MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
110. Memancing Keributan.


__ADS_3

Ketika Jessica mengatakan ia membutuhkan tempat yang ramai turis, Jessica tidak menyangka ia akan sampai ke tempat yang benar-benar ramai oleh turis. Jessica mengira hanya akan ada segelintir orang di sana. Namun, tidak seperti ekspektasinya, taman itu dipenuhi baik oleh turis maupun penduduk lokal.


Taman itu, omong-omong, merupakan taman yang sama tempat Jessica terakhir kali berkunjung bersama Demian. Jessica ingat menyaksikan matahari terbenam di atas bukit taman ini.


"Lokasinya agak ramai, Miss. Apa kau yakin ingin bersantai di sini?" Robin merasa tempat itu tidak cocok untuk bersantai sama sekali. Tidak dengan segala keriuhan ini. Tidak kalau tekad Jessica memang murni untuk bersantai.


Sayangnya, tekad Jessica hanya omong kosong semata. Keramaian ini adalah hal utama yang Jessica incar.


"Ini adalah tempat favorite-ku." dusta Jessica. "Aku membaca review-nya di internet."


"Review di internet adalah tempat-tempat yang paling umum. Kalau kau mau, aku bisa membawamu ke tempat yang lebih privat dan lebih indah dari ini..."


"Lisaaa, hanya karena tempat ini klise, bukan berarti pemandangannya tidak indah. Kau sudah biasa tinggal di sini, aku tidak. Biarkan aku melihat-lihat."


"Ba-baiklah."


Setelah berhasil membungkam Lisa, Jessica pun memulai langkahnya memasuki area taman. Ia melihat-lihat pemandangan sambil melirik kiri kanan.


Jessica menikmati pemandangan taman yang di dominasi oleh pepohonan yang menjingga merontokkan daunnya di tanah, beberapa bangku taman, jalanan berbatu yang rapi dan bersih dan oh, jangan lupakan pemandangan pria-pria tampan yang berdiri bak model di taman tersebut.


Mereka adalah pemandangan yang lebih indah daripada alam.


Pria-pria asia, eropa dan amerika..., siapa yang tau dari mana asal mereka, Jessica hanya tau mereka semua memikat mata.


Mereka membaur di taman itu, berpose bersama teman-teman mereka, bermain skateboard atau sekedar duduk bersantai dengan angin meniupkan surai-surai lembut mereka. Beberapa memakai kaos longgar dan celana jeans selutut, beberapa berpenampilan emo dengan setelan yang serba hitam, beberapa bahkan tampil menggemaskan dalam pakaian berwarna pastel.


Menggemaskan! Sialan! Mereka semua menggemaskan!


"Aku sekarang mengerti alasan Charlie xcx menciptakan lagu Boys. Pria-pria tampan memang butuh apresiasi berlebih, bukan?" Jessica berujar pada Lisa yang melenggang selangkah di belakangnya. Mendengar ucapan Jessica, Lisa spontan mengangkat sebelah alisnya.


"A-apa?"


"Oh, Lisa..., apa aku harus mengulang ucapanku padamu? Hanya dengan melihat mereka, kau sudah pasti paham apa yang kuucapkan, bukan?"


Jessica menarik napas dalam-dalam, seakan penampakan pria-pria tampan yang berlalu-lalang di taman itu membuat oksigen di taman itu menyegarkan. "Ini adalah surga mata yang sesungguhnya."


"Miss..., aku pikir kau berpacaran dengan tuan Demian."


"Hmm, itu memang benar."


"Lalu..., mengapa kau jadi melirik pria di taman ini? Kurasa..., tuan Demian lebih baik daripada kebanyakan pria di sini, bukan?"


"Hahaha..., aku menyukai Demian-ku, tapi itu tidak berarti penilaianku terhadap pria tampan berubah, Lisa. Demian mungkin tampan, tapi..., uh, tidakkah pria itu lebih menawan?" Jessica mengacu pada pria yang sekarang berdiri di bawah tiang lampu.


