MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
32. Lari, Demian!


__ADS_3

"Apa-apaan barusan?" adalah pertanyaan yang keluar dari mulut Dania, penuh kedongkolan. 


Hari ini, Jessica dan Dania berencana pergi keluar untuk bersenang-senang bersama. Melakukan girl's night hanya berdua. Alasan Jessica yang sebenarnya sibuk, jadi terpaksa menyeret kakinya keluar dari Elixir, adalah karena Dania yang mengaku cemburu pada Jessica yang katanya 'sudah berkencan'. Walau sebenarnya tidak.


Jessica pergi keluar dengan Jake hari itu hanya untuk merayakan hari pria itu lepas dari pekerjaannya yang menumpuk. Itu saja. Jessica tidak pernah menganggap hari itu sebagai hari kencan mereka. Dania menarik kesimpulan itu sendiri dan cemburu sendiri.


Aneh!


Hari ini, seharusnya mereka berdua bersenang-senang dengan mampir ke sebuah terrace cafe yang berada di area the strip. Mengobrol ringan sampai satu atau dua jam sebelum berpindah ke club malam.


Yups, rencananya begitu. Namun, pertemuan dengan Angela barusan membuat perjalanan yang seharusnya penuh 'kesenangan' itu, menjadi kejengkelan.


Dania jengkel!


"Kenapa dia meneriakimu begitu? Apa dia tidak bisa berbicara baik-baik? Aku mau merobek mulutnya!"


"Dani, shuuush!"


"Jangan meng-shuush-ku. Aku mengerti karena kita berada di luar dia jadi tidak perlu menaruh hormat atau apa pun itu. Tapi..., tapi, dia tidak seharusnya meneriakimu juga. Apa dia tidak punya adab? Jangan bilang dia diputuskan Jake karena etikanya yang kurang."


"Dania, wow..., tenanglah sedikit. Jangan merusak malam istimewa ini dengan membicarakan situasi yang yah, memang sedikit tidak menyenangkan." Jessica terkekeh. "Anggap saja angin lalu."


"Angin lalu, my head. Kau harus mengurangi toleransimu pada orang-orang tolol semacam itu. Pecat saja dia besok."


Apa yang Dania ujarkan memang masuk akal. Jessica sendiri sangat tidak menyukai cara Angela meneriakinya sangat keras barusan. Terlebih ketika suara yang meneriakinya menyiratkan amarah.


Orang-orang yang mendengarkan bisa salah menarik kesimpulan. Jessica--di usianya yang nyaris 28, tidak mau membuat keributan, terlebih di tempat ramai.


Akan tetapi, walau Jessica menyetujui poin kekesalan Dania, Jessica juga tidak mau bertindak ekstrim dengan memecat Angela.


Gadis itu sedang dalam kondisi emosional. Mungkin, siapa yang tau, dia sedang dalam masalah dan kesulitan dalam mengontrol diri.


Apa pun itu, Jessica hanya tidak mau langsung memecat wanita itu. Terutama ketika ada Demian menjadi backing-annya. Jessica tidak mau mati di kamarnya sendiri.


"Lupakan saja, aku tidak mau membahas dia sama sekali."


"Tsk, tsk. Baiklah. Aku mengerti." Dania mendecakkan lidah. Matanya kembali menyorot ke arah punggung Angela dan memberikan tatapan penuh kebencian ke arah sana. "Kau harus menegurnya dengan keras besok."


"Dani...?"


"Oke, oke."


"Aku ingin makan dengan tenang, please. Kalau kau mau marah-marah, aku akan pulang sekarang."


"Aku tidak marah, aku hanya sedikit kesal." Dania membela diri. Seakan-akan matanya yang melotot marah tidak cukup untuk menjelaskan kemurkaannya. 


'Aku tidak menyangka aku membiarkannya kembali bekerja di Elixir. Aku seharusnya membiarkan dia berhenti selamanya!' Dania melanjutkan omelannya di dalam kepala. Jessica akan mencekiknya kalau dia terus membahas topik yang sama. Ugh, menjengkelkan. Jessica terlalu baik atau apa sih?


"Dani, kau ingin memesan apa?" Jessica yang sibuk membaca buku menu, akhirnya mendongak menatap Dania. Hanya saat Jessica bertanya, barulah Dania memungut buku menu yang berada di hadapannya.


