MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
69. Membeku Dalam Waktu.


__ADS_3

Setelah menjejalkan Jessica ke kursi penumpang, Demian mengendarai mobil hitam itu menuju sebuah bangunan tua yang dihimpit oleh motel dan rumah judi murah.


Bangunan itu merupakan bangunan apartemen lama yang menjadi hunian oleh orang-orang dengan masalah keuangan karena harga sewanya yang murah. Mengesampingkan bangunannya yang reot, tempat itu juga cukup terawat dan bersih.


Demian adalah salah satu penghuni di gedung itu. Ia menyewa dua kamar di sana. Kamar pertama atas nama aslinya, kamar itu ia gunakan sebagai pengalihan kalau-kalau ada yang mencarinya. Kamar kedua atas nama Adam, kamar itu lah tempat tinggal Demian yang sebenarnya.


Demian membawa Jessica menuju tempat tinggal pribadinya sementara Adam menetap di kamar satunya untuk berjaga-jaga bila ada mata-mata Erthian datang.


"Kau tau ini adalah penculikan, bukan? Aku akan melaporkanmu ke polisi...," Jessica memprotes sekali lagi.


Hari ini, sudah dua kali dia diseret paksa oleh Demian. Pertama, ketika Demian memaksanya masuk ke mobil. Kedua, ketika pria itu membawanya ke kamar ini. Kamar yang berada di lantai 5, dengan nomor 30 tertempel berkarat di pintunya.


"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak akan kau lakukan," ujar Demian. Ia melabuhkan Jessica di tempat tidurnya kemudian. "Mau minum kopi?"


"Aku mau pulang!"


"Sayangnya, opsi itu tidak tersedia." Demian menanggapi, kali ini sambil meraih kedua pergelangan tangan Jessica. Ia duduk di hadapan gadis itu, mata melembut memohon iba.


"Jessica, dengarkan aku..., hari ini saja, biarkan aku menghabiskan waktu luang bersamamu. Oke? Aku sangat lelah dan sibuk belakangan ini..., aku butuh kau menjadi charger-ku."


Demian butuh Jessica setelah segala masalah yang Erthian ciptakan untuknya.


"Jika kau butuh teman, kau seharusnya mencari Angela. Apa kau pikir ini wajar, berhubungan denganku sementara kau mempunyai Angela sebagai kekasihmu?"


"Aku dan Angela tidak berpacaran."


"Waaaah, kau mengatakan kebohongan dengan gampang di depanku. Kalau-kalau kau lupa, aku ikut menyaksikan ketika kau mengakui Angela sebagai kekasihmu di depan Erthian."


"Well, mengenai itu, aku mempunyai alasanku sendiri."


Demian ingin memberikan penjelasan pada Jessica ,tapi perihal itu terlalu rumit dan membahayakannya. Demian takut Jessica akan mengetahui latar belakangnya yang hitam. Tidak, daripada takut, Demian tidak percaya diri. Ia merasa..., bila Jessica mengetahui hitam dunianya, gadis itu akan memalingkan muka dan meninggalkannya.


"Lupakan masalah Angela, Erthian dan siapa pun itu sebentar, Jessica. Hari ini, seperti yang kukatakan, biarkan hari ini menjadi hari khusus kita berdua. Seperti hari-hari biasa ketika kita bersama..., ketika hanya ada kau dan aku...,"


Demian tidak membutuhkan siapa pun. Namun...,


Jessica termangu menatap Demian. Tawaran pria itu terdengar begitu menyakitkan untuknya. Dirinya pun mendambakan situasi yang sama. Namun, situasi yang terdengar manis di telinga itu seperti fatamorgana. Keindahannya tak nyata.


Ketika semua ini usai, ia hanya akan menemukan realita yang menyakitkan. Demian yang menginginkannya, Demian yang berada di hadapannya, pria itu bukan miliknya.


"Jessica...," Demian mempermanis suaranya. Dengan manja, ia menangkupkan kedua telapak tangan Jessica di pipinya. Membingkai wajahnya dengan kehangatan dan kelembutan yang telapak tangan itu berikan.


"Baiklah, aku akan mengalah sekarang." Jessica membuat keputusan. Untuk terakhir kalinya, pikir Jessica, ia akan membiarkan Demian melakukan apa yang pria itu suka. Jessica juga, sebagai penutup dari keserakahannya, ia akan menerima tawaran Demian.


Namun, hanya kali ini saja.


Setelah ini..., Jessica akan benar-benar menutupi hatinya dari Demian. Dia tidak akan pernah memberikan pria itu satu kesempatan lagi. Ini adalah akhir. AKHIR.


