
Hujan turun deras pagi itu, disertai dengan langit mendung kelabu.
Melalui ramalan cuaca di berita, hujan akan mengguyur Vegas seharian. Untungnya, hujan itu hanya hujan biasa. Tidak ada angin berlebihan yang membuatmu harus menutup rapat jendela.
Situasi itu cukup melegakan untuk Jessica karena, meskipun hujan menetes deras membasahi tanah Vegas, Jessica masih bisa bersantai di balkon kamarnya sambil menyesap secangkir cokelat panas.
Jessica tidak punya aktivitas yang berat hari ini, terima kasih kepada hujan. Elixir juga menjadi cukup senggang. Sulit bagi orang-orang untuk beraktivitas nyaman ketika hujan deras membekukan tulang. Apalagi sekarang sudah memasuki musim gugur.
Sebisa mungkin, para penduduk Vegas yang tidak terlibat dalam pekerjaan kantor yang wajib turun 24/7, membatasi aktivitas mereka di luar hari ini. Terutama orang-orang tua yang gampang sakit.
Mengambil waktu untuk dirinya sendiri, Jessica pun merenung menatap rintikan hujan. Jessica merasakan kedamaian dari bunyi air yang jatuh di atap. Kenyamanan dari sunyi yang menyebar di almond street juga memberikannya kelegaan tersendiri.
Segala debu dan polusi yang kerap menghiasi Vegas, untuk hari ini, telah tersapu bersih.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" Hanya ketika suara Demian datang menyapa kupingnya, barulah Jessica tersadar dari renungan panjangnya.
"Tidak ada yang spesifik," sahut Jessica. Sepasang emeraldnya memperhatikan Demian yang menghampirinya dan menyampirkan kemeja flanel pria itu di pundaknya. "Aku hanya menikmati kesunyian yang langka ini."
"Oh...," Demian menarik satu kursi besi yang berseberangan dengan Jessica. Ia memindahkan kursi itu ke samping Jessica sebelum duduk di sana. "Vegas memang jarang sekali sepi, kan?"
"Aku rasa hanya Almond street yang cukup sepi."
Di pusat kota Vegas, terutama di area the strip, tempat itu tidak akan pernah mati dari keramaian. Tidak peduli hujan badai sekalipun.
"Mungkin karena penghuni di area ini kebanyakan lansia, jadi orang-orang tidak terlalu banyak beraktivitas di luar rumah." Jessica lanjut berasumsi.
"Kenapa kau membuat cafemu di area ini?" Demian jadi penasaran. Lansia jelas sekali bukan target pasar yang pas untuk sebuah cafe bertema urban.
"Aku tidak memilih tempat ini secara spesifik," jelas Jessica. "Aku hanya mendapatkannya dan diminta untuk merawatnya."
Oh, benar juga. Demian nyaris lupa kalau Elixir sebenarnya adalah warisan dari psikolog yang sempat mengasuh Jessica semenjak remaja. Ngomong-ngomong, di mana wanita itu sekarang? Demian agak penasaran.
Jessica sedikit bernostalgia mengenai Elixir yang pada jamannya, bukan bernama Elixir. Tempat ini dulunya adalah sebuah pub. Ethan, Elliot, Dania bahkan Jessica bekerja di sini di bawah pimpinan seorang wanita yang Jessica ingat bernama Charlotte.
Charlotte adalah wanita yang menawarkan Jessica rumah ketika Jessica bebas dari penjara remaja. Tentunya, dengan persyaratan kalau Jessica harus mau membantunya. Jessica menerima tawaran itu dan bekerja bersama Charlotte dengan suka-cita.
Wanita itu adalah rumah kedua Jessica yang memberikannya kenyamanan dan ketentraman. Jessica juga mempunyai kawan-kawan baru yang menerimanya dengan tangan terbuka.
Hidup terasa begitu sempurna hingga kemudian Charlotte meninggalkan sebuah surat di atas meja.
...'Aku tidak akan pernah kembali, Jessica. Sudah saatnya bagiku menghadapi realita dan menemui segala hal yang sempat kulupakan sekian tahun lamanya. ...
...Bersama kalian memberikanku kebahagiaan dan ketentraman, tapi itu juga memberikanku perasaan bersalah yang berkepanjangan....