"Beef tenderloin sepertinya bagus untuk mood-ku sekarang." Dania memutuskan singkat.


"Ah, kalau begitu aku..., ricotta gnocchi."


"Kau tidak akan kenyang," ujar Dania.


"Aku akan mengisi sisanya dengan vodca," sahut Jessica. Karena ini adalah malam yang khusus ia habiskan bersama Dania, Jessica berniat untuk berpesta sepuasnya. Dia mungkin akan minum sampai teler lagi, menari dan lupa diri.


"You crazy, girl."


"I know right?"

__ADS_1


"Hahahaha."


*


Di sisi lain terrace cafe tersebut, Demian yang duduk berhadap-hadapan dengan Angela mendapat akses sepenuhnya untuk menatap ke arah Jessica dan Dania yang sejak tadi bertukar kata sembari tertawa ria. 


Musik sedih di cafe itu tidak mempengaruhi suasana hati keduanya. Sebaliknya, mereka mengobrol santai layaknya dua supporter bola yang sedang membahas tim favorite mereka.


Demian penasaran pada apa yang mereka bicarakan sampai-sampai mata Jessica berbinar antusias? Demian ingin menghampirinya, menepikan surai hitamnya yang jatuh menutupi sisi wajahnya. 


Demian ingin memberitahu gadis itu kalau dia tidak boleh terlalu tersenyum lebar karena pria yang berada di dekat meja mereka tidak berhenti menatap ke arahnya. Demian ingin mencongkel mata pria itu keluar dari soketnya.


"Demian?" suara Angela menarik perhatian Demian dari Jessica. Ia yang sebelumnya termenung mendamba kepada keceriaan meja Jessica dan Dania, ditarik kembali kepada atmosfir kelam yang melingkupinya sekarang.


"Kau bengong..." ujar Angela, wajah sayunya semakin mendung di sana.


"Aku hanya memikirkan cara untuk mematahkan leher seseorang," Demian menimpali.


"Siapa?"


"Huh?" Demian mengerjapkan matanya dua kali.


Mustahil untuk mengatakan ia ingin mematahkan leher pria random yang duduk beberapa meter dari meja mereka. Angela bisa menganggapnya psikopat.


Menatap Angela, Demian lalu berdusta. "Jake, siapa lagi?"


"E-eh?"


"Aku tidak suka dia sudah membuatmu menangis dan bersedih, Ange. Kau seharusnya berbahagia dan menikmati masa mudamu tanpa memikirkan hal-hal yang tidak perlu."


Angela tersipu, "Kau sangat pengertian, Demian. Aku senang memilikimu di sisiku. Kau adalah sahabat terbaikku."


"Huh, ya..., kurasa." Demian tidak ingat sudah melakukan hal istimewa untuk memperoleh gelar itu. Hanya saja, jika Angela menganggapnya demikian. Demian tidak akan keberatan.


*


"Hahahaha..." Jessica tertawa. "Aku tau, aku tau. Aku juga merasakan hal yang sama. Haruskah kita pulang sekarang?"


"Aku takut dia akan mengikuti kita," kata Dania.


"Dia hanya sendirian..." ujar Jessica.


"Daan?" Dania mengernyitkan keningnya heran. "Kau tidak berpikir kau bisa menjatuhkan seorang pria dengan tangan kosong, kan? Demi Tuhan, Jesse..., kita bukan super women."


"O-oh, kau ada benarnya."


Sementara Jessica dan Dania sibuk bertukar kata menyangkut pria yang beberapa menit belakangan sudah menaruh perhatian berlebih pada mereka, menumpahkan minat menjijikkan dari matanya, Demian..., pria yang seharusnya duduk tenang bersama Angela di sudut lain cafe tiba-tiba melenggang mendekat.


Jessica yang menyadari keberadaan Demian spontan menjeda ucapannya. Dania sama.


Keduanya menatap ke arah Demian dan terkejut saat Demian menarik sebuah bangku kosong di depan si pria mesum tersebut.


"Apa-apaan?" kata Dania, suara rendahnya hanya dapat di dengar oleh Jessica. "Apa mereka kenal?"


"Kurasa tidak..." Jessica mengamati interaksi Demian dengan pria asing tersebut.


Tidak banyak kata yang keluar dari mulut Demian, tapi ketika ia mengatakan sesuatu yang entah apa, ekspresi lawan bicaranya menggelap waspada. Si pria tersebut melempar tatapan ke arah Jessica dan Dania sebelum akhirnya beranjak pergi.


"E-eh? Apa yang terjadi?" Dania bertanya-tanya, tapi Jessica sangat tau jawabannya.


Sialan, debaran jantungnya jadi meningkat tak tenang ketika sepasang iris kelam Demian menatap ke arahnya. mengisyaratkan kalau situasinya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Demian membantunya. Demian menolongnya.


Jessica seharusnya tidak begitu terpana kepada hal manusiawi yang Demian lakukan padanya, tapi Jessica merasakan hangat merayap di dadanya. Ia mengulum senyum samar saat Demian berbalik menuju Angela.


"Apa perasaanku saja, apa Demian baru saja menolong kita?" Dania menyuarakan tanya.


Jessica memberikan anggukan sebagai jawaban.


"Uwaaah, aku sama sekali tidak menyangka ini. Luar biasa. Apa yang dia katakan sampai si keparat itu menghilang ketakutan?"


"Entahlah...," gumam Jessica, kehangatan yang menyelimutinya membuat senyum tidak bisa lepas dari bibirnya. Jessica sangat terkesima, pipinya memerah. "Dia mungkin mengancam akan mematahkan lehernya."


"Yah..., itu masuk akal."


"Karena situasinya sudah aman, kita sebaiknya pulang." Dania merapikan isi tasnya. "Aku tidak yakin aku berani untuk pergi clubbing malam ini. Aku takut bertemu dengan pria itu lagi di tempat lain."


Jessica mengerti. Dia juga merasa sudah cukup banyak kekacauan yang terjadi malam ini, Jessica takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. "Ayo...," kata Jessica. Ia dan Dania sama-sama beranjak dari sana.


"Mari lakukan ini di lain waktu," kata Jessica.


"Mm, pastikan kita membawa Ethan dan Elli juga."


"Ahahaha, kau ada benarnya."


Dunia malam tidak sepenuhnya aman untuk perempuan. Jessica yang sudah menetap di Vegas untuk sekian tahun dan sekian malam sangat tau fakta  menyedihkan itu.


Anyway,


Setelah Demian berhasil menyingkirkan si bajingan yang sudah mengganggu ketenangannya dan sudah pasti, mengganggu ketenangan Dania dan Jessica juga, Demian kembali ke meja Angela seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Maafkan aku," kata Demian, "Aku hanya menyapa seseorang yang kupikir kenalanku barusan."


"Mm, tidak masalah." Angela menyunggingkan senyuman.


"Oh..., Demian..., aku sudah memikirkan ini belakangan. Jadi, begini..., uhh, aku ingin mengatakan sesuatu padamu..." Angela kesulitan menyusun kata yang keluar dari bibirnya. Ia tergagap dengan jari bertaut gugup. "Itu..., aku..."


Drrrttt! Drrrttt!!!


Ponsel Demian bergetar di atas meja, nama Oscar tertera di sana. Getaran itu mau tidak mau menjeda ucapan Angela. 


Demian yang jarang menerima panggilan dari Oscar tidak mau menganggap remeh panggilan dari rekannya tersebut. Jadi, alih-alih memutuskan panggilan itu sepihak dan membiarkan Angela meneruskan pembicaraannya, Demian menjawab telepon Oscar di tempat.


"Sebentar," kata Demian pada Angela sebelum menaruh fokusnya pada panggilan Oscar.


"Halo?" sapa Demian.


"Maafkan aku mengganggu malam istimewamu...," kata-kata Oscar seperti ia lontarkan dengan ejekan.


"Ada apa?" tanya Demian tidak senang.


"Hanya ingin mengatakan, keluar dari tempatmu berada sekarang."


"..."


Ucapan Oscar tidak membutuhkan tanya mengapa dari Demian. Ia spontan berdiri ketika ia mendengar perintah itu.


"Angela, maafkan aku. Sesuatu yang mendesak terjadi." Demian, tanpa menunggu tanggapan Angela, langsung berlari menuju pintu cafe yang omong-omong, berada di lantai tiga. 


Demian melangkah tergesa-gesa, mengitari tangga menuju lantai pertama. Selama itu pula, ia tidak memutuskan panggilannya dengan Oscar.


"Oscar, apa yang harus kulakukan sekarang?"

__ADS_1


*


__ADS_2