
Angela mempunyai jadwal untuk bertemu Demian hari ini.
Mengingat Angela sudah tidak bertemu Demian dua pekan lamanya, Angela memaksa Demian agar menutup akhir pekan ini hanya bersamanya. Demian--tentunya, tidak keberatan. Jika itu yang Angela inginkan. Toh, Demian juga tidak mempunyai pekerjaan hari Sabtu ini.
Seperti yang sudah Angela rencanakan, Demian dan Angela kemudian bertemu di Bellagio Fountain. Demian--dengan sepeda motornya yang berwarna merah terang, menjemput Angela di sana. Mereka--dari depan Bellagio Fountain yang cukup ramai, lalu berkendara menyusuri jalan-jalan ramai di kota Vegas.
"Rasanya sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu denganmu kembali," Angela bicara dengan ceria. Pantulan wajahnya di kaca spion Demian terlihat begitu sedap dipandang.
Demian senang Angela bersenang-senang. Setidaknya, untuk hari ini, gadis itu tidak perlu terjebak dalam pikirannya sendiri.
"Apa kau ingin pergi ke suatu tempat tertentu?" Demian bertanya sembari memelankan laju kendaraannya.
"Aku tidak mempunyai rencana spesifik," jawab Angela. "Aku baik-baik saja kemana pun kau mengajakku pergi."
"Hmmm, kalau begitu..., mari berkeliling dulu?"
Angela memberikan persetujuan dengan anggukan.
Setelah itu, ketika motor Demian kembali melaju di jalan, Angela pun mendekap pinggang Demian dari belakang. Berpegangan erat di sana dengan kepala menyandar lemah di punggung Demian yang beraroma seperti deterjen bunga.
*
"Huuuft, aku juga ingin pergi berkencan."
Dania--dengan keluhan yang tidak pernah ada habisnya--menghampiri Ethan dan Jessica di meja bar.
Si pirang blonde dengan tubuh semampai itu bukan tipe wanita yang seharusnya mengeluhkan masalah kencan dan pria, tapi entah bagaimana, dia mengeluhkannya.
"Padahal kalau kau mau berkencan, kau tinggal membalas DM pria di sosial mediamu," Jessica mengembuskan napas jenuh.
"Kasusnya berbeda, Jess. Aku ingin pria yang mendekatiku secara langsung, bukan pengecut yang hanya berani mengirimi gambar Abs mereka di sosmedku."
"Jalan pendekatannya hanya berbeda sedikit, Dani. Itu tidak berarti mereka pengecut. Itu namanya memanfaatkan perkembangan teknologi."
Dania menolak ucapan Jessica dengan reaksi mau muntah. Dania masih keukeuh pada pendiriannya. Bahwa, cowok yang mendekati wanita secara langsung lebih keren di atas apa pun.
"Meskipun aku mengerti dari mana datangnya opinimu, Bos. Kali ini aku akan mendukung Dania juga." Ethan ikut bersuara. "Sosial media menciptakan banyak kepalsuan."
"Seratus persen," dukung Dania balik. Terlalu antusias. "Terkadang, apa yang kau temukan di sana tidak sesuai dengan realita. Tidak perlu jauh-jauh membahas kepribadian yang dipalsukan, foto profil mereka saja kadang dipermak sedemikian rupa hingga menjadi sempurna. Sangat tidak bisa dipercaya."
"Apa seburuk itu?" tanya Jessica keluar dengan sedikit ketakjuban.
Jujur saja, di lingkar pertemanan mereka, hanya Jessica yang tidak begitu aktif di sosial media. Ia menggunakan smartphone-nya hanya untuk membaca informasi terkini, meme kucing, dan zodiak.
"Bukannya aku ingin menjelekkan orang lain, ya..." Dania kali ini berujar dengan suara rendah. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku rok span yang ia kenakan, dan menyodorkan sebuah akun insta seseorang ke hadapan Jessica. "Kau tau Angela cukup populer, kan?"
"Eh, iya..., kenapa?"
"Lihat ini," lanjut Dania kembali. Ia membuka salah satu posting-an di feed Angela. "Lihat dagunya, dia bahkan tidak mempunyai dagu selancip ini. Juga..., ada apa dengan kecerahan kulitnya yang ekstra, dia seperti kertas putih. Apa dia gadis rusia?"
"Dania...," Ethan memperingatkan. "Berhenti mengkritik orang lain."
"Aku tidak mengkritik. Aku hanya bicara jujur. Juga, aku sedang mengajari Jessica bahwa sosial media sekarang adalah tempat untuk memamerkan kepalsuan. Sungguh tempat yang mengerikan."
Sementara Dania dan Ethan beradu argumen menyangkut benar atau tidaknya tindakan Dania yang mengkritik penampilan Angela yang berbeda dari realita, Jessica termenung sendirian saat ia men-scroll naik kepada posting-an teratas Angela.
Sebuah foto tangan yang bertautan ter-update di sana, sepuluh menit lalu. Di bawah posting-an itu juga, satu gambar parfume mahal yang familiar tertera di sana. Parfume itu..., parfume yang sama yang Demian berikan pada Jessica.
Thanks, my bebe.---merupakan caption di bawah posting-an foto itu.
"Haaaaa, hahahaha..." tawa Jessica merekah tanpa sengaja. Dua temannya, Ethan dan Dania seketika menoleh ke arah Jessica.
"Eh, kenapa?" tanya Dania, tapi Jessica terus tertawa.
__ADS_1
Tawa yang keluar dari bibirnya bukan sebuah tawa gembira, bukan pula tawa iblis yang jatuh dari neraka. Tawa yang keluar dari bibir Jessica saat itu adalah tawa hambar yang menyiratkan ketidak-percayaan, syok!
Jessica tidak pernah merasa sekonyol sekarang. Entah mengapa, ia merasa sangat konyol dan tolol.
Segala perlakuan Demian yang menyiratkan godaan, setiap kata-katanya yang mengandung rayuan...
"Apa aku hanya terbawa perasaan?" Jessica bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Demian mencintai Angela bukanlah sebuah rahasia. Hal ini seharusnya tidak mengejutkan Jessica sama sekali. Akan tetapi, perlakuan pria itu belakangan ini kepadanya telah membuat Jessica nyaris melupakan fakta itu.
Nyaris saja Jessica terlena.
'Apa yang kau harapkan Jessica? Pria seperti Demian tidak akan mencintaimu hanya karena kau membantunya satu atau dua kali. Dia tidak serius mendekatimu.' suara sinis muncul di benak Jessica, mengejeknya.
Jessica tau, sangat tau, kalau Demian tidak menaruh perasaan istimewa padanya. Akan tetapi, kenapa Demian mengayun suasana hati Jessica sesuka hatinya? Menciptakan dilema?
Mengapa pria itu bertingkah seolah dia menginginkan Jessica?
"Jesse, apa kau baik-baik saja?" Ethan masih terheran-heran.
"Baik," ujar Jessica, ia merasa cubitan kecil di dadanya. "Aku sangat baik..."
Daripada kecewa pada Demian yang sudah menarik-ulur perasaannya, Jessica saat itu merasa lega dan hampa. Ia lega sudah menyadari kalau dirinya tidak berarti apa-apa di mata Demian. Hampa, karena..., entah mengapa, Jessica menginginkan dirinya memiliki makna sedikit saja di mata pria itu.
'Aku seharusnya tidak memikirkan maksud dari tindakan pria itu secara berlebihan.' Jessica membatin seraya tersenyum masam.
Secangkir kopi hitam di depan mejanya mengingatkan Jessica kembali pada malam ketika Demian memberikannya parfume yang sama dengan yang dia berikan kepada Angela.
'Bahaya, Jessica. Apa kau hampir menaruh perasaan khusus pada bajingan itu?' Suara batin Jessica kembali menggema, menghina.
'Tidak, tidak, tidak. Jangan bilang ini pengaruh karena aku terlalu lama sendirian? Apa aku segampang ini menyukai pria asing? Mustahil. Uwaaaah, mustahil.'
"Jesse?"
'Tidak boleh, Jessica. Kau tidak boleh menjadi wanita murahan. Demian bukan pria yang berada di jangkauan tanganmu. Dia tidak mungkin melirikmu. Mustahil. Ingat ini baik-baik! Dia hanya mencintai Angela. Dia hanya menggodamu karena kau..., karena...?'
"Jesse?"
"JESSICA CERISE?" Dania akhirnya berteriak di telinga Jessica.
"Huh? Ah, kenapa...??" Jessica mendorong Dania dan menatap sobatnya itu penuh kejengkelan. "Apa kau mau membuatku tuli?"
"Kau sudah tuli duluan, bego." Dania mencebik. "Apa sih yang kau pikirkan dari tadi? Aku dan Ethan sudah memanggilmu beberapa kali."
"Aku?"
"Iya, duh..., siapa lagi?"
"Tidak ada...," Jessica menggeleng lemah. "Aku tidak memikirkan apa pun."
'Aku tidak seharusnya memikirkan siapa pun!'
"Tch. Menjengkelkan." Dania tidak semudah itu percaya, tapi dia tidak mau mencecar Jessica. "Padahal yang stress adalah aku, tapi Jesse malah lebih memprihatinkan. Iya, kan, Ethan?"
"Entahlah..., kurasa kondisi kalian sama. Aku jadi takut kalau penyebabnya juga sama."
"Heh?" Jessica terperangah. "Mana mungkin."
"Siapa yang tau, kan? Memangnya sebab Dania tiba-tiba menginginkan berkencan adalah apa?"
"Yaaah..., ka-karena aku habis melihat feed Angela." Dania mengaku dengan bibir mengerucut lucu. "Kau tau hari ini dia sedang berkencan dengan Demian, kan? Irinya, aku juga ingin berpegangan tangan dengan laki-laki."
