
Kembali pada hari-hari setelah Demian bertemu dengan Erthian, Demian duduk santai sambil menikmati secangkir espresso buatan Ethan. Hari ini, khusus hari ini, Demian memperoleh kesempatan untuk nongkrong bersama kawan-kawan Jessica.
Mereka duduk melingkar di sebuah meja ketika waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
Elixir sudah seharusnya tutup malam itu, tapi bukannya tutup dan pulang, mereka--Ethan, Elliot, Dania, Jessica dan Demian juga--memutuskan bermain kartu.
Demian--sebagai pro di dunia permainan itu--mengocok kartu di tangannya dengan lihai. Gerak-geriknya yang handal membuat Jessica dan Dania terkesima. Hanya Elliot dan Ethan yang keheranan.
"Apa-apaan?" Elliot menyuarakan bingungnya yang berbaur dengan perasaan terkesima. "Apa kau bekerja sebagai dealer sebelum ini?"
Demian terkekeh. "Well, aku mempunyai teman seorang dealer."
Bicara soal teman, yaitu Oscar, Demian belum mengungkapkan identitas si ular kobra itu di depan Jessica dan kawanannya. Demian tidak mau dimarahi Jessica lagi. Demian lebih memilih pura-pura tolol saja menyangkut keberadaan Oscar.
"Apa dia mengajarimu trik-trik mengocok kartu mereka yang seperti pesulap itu?"
Demian menggeleng. "Aku hanya melihatnya."
"Eeeeh, jangan percaya Jessica." Elliot tidak percaya, jadi dia juga menghasut Jessica untuk tidak percaya. "Dia hanya ingin tampil keren di depanmu. Dia sudah pasti berlatih berulang kali untuk menampilkan skillnya di sini."
"Elli, kau terlalu pesimis." Dania menyahut.
"Aku hanya mengungkapkan rahasia pria. Tidak ada manusia yang tiba-tiba hebat dalam sesuatu yang tidak pernah mereka coba."
"Itu benar," Demian--anehnya--setuju dengan Elliot. Padahal Elliot membully-nya.
"Aku pandai melakukan ini karena aku biasa bermain kartu. Aku tidak hebat dalam semalam, tentunya. Jangan sampai terpesona pada pria yang mengatakan mereka anak prodigi tanpa melakukan apa-apa. Apalagi kalau pria yang bicara adalah Jake, dia pasti kursus pagi malam untuk skill apa pun yang dia miliki sekarang."
"Kenapa kau malah membahas Jake? Dia bisa tersedak di suatu tempat!"
"Hanya memberikan contoh," kata Demian. Tidak hanya contoh, Demian ingin melindungi Jessica dari Jake kalau-kalau pria itu hendak tebar pesona di depan Jessica.
"Bicara soal Jake," ujar Dania. "Bagaimana kabarnya?" Tanya Dania terarah ke Jessica.
"Dia baik," jawab Jessica. "Aku akan menemuinya lusa."
"Apa dia tidak marah padamh menyangkut seorang hama yang sudah merusak acaramu malam itu?" Itu Elliot yang menyahut.
"Dia tidak marah padaku, tapi entahlah, dia mungkin marah pada Demian."
Demian tidak peduli. "Dia bisa marah sampai tua."
"Untuk seorang pria yang pacarnya sudah dicuri di depan mata oleh pria lain, Jake entah bagaimana kelihatan cukup tenang, ya."
"Siapa mencuri pacar siapa?" Demian tersinggung.
Demian tidak akan menerima fakta kalau Jessica adalah pacar Jake. Gara-gara fakta itu, Demian sudah digantung Jessica. Demian bahkan tidak diperbolehkan tidur di kamar Jessica sekarang. Selain karena Jessica tidak mau melukai hati Jake, Jessica ingin hubungannya dan Jake berakhir dengan bersih terlebih dahulu sebelum ia memulai apa pun dengan Demian.
Menjengkelkan!
"Jake mungkin mempunyai banyak keluhan, makanya aku akan bertemu dengannya nanti."
"Kalau aku di posisinya, Demian sudah dimakamkan kemarin."
"Aku ingin kau mencoba, Elli. Apa kau akan menelepon polisi untuk menghajarku?" Demian agak sinis.
"Aku pikir kita mau bermain kartu, bukan adu mulut." Jessica berujar dengan keluhan samar. Jessica ingin Demian membaur ramah dengan teman-temannya, tapi seperti yang Jessica prediksi juga, itu tidak mudah.
Terutama Elliot, dia masih memusuhi Demian dan memperlakukan Demian seperti kuman.