"Dia seperti Chris Evan. Oh, kalau kau tidak tau, Captain America. Tubuhnya..., ohoo..., dia seratus persen model, Lisa. Kau harus mendekatinya, apa kau single?"


Lisa mengendikkan bahu. Sambil mendengar celotehan Jessica, mata Lisa sesekali melirik pada Robin yang sekarang melenggang heran pada perubahan mood Jessica sekarang.


Apa terlalu lama berkurung di rumah membuat Jessica jadi jengah sampai dia mencari pria lain?


Ini berbahaya, kan--maksudnya..., berbahaya buat Demian--, Demian bilang kalau Jessica dalam bahaya, mereka harus menghubunginya. Apa situasi ini dapat dikatakan berbahaya?


"Lisa..., jalan jauh-jauh dariku."


"Huh?"


"Aku sedang bosan dan butuh hiburan, kalian berdua..., pura-puralah tidak mengenaliku. Aku sedang merencanakan sesuatu..."


"Miss. Jessica, apa yang kau rencanakan?"


"Hanyaa..." Jessica melirik pria yang masih berada di bawah lampu, pria itu menekuni ponselnya, ekspresi bosan dan jengah terpampang di wajahnya. "Aku ingin menguji skill bersosialisasiku..."


"Miss. Jessica, jangan melakukan sesuatu yang aneh. Kami bisa dibunuh tuan Demian."


"Demian tidak ada di sini. Biarkan saja dia!" Jessica mendengus malas. "Aku sedang ingin bersenang-senang sekarang. Aku bosan. Kalau kalian hanya akan menggangguku, aku akan meninggalkan kalian dan pulang ke Las Vegas sekarang!"


"E-eh, Miss. Jessica..."


"Dengarkan aku," Jessica menegaskan dirinya sekali lagi. "Aku hanya ingin bertemu sapa dengan orang baru. Tidak ada yang salah dari itu. Jadi...., husssshhh! Berhenti menempeliku! Kalian mengganggu!"


Selesai mengusir Lisa dan Robin sampai beberapa meter di belakangnya, Jessica pun mulai menerapkan rencana yang sesungguhnya. Rencana yang sebenar-benarnya membuat dia sampai ke taman itu. Rencana yang diajarkan Dania padanya. Tips dan trik cara memanggil Demian datang ke hadapannya.


..."Kalau dia mencintaimu, percaya padaku, trik ini tidak akan pernah gagal!"...


"Baiklah, Dani...," Jessica mengepalkan tangannya di depan dada, ia menyemangati dirinya dengan sedikit permainan yang walau kemungkinannya berhasil sangat kecil, setidaknya..., Jessica pikir ia akan terhibur. "Mari kita uji teorimu."


Memulai langkahnya, Jessica pun menghampiri pria yang di matanya agak mirip Chris Evan. Hanya saja, tidak seperti Chris Evan yang sekarang, pria itu mirip Chris Evan ketika masih baru di Hollywood. Versi mudanya.


"Excuse me..." Jessica menyapa sopan. Si pria yang disapa mengangkat wajahnya dari ponsel dengan agak kebingungan.


Seriusan, dia memang sangat tampan!


Melihat kedatangan Jessica juga, si pria spontan mengantung ponselnya di celana. Senyum pria itu merekah manis seperti gula. "Ya, ada yang dapat kubantu?"


"A-ah. Itu..." Jessica tersenyum kikuk. Saatnya mengeluarkan skill bersosialisasinya selama bekerja di Elixir. "Apa kau tidak keberatan mengambil fotoku? Se-sebelumnya, maaf sudah mengganggumu. Aku sendirian..., kau tau, jadi...ahahahaha, aku meninggalkan tripod-ku di taksi, dan...rasanya agak memalukan berselfie sendirian."


"Tentu saja, tentu saja. Tidak masalah." Si pria meleleh begitu Jessica memanfaatkan kekikukannya, wajah yang merona alami itu salah satu pendukung utamanya juga. Si pria yang belum Jessica ketahui namanya, menerima uluran ponsel Jessica dengan ekspresi ramah.