...Aku akan kembali ke tempat asalku dan menemui takdirku. Maafkanlah aku yang sudah memanfaatkan kalian sebagai penutup lukaku. ...
...Aku harap kalian menemukan kebahagiaan. ...
...Your guardian, Charlotte.'...
Memikirkan Charlotte kembali, Jessica bertanya-tanya apakah wanita itu telah menemui kebahagiaannya? Jessica penasaran..., apakah lari bukan sebuah jawaban? Mengapa Charlotte perlu menghadapi kehidupan yang ia benci? Apa yang salah sampai dia harus pergi?
Sembari Jessica memikirkan Charlotte, Jessica menyadari kalau Demian yang berada di sisinya kini merupakan refleksi dari Charlotte itu sendiri. Charlotte yang melarikan diri dari realita tak jauh berbeda dari Demian yang telah meninggalkan rumahnya.
Pertanyaan muncul di benak Jessica saat itu juga, apakah Demian akan terus berlari dan menggenggam tangannya, ataukah dia akan melakukan hal yang sama dengan Charlotte?
"Demian," Jessica meraih pergelangan tangan Demian, ia merasakan kehangatan menyusup di kulit tan itu.
"Ya?" Demian yang bersandar di pundaknya, bernapas teratur dan nyaman di sana, menanggapi Jessica dengan suara rendah.
Jessica mengelus surai ikal Demian, mengusapnya penuh kasih sayang. "Kau..., apa kau mencintaiku?"
"Huh, pertanyaan macam apa itu?" Demian agak tersentak atas tanya itu. Masalahnya, Demian sudah merapalkan kata itu seperti mantra di telinga Jessica. Ia sudah jujur sejujurnya, hanya mencintai wanita itu saja.
Mengapa pertanyaan itu masih ada ketika Demian terus-terusan menghujani Jessica tidak hanya dengan kata-kata, tapi perlakuan yang mendamba juga?
__ADS_1
"Hanya ingin memastikan." Jessica terkekeh.
"Aku akan selalu mencintaimu," Demian memberikan jawaban absolut.
Mendengar tanggapan Demian juga, Jessica merasakan kelegaan menyebar di seluruh nadinya. Memberikannya berlimpah kehangatan dan ketentraman. Jessica--mendengar jawaban Demian--merasa puas. Karena jawaban itu adalah obat penenang kecemasannya. Obat yang memberikan Jessica keyakinan kalau Demian tidak akan meninggalkannya seperti Charlotte.
Jessica tidak akan menjadi bahan pelarian seperti yang sudah Charlotte lakukan.
Jessica, untuk Demian, adalah cintanya.
*
Menjelang sore, ketika intensitas hujan menjadi tak sederas tadi siang, Jessica mulai berkeliaran di Elixir dan memberikan bantuan pada teman-temannya yang dilanda kesibukan.
Mungkin karena hujan sudah tidak sederas tadi siang juga, orang-orang yang mengurung niat mereka untuk bepergian tadi siang jadi bepergian di sore harinya.
Yah, apa yang Jessica harapkan dari Vegas yang selalu riuh?
"Aku akan menemui Adam sore ini," ujaran Demian menyapa telinga Jessica yang tengah sibuk meracik minuman di sebelah Ethan. Jessica membantu menyiapkan minuman hari ini.
"Apa yang akan kau lakukan hujan-hujan begini?" Jessica memprotes tak senang. "Apa kau bisa..., sebentar saja tidak menyibukkan dirimu dalam hal-hal yang tidak perlu?"
Masalahnya, sekarang hujan. Jessica tidak mau Demian berhujan-hujanan di luar sana. Dia juga bukan tipe pria yang akan memegang payung atau memakai jas hujan. Dia pasti akan menerobos air itu dan mengekspos dirinya di bawah cuaca buruk.
Bagaimana kalau Demian sakit?
"Ini situasi yang penting, tenang saja." Demian menanggapi seraya tersenyum jenaka. "Kau tetaplah di sini, aku tidak akan pergi lama."
"Tidak sepertimu, aku tidak ada niatan untuk melakukan aktivitas apa pun di luar hari ini."
Tidak mungkin Jessica menyeret kakinya keluar dari Elixir ketika hujan sedang mengguyur Vegas sekarang. Jalanan yang basah sudah cukup tidak menyenangkan, ditambah lagi temperature rendah yang membuat tubuh Jessica bergetar kedinginan. Mustahil!
