MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
46. Terkesima.


__ADS_3

Berat sebuah lengan membelenggu Jessica dari mengubah posisi tidurnya. Karena beban yang muncul entah dari mana itu juga, tidur nyenyak Jessica menjadi terusik. Ia perlahan-lahan menemukan kesadaran.


Jessica yang sebelumnya tidur dengan nyaman, membuka mata dan menemukan sebuah lengan pria--lengan kekar dengan bobot raksasa, menindih perutnya. Menjadi jangkar yang membuatnya tidak bisa bergerak leluasa. Si pemilik lengan--Demian Bellamy--tidur dengan lelap di sebelah Jessica.


Melihat keberadaan Demian di sisinya, Jessica kembali teringat pada Demian yang semalam memutuskan menginap. Pria itu mengeluh kelelahan dan ingin Jessica untuk memijatnya.


Tentu saja, permintaan konyol itu Jessica jawab dengan jari tengah. Jessica tidak mungkin menuruti kemauan Demian hanya karena dia memintanya. Terlebih bila itu adalah sebuah pijatan.


Sejak kapan Jessica menjadi tukang pijat?


"Kalau kau mau pijat gratis, menikah lah. Biasanya suami istri kerap bertukar pijatan kalau sedang kelelahan." Adalah kata Jessica semalam. Dia mengingat ucapannya kembali sambil menatap wajah tentram Demian.


"Apa itu artinya kau hanya akan memijatku kalau aku menjadi suamimu?" ucapan pria itu dimaksudkan sebagai ladenan terhadap ejekan Jessica. Tidak ada makna serius di sana. Hati Jessica seharusnya tidak berdenyut kuat. Ia seharusnya tidak terpikat.


Mempunyai Demian sebagai suami, itu adalah persentase yang mustahil terjadi. Nol, zero, nada.


Pria itu bukan tipikal pria rumah tangga yang akan mendekapmu dalam kehangatan, bertanggung jawab padamu dalam segala kesulitan. Dia bukan pria yang akan berjanji di altar suci, untuk mencintai sehidup semati. Pria seperti Demian adalah pria yang hanya sedap dipandang. 


Layaknya sebuah karakter di novel romansa yang membuat kupu-kupu berterbangan di perutmu, tapi tidak akan pernah berada di dalam genggaman tanganmu. Demian adalah pria seperti itu. Jessica sangat tau.


Dia tau, tapi menatap Demian yang mendekapnya erat, pikiran-pikiran naif mau tidak mau bermunculan di kepala.


Demian di dalam setelan tuxedo hitam, dia dalam gaun pengantin yang elegan..., sebuah cincin pernikahan, kecupan ringan.


Bayangan itu berkelebat di benak Jessica, mengingatkannya pada kenyataan bahwa, Demian selama-lamanya hanya akan sebatas itu. Sebatas pria yang ia imajinasikan keberadaannya, tapi tidak akan pernah menjadi bagian penting di hidupnya.


Demian bukan pria yang akan menjadi suaminya.


Tapi dia begitu indah di mata.


Sebagai gadis yang normal, sudah wajar ia terlena. Terlebih ketika Demian mendekapnya begitu erat. Selalu menggodanya, muncul sesuka-hatinya, mengutarakan gombalan yang membuat pipi merona. Demian..., dia yang sudah keterlaluan.


Klang!


Bunyi dentingan besi terdengar sampai ke kamar Jessica, ia terperanjat oleh nyaring suaranya. Seseorang sudah menendang besi ataupun tong sampah di luar sana, bisa jadi. Jessica mencoba bangkit dari posisi rebahannya dan..brugh!


Satu tarikan membuatnya kembali rebah di posisinya semula.


Demian terjaga.


"Mau kemana?" tanyanya, bersuara dengan mata masih terpejam.


"Aku ingin mengecek sesuatu," kata Jessica. Karena suara barusan cukup besar, Jessica takut sesuatu terjadi di luar.


Demian akhirnya membuka mata, sepasang iris kelamnya menyorot Jessica. "Kau tidak perlu mencemaskan sesuatu yang bukan urusanmu, bisa? Sekarang masih jam 5 pagi, tidurlah kembali."


"Kau yang tidur kembali, jangan memikirkanku."


"Tsk!" Demian menahan Jessica kembali, kali ini menggunakan kakinya juga. Ia mendekap Jessica seolah gadis itu adalah bantal gulingnya. "Tidak ada yang penting terjadi di luar sana," tutur Demian. "Keributan biasa terjadi di luar, ini Las Vegas."


