MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
120. Takdir


__ADS_3

Ketika Jessica meminta pertolongan Oscar agar membantunya melarikan diri dari Sorrento dan kembali ke Vegas, Jessica sama sekali tidak mengira kalau Oscar akan turun tangan langsung dalam membantunya.


Maksud Jessica, pria itu pasti mempunyai kaki tangan yang akan bekerja untuknya. Dia tidak perlu repot-repot menyeret dirinya ke Italy hanya untuk Jessica. Setidaknya, begitulah opini Jessica sebelum ia tiba di sebuah hotel bernama Silver di Bologna.


Oscar Brown datang menyambutnya langsung di lobi hotel, senyum merekah ramah. Ketika Oscar melihat kedatangan Jessica, ia memberikan Jessica kecupan ringan di pipi kiri dan kanan Jessica.


Keramahannya cukup membuat Jessica mengernyitkan kening ngeri.


"Senang bisa melihatmu kembali dalam keadaan suram, signorina."


"Aku baru tau kalau ternyata, kau mengambil kesenangan di atas penderitaan orang lain."


Oscar terkekeh. "Aku mengambil kesenangan di atas penderitaan Demian, lebih tepatnya. Melihat situasimu yang muram, aku bisa membayangkan dia dalam kondisi yang lebih buruk sekarang."


"Aku pikir kau temannya."


"Kami hanya partner kerja, kami tidak benar-benar berteman. Dia yang menolak jadi temanku, sebenarnya. Jadi, kesampingkan masalah itu..., kau pasti butuh istirahat. Biarkan aku mengantarmu ke kamarmu."


Menuruti ucapan Oscar, Jessica pun melenggang berdampingan bersama pria berwajah baby face itu.


Kendati Oscar berwajah imut, ini pertama kalinya Jessica merasa ia terekspos pada jati diri Oscar yang sesungguhnya. Oscar yang dikatakan Demian 'berbahaya'.


"Terima kasih sudah mau membantuku minggat dari Bellamy, Oscar. Aku sangat mengapresiasikan bantuanmu hari ini."


"Aku melakukan hal yang wajar untuk seorang teman lakukan." Oscar menapak pertama di lantai elevator, ia berbalik dan memberikan Jessica seulas senyum ceria.


"Lagipula, kau satu-satunya teman yang kupunya."


Benar. Jika Jessica tidak salah ingat, Jessica sudah pernah mendeklarasikan dirinya sebagai sahabat Oscar. Saat itu dia benar-benar tertipu dengan akting Oscar, Jessica tidak tau sama sekali kalau dirinya sudah dijadikan mainan dan hiburan untuk si pria bermata sapphire itu.


Ketika Jessica bergabung masuk, Oscar pun menekan lantai 24.


"Bagaimana perjalananmu dari Sorrento ke Bologna? Aku dengar dari Gianna kau demam. Jadi aku agak cemas kalau-kalau kau mati di jalan."


"Kecemasanmu terlalu ekstrim."


"Jangan meremehkan demam."


Jessica memutar mata. "Lima jam di perjalanan sangat melelahkan, sebenarnya. Tapi, terima kasih atas obat demam yang Gianna berikan, aku nyaris tidur di sepanjang perjalanan."


"Sayang sekali, padahal perjalanan laut menyenangkan. Kau bisa melihat pemandangan laut."


Jessica tau apa yang Oscar katakan adalah kebenaran. Ia seharusnya memanfaatkan kesempatan untuk menikmati perjalanan yang kemungkinan, hanya akan terjadi sekali di seumur hidupnya. Namun, bukannya menikmati perjalanan, Jessica malah terisak di kamarnya sendirian.


Berpisah dengan Demian begitu menyakitkan dan meninggalkan pria itu sendirian membuat jantung Jessica seperti ditusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata.


Tidak ada waktu untuk melihat pemandangan ketika matanya kabur oleh genangan air yang terus bercucuran.


"Well, masalah melihat-lihat pemandangan..., kita bisa memikirkannya nanti setelah kau beristirahat."


Ting.


Pintu elevator terbuka.


