
Demian duduk di atas motornya, mata menatap kepada billboard yang menyala terang di atas Bronze. Sebuah iklan mobil tertera di sana.
Sementara menatap kepada iklan tersebut, Demian merenungkan kembali situasi yang ia temukan tempo hari. Ketika Jessica dengan lancarnya berbohong kepada Angela.
Huh, kenapa Demian tau Jessica berbohong?
Tidak, Jessica tidak mengatakan apa pun kepada Demian yang mampu mengindikasikan dia berbohong. Tidak ada. Jessica malah mengabaikan keberadaannya, jujur saja.
Demian hanya tau Jessica berbohong. Bukan berarti kemampuan berbohong Jessica sangat buruk atau apa pun. Sebaliknya, Jessica sangat meyakinkan ketika mengutarakan kebohongannya.
Alasan mengapa Demian tau Jessica berbohong adalah karena Demian mengenal Jessica dan tinggi empati yang gadis itu miliki.
Jessica--ketika Angela menanyai maksud kedatangan Jake di sana--seketika turun tangan dan merespon tanya Angela. Ia menjadikan dirinya sebagai perisai Jake Allendale. Dia tidak mengatakan kebenaran, ia melakukan pembelaan.
Kenapa ia perlu melindungi Jake? Si keparat itu dari semua orang?
Demian mengulum pipi kirinya. Ia tidak akan menemukan jawaban terkecuali ia menanyai Jessica langsung. Namun, sebelum ia menanyai Jessica, satu pertanyaan muncul kembali di benak Demian.
Mengapa ia peduli?
"Demian..." Adam keluar dari Bronze. Satu tas kulit berwarna hitam tersampir di pundaknya. "Apa kau yakin mau mengantar ini sendirian?"
"Aku sudah terbiasa mengurus ini sendirian," Demian merebut tas yang berada di pundak Adam dan menyampirkan tas itu ke pundaknya sendiri.
"Aku tau kau akan merespon seperti itu," kata Adam. "Oscar bilang kau sebaiknya tidak membuat onar untuk sementara waktu. Dia senang melihatmu tanpa perban."
"Ingatkan aku kembali perihal itu ketika aku mulai melacurkan diriku di tempat ini," ujar Demian. Ia bergidik tak senang atas lelucon yang Oscar titipkan melalui Adam.
Bahkan bila Demian babak belur, Demian percaya Oscar tidak akan peduli padanya. Pria keparat itu hanya mengatakan hal tersebut untuk menggoda Demian menyangkut keberadaan Jessica.
Benar. Semenjak Jessica merawatnya dengan baik, Demian tidak mempunyai memar apa pun di wajahnya selama seminggu. Itu mengejutkan dan menggelikan. Oscar menjadikan topik itu sebagai bahan bully-an.
Bahwa pada akhirnya, Demian memiliki seseorang yang mampu merawatnya dengan baik.
Keparat, apa maksudnya?
*
Jessica membaca sebuah buku tentang cara mencari kawan dan mempengaruhi orang lain, buku karya Dale Carnegie. Jessica membaca buku itu demi menemukan penerangan dan bantuan tentang cara menyelamatkan seseorang. Seseorang yang butuh bantuan.
Jake Allendale membutuhkan bantuan Jessica. Ini adalah fakta baru yang sekarang bersarang di benak Jessica seperti kait pancing yang menancap di dagingnya. Dia tidak akan baik-baik saja bila ia tidak membantu Jake. Dia untuk jangka waktu yang lama, akan tersiksa bila ia menolak permohonan Jake.
Pria itu, pria malang berkulit putih itu..., dia hanya membutuhkan seorang teman.
Jessica tidak tau apakah ia harus tertawa atau meneteskan air mata atas kesedihan yang Jake ungkapkan padanya. Maksud Jessica, mengesampingkan karyawannya di Elixir, Jessica pun tidak mempunyai sahabat yang murni seorang sahabat.
Bagaimana bisa Jake meminta bantuan kepada gadis 'no life' sepertinya?
__ADS_1
"A-aku tau ini terdengar aneh..., tapi..., aku tidak tau harus bicara pada siapa lagi. Aku merasa sesak menampung semuanya sendirian."
Saat itu dunia Jake seperti runtuh di atas kepalanya. Jessica tidak tau penderitaan macam apa yang pria itu rasakan sampai ia begitu frustasi.
"Aku hanya butuh seorang teman untuk bicara, untuk mendengarkanku..., kau bilang kau tidak keberatan dengan teman baru, bukan?"
"Tapi kenapa aku?"
Jessica bersimpati pada Jake, serius! Tapi ia masih tidak mengerti mengapa dirinya yang dipilih Jake?
Jessica menyadari bila dirinya bukan orang yang tepat untuk posisi itu. Posisi teman yang siap mendengarkanmu. Jessica tidak memahami apa pun.
"Karena kau menyelamatkanku malam itu," jawaban Jake tidak membantu Jessica memahami situasi itu sama sekali. "Sekarang pun, aku merasa nyaman berbicara denganmu."
"???"
"Aku dengar..., seseorang lebih nyaman berbicara dengan orang asing daripada berbicara dengan kerabat dekatnya. Aku merasakan hal yang sama."
Dalam arti lain, kendati Jake mempunyai kerabat dekat yang mampu dan lebih memahaminya, ia tidak bisa mengatakan apa-apa pada mereka. Ia merasakan beban luar biasa untuk sekedar berterus terang. Jika itu Jessica, wanita asing yang pernah membantunya sekali, Jake tidak merasakan keberatan sama sekali.