"Kau bisa menggenggam tanganku," ejek Ethan. "Itu pun kalau kau merasa sangat membutuhkan kontak fisik dengan manusia."
__ADS_1
"Ethan, aku bilang pria, bukan kau."
"Apa aku bukan pria?"
Dania mengendikkan bahu. Ia mengejek Ethan sambil menjulurkan lidahnya. "Anyway, kurasa penyebab stress Jessica berbeda dariku, kan? Kau tidak mungkin stress karena masalah pria."
"Hmmm, yaaa..., mana mungkin." Jessica menyetujui ucapan Dania dengan dusta.
Ia tidak akan pernah mengakui pada teman-temannya, bahwa, alasan dari frustasinya hari ini adalah karena sosok Demian yang sudah memporak-porandakan kehidupan stabilnya.
"Aku tidak mungkin stress memikirkan masalah pria," Jessica mengucapkan dusta itu dengan upaya untuk meyakinkan dirinya kembali.
*
Menutupi perjalanan kencan yang bukan kencan mereka, Demian membawa Angela mampir ke sebuah cafe outdoor yang masih berada di area Las Vegas Strip. Mereka duduk berseberangan sambil mengamati pemandangan tower hotel Stratosphere yang menyala terang di kegelapan langit malam.
Jujur saja, seharian ini..., kendati Demian sangat ingin menikmati harinya dengan bersenang-senang bersama Angela, Demian masih merasakan berat di dadanya.
Demian memikirkan keadaan di Sorrento. Ia lelah pada pelariannya yang tidak menemukan ujung.
Demian mengira, ketika ia meninggalkan Italy dan menetap di Vegas, hidupnya akan menjadi lebih baik. Tetapi, terror nama Bellamy masih membayanginya, mengekangnya.
Demian tau apa yang perlu ia lakukan dan mampu ia lakukan. Demian tau solusi untuk mengakhiri segala pelarian ini, cara tercepat untuk mengakhiri teror seorang Selina Bellamy.
Hanya saja, pengetahuannya, tindakannya masih berada di bawah mikroskop seorang pria bernama Christian Bellamy. Chris--ayah dari Demian adalah pria yang lebih berkuasa di atas Selina. Demian percaya, Chris selama ini mengetahui apa yang istri mudanya tersebut lakukan dan memilih menutup mata demi menunggu reaksi Demian.
Bila Demian memberikan tanggapan yang mampu mengandaskan keangkuhan seorang Selina, posisi Erthian sebagai penerus Bellamy akan berada dalam bahaya.
Christian bisa berubah pikiran dan menaruh keinginan untuk menjadikan Demian penerusnya. Situasi itu berbahaya. Demian tidak ingin menunjukkan kemampuannya, tidak sampai Erthian benar-benar resmi memimpin keluarga sialan itu.
Christian sialan...
Jika Selina ingin posisi Erthian solid, dia seharusnya meracuni Christian! Dia seharusnya meracun si tua bangka keparat itu agar cepat mati. Setidaknya, dengan begitu Demian tidak perlu mencemaskan keputusan Christian yang plin-plan.
Setidaknya, Dengan begitu..., Demian bisa lepas tangan dari Bellamy sepenuhnya.
Demian mengembuskan napas lagi.
Andai saja menolak posisi pewaris segampang mengibarkan bendera putih kepada lawan, Demian mungkin tidak perlu berlari sejauh ini. Christian..., dari semua orang..., dia adalah bajingan yang paling Demian kutuk keberadaannya.
Meskipun pria itu adalah ayahnya...
"Demian," sebuah sentuhan hangat dari jari-jemari Angela memudarkan lamunan Demian. Senyum seketika mengembang di raut murung Demian setelah Angela menegurnya.
"Apa kau sudah lelah?"
"Huh?"
"Kau terlihat bosan," gumam Angela. "Maafkan aku, karena situasiku yang buruk, aku jadi merepotkanmu."
"Kau tidak perlu meminta maaf," tukas Demian. Ia memaksakan senyuman. "Aku sangat senang sudah bisa menemanimu refreshing hari ini."
"Andai saja Jake sepengertian dirimu, aku mungkin tidak akan seterpuruk sekarang. Ahahaha." Angela kembali nelangsa saat ia memikirkan Jake. "Aku jadi penasaran, apa yang Jake lakukan sekarang?"
"..."
"Apa dia berbahagia setelah berpisah denganku?"
"Dia pasti merugi karena sudah kehilangan wanita sebaik dirimu, Ange. Kau tau dia adalah bajingan, kan?"
Angela tertawa kecil. "Yah..., kurasa..."
Jika ada satu hal yang Angela harapkan, maka itu adalah keputus-asaan Jake. Pria itu tidak berhak berbahagia setelah menghancurkan hatinya.
__ADS_1
Jake Allendale adalah musuh untuk hati Angela yang terluka. Pria itu harus merasa bersalah selamanya!
*