__ADS_1
"Kami tidak beradu mulut, hanya bicara." Elliot membela diri. "Benarkan, Demian?"
"Huh, sudah pasti." jawaban Demian ogah-ogahan.
Demian tidak mau mendukung ucapan Elliot tapi, Demian juga tidak mau membuat Jessica tidak nyaman. Ini langkah awal yang harus Demian hadapi dengan penuh kesabaran. Jika ia ingin bersama Jessica, ia harus bisa--dalam beberapa level--menahan kesabarannya. Toh, ini hanya Elliot. Pria itu lebih baik daripada Oscar yang busuk sampai ke tulang.
"Anyway..."
Permainan kartu itu pun kembali berlanjut. Dalam beberapa kesempatan, Jessica akan mengeluh karena terus dikalahkan. Dania--kendati tidak pernah unggul--tidak pula pernah menempati posisi terakhir. Ethan dan Elliot berebut posisi yang kalah bersama Jessica sesekali, dan tidak pernah, tidak pernah dalam putaran permainan itu, mereka mengalahkan Demian.
"Kau..., apa kau curang?" Elliot kembali menuding Demian.
"Mana mungkin." Demian terkekeh. "Aku hanya terlahir sebagai pemenang, mau bagaimana lagi?"
"Oh, oh..., sombongnya." Dania bergidik usai mendengar jawaban Demian. Ia lalu melempar lirikan ke arah Jessica dan bicara, "Apa dia selalu senarsis itu?"
"Yups. Dia lebih narsis daripada yang kau lihat, sebenarnya. Dia tidak bisa, sehari saja, tidak memuji dirinya sendiri."
"Aku terkejut kau menyukainya," cemooh Elliot.
"Aku tidak tau mengapa kalian menafsirkan kejujuranku sebagai kenarsisan." Demian bersandar di bangkunya seraya menyeringai jenaka. "Aku hanya hebat saja. Terima fakta itu dan kalian akan berhenti mengkritikku."
Ethan melirik Demian seraya tersenyum tipis. "Demian, kau hanya membuat mereka semakin haus untuk memakimu."
"Well, kurasa menerima kenyataan memang adalah hal yang sulit, kan?"
Demian hendak mengumpulkan kartu lagi di meja ketika ia mendengar tanya yang muncul tiba-tiba dari Dania.
"Aku jadi penasaran, apa pekerjaan harianmu, Demian?"
"Kenapa dengan pertanyaanmu yang tiba-tiba?" Demian menoleh ke arah Dania, agak heran dengan pertanyaan wanita itu yang keluar jalur dari topik pembicaraan mereka.
"Entahlah..." Jessica, bila Dania tidak menyinggung topik itu, tidak akan pernah kepikiran sampai ke sana. "Aku tidak pernah mempertanyakan pekerjaannya. Kupikir dia hanya pengangguran saja."
"Waaaaah, kau memilih pengangguran daripada Jake yang tersohor?" Elliot sengaja memanas-panasi Demian. "Sangat tidak pantas, Jesse. Kau sebaiknya memikirkan ulang keputusanmu. Kau tidak mau memelihara hama versi manusia, kan?"
"Siapa yang kau sebut hama?" Demian melempar Elliot dengan kulit kacang di atas meja.
"Kalau begitu, apa pekerjaanmu..., Mr. Bellamy?"
Demian menopang dagu di meja, sebelum menjawab tanya sinis Elliot, Demian menenggak kopinya yang sisa setengah.
"Aku adalah pejudi handal di kota ini," kata Demian kemudian. Senyumnya merekah penuh kebanggaan.
"Pejudi--apa?"
"Aku berjudi," jawab Demian kembali, kali ini lebih serius. "Karena di Vegas ada banyak casino, terlalu banyak casino, sebenarnya. Aku memanfaatkan itu untuk keuntunganku."
"Apa itu artinya..., kau mengumpulkan uang dari menang berjudi?"
"Yups." Demian tersenyum lebar, dia satu-satunya orang yang bangga pada skillnya di sana. Empat sekawan itu malah menatapnya dengan kening mengerut tak percaya.
"Apa aneh?" tanya Demian balik.
"Yaaah, daripada aneh..., itu unik..., kurasa." Jessica menanggapi agak takjub. "Maksudku, ini pertama kali aku mendengar orang memanfaatkan casino. Biasanya casino yang memanfaatkan orang-orang yang kecanduan pada permainan mereka."
"Hidup seperti itu..., apa kau hanya melakukan itu sepanjang tahun?"
"Tidak juga..." Demian mengendikkan bahu. "Aku hanya main beberapa kali dalam setahun, mungkin lima atau enam kali? Aku selalu menang, jadi uang yang kuperoleh dalam satu malam cukup untuk menghidupiku selama beberapa bulan."