Mungkin, hal itu sama seperti orang asing yang dengan entengnya terbuka di internet, tapi menjadi pemalu di dunia nyata. Apa pun itu, Jake membutuhkan seorang teman yang mampu mendengarkan keluh-kesahnya.
"Aku pikir kau menjalani kehidupan yang baik selama ini," gumaman Jessica lepas begitu saja. Ia menutup buku yang berada di hadapannya dan segera beranjak menuju tempat tidur.
Jessica sudah mengarahkan Jake untuk bertemu therapist, sebenarnya. Tapi pria itu menolak.
Sekarang, karena Jessica tidak bisa mencampakkan Jake yang membutuhkan bantuan, Jessica mungkin akan berusaha menjadi teman untuk pria itu.
*
"Jesse," sebuah suara menyapa Jessica. Seorang wanita berdiri di depan pintu kamarnya. Mata menyorot ke arah Jessica yang duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya. Mata berkaca-kaca.
"Kau berdarah, Jesse." Wanita itu mendekat. Sepasang iris hijau kelabunya menatap Jessica dengan iba. "Kau seharusnya mendengarkan ibu, Jess. Kau seharusnya bersembunyi dan menutup matamu. Kau seharusnya tidak bersuara sama sekali."
"Hiek..." alih-alih mengatakan sesuatu, Jessica malah terisak. Kedua telapak tangannya terluka, darah mengalir di sudut bibirnya. Rasa panas yang luar biasa menjalar di kulit Jessica, muncul dari setiap jejak sepatu yang merekat di pakaiannya.
"Aku hanya ingin membantu ibu..." Isakan Jessica membesar riuh. Darah yang merembes di telapak tangannya semakin terasa menyakitkan, tapi ia tetap mengepalkan tangannya. Ia membenamkan wajahnya di sana, dan aroma darah seketika menyapa indera penciumannya. tajam dan menyengat.
"Jessica..." wanita itu menghampiri Jessica. Lembut tangannya mengusap helai hitam Jessica. Menenangkan Jessica yang masih terisak di tempat tidurnya.
"Kau baik-baik saja sekarang," bisikan itu menyapa Jessica seperti sebuah fatamorgana. Nyata tak nyata.
Jessica mendongak dan sepasang mata yang menatapnya berubah warna.
"Apa kau baik-baik saja?" sosok itu bukan lagi ibunya. Sosok yang mengusap surai hitamnya, menatapnya dengan iris sekelam samudera, sosok itu adalah Demian Bellamy.
"Demian?"
__ADS_1
Hah? Demian?
Jessica berkedip beberapa kali. Seriusan? Apa dia berhalusinasi?
"Kau..." Jessica menarik tubuhnya bangkit. Demian membantunya. "Kenapa kau di sini?"
Jessica terperangah.
"Apa aku tidak boleh datang?"
Tidak, bukan itu masalahnya...! Jessica ingin membantah ucapan Demian sampai ia menyadari sesuatu yang salah dari wajah pria itu. Aroma darah yang kental menyeruak dari tubuhnya, wajah memar di mana-mana dan..., oh?
"Bajumu berdarah." Jessica melebarkan mata. "Apa yang terjadi padamu?"
"Ah ini..."
"Apa kau terluka?" suara Jessica meninggi penuh iritasi. "Apa yang kau lakukan sampai kau terluka seperti ini?"
Jessica menyentuh rahang Demian dan menaruh perhatiannya pada setiap memar yang menyeruak samar di kulit tan pria itu. Jessica bisa membayangkan betapa sakitnya memar-memar itu. Jantung Jessica menjadi ngilu.
"Apa yang harus kulakukan padamu?" gumaman Jessica menyiratkan iba. Demian menatap setiap perhatian Jessica yang tumpah padanya dengan seulas seringai tipis bermain di parasnya.
"Kau bicara seolah-olah kau tidak pernah melihat orang terluka sebelumnya." Demian berujar sambil menarik pergelangan tangan Jessica turun dari wajahnya.
Demian menatap Jessica tepat di mata. Ketenangan di sepasang iris kelamnya seperti menyampaikan kalau ia baik-baik saja. Bahwa, sedikit memar tidak berarti apa-apa baginya.
"Karena aku puas melihatnya...," kata-kata Jessica menggantung di udara. Ia menemukan keraguan untuk mengatakan apa pun menyangkut dirinya kepada Demian yang berada di hadapannya.
Pria itu bukan siapa-siapa. Demi Tuhan. Jessica sama sekali tidak memahami alasan mengapa ia segampang ini bersimpati.
Ia hampir membuka masalalu kelamnya hanya agar Demian mengerti sumber keprihatinannya.
Sialan!
"Tunggu sebentar," ujar Jessica. Ia mengganti topik seketika. "Aku akan mengambil kotak P3K untukmu."
"Tidak perlu," tukas Demian. Ia menarik Jessica yang hendak berdiri dan menyentak gadis itu agar duduk kembali.
"Aku lapar," kata Demian.
"Sekarang?" Oh, jam berapa sekarang?
"Sekarang." sahut Demian.
Jessica hendak melirik jam digital di tempat tidurnya. Namun, alih-alih menemukan susunan angka, ia menemukan dirinya ditimpa oleh sebuah ciuman yang datang tiba-tiba dari hadapannya. Menubruk bibirnya dan membungkamnya. Panas gairah mendesir di darahnya. Meningkatkan debaran jantungnya.
Demian..., tanpa tau apa yang menggerakkan hatinya,
__ADS_1
Jessica..., tanpa menyadari situasi yang menimpanya.
*