Sesi tawar-menawar yang Demian berikan akhirnya ditutupi dengan kemenangan. Senyum sumringah kemudian merekah di paras pria itu. Ia bersuka-cita hanya dengan melihat Jessica berada di kamarnya, berada di ruang teramannya. Rasanya seperti Jessica telah masuk ke dalam hatinya.


"Ini..., di mana?" Jessica bicara sambil memperhatikan seisi kamar Demian.


Awalnya, Jessica menarik kesimpulan kalau bisa saja tempat ini adalah tempat tinggal Demian. Namun, mengingat banyaknya misteri yang pria itu simpan, dari mobil hitam yang entah punya siapa, kamar hotel mewah, dan segala hal tentang keberadaan Demian sendiri adalah misteri. Jessica tidak mau asal tebak.

__ADS_1


"Ini tempat tinggalku," jawab Demian.


"Kau yakin kau tinggal di sini?"


Jessica cukup terkesan atas kerapian kamar tersebut. Kendati aroma mie instan masih menguar di dalam ruangan, berbaur dengan aroma tembakau, segala sisi kamar itu cukup bersih. Tidak ada pakaian yang bergelimpangan, sampah atau sekedar debu rokok.


"Ada apa dengan pertanyaanmu? Memangnya kau pikir aku akan tinggal di tempat seperti apa?"


"Entahlah, aku tidak pernah membayangkan tempat tinggalmu." Jessica sulit membayangkan kehidupan pribadi Demian. Selain karena pria itu penuh misteri, Jessica juga masih teringat pemandangan seram Demian di gang beberapa bulan lalu. Jessica sempat berpikir kalau Demian adalah rentenir, atau mungkin iblis dari dimensi lain?


Apa pun itu, membayangkan Demian membutuhkan tidur adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan secara general.


Dia seperti kelelawar.


"Jadi kau tinggal di sini, huh..."


Jessica mengitari kamar yang berukuran lebih kecil dari kamarnya tersebut. Ia menatap kepada rak sepatu, karpet bulu yang melapisi lantai kayu, sebuah sofa nyaman yang berseberangan dengan kitchen set mini, dan sebuah tempat tidur yang muat hanya untuk satu orang.


Melihat tempat ini, Jessica jadi membayangkan bagaimana Demian beraktivitas di dalamnya.


Dia yang akan memasak mie di dapur, akan melenggang ke sofa untuk menyantap mie-nya. Setelah itu dia akan cuci muka dan tidur karena dia tidak punya hiburan apa pun di kamarnya. Tidak ada televisi dan buku. Dia juga bukan tipe pria yang akan terpaku berjam-jam di depan ponselnya.


Membayangkan Demian dan kehidupan sehari-harinya yang normal, "Melihatnya langsung pasti menggemaskan," Jessica bergumam pada dirinya sendiri.


"Mengapa kau membawaku kemari?" Jessica kembali bicara dan kali ini, ia melenggang menuju Demian yang sedang membuatkannya kopi.


"Karena aku ingin kau tau tempat tinggalku," jawab Demian. Ia menyambut kedatangan Jessica dan merangkul gadis itu ke dalam dekapannya. Kendati Jessica menunjukkan ketidak-nyamanan dalam sapaannya, Demian tidak ada niat melonggarkan dekapannya dari gadis itu.


Matanya dan mata Jessica bersua. Hijau emerald itu seperti magnet untuk sepasang iris kelamnya. "Selamat datang di kehidupanku, Jessica Cerise. Karena kau sudah di sini, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."


"Itu omongan yang besar." ujar Jessica, meremehkan.


Jessica tidak akan membiarkan dirinya termakan oleh omongan manis Demian. Namun, mendengar ucapan pria itu cukup menyenangkan. Demian pasti pandai dalam merayu wanita, melihat betapa mulusnya dia dalam bicara.


"Aku jadi penasaran, sudah berapa banyak wanita yang jatuh dalam rayuanmu?" Jessica mencubit perut Demian, cubitannya yang cukup kuat membuat Demian spontan melepaskannya. Demian meringis sambil mengusap perut ketika Jessica berlalu dari hadapannya sambil membawa secangkir kopi yang baru saja dia buatkan.


"Jika kau terjatuh, maka kau akan menjadi orang yang pertama."


"Itu omong kosong lainnya?"


"Bukan bermaksud sombong, Jesse. Sejauh ini, aku tidak pernah merayu wanita mana pun. Mereka sendiri yang akan jatuh hati padaku."


Demian menyusul Jessica yang sekarang duduk di sofanya. Pemandangan itu seperti fatamorgana, Demian tidak menyangka akan ada hari Jessica muncul di kamarnya, duduk di sofanya dan minum dari cangkir favorite-nya.


"Kata seorang pria yang sudah muncul di cafeku setiap hari untuk merayu Angela." Jessica berkomentar sinis.