Oscar melangkah keluar bersama Jessica. Ia melenggang di lorong hotel yang demi Tuhan, begitu elegan dan menawan, sebelum berhenti di sebuah pintu bernomor 1004.


"Enjoy your stay. Kau bisa memakan apa saja di sini, jangan merasa sungkan atau apa pun. Aku tau kau suka makan dan oh, kalau kau sudah puas beristirahat..., kau bisa menemuiku lewat panggilan lobby."


"Oscar..., apa kita akan lama di sini?"


"Mmm..., apa kau tergesa-gesa?"


"Itu..., aku..."


"Ah, sebelum itu, maafkan aku. Karena kau meminta pertolonganku, aku jadi mengambil kesempatan itu sekalian untuk liburan."


Huh?


Senyum Oscar merekah kemudian. "Berlibur bersamaku sebentar, Jessica. Aku butuh istirahat dari pekerjaanku yang menumpuk di Vegas. Aku berjanji, setelah liburanku selesai, aku akan mengantarmu ke hadapan Dania, Elliot dan Ethan dalam keadaan utuh."


Itu tawaran yang mengejutkan, sebenarnya. Apa Oscar serius?


Jessica tidak berharap ia akan menetap di Italy lebih lama lagi. Namun, melihat pengorbanan Oscar dalam membantunya sejauh ini, Jessica kesulitan untuk menyuarakan opininya. Ia kesulitan untuk menolak tawaran Oscar sekarang. Tidak ketika sepasang sapphire itu menatapnya mengharap pengertian.


Jessica bukan orang tidak tau diri.


"Apa kau tidak akan merasa terganggu berlibur bersamaku?"


Oscar mendapatkan kemenangannya. Ia mengibaskan tangan seraya tersenyum jenaka. "Berlibur denganmu pasti lebih menyenangkan daripada berlibur sendirian. Lagipula, kita perlu mengobrol banyak, bukan? Aku dengar kau banyak bertanya ini itu pada Gianna..."


"Huh, semuanya sampai ke telingamu, ya?"


Oscar mengangguk. "Mari bicarakan itu di lain waktu. Sekarang, beristirahatlah."


"Mm, terima kasih, sekali lagi."


"No problem."


Menutup perbincangannya dengan Oscar, Jessica pun masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan Oscar untuknya. Jessica masuk ke dalam kamar itu dan merasa deja vu. Jessica teringat pada hari ketika Demian mengajaknya menginap di presidential suite di Emperor. Jessica mengingat hari itu terlampau jelas di ingatannya dan itu kembali menciptakan rasa ngilu kembali bersarang di dadanya.

__ADS_1


Hubungannya dengan Demian sudah berakhir. Dia tidak seharusnya menyakiti dirinya sendiri dengan mengenang pria itu lagi. Jessica tau hubungannya dengan Demian sudah berakhir, tapi sialan, melupakan pria itu merupakan rintangan yang begitu rumit dan berat.


Lebih rumit ketika hatinya tidak mengikuti logikanya.


Semuanya..., seperti benang kusut!


...*...


"Apa kau tau Bologna adalah tempat yang tepat untuk pecinta kuliner?" Pertanyaan keluar dari bibir Oscar, dilayangkannya kepada Jessica yang sekarang duduk di sebelahnya. Duduk berdampingan bersamanya dalam sebuah mobil yang melaju sedang di jalan raya kota Bologna.


Kemarin, setelah puas mengistirahatkan dirinya, puas menangis dan puas bergundah-gulana, Jessica akhirnya membuat tekad untuk dirinya sendiri. Jessica butuh pulih dari patah hatinya. Dia butuh suasana baru yang bisa mengalihkan perhatiannya dari memikirkan Demian barang sejenak saja.


Biasanya, di Vegas, ketika Jessica butuh pengalih perhatian, ia hanya perlu mencuri bir di lemari penyimpanan Elixir. Namun, sekarang..., karena mereka di Italy, Jessica tidak bisa sembarangan melepas kebiasaan buruknya.


Jessica--tanpa bisa mabuk-mabukan dan menggila--memutuskan mengikuti ajakan Oscar yang membawanya berkeliling kota.


