
Di dalam kamar Jessica, Demian mengedarkan pandangannya dengan kebingungan yang kentara di wajahnya.
Entah sejak kapan, tanyanya, kamar yang kerap menampilkan kehangatan dan keharmonisan, menjadi begitu suram?
Aroma alkohol berbaur dengan makanan basi menguar samar di udara. Demian duduk di sofa dan semakin mengerutkan dahinya ketika ia melihat segulung kabel kusut dari charger laptop, handphone dan kabel terminal, tergeletak di bawah meja, berdampingan dengan setumpuk kertas yang penuh oleh angka-angka.
Jessica mungkin habis bekerja, pikir Demian saat itu juga.
Bicara soal Demian dan mengapa ia berada di kamar Jessica sekarang, ketika ia mengakui perasaannya pada Jessica di muka umum, di depan Jessica langsung..., Demian berujung diseret ke kamar ini oleh Jessica. Mereka melarikan diri dari acara.
Jessica--entah apa isi kepalanya--tidak mengatakan apa alasannya. Dia hanya menarik lengan Demian. Dengan hentakan kaki yang keras dan tegas, ia membelah keramaian. Gaun seksinya berkibar elegan ketika ia melenggang menuju kamar.
Setelah pintu dibanting tertutup, di sinilah Demian sekarang.
Jessica menyerahkan secangkir kopi pada Demian, sepasang emeraldnya seperti mengatakan 'Minum!' pada Demian.
"Terima kasih," ujar Demian.
Sejujurnya, Demian masih dilanda kegundahan. Ia tidak tau apa yang akan terjadi sekarang. Jessica tidak mengatakan akan memaafkannya tadi, tidak juga dia menunjukkan ekspresi tersipu sama sekali. Ekspresi Jessica saat ini begitu tak terbaca, Demian yang berada di hadapannya takut ditolak untuk kedua kalinya.
Setelah menyerahkan kopi barusan pada Demian, Jessica lalu mengambil satu bantal dari sofa dan menjadikan bantal itu dudukannya. Ia duduk di lantai, bersila. Tangan tersilang di atas meja kaca. Matanya menyorot ke arah Demian, penuh ketenangan.
Melihat Jessica duduk di lantai, Demian langsung merosot ke lantai juga. Ia duduk di atas karpet bulu itu sambil meneguk ludah gugup.
"Apa kau mabuk, Demian?" Jessica membuka suara duluan.
"Apa?"
"Kau tau..., mabuk, teler, atau apa pun itu..."
"Tidak. Aku sangat sadar sekarang."
"Jadi..., kau sangat sadar ketika kau mengatakan apa yang kau katakan di bawah tadi?"
Kata-kata Demian mencintainya, Jessica kesulitan percaya pada indera pendengarannya. Namun itu nyata, Demian jelas-jelas mengatakan ia mencintainya.
Jessica tidak tau apakah ia harus mempercayai Demian karena..., bagaimana dia bisa mempercayai Demian?
"Aku sangat sadar ketika aku mengatakan aku mencintaimu, Jessica. Jika itu yang ingin kau tanyakan."
"Keparat," umpatan lolos di mulut Jessica seketika. Bagaimana bisa Demian bicara seenteng itu mengenai isi hatinya sementara Jessica merasakan tabu luar biasa?
"Apa aneh mendengarku mengakui perasaanku?" Demian menggoda Jessica dengan sedikit kekehan jenaka. Dia tau Jessica benci kalau dirinya menjadi frontal.
"Aku belum memaafkanmu, Demian. Jangan merasa senang karena aku memberikanmu kesempatan bicara."
"Aku tau..." Senyum Demian perlahan memudar dengan sendirinya. "Aku juga tau, kalau aku belum berkata jujur padamu, aku tidak akan pernah memperoleh maaf darimu."
"Jadi..., kau akan jujur padaku sekarang mengenai alasan kegilaanmu barusan?"
"Itu tidak gila, sebenarnya. Aku selalu ingin mengakui perasaanku padamu dan mendapat kebebasan untuk bisa menciummu di depan umum."
"Jangan konyol, Demian."
Jessica kembali bergidik ketika Demian menyinggung ciuman yang terjadi sebelumnya. Mengingat kejadian tadi saja sudah membuat Jessica merasakan malu luar biasa, Jessica tidak kuat bila Demian menjelaskan tindakannya barusan dalam kata-kata.