__ADS_1
"Selalu menang?"
Demian mengangguk. "Itu semacam keberuntungan, mungkin? Aku tidak pernah kalah bila itu permainan kartu, seperti sekarang juga. Dewi fortuna mungkin selalu mendukungku sepanjang waktu."
"Waaaaah, itu mengejutkan..." Ethan menunjukkan kekaguman. "Berapa penghasilanmu dalam semalam?"
"Tergantung uang yang kubutuhkan, aku biasanya memperoleh $70.000 dalam semalam. Aku tidak mau menarik perhatian, jadi aku hanya mengejar jumlah kemenangan yang sedikit."
"Se-sedikit? Itu sedikit?"
Demian mengendikkan bahu. "Kurasa."
Jessica menduga, karena Demian berada dari keluarga mafia yang sudah pasti mempunyai dinasti di rumahnya, pria itu pasti kaya-raya. Dia mungkin lebih kaya daripada Jake. Karena kekayaannya, dia menjadi kurang paham kalau $70.000 lebih banyak daripada pendapatan bersih Elixir dalam setahun.
Dia tidak sadar ucapannya sudah membuat jiwa-jiwa miskin di meja itu berdesir.
"Aku jadi penasaran, apa kau sungguh-sungguh memenangkan setiap permainan yang kau mainkan?" Elliot satu-satunya yang skeptis.
"Kalau kau penasaran, kau bisa ikut padaku ke Bronze. Pemiliknya adalah temanku..., tidak, musuh, mungkin?"
"Serius, Bronze? Bukankah hanya orang-orang dari kalangan elite yang bisa bermain di sana?" Ethan terpana.
"Tidak juga, kalau kau membawa cukup banyak uang, kau bisa masuk ke sana dan bermain melawan bosnya langsung."
"..." Lagi-lagi, empat sekawanan itu menatap Demian ngeri.
Elliot pun sampai meneguk ludah.
Habisnya, di pikiran mereka, ketika Demian mendeskripsikan pekerjaannya sebagai pejudi handal, sosok yang terbayangkan di benak mereka adalah Demian yang keluar masuk casino murah yang banyak berbaris tak rapi di area the strip.
Dia mungkin akan memenangkan beberapa ratus dolar dalam semalam, tapi tidak sampai ribuan. Tidak juga mereka membayangkan kalau Demian akan bermain sampai ke Bronze.
Bronze sudah seperti istana Cleopatra di Vegas. Tempat itu megah dan mewah, terlalu mengintimidasi bagi mereka yang hanya mempunyai beberapa ribu dollar di rekening pribadi. Tidak ada--di antara mereka berempat--yang pernah melihat Bronze dan tertarik untuk singgah ke sana.
Tempat itu sudah seperti planet lain yang dihuni oleh monster-monster berduit.
"Aku punya satu lagi pertanyaan," kata Dania.
"Ya?"
"Kalau kau mampu mengumpulkan sekitar $70000 dalam semalam, mengapa kau masih melenggang kesana-kemari dengan flanel murahan itu?"
Ketika selera fashion-nya dipertanyakan, ekspresi Demian berubah masam. "Apa yang salah dari kemejaku?"
Demian sangat menyukai penampilannya sekarang, jujur saja. Demian tidak mempunyai niat untuk pergi ke outlet branded yang berbaris di mall-mall. Tidak karena Demian tidak tertarik dengan pakaian mahal tersebut.
Demian tinggal di Italy sebelum ini, demi Tuhan. Dia sudah puas ke Milan dan melihat kota fashion itu secara langsung. Dari dulu sampai sekarang pun, hati Demian tidak tergerak untuk membeli barang-barang mahal tersebut.
"Aku suka penampilanku yang seperti ini, jadi aku tidak mau mengubah apa pun lagi."
Jawaban Demian saat itu pun, lagi-lagi membuat Jessica menyengir tipis. Jessica takjub pada banyak hal yang sudah Demian ceritakan malam ini. Tidak hanya mengenai kemampuannya mengocok kartu yang terkesan seksi, pekerjaannya yang tidak bisa dikatakan pekerjaan juga, pilihan style-nya, dan paling utama, cara pria itu berbicara dengan kawan-kawannya.
Demian sangat mempesona. Jessica ingin menyeret Demian ke kamar dan menguncinya di kamar mandi.
Keberadaan Demian sudah mendominasi seluruh ruang di hati Jessica, Jessica takut ia tidak akan bisa melepaskan pria itu pergi lagi dari hidupnya. Jessica begitu menyukainya.
Demian.
...****************...
__ADS_1