabut. Ia tidak mengerti mengapa kelopak matanya begitu berat. Ia seharusnya baik-baik saja. Tidak, tunggu..., makanan itu..., apa sungguhan beracun?


"Aku tidak mau menjadi pilihan di hidupmu, Demian." Jessica meraih jaket yang sebelumnya Demian labuhkan di pundaknya, dan menaruh jaket itu menutupi dada Demian. "Kalau kau mencintaiku, maka kau akan mengikutiku. Hanya seperti itu. Tapi..., kalau kau tidak bisa, itu tidak masalah."


"Jesse..., apa yang kau lakukan?"


"Aku akan pulang."


"Huh..."


"Selamat tidur, Demian." Jessica melabuhkan kecupan ringan di kelopak mata Demian yang perlahan-lahan terpejam.

__ADS_1


"Pada akhirnya...," Jessica menghela napas lelah. "Aku harap kau tidak membenciku."


...*...


__ADS_2