
Bukan urusan Demian bila Jessica berada di Silver Building bersama Jake Allendale. Realitanya, Jessica dan Demian tidak mempunyai ikatan apa pun yang mampu membuat mereka saling mempedulikan urusan satu sama lain. Mereka bukan sepasang kekasih, dan paling utama, bukan sepasang sahabat karib juga.
Jessica di mata Demian adalah orang asing. Demian pun, di mata Jessica, memegang nilai yang sama. Mereka hanya dua orang asing yang terjebak dalam situasi yang memaksakan mereka untuk mengenal satu sama lain.
Meskipun mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama bersama (itu pun kalau kau menganggap seminggu itu waktu yang lama), status hubungan mereka tidak serta-merta berubah.
Oleh karena itu, ketika Demian mencecar Jessica mengenai arti keberadaannya di Silver bersama Jake, Jessica--alih-alih memberikan penjelasan--merasa tersinggung atas nada suara Demian yang garang.
"Apa yang aku lakukan di sini bukanlah urusanmu."
Sudah wajar bila Jessica merespon Demian dengan kegalakan. Sulit bersikap tenang ketika ia diterjang oleh pertanyaan yang menyiratkan cercaan dan amukan.
Jika Demian bicara baik-baik, mungkin Jessica akan meresponnya dengan jujur. Sayangnya, situasi itu tidak akan terjadi di sini. Tidak ketika Demian menatapnya seperti kuman.
Apa sih yang salah dari cowok sinting itu?!
"Kalian saling mengenal?" Jake turut bersuara.
Kesadaran Jake sedikit demi sedikit terkumpul setelah ia berhasil memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. Saat itu juga, Jake menyadari ada ketegangan mengatmosfir di antara Jessica yang merangkulnya, dan Demian yang berada berseberangan dari mereka.
"Apa kau baik-baik saja?" Jessica beralih kepada Jake. Ia masih mengkhawatirkan pria itu.
"Aku baik...," suara Jake tidak meyakinkan sama sekali.
"Apa kau sanggup berjalan ke kamarmu?"
"Kurasa..., ugh!"
Ketika Jake nyaris terhuyung ke lantai, Jessica dengan instan menahan tubuh pria itu dengan pundaknya. Demian yang berdiri di sana, menyaksikan aksi Jessica, sangat terpana. Api berkumpul di kepalanya, menyala merah penuh amarah.
"Jessica Cerise," panggil Demian, kali ini tegas dan penuh penekanan. "Apa kau mengabaikan pertanyaanku?"
"Apa kau tidak bisa membaca situasi?" Jessica merespon keki. "Seseorang sedang sakit di sini."
'Meskipun Jake adalah rival asmaramu, setidaknya, bacalah situasi sebentar. Dia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja!' Jessica mendumel di kepalanya.
"Lagian, kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku...?" Demian menunjuk dirinya sendiri.
Kenapa arti keberadaannya di sini penting? Yang penting adalah mengapa Jessica bersama Jake sekarang? Jake dari semua orang? Si bajingan yang sudah membuat Angela nelangsa sepanjang malam?
Benar juga, Angela..., dia...
"Apa Angela sudah pulang?" Jake menatap Demian dengan seulas senyuman masam.
"Huh?" Giliran Jessica yang terperangah. Angela pulang ke sini? Ke apartemen mahal dan mewah ini? Apa dia tinggal di sini? Tidak, tunggu..., apa itu berarti dia tinggal bersama Jake? Dia tinggal bersama Jake tapi mengajak Demian berkencan?
Kegilaan macam apa yang terjadi sekarang?
Seingat Jessica, ia tidak mengonsumsi alkohol cukup banyak sampai ia menghalusinasikan situasi ini.
__ADS_1
"Dia akan pergi bersamaku," kata Demian.
"Hmmm, begitukah?" suara Jake seperti bisikan, sendu dan menyimpan kesedihan. "Dia memutuskan meninggalkanku."