Mustahil!
Mustahil adalah sanggahan yang Jessica berikan terhadap ucapan konyol Demian yang memintanya untuk tidak meninggalkan Elixir. Mana mungkin Jessica meninggalkan Elixir. Seharusnya situasi itu mustahil, tapi di sinilah Jessica sekarang. Di ujung jalan Almond street, memegang setangkai payung hitam.
Angela Lancaster adalah wajah yang sudah meresahkan hatinya sekarang.
"Aku harus bicara denganmu sekarang!" adalah rengekan yang wanita itu berikan di telepon. Suaranya tinggi dan penuh keputus-asaan. "Jessica, kalau kau tidak menemuiku, aku akan bunuh diri. Aku akan mati karenamu!"
Jika Jessica adalah Dania, Jessica akan menepis ancaman itu dengan kekehan dan sumpahan yang menyuruhnya untuk mati saja. Namun, sayangnya Jessica bukan Dania. Jessica mempunyai empati tinggi bersembunyi di benaknya. Ia tidak bisa mengabaikan ancaman bunuh diri dari seorang wanita yang Jessica ketahui dari Demian, mempunyai emosi tak stabil sekarang.
Bagaimana kalau Angela benar-benar bunuh diri, Jessica tidak mau berakhir disalahkan oleh Demian karena sudah mengabaikan permintaan wanita itu. Juga, kematian bukan hal yang dapat disepelekan.
"Mau bagaimana lagi," putus Jessica. Ia hendak menemui Angela yang mengatakan akan menemuinya di sebuah bar di ujung jalan raya.
Apa pun yang hendak Angela katakan padanya, Jessica percaya omongan itu tidak akan mempengaruhinya lagi. Jessica sudah menang di sini. Dia sudah mempunyai Demian di sisinya.
Jessica tidak perlu goyah pada pijakannya dan menghindari wanita yang kedepannya, hanya akan menjadi benalu di hubungannya dan Demian. Jessica perlu memberikan wanita itu peringatan kuat agar dia berhenti mengusik mereka lagi.
"Jessica..." sebuah suara menyapa Jessica, datang dari Angela yang berdiri sambil membawa payung hitam yang sama.
Jessica lantas saja menghampiri Angela. Ia siap mendengar keluhan apa pun yang akan wanita itu lontarkan padanya.
"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja sekarang." Jessica bicara setelah ia dan Dania duduk di depan meja bar. Jessica tidak berminat mengulur lama pembicaraannya dan Angela.
"Minumlah sebentar," tukas Angela. "Aku melihatmu bergetar."
"Oh?" Cuaca dingin memang benar-benar membuat Jessica bergetar sekarang. Telapak tangannya sedingin es dan sangat merah. "Aku tidak tau kau bisa perhatian."
Jessica mencibir sikap Angela yang sekarang menyodorkan segelas cocktail padanya. Kendati Jessica menghindari alkohol belakangan, Jessica merasa beberapa teguk dari minuman itu tidak akan masalah karena dia sangat kedinginan.
"Jadi..., apa yang ingin kau bicarakan?" Jessica bicara sambil menenggak cocktail yang disodorkan Angela. "Kau sampai mengancamku dengan nyawamu, apa kau sudah gila?"
"Kau mungkin bisa berasumsi demikian." Angela menanggapi tenang. "Aku sudah gila karena semua hal yang kusayangi telah direnggut dariku. Teman-temanku, kekasihku, mereka semua berpaling meninggalkanku."
__ADS_1
"Aku pikir kau yang mencampakkan mereka, Angela." Jessica mau tertawa saja atas ucapan Angela. Sangat tolol, pikirnya. Mau sampai kapan dia melihat dirinya sebagai korban?
"Jika perasaan mereka tulus, mereka tidak akan berpaling begitu aku mencampakkan mereka. Mereka seharusnya berupaya lebih keras. Bukankah cinta sangat berharga? Karena perasaan itu begitu berharga, kau seharusnya menunjukkan upaya keras untuk memperolehnya."
"Katakanlah Jake dan Demian berusaha keras, bagaimana denganmu?"
"Huh?"
"Apa kau berusaha keras dalam memperoleh hati mereka, Angela?"