"Apa kau adalah solo traveler?" tanya si pria.

__ADS_1


"Yups, dan ini pengalaman pertamaku. Aku sangat gugup, sebenarnya. Sendirian agak menakutkan."


Jessica mendekati pagar pembatas yang membatasi taman dan tebing yang berada di belakang Jessica sekarang. Jessica berpose di depan kamera ponselnya, bergaya bak model majalah.


Entah dari mana Jessica mendapat kepercayaan dirinya sekarang. Namun, Jessica pikir ini adalah pertama dan terakhir ia bertemu pria itu jadi masa bodoh lah, Jessica akan menaruh fokusnya ke bersenang-senang.


Ckrek!


"Itu wajar untuk pengalaman pertama. Kau akan terbiasa di penerbangan kedua, ketiga dan seterusnya."


"Kau berbicara seperti pria yang berpengalaman. Apa kau juga solo traveler?"


Ckrek!


Si pria menggeleng, "Aku bepergian bersama temanku, tapi entah bagaimana, dia menghilang."


"Haaa, itu kedengaran serius." Jessica agak cemas. Dia sedang tidak menahan seorang pria dari menemukan temannya, kan? Bagaimana kalau teman yang dia maksudkan sedang menunggunya di suatu tempat?


"Don't worry. Temanku itu hanya menghilang kalau dia melihat perempuan di jalan."


"O-oh."


Ckrek!


"Kau sangat fotogenik, apa kau model?"


"Ahahaahahahahahaha!" Tawa Jessica lolos dengan bablasnya. Si Chris Evan KW 2 sampai menatapnya heran. Apa yang salah dari pertanyaan barusan?


"Pertanyaan itu imut," Jessica sampai mengibas wajahnya, ia memerah seperti tomat. "Apa kau pikir perempuan dengan tinggi 158 cm ini bisa menjadi model?"


"Mengesampingkan tinggimu, kau mempunyai wajah yang cantik. Jadi kurasa...,"


Jessica mengibaskan tangan jenaka. "Itu pujian yang sangat baik. Kau sangat baik. Aku tersentuh."


"Ucapanmu sarkastik. Apa aku tidak meyakinkan?"


Tentu saja tidak. Jessica sangat sadar diri dan peka pada wajahnya. Jessica tau dia tidak mempunyai rupa menawan. Dia hanya wanita berkulit putih yang kalau membaur dengan wanita berkulit putih lain, akan sulit dibedakan karena struktur wajahnya yang hampir sama dengan wanita kebanyakan.


"Daripada aku, kurasa kau lebih berpotensi menjadi model..., sir."


"Alex."


"Jesse." Jessica turut memperkenalkan dirinya. Setelah beberapa tangkapan kamera, Jessica dan Alex pun berbagi tempat duduk di salah satu kursi taman yang kosong. Jessica menatap hasil jepretan Alex sementara Alex menyandar di bangku sambil menatap Jessica.


"Apa kau dari US?"


"Las Vegas," sahut Jessica.


"Kau bepergian ke Italy, tapi tidak pernah ke Vegas?"


"Aku pecinta alam, dan sejauh pengamatanku, hanya ada casino dan hotel mendominasi kota itu."


"Itu..., ahahaha, yah, memang benar."


"Tapi aku terkadang ingin mampir ke sana."


"Kau dari mana?" Jessica mengangkat wajahnya dari ponsel. Ia tidak kecewa pada hasil potret Alex. Pria itu tidak asal-asalan dalam membantunya.


"San Francisco."


"Oh. California."


"Aku merekomendasikan kau datang kesana, kalau kau tertarik."


"Apa ada tempat tertentu yang wajib kukunjungi?" Jessica menatap Alex dengan sepasang emerald yang berbinar penasaran. Mungkin ia akan mendapat rekomendasi tempat liburan yang merupakan rahasia lokal.


"Aku tinggal di sana, kalau kau mau berkunjung."