"Aku serius. Aku selalu ingin mengklaimmu sebagai milikku di depan semua orang. Aku ingin menciummu dan melakukan banyak hal denganmu, aku ingin bicara bebas denganmu..."
"Kau sudah mempunyai pacar, Demian! Kalau kau tidak tau, Angela datang ke acara ulang tahunku hari ini. Dia datang dan dia seratus persen sudah menyaksikan kegilaanmu! Selamat!"
Demian--tanpa menunjukkan perasaan bersalah--mengendikkan bahu. "Apa kau mengundangnya?"
"Dia datang bersama saudaramu."
"Aaaaah, AAAAHHH??!" Demian seketika mengerang. Kedua tangannya berlabuh di kepala, menahan pelipisnya seakan-akan kepalanya akan meledak saat itu juga.
"Demian?" Jessica terheran-heran.
"Aaaaaaahhh!!! Keparat itu!!!" Memaksakan dirinya agar tidak menjadi gila di sana, Demian menenangkan Jessica yang sekarang menatapnya seperti menatap satwa liar yang mengamuk.
"Bagaimana ini, Jessica...," Demian tertawa samar kemudian. "Kupikir aku sudah melibatkanmu dalam bahaya."
"Bahaya?"
__ADS_1
Demian memijit keningnya sambil menghela napas lemah. "Jesse, maafkan aku. Karena keserakahanku, aku jadi melibatkanmu dalam permasalahanku."
"Tunggu dulu, apa maksudnya?" Demian tidak bisa meminta maaf begitu saja tanpa memberikannya konteks apa-apa. Bahaya seperti apa yang dia maksudkan, Jessica penasaran.
"Erthian...," ucap Demian. Suaranya penuh beban. "Kau ingat pertama kali kita bertemu, saat itu aku mengatakan sedang melarikan diri dari keluargaku."
Jessica ingat--setidaknya--sampai Demian mengungkit perihal itu, barulah Jessica mengingatnya kembali.
"Apa kau melarikan diri dari Erthian?"
"Daripada Erthian, bisa dikatakan aku melarikan diri dari semua orang. Ayahku, saudaraku dan keluarga besarku..."
Ketika mengungkit latar belakangnya, Demian menghindari tatapan Jessica. Demian tidak mau melihat wajah Jessica karena ia takut membaca ekspresi gadis itu. Bagaimana kalau Jessica jijik padanya, membencinya dan enggan atas keberadaannya?
Ketakutan itu adalah satu dari sekian alasan mengapa Demian tidak mau mengungkapkan jati dirinya.
"Mereka...," lanjut Demian. "Keluargaku bukan keluarga biasa yang biasa kau temui sehari-harinya, Jessica. Kau mungkin sulit percaya, tapi..., ayahku..., Christian Bellamy adalah salah satu orang yang begitu berpengaruh di Italy."
Jessica menyimak dengan tenang, kendati otaknya mulai samar-samar membayangkan akan seperti apa keluarga Demian. Bila keluarganya orang berpengaruh, apa itu artinya dia bekerja di pemerintahan dengan jabatan tinggi? Seorang konglomerat?
"Ketika aku mengatakan berpengaruh, maka pengaruh yang diberikan keluargaku adalah pengaruh buruk."
"Eh?"
"Di luarnya, mereka terlihat mempunyai bisnis legal yang besar dan mendunia tapi..., di balik persona itu, kami bisa dibilang..., mafia?"
"..."
Bercanda, ya? Mafia di 2020?
Oke. Jessica mungkin kedengaran agak picik.
Tentu saja mafia masih ada sampai sekarang. Malah, semakin maju dan semakin berkembangnya zaman, mereka dan kroni-kroninya juga beradaptasi dalam waktu dan menciptakan lingkup yang lebih maju lagi.
Jessica tau di bumi ini, kelompok hitam yang bergerak di dalam bayang-bayang tersebut masih ada di dunia ini. Hanya saja, Jessica tidak menyangka Demian akan menjadi bagian dari mereka.
Demian? Demian yang berada di hadapannya, tampil santai dalam kemeja flanel dan kaos hitam yang robek di area lehernya? Demian ini..., anggota keluarga mafia?
Demian terlihat normal, demi Tuhan. Dia mungkin egois dan sinis, tapi..., dia cukup manusiawi dibandingkan mitos tentang para mafia yang memperdagangkan tubuh manusia.
Tunggu, apa Demian memperdagangkan organ tubuh manusia di Italy sana?
"Jessica?"
"Y-yaaa?"
"Kenapa kau tiba-tiba bengong?"
Jessica mengerjapkan mata dan menggaruk dagunya. "Hanya..., aku cukup terkejut. Maksudku..., apa kau serius?"
"Aku maunya bercanda, tapi..., aku serius sekarang." Demian tersenyum getir. "Aku tidak mau kau tau latar belakangku. Aku sungguh-sungguh enggan terlibat dengan masa laluku, tapi seperti yang kau lihat, mereka masih berhasil mengikutiku."
"Jadi, yang kau katakan adalah..., kau..., semacam member di kelompok mafia begitu?" Menyebutkannya saja terasa tidak pas di lidah.
Mafia--, kata itu seharusnya berada di novel saja.
"Ummm...," pertanyaan Jessica ditanggapi Demian dengan keraguan. Haruskah ia mengatakan pada Jessica kalau ia adalah salah satu kandidat dan calon pemimpin di Bellamy?
"Ayahku...," Demian jadi berbelit-belit. "Ayahku adalah pemimpin keluarga kami, Jessica. Dalam arti lain..."
"Kau adalah..., penerusnya?"
Penerus keluarga mafia..., berada di kamarnya? Jessica seperti tersedak tulang ikan saat itu juga.
"Erthian adalah penerusnya," Demian meralat cepat. "Aku.., aku tidak mau posisi apa pun di keluargaku."
"Huh..., jadi, apa mereka mengincarmu selama ini untuk membawamu..., pulang?"
Alasan itu masuk akal, pikir Jessica.
Seorang calon penerus yang melarikan diri dari rumah membuat keluarga besarnya yang bar-bar mengejar langkahnya sampai ke belahan dunia yang berbeda. Keluarga yang nekad mencari putera mereka hingga ke belahan dunia yang berbeda--, situasi itu hanya terjadi bila si putera memiliki nilai yang sangat tinggi.
Kebanyakan keluarga tidak akan nekad melintas benua lain untuk menemukan putera mereka yang omong-omong 'sudah dewasa', dan melarikan diri karena niatnya sendiri. Kebanyakan keluarga mungkin akan dilanda kesedihan, tapi kebanyakan menyerah di tengah jalan.
__ADS_1
Demian sudah pasti penerus utama di keluarga besarnya. Angsa emas yang sangat berharga.
Jessica mengaitkan satu dan satu hal di benaknya dan itu membuatnya mau tertawa. Hal yang ingin ia perbincangkan hanyalah pengakuan Demian, tapi mengapa sekarang topiknya menjadi terlalu luas dan terlalu besar untuk ia tangani? Seperti ia meminta segelas air dan Demian menyerahkannya lautan.
"Jessica..., lupakan motif mereka sebentar saja..." Demian menegapkan postur duduknya, "Alasan mengapa aku tidak mengakui perasaanku padamu, menyembunyikanmu..., semua itu karena aku tidak mau Erthian mengetahui kalau kau mempunyai makna penting di hidupku. Aku tidak mau dia melabuhkan tangan kotornya padamu."
"..."
"Aku tidak berniat merahasiakanmu, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu dengan ulahku selama ini..., aku..., aku mau jujur padamu, tapi aku takut kau akan semakin jauh dari jangkauanku."
Tidak semua orang mau menerima seorang mafia dengan tangan yang terbuka. Kebanyakan orang yang sudah pernah bersua dengan Demian selamai ini, ketika mengetahui latar belakangnya, menyuarakan penyesalan yang keras dan berulang. Bahwa, tidak mengenalnya lebih baik daripada pernah mengenalnya.
"Erthian..., apa yang akan dia lakukan..., maksudku, jika dia tau kau menyukaiku, apa yang salah dari itu?"
"Dia gila, Jessica." sahutan Demian membuat Jessica tertegun heran. Begitu saja? Erthian gila?
"Apa maksudnya?"
"Aku tidak tau apa yang salah pada otaknya tapi..., dia begitu terobsesi padaku ketahap itu membuatku takut padanya. Dulu, setidaknya, aku begitu membencinya dan takut padanya."