"Aku tidak tau sama sekali." Jessica menimpali Oscar tanpa minat. Jessica bahkan tidak tau ada kota bernama Bologna, tidak sampai Gianna memberitahunya kemarin.


Well, Jessica memang buruk dalam geografi.


"Bologna La Grassa, the fat adalah label kota ini, asal tau saja. Karena sekarang kau tau, aku akan mengajakmu mencicipi tempat-tempat dengan menu lezat di kota ini. Menu-menu tradisionalnya sangat istimewa, aku bertaruh kau akan sangat mencintai tagliatelle dan pignoletto wine yang terkenal di kota ini."


"Kau tau kota ini dengan cukup baik, huh?"


"My great grandpa tinggal di sini, sebelumnya. Sebelum beliau kecanduan judi dan memilih bermigrasi ke Nevada untuk pengalaman berjudi yang luar biasa."


"Pffft..., itu merupakan alasan yang sangat bagus untuk pindah keluar negeri, bukan?"


"Dia pria yang unik." Oscar agak bernostalgia.


"Jadi, Oscar..., keluargamu tidak seperti keluarga Demian? Maksudku..., kalian tidak terbentuk sejak 1821."


"Apa-apaan dengan tahun spesifik itu?" Oscar terkekeh. "Bahkan di Bellamy pun, mereka memulai bisnis mereka setelah perang dunia kedua mereda. Mereka adalah keluarga yang tua di Italy, dan kaya..., tapi mereka tidak kotor sejak era Victoria."


"..."


"Tentunya, tidak seperti Bellamy..., keluargaku baru bangkit dari kemiskinan di abad ini. Hahahaha. Kakekku yang memulai bisnis judi di Las Vegas kemudian menikahi nenekku yang seorang penulis terkenal di Newyork. Mereka membangun bisnis bersama, dan sekarang..., kami jadi seperti ini."


"Itu luar biasa. Kau benar-benar tau banyak..." Jessica menjadi takjub.


"Itu pengetahuan yang umum, Biscottino."


"Tidak untukku, malangnya. Apa itu bis--bis--" Jessica kesulitan untuk mengulang panggilan yang Oscar sematkan padanya barusan. "Kau sedang tidak memakiku, kan?"


"Biscottino, artinya little biscuit. Karena kau imut seperti biskuit. Haha. Aku kecewa Demian tidak mengajarimu apa pun."


Oscar menghela napas. Rasanya agak menyesal sudah menyinggung nama Demian. Akibat ucapannya barusan, Jessica kembali muram.


"L'amore trova la strada." ujar Oscar kemudian.


"Apa itu makian?"


"Kenapa kau berasumsi negatif?"


Jessica mengendikkan bahu. "Entahlah, mungkin karena kepalaku hanya di isi hal-hal negatif sekarang."


"Tsk, memprihatinkan." Oscar menggeleng-geleng kepala saja atas ekspresi nelangsa Jessica. Dia tidak kelihatan prihatin sama sekali.


"Dengarkan aku, biscottino. Cinta akan menemukan jalannya, adalah arti dari ucapanku barusan. Dalam arti lain, kalau kau dan Demian memang ditakdirkan bersama, kalian akan bersama. Tenang saja."


"Waaaah, filosofimu tentang cinta seperti Romeo, huh? Apa kau percaya takdir, Oscar?"


Oscar mengendikkan bahu. "Aku tidak tau, tapi aku percaya kau akan menyukai aneka crostini di cafe ini."


Mobil yang mereka kendarai perlahan-lahan terhenti. Supir Oscar yang duluan turun langsung membukakan pintu untuk Jessica, membiarkan kawan bosnya tersebut turun duluan.


"Ini adalah cafe favorite-ku ketika mampir ke Bologna." ujar Oscar.


"Woah, tempatnya sangat cantik..."


Tidak seperti ekspektasi Jessica terhadap Oscar, Jessica mengira pria itu adalah penikmat kemewahan dan kemegahan. Namun, setiba di cafe ini dan tau kalau tempat ini adalah tempat favorite Oscar, Jessica jadi mengerti mengapa Oscar menjadi jurnalis di LVGR.


Dia punya selera cafe yang unik dan istimewa. Cafe yang memancarkan kesan nyaman, hangat dan menyiratkan kebersamaan. Sama seperti cafe yang sudah dia review di blognya.


"Apa kau mau berfoto?"


"Eh?"


"Turis biasa melakukan itu, kan? Ayo..., berdiri di sana. Aku akan memotretmu dan mengirim hasilnya kepada Dania."


"Kau punya kontak Dani?"


Oscar mengangguk. "Your sweet little friend datang padaku mengikuti perintahmu, apa kau lupa?"


"Ah." Benar juga. " Aku meminta kontaknya kalau-kalau aku membutuhkan sesuatu."


"Oh, Oscar..., sekali lagi. Terima kasih atas bantuanmu." Jessica kehilangan cara untuk menebus kebaikan pria ini. Oscar mungkin sudah menipunya, tapi Oscar sudah banyak membantunya.


Jessica merasa sangat berterima-kasih pada Tuhan yang sudah memberikan orang-orang baik di sisinya. Baik itu kawan-kawannya, Oscar dan Demian.

__ADS_1


"Jangan terlalu memikirkannya. Bantuanku juga mempunyai niat busuk tersendiri, jadi aku tidak sepenuhnya membantumu di sini."


"E-eh? Maksudnya?"


Oscar terkekeh. "Aku ingin membuat Demian frustasi dan mencarimu kesana-kemari..., karena itu Jessica..., kau akan menjadi tahananku untuk sementara."


"Kau benar-benar..." Sepertinya keunikan kakek Oscar turun kepada cucunya. Pria macam apa yang rela menyebrangi lautan dan benua yang berbeda demi membuat temannya kesal? Tunggu, dia bahkan bukan teman Demian. Apa-apaan...


Jessica sama sekali tidak paham. Tapi terserahlah.


"Aku harap aku tidak mengecewakanmu," ujar Jessica. Ia berdiri di depan cafe sambil memamerkan cengiran tipis. Ia siap berpose di sana ketika Oscar mengarahkan layar kameranya di sana. "Aku merasa Demian tidak akan sefrustasi yang kau pikirkan, sebenarnya."


"Mau bertaruh?"


"Apa?"


"Demian akan menemukanmu."


"Itu mungkin saja. Tapi, aku tidak ada niat kembali bersamanya. Ketika dia menemukanku, aku akan berada di Vegas dan melanjutkan bisnisku seperti biasa. Dia tidak akan bisa menculikku dan membawaku ke Italy lagi."


"Dia bisa...," ujar Oscar. Ucapan Oscar menggantung di udara begitu ia memutuskan menangkap gambar Jessica di ponselnya. "Seperti yang kukatakan, L'amore trova la strada."


"..."


"Kau masih mencintainya, Jessica. Tidak ada alasan untuk kalian tidak bersama kalau kalian memutuskan memahami satu sama lain."


Jessica memutar mata dan meninggalkan Oscar di luar pintu cafe begitu saja. Jessica enggan mendengarkan ucapan bijak Oscar, bukan karena ia tidak mempercayai pria itu, tapi karena ia takut hatinya akan berujung menaruh harapan pada ucapan Oscar yang tak berlandasan.


Demian tidak mempercayainya, itu fakts. Itu saja sudah cukup alasan untuk Jessica tidak mau bersama Demian. Jessica tidak mau mencintai pria yang tidak mempercayainya, mereka hanya akan ditakdirkan kandas dan menderita.


Cinta tanpa fondasi, tanpa kepercayaan dan pengertian hanya akan berujung seperti rumah kartu. Sekali tiupan angin, kartu-kartu itu akan goyah dan runtuh berantakan.


Jika cinta Demian hanya sebatas itu, maka Jessica tidak menginginkan cinta pria itu.


...*...


Seperti kata Oscar, makanan di Bologna memang terasa begitu lezat di lidahnya. Jessica tidak menyangka ia sudah singgah ke lima tempat yang berbeda dan masih mempunyai ruang untuk makanan di perutnya. Oscar benar-benar menguji julukannya sebagai 'pecinta makanan' dengan membawanya ke berbagai tempat yang full makanan lezat.


"Beristirahatlah sebentar," ujar Oscar. "Aku ada telepon urgen dari klienku."


"Mm." Jessica mengangguk saja. Jessica tidak menaruh komplain apa-apa terhadap petualangannya dan Oscar hari ini. Sejujurnya, di dalam lubuk hati Jessica, ia begitu berterima-kasih terhadap Oscar yang sudah mau membawanya berjalan-jalan di kota Bologna.


Tentu saja, perjalanannya hari ini tidak seperti ia begitu berbahagia ketika berjalan-jalan bersama Demian. Namun, kebaikan Oscar cukup untuk membuat Jessica bisa merilekskan isi kepalanya yang carut-marut berantakan.


Sementara Jessica berjalan-jalan dan melihat keindahan piazza santo stefano yang merupakan salah satu tempat wisata yang ramai pengunjung di Bologna, Oscar melenggang sendirian dengan HP terapit di telinga.


Oscar sesekali menengok ke arah Jessica ketika ia menjawab panggilan yang tertera di layar ponselnya. Sambil mengawasi Jessica juga, Oscar mendengar suara penuh permusuhan itu menyapa telinganya.


"Bisa kau santai sedikit, Demian?" Oscar menimpali tenang, setelah sebelumnya dicecar dan dimaki oleh pria yang menghubunginya beberapa detik lalu.


"Apa kau pikir aku bisa santai? Setelah apa yang kau lakukan? Kembalikan Jessica padaku sekarang! Aku tau semua ini ulahmu!" Suara Demian menggebu-gebu.


"Demian, aku hanya menjadi salah satu variabel yang dibutuhkan Jessica sekarang. Ketika aku kehilangan fungsiku, dia tidak akan membutuhkanku." Oscar kembali bicara dalam mode puzzle-nya, Demian yang mendengarkan jadi mengerutkan kening tak suka. Ia benci berbelit-belit!


"Dalam arti lain, bila aku tidak bisa membantunya, Jessica akan berakhir menyingkirkanku dari pilihannya. Dia akan mencari siapa pun yang bisa membantunya melarikan diri darimu. Katakanlah itu polisi, lawan keluarga Bellamy, atau lebih buruk, dia akan mencoba melarikan diri sendiri dan berujung membahayakan keselamatannya sendiri."


"Itu bukan tempatmu untuk ikut campur!"


"Dan itu bukan tempatmu juga, kan? Jessica adalah penduduk Amerika, kami mempunyai gaya hidup yang bebas. Kau tidak bisa mengurungnya, Demy. Apa kau lupa trauma masa-lalu yang sudah membuatnya membunuh ibunya sendiri?"


"..."


"Kalau kau mengurungnya, dia mungkin akan membunuhmu..., dan kalau dia tidak bisa..., siapa yang tau dia akan membunuh dirinya sendiri."


"OSCAR!"


"Aku bicara serius. Jessica butuh waktu tenang sekarang. Dia butuh teman yang pengertian, seperti aku misalnya. Kau..., lakukan saja apa yang menurutmu benar. Untuk Jessica, kau bisa mempercayakannya padaku. Kami akan honeymoon, kau tau. Hahahahaha."


"Keparat! Katakan di mana dia sekarang!"


"Kalau kau penasaran, aku sudah meninggalkan jawaban dari letak dan posisiku di rumahmu. Kau hanya perlu mencaritahu..."


"Rumahku?"


Oscar terkekeh. "Namun, tentunya..., seperti yang kau tau, ada bayaran yang tinggi untuk semua jawaban yang datang dariku."


"Oscar, aku minta berhenti bermain-main atau..."


"Shuuush! Jangan berisik, kau mengganggu ketenangan Jessica. Dia bisa marah kalau aku meninggalkannya terlalu lama. Pfffttt..."


"Keparat! Baji--"


Beep.


Menutup panggilan Demian, Oscar lalu mengantongi ponselnya di trench coat cokelat yang ia kenakan. Senyum Oscar mengembang riang. Ia berbahagia karena suara frustasi Demian terdengar menyenangkan di telinga. Benar-benar luar biasa.


"Sekarang, apa dia akan mengerti di mana aku menaruh puzzle itu, tidak lebih tepatnya pada siapa..., huh?"


...*...

__ADS_1


__ADS_2