"Apa kau mau membuatku mati sesak napas?"


"Aku mau membuatmu berhenti mencemaskan apa pun dan tidur." Demian menekan keningnya di pelipis Jessica, memaksa gadis itu agar semakin rapat di dalam dekapannya. "Kalau kau tidak bisa tidur, kau bisa menatapku seperti tadi. Aku tidak keberatan."


"Huh?" Ucapan Demian mengartikan kalau dia menyadari bahwa Jessica sudah menatapnya lama ketika dia terlelap. Bagaimana bisa? Apa dia mempunyai mata ketiga di dahinya?

__ADS_1


Jessica--dengan kekuatan ekstra--berhasil melonggarkan kuncian erat Demian di tubuhnya. Sambil menopang kepalanya, Jessica berbaring miring menghadap Demian yang sekarang memandangnya. Sepasang mata mengantuk dan sayu.


"Jangan bereaksi seperti aku aneh," kata Demian. "Hanya kau seorang yang bisa tidur nyenyak ketika ditatap semalaman."


"Siapa memangnya yang menatapku tidur semalaman?"


"Aku." Demian menimpali sambil menyengir tipis. "Aku tidak sepertimu, sedikit keributan sudah membangunkanku. Ditatap lama juga membuatku bangun."


"Jadi kau memang aneh."


"Tidak ada yang aneh dari bersikap waspada." Demian menangkup pipi Jessica dengan tangan kirinya, "Sekarang, karena kau sudah tertangkap basah..., apa yang kau pikirkan sampai menatapku lama-lama? Apa kau sudah jatuh cinta?"


"Jangan mengharapkan yang tidak-tidak." Intonasi Jessica jengah. "Aku hanya menatapmu karena kau punya tampang yang sedap dipandang. Kau sangat berbeda saat tidur, kau tidak menjengkelkan. Menurutku, kau lebih baik tidur selamanya."


"Jahatnya. Kalau aku tidur selamanya, kau tidak akan mempunyai orang yang sedap dipandang."


Tawa Jessica lolos dengan lemah. "Aku memujimu sekali, dan kau langsung narsis."


"Aku tidak narsis, aku memang sedap dipandang. Lagipula, aku adalah idolamu, bukan? Kau mempertaruhkan sepuluh strawberry untukku. Manis sekali."


"Mungkin karena itu aku kalah."


Demian mengangguk, "Kau seharusnya mempertaruhkan lebih banyak strawberry."


Karena mereka berada di tempat tidur dan kantuk masih menguasai sebagian kesadaran mereka, pertukaran ucapan mereka terjadi dalam intonasi lembut dan rendah.


Jessica--ketika tertawa pun, menahan intonasinya agar tidak meningkat. Seolah-olah mereka mempunyai orang lain yang perlu dicemaskan di sana.


"Aku punya ide," bisik Demian kembali.


"Tidak, aku serius." Demian menggapai ponselnya di atas meja. Jessica memperhatikan Demian dan menaruh curiga. Kegilaan macam apa yang ingin pria itu lakukan sekarang? Di pukul lima pagi yang sunyi?


Setelah mengetik sesuatu di ponselnya, Demian lalu menarik dirinya dan menarik Jessica secara paksa, untuk bangun.


"Apa-apaan?" Jessica mengeluh.


"Ayo, aku akan mengajakmu jalan-jalan." Demian menuju sofa dan memakai jaket kulitnya. Dia lalu melirik Jessica yang terlihat imut dalam piyama satin merah mudanya. Dia seperti seekor kelinci, seperti marshmallow yang lembut dan manis.


"Apa aku boleh keberatan?" Jessica masih mengantuk. Dia tidak mau bergerak.


"Hanya ada dua pilihan, kalau begitu." Demian mendekati Jessica setelah memakai jaketnya. Ia menangkup kedua pipi Jessica di dalam telapak tangannya, "Temani aku jalan atau memberikanku jatah yang sudah kau tolak semalam?"


Jawabannya sudah pasti berjalan-jalan!


*


Jessica berdiri di atas jembatan yang berseberangan dengan Hoover Dam. Sebuah mantel hitam yang ia ambil sembarangan dari lemari melingkupi tubuhnya yang hanya mengenakan piyama satin tipis.


Sialan, Demian.


Jessica sama sekali tidak menyangka Demian akan membawanya berjalan-jalan jauh hingga mencapai Hoover Dam. Hoover Dam atau bendungan Hoover merupakan tempat wisata yang terbilang cukup jauh dari Almond street ataupun the strip. 


Jessica pikir, ajakan jalan-jalan Demian hanya akan berkisaran di pusat kota Las Vegas, bukan di sebuah jembatan yang menghubungkan Las Vegas dengan kota Phoenix. Mereka terlalu jauh. Juga..., sekarang masih pukul setengah enam pagi.


"God...," Jessica melirik Demian yang masih betah duduk di atas motornya. Si bajingan yang sudah seenak hati memaksa Jessica untuk jalan-jalan pagi itu sedang menenggak sekaleng kopi yang dia beli di jalan.

__ADS_1


Jessica kedinginan.


"Apa kau pernah kemari?" Demian membalas tatapan Jessica, senyum mengembang di parasnya. "Aku sangat suka kemari, apalagi pagi-pagi begini."


"Apa kita tidak masalah berada di sini?" Maksud Jessica, tidak ada orang selain mereka berada di jembatan itu. Kendaraan mungkin banyak berlalu lalang, tapi tidak ada yang singgah.


"Sebenarnya tidak boleh."


"Eh, serius?"


Demian mengangguk.


"Polisi biasanya berpatroli. Kalau kau terlihat berada di sini, kau akan diminta membayar denda."


Saat mendengar kata polisi, Jessica menjadi ngeri. "Ka-kalau begitu ayo pergi." Jessica sama sekali tidak mau terlibat dalam situasi yang ilegal. Dia tidak mau ditangkap dan masuk koran pagi. Nama Elixir bisa rusak.


"Hahahahahaa," Demian turun dari motornya dan merangkul pundak Jessica. "Apa kau kedinginan?"


Merasakan sikap kasual Demian, tatapan Jessica menajam. "Apa kau bercanda barusan?"


"Tentu saja, idiot. Kecuali kau ada niat untuk bunuh diri, barulah kau akan ditangkap polisi." Demian melenggang santai di samping Jessica. Mereka berada di rute pejalan-kaki.


Matahari perlahan-lahan terbit.


"Jadi kau memang tidak pernah ke sini, huh?"


Demian melirik Jessica sekilas, senyumnya mengembang tipis ketika ia menyadari ke mana arah tatapan Jessica sekarang. Gadis itu sibuk menatap ke bawah sana, kepada pemandangan bendungan Hoover, sungai dan bebatuan. Sepasang emeraldnya berbinar, menangkap segala pemandangan yang berada di hadapannya dengan keantusiasan samar.


Angin yang menyapa tubuhnya tidak membuat ia menjauh dari pagar. Jessica malah merapat lebih erat, rambutnya berembus bebas mengikuti tiupan angin.


Demian--di bawah terpaan angin yang sama, anehnya merasakan kehangatan di sana. Pemandangan Jessica yang berada di sebelahnya, berdiri tanpa suara, membuat panas merekah di dadanya. Menyelimuti sekujur tubuhnya.


Tanpa bertukar kata dengan Jessica di sana, Demian menemukan dirinya berbahagia.


"Terima kasih sudah mengajakku kemari," Jessica menoleh ke arah Demian, surai hitamnya berterbangan menempeli pipi dan lehernya, membuat ia berantakan. Sambil menatap Demian pula, Jessica menyunggingkan seulas senyum yang menyiratkan kelembutan dan ketulusan.


Keindahan.


Demian terdiam, lidah terpaku tak mampu memberikan tanggapan.


Demian..., mungkin...,


Tidak, tidak mungkin. Apa yang dia pikirkan. Hanya karena Jessica begitu indah dan layaknya fatamorgana, dia tidak mungkin jatuh cinta. Itu adalah analisa yang kejauhan. Otaknya sudah berpikir berlebihan.


Itu..., tidak mungkin.


"Jessica..." Demian menyelup tangan ke saku celana, ia bergumam sambil berusaha menepikan kesimpulan lancang yang otaknya berikan. "Ayo, kembali. Kau sudah menggigil kedinginan."


"Ah, benar..." Jessica mengangkat telapak tangannya dan memamerkan kulitnya yang memerah. "Aku bisa mati beku."


Niat Demian membawa Jessica ke sana hanya untuk keusilan. Karena gadis itu pergi tanpa persiapan, ia ingin melihat Jessica membeku kedinginan dan memeluknya sepanjang jalan.


Niat Demian menuju jembatan itu hanya untuk keisengan, ia tidak berharap untuk pulang sambil membawa bekal perasaan.


Cinta, itu tidak mungkin, kan?

__ADS_1


*


__ADS_2