"..."
"Dia penyakitan sejak kecil..., kupikir dia mungkin membenciku karena aku lebih sehat darinya. Tapi tidak. Dia sangat mencintaiku, sebenarnya, hanya saja..., cinta itu agak absurd. Semenjak aku bisa mengingat, segala hal tentang Erthian selalu membuatku ketakutan..."
"Apa yang dia lakukan?"
"Aku tidak tau apa ini aneh atau tidak untukmu..., tapi dalam beberapa kesempatan, aku sering memergokinya memakai pakaianku, membaca diaryku--"
"Kau punya diary?"
"Itu saat aku masih kecil, Jessica."
Senyum Jessica merekah jenaka. "Maafkan aku, aku salah fokus. Jadi..., apalagi yang dia lakukan?"
"Dia terobsesi pada barang-barangku, terutama barang yang paling aku sukai. Dan tidak berhenti di barang-barang saja, ketika kami beranjak remaja, kebanyakan pacarku saat SMA juga menjalin hubungan dengannya."
"Eeewwww???"
"Aku serius. Dia juga mulai melakukan hal-hal yang paling kubenci."
Kening Jessica mengernyit. "Hal-hal semacam apa?"
"Ini agak sulit untuk kukatakan..., tapi..." Demian merasakan tikaman di jantungnya ketika ia mengingat kembali momen hitam itu di benaknya. "Aku mempunyai ibu tiri bernama Selina, wanita itu seusia denganku..., dia menikahi ayahku tapi, dia begitu menyukaiku."
"Dan...?" Perasaan Jessica semakin tidak nyaman ketika ia mendengar cerita Demian. Demi Tuhan, bila ia tinggal di lingkungan hidup Demian, Jessica berani bertaruh ia akan tumbuh menjadi pembunuh.
"Di ulang tahunku yang ke 23," ucap Demian, suaranya tersendat kesulitan.
"..."
"Alasan mengapa aku melarikan diri ke Vegas adalah karena hal yang terjadi hari itu..."
"Jika itu begitu sulit untukmu, kau sebaiknya tidak mengatakan apa pun padaku." Jessica mencemaskan ekspresi muram Demian. Ia takut malah mengungkit hal traumatis. Demian sejujur sekarang sudah cukup untuknya, Jessica tidak mau pria itu memaksakan dirinya untuk bicara hal-hal yang pernah menyakitinya.
"Jessica, aku mau kau tau pria seburuk apa Erthian..." Demian meraih pergelangan tangan Jessica di meja dan mengelus punggung tangannya lembut. "Aku ingin kau tau, monster seperti apa yang sudah menjadi saudaraku."
Karena Demian begitu kokoh pada pendiriannya untuk bercerita, mau tak mau, Jessica berpindah ke samping pria itu dan mendengarkannya dengan seksama. Menyimak pengakuan Demian yang membuat jantung Jessica mencelos seketika.
"Di malam perayaan ulang tahunku yang ke 23, Erthian meracun minumanku dengan sesuatu..., malam itu juga, dia memberikan akses pada Selina agar bisa menghabiskan malam bersamaku. Kau..., kau pasti paham apa yang kumaksudkan dengan itu, bukan?"
Jessica mendengarkan ucapan Demian dengan tangan yang bergetar dalam kengerian.
Ibanya pada situasi yang sudah Demian alami berbaur dengan amarah dan sakit hati.
Daripada gila, Jessica lebih mendeskripsikan Erthian sebagai psikopat sinting dari neraka. Bagaimana bisa, sebagai saudara, ia membuat Demian dilecehkan oleh ibu tirinya? Apa mereka bukan manusia? Kehidupan Demian sebelum ini, setelah apa yang terjadi..., bagaimana mungkin mereka masih menginginkannya kembali?
"Sekarang..., aku sudah mengatakan alasanku Jessica..." Demian mendongak dari tunduknya seraya tersenyum tipis. Sepasang iris kelamnya menyorot ke arah Jessica dengan selapis bening air mata mengaburkan tatapannya.
"Sekarang..., apa kau merasa jijik padaku sekarang?"
Karena jujur saja, Demian sendiri selalu merasa jijik pada dirinya setiap kenangan itu bangkit kembali di kepalanya. Mengotori benaknya.
...****************...
__ADS_1