"Ukhmmm..." Seseorang berdeham di depan kamar mandi. Seseorang bernama Elliot Winchester. "Jesse, apa kau sudah selesai?"
"Hoh, ah..." Jessica sangat merasa lega ketika ia menemukan Elliot di sana.
"Tinggalkan dia di situ," perintah Demian. Maksudnya adalah Jake.
"Apa?"
"Aku akan membawanya ke kamarnya. Kau tidak perlu mengurusnya."
"Tapi..." Jessica tidak percaya Demian akan memperlakukan Jake dengan baik. Bagaimanapun, Jake adalah rival Demian. Bagaimana jika mereka tiba-tiba saling serang atas nama kecemburuan?
"Jessica?" Demian memberi ultimatum terakhir.
Demian percaya, bila Jessica tidak menurutinya, ia akan menyeret gadis itu pulang dengan tangannya sendiri. Demian membenci pemandangan tangan Jake Allendale yang melingkupi Jessica. Ia benci kedekatan keduanya.
Salahkan semua ini kepada Jake Allendale, Demian hanya membenci pria itu. Demian tidak menyukai Jake dekat kepada orang-orangnya. Jessica adalah milik Demian sekarang, walau gadis itu tidak tau apa-apa. Demian sudah mengklaimnya seperti properti pribadi.
"Apa kau dan Jessica saling mengenal?" Elliot akhirnya melangkah maju. Pertanyaan itu ia arahkan kepada Demian.
"Bukan urusanmu."
"Aku tidak tau apa hubungan kalian, tapi, kau tidak dipihak yang berhak memberikan Jessica perintah apa pun." Elliot menuju Jake dan merangkul pria itu di lengannya. "Karena aku dan Jessica sudah di sini, untuk ini..., biarkan kami berdua menyelesaikan urusan kami sendiri."
Elliot pun memapah Jake perlahan-lahan, membantunya berjalan. Jessica melenggang di belakang keduanya. Ia melirik ke arah Demian sekilas sebelum keluar dari bilik kamar mandi tersebut.
*
"Maafkan aku, karena kondisiku, hubunganmu dengan Demian jadi menegang." Jake mengacu kepada Jessica yang berada di belakangnya.
"Itu bukan masalah," tutur Jessica, ia menjadi prihatin kepada Jake yang sekarang merana. Situasinya pasti cukup buruk dengan Angela sampai dia memutuskan melarikan diri ke dalam alkohol. "Hubungan kami memang buruk."
"Dari mana kau mengenalnya, Bos?" Elliot jadi penasaran.
"Uh, umm..., dia customer di Elixir."
"Ah, apa kalian..." nama cafe Elixir sangat familiar di telinga Jake, ia sampai menoleh ke belakang demi mengingat wajah Jessica. Namun, itu hanya upaya yang sia-sia. Ia tidak mempunyai ingatan kuat mengenai pekerja di Elixir. Mungkin karena selama ia berada di sana, ia hanya menatap Angela.
"Beristirahatlah setelah ini," kata Jessica. Mereka melenggang keluar dari elevator dan tiba di lantai 6.
Saat itu, tidak jauh dari elevator, berada kamar nomor 35. Kamar yang pintunya sekarang terbuka.
Seorang wanita keluar dari sana, membawa tas dan koper besar. Angela Lancaster.
*
Mengatakan situasi yang ia alami sebagai kebetulan rasanya terlalu gampang dan menyepelekan. Jessica, kendati menyadari situasi yang terjadi memang hanya murni kebetulan, masih merasa risih pada fakta untuk kedua kalinya, ia kembali menyaksikan momen penolakan Angela.
__ADS_1
Mengapa ia harus berada di sana???
Dari semua keadaan, apa Angela tidak bisa menunggu untuk dirinya dan Elliot pergi untuk dia mengatakan kata-kata kejam nan menikam tersebut?
"Maafkan aku, Jake. Tidak peduli betapa besar aku mencintaimu, hubungan ini tidak bisa berlangsung lagi. Aku sudah lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Kau adalah pria baik, tapi tidak untukku. Sekali lagi, maafkan aku."