"Aku ke sana karena aku ingin menyapanya," tukas Demian. "Aku tidak pernah merayu Angela supaya terpikat padaku atau apa pun."


"Baiklah, terserah. Aku akan mempercayaimu." jawaban Jessica setengah hati. Dia tidak mau terlalu menaruh peduli. "Ngomong-ngomong, apa yang terjadi pada Jake? Kau tidak melakukan sesuatu yang jahat padanya, kan?"


"Hah?" Kenapa sekarang Jessica malah membahas Jake?!


Demian tidak menyukai topik itu, ya ampun!

__ADS_1


"Kau tau..., kau tidak..., memukulnya..., begitu?"


"Apa aku cowok bar-bar? Mengapa kau menanyaiku perihal semacam itu?" Walau Demian memang memerintah Adam untuk menyabotase rencana Jake, tapi Demian tidak turun tangan langsung terhadap situasi yang terjadi.


Dia bisa dikatakan..., bersih?


"Habisnya..., kau memang bar-bar, kan?"


"Haaa?"


"Aku tidak bermaksud jahat atau apa pun, Demian. Aku percaya, jalan hidupmu adalah urusanmu sendiri."


"Tunggu dulu, apa yang kau pikirkan memangnya tentangku?"


"Kau..., aku pernah melihatmu memukuli orang habis-habisan di sebuah gang..., mungkin beberapa bulan lalu. Kita tidak dekat waktu itu, aku hanya mengetahuimu sebatas pelangganku jadi..."


"Ahhh, jadi..., kau melihatku? Apa kau yakin tidak salah orang?" Demian merasa diguyur oleh air comberan. Ia merasa kotor ketika Jessica mengetahui sekilas tindakan bejatnya. Demian merasa imejnya ternoda.


"Aku sangat yakin itu kau. Juga, bukankah selama ini kau selalu muncul di Elixir dengan wajah babak belur karena sering berkelahi? Meskipun aku tidak tau lini pekerjaanmu, kurasa aku masih bisa mengerti memar akibat perkelahian dan kecelakaan." Setelah berujar panjang, Jessica menyesap kopi buatan Demian.


Itu enak.


"Malah, agak mengejutkan..., belakangan kau jadi jarang babak belur. Hehehe."


"Itu bukan sesuatu yang perlu ditertawakan, bukan?" pundak Demian merosot dalam kekecewaan.


Selama ini, tanpa ia sadari, ia telah mengekspos kelam dunianya kepada Jessica. Demian tau Jessica bersikap santai saja terhadap fakta itu, tapi Demian tidak bisa santai. Demian merasa malu. Ia ingin Jessica melihatnya dalam lensa pria sempurna. Bukan pria yang mematahkan hidung pria lain di akhir pekan.


"Kenapa kau menjadi muram?" tanya Jessica.


Demian meraih ujung rambut Jessica yang jatuh lembut di pundak. Ia lalu membelitkan sejumput rambut itu di telunjuknya.


"Rasanya agak memalukan," ujar Demian, jujur. "Aku berusaha keren di depanmu, tapi kau malah mengekspos sisi gelapku."


"Kau..., kau memikirkan hal semacam itu?"


"Tentu saja. Aku juga pria normal." Sama seperti pria pada umumnya, Demian juga ingin tampil luar biasa di depan wanita yang ia cinta. Jessica mana mengerti itu, kan?


"Aku tidak tau apa maksudmu, tapi kau cukup keren kok..., dalam beberapa hal..., kurasa." Jessica mencoba menghibur Demian dengan kata-katanya. Namun, tidak ada kebohongan di sana.


Demian--tanpa upaya--sudah keren dari sananya. Dari segi penampilan dan kepribadian, terkadang Jessica merasa pria itu seperti karakter bad boy yang melompat keluar dari novel romansa. Dia sangat langka dengan segala keburukannya yang mempesona. Dia ahli dalam keburukannya, dalam merayu wanita, dan dalam memukul orang juga.


"Empatimu terlalu tinggi, Jessica..." Demian tersenyum tipis.


Di sofa, duduk bersebelahan dengan Jessica, Demian mengambil kesempatan itu untuk melabuhkan dagunya di pundak polos Jessica. Aroma manis strawberry yang melekat lembut di tubuh gadis itu membuat Demian menarik napasnya dalam-dalam, penuh kerinduan.


"Aku harap waktu berhenti sekarang..." gumaman Demian di pundaknya beresonansi dengan isi hati Jessica.


Bahwa, sama seperti Demian, ia juga mempunyai harapan yang sama. Ia hanya ingin membeku di dalam waktu, bersama Demian di sisinya. Mendekapnya dalam kehangatan yang begitu ia dambakan.


Tapi, itu bukan kebenaran.


*

__ADS_1


__ADS_2