Ini adalah masalah Angela, sebenarnya. Wanita itu terlalu merasa dicintai, egonya pun meninggi. Dia tidak merasa kalau dia perlu memberikan usaha yang sama. Dia berharap menjadi trofi yang akan diserahkan kepada pasangannya nanti ketika mereka sudah menghadapi berbagai halang-rintang yang ia ciptakan sendiri.
Sungguh egois!
"Lupakan ucapanku..., mengapa kau mengajakku bertemu? Kau tidak berniat--"
Telinga Jessica berdengung tiba-tiba. Jarum seperti menikam otaknya. Ada apa? Apa karena dingin? Mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini?
"Jessica, apa kau baik-baik saja?" Angela turun dari bangkunya, mata menyorot cemas ke arah Jessica. "Apa obatnya sudah bereaksi?"
"Huh, obat..." Obat apa?
Angela spontan saja merangkul Jessica, ia menjadikan tubuhnya topangan agar Jessica mampu berjalan.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Angela bicara sambil tertatih-tatih menuntun Jessica keluar dari bar itu. "Apa yang kau lakukan, kalau kau sakit kau seharusnya tidak menemuiku."
Sementara Angela meracau di sebelahnya, Jessica tidak begitu menyimak apa yang sudah Angela ucapkan. Suara wanita itu seperti teredam. Kepalanya teramat sakit, ia sampai kesulitan berpikir dan mencerna situasi.
Jessica, saat itu, hanya ingin merebahkan tubuhnya. Ia ingin meredakan ngilu yang merayap tak hanya di kepalanya, tapi juga menikam jantungnya.
"Permisi, apa yang terjadi di sini?" seorang pria dengan tindik berjejer di daun telinga datang menyapa mereka.
Dari penampilannya, Angela tau kalau orang itu adalah kawanan Demian. Angela ingat peringatan Erthian yang mengatakan kalau sekarang Jessica sedang dilindungi oleh banyak orang.
Sungguh menjengkelkan! Bagaimana bisa Demian berlaku seperti ini kepada wanita yang baru dia kenali beberapa bulan? Angela merasakan ketidak-adilan!
"Temanku sepertinya sakit." Angela memberikan tanggapan. "Aku akan mengantarnya pulang."
"Biar kubantu."
"Tidak perlu," ujar Angela. "Aku tidak mau merepotkan orang asing. Lagipula, rumah temanku di dekat sini. Aku akan mengantarnya dengan taksi."
"Tapi...,"
"Untuk orang asing, kau begitu penasaran pada urusanku, kan? Maaf. Aku dan temanku sudah mempunyai kekasih. Kau sebaiknya mencari kesempatan di lain. Freak!" Angela meludahkan kata-kata itu seakan si pria mendekati mereka dengan niat kotor.
"..."
"Aku bilang menjauh..., apa kau mau kulaporkan polisi?" Angela menggertak lebih keras lagi.
"Ma-maaf." Si pria mundur beberapa langkah dan membiarkan Angela membawa Jessica.
Sebagai seorang pengawas yang hanya diperintahkan untuk mengamati dan menjauhkan Jessica dari pria-pria mencurigakan, sosok jelita seperti Angela tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebagai ancaman.
Mereka tidak pernah tau kalau, ketika Angela menuntun Jessica memasuki sebuah taksi yang sudah bertengger di jalan raya dari tadi, mereka telah gagal dalam misi yang diperintahkan oleh atasan mereka.
Mereka kehilangan Jessica begitu saja, di depan mata.
"Kau menanyakan apa usahaku untuk mendapatkan cinta Jake dan Demian, bukan? Ini adalah usahaku, Jessica. Aku akan membuktikan pada mereka kalau aku adalah pilihan yang tidak seharusnya mereka tinggalkan."
Sambil mengusap pipi Jessica yang berbaring di pangkuannya, Angela pun berbicara seakan-akan Jessica akan menyimak ucapannya. Seringai Angela lalu mengembang manja.
"Demian akan menyadari kalau kau tidak lebih baik dariku." tuturnya, ia membayangkan ekpsresi kecewa Demian sekarang.
Carlos--sebagai supir dari taksi itu--menatap Angela dari kaca spion. Kendati tak ada ekspresi di wajah Carlos, tapi isi kepala Carlos hanya dipenuhi oleh ringisan ngeri.
__ADS_1
Mengapa setiap orang yang ia layani mempunyai gangguan mental yang mengerikan?
...****************...