Angela mengatakan hal tersebut ketika mereka masih berada di depan pintu apartemen Jake. Ketika Jessica dan Elliot masih memapah Jake yang kesulitan berdiri.
'Apa dia tidak malu sama sekali? Kenapa dia membiarkan aku dan Elliot mendengarkan omong kosong itu? Lelah, katanya? Hubungan mereka bahkan baru berlangsung dua bulan. Apa waktu singkat itu cukup untuk membuatmu lelah?' Jessica kembali bermonolog di kepalanya.
Saat itu, di pagi Rabu yang tenang, Jessica duduk sendirian di bar Elixir. Sepiring roti bakar dengan campuran edamame, keju dan strawberry--beserta segelas susu putih berada di hadapan Jessica.
Secara general--selain isi kepala Jessica yang runyam--, situasi di Elixir berjalan dengan normal. Ethan kembali bekerja di posisinya sebagai barista, Dania sebagai resepsionis, dan Elliot sebagai chef di dapur. Angela--sebagai tersangka yang merunyamkan isi kepala Jessica--sudah bekerja di Elixir sebagai waitress.
Sepertinya, setelah meninggalkan Jake, Angela kembali ke kehidupannya yang semula. Kembali ke kehidupan dengan ekonomi sulit.
'Apa ini artinya uang bukanlah segalanya?' Jessica membatin sambil mengunyah lamban strawberry di piringnya. Ia menatap kepada Angela yang sekarang berlalu-lalang di Elixir. Memakai pakaian waitress berwarna merah sambil menenteng nampan berisi piring-piring kotor.
Bukan berarti Jessica mau ikut campur dalam masalah asmara Angela dan Jake, tapi karena sudah melihat langsung bagaimana Angela mencampakkan Jake, Jessica mau tidak mau jadi kepikiran.
Yah, salahkan kembali empati Jessica yang tinggi dan tidak tau diri. Kenapa ia harus bersimpati kepada situasi yang tidak melibatkannya sama sekali?
Demian juga...
Semenjak kejadian di kamar mandi malam itu, Jessica jadi memikirkan Demian sesekali. Jessica takut Demian akan datang ke kamarnya, mencekiknya sampai mati.
Bagaimanapun, dia dan Elliot sudah meninggalkan Demian dengan kesan buruk. Si monster psikopat itu bisa memanjat balkonnya dan merobek mulutnya. Uhuhuhu..., memikirkan situasi itu kembali, Jessica jadi merinding.
"Bos..." Dania menyapa Jessica yang sejak tadi belum menghabiskan sarapannya.
"Ada apa?"
"Seseorang ingin bertemu denganmu di luar."
"Hah?" Sejak kali terakhir Adam berkunjung ke Elixir, Jessica masih menyimpan trauma ketika ia mendengar seseorang mencarinya.
Bagaimana jika itu Adam dan dia diperintah Demian untuk menghancurkan Elixir?
'Ugh, kenapa aku jadi paranoid?' Jessica menenangkan dirinya yang mulai berkhayal liar.
"Siapa memangnya?" tanya Jessica, dalam hati berdoa itu bukan Adam ataupun Demian.
"Kau tidak akan percaya ini," Dania berbisik di telinga Jessica, mata menyiratkan keantusiasan samar. "Jake Allendale berada di depan."
Ooooh, eh, APAAA?
Ada apa dengannya?
"Dia menunggumu di luar, mungkin karena dia tidak mau masuk dan bertemu dengan kau tau siapa."
"Ah, aku mengerti. Aku akan segera menemuinya." Jessica melempar pandangannya ke arah Angela dan menyadari alasan mengapa Jake tidak mau masuk ke Elixir sudah pasti karena wanita itu.
__ADS_1
Patah hati benar-benar bisa membuatmu bertingkah seperti ini, huh? Tidak ingin melihat orang yang pernah kau cintai, sungguh ironis sekali.
*