"A-ah..., ahahahaha..., itu..." halus!


"Apa ini pertama kalinya kau datang ke area ini?" Alex kembali bertanya, ia tidak mengendurkan pendekatannya barang sejenak saja.


"Mm, ini pertama kalinya." Jessica terjun ke dalam permainan itu tanpa pikir panjang.


"Mau ikut berkeliling bersamaku?"


"Kalau kau tidak keberatan."


"Tentu saja tidak. Come here. Aku akan menjadi personal guide-mu. Toh, temanku juga tidak menampakkan hidungnya sama sekali."


Senyum Jessica merekah tipis. "Terima kasih."


...*...


Jessica yang awalnya berniat memanfaatkan Alex sebagai pemancing Demian, perlahan-lahan menikmati perbincangannya dengan si jangkung Chris Evan KW 2 itu. Dari pengamatan Jessica, Alex sepertinya adalah tipe pria yang terkenal sebagai social butterfly. Mereka adalah tipe pria yang bisa bergaul dengan siapa saja, segampang menjentikkan jari.


Alex--seperti ucapannya yang ingin menjadi personal guide Jessica--membahas banyak hal menyangkut kunjungannya ke Sorrento, yang ternyata adalah kedua kalinya. Alex membahas pengalaman pertamanya di Sorrento, hotel yang bagus dengan harga terjangkau, restoran top yang wajib dikunjungi dan tempat-tempat lokal yang baru dibuka di area ini.


Jessica menyimak dan menimpali ucapan Alex sesekali.

__ADS_1


Rasanya sangat santai bisa bertukar bicara dengan orang asing. Jessica merasa Alex seperti membuka matanya. Menyadarkan ia kalau dunia tidak hanya sekedar Jessica. Jessica seharusnya tidak terpuruk terhadap masalahnya seperti dunia akan kiamat.


Jessica jadi merasa bersalah sudah memanfaatkan Alex untuk kepentingan pribadinya.


"Tempat ini sangat indah, Alex. Kau sangat baik sudah mau mengajakku berkeliling."


"Aku juga bosan sendirian, jadi ini bukan masalah." Alex menunduk di dekat wajah Jessica dan itu membuat Jessica terperangah.


Apa-apaan?!


"Ada daun di rambutmu," ujar Alex, ia hendak menggapai helai daun itu ketika dari belakang, punggungnya terdorong oleh keberadaan lain yang datang seperti tornado.


Jessica terkesiap kaget begitu wajah tampan Alex hampir menabrak pagar. Jessica hendak menangkap lengan Alex, tapi secepat kilat, pergelangan tangannya ditangkap oleh sosok yang tidak lain dan tidak bukan adalah Demian.


Demian-nya yang lebih tampan dan menawan datang. Ekspresi mengeras garang.


Ikan yang Jessica pancing menggunakan umpan bernama Alex, akhirnya memakan umpan. Sayangnya, Jessica sangat tidak antusias melihat kedatangan Demian.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Jessica spontan saja memprotes Demian yang sekarang mencekal lengannya kuat.


"Pertanyaan macam apa itu?" Demian bertanya balik. "Aku yang seharusnya menanyakan itu padamu."


"Hah?"


"Jesse, apa kau baik-baik saja?" Alex mendekat dengan cemas.


"Jesse? Jesse....???" Apa pendengaran Demian saja atau pria barusan memanggil Jessica-nya Jesse?


"It's okay, Alex. Dia temanku. Ahahaha..., ini bukan masalah serius. Aku hanya..., masalah pribadi."


"Kau bilang kau solo traveler--"


"Tadinya..., beberapa jam yang lalu aku serius sendirian..., ini sama sekali--"


"Cukup!" Demian memotong interaksi keduanya dengan berdiri di depan Jessica. "Aku adalah suaminya. Sekarang, kalau kau mau pulang kembali ke kotamu dengan aman, kusarankan kau menghilang dari hadapanku sekarang." Ucapan Demian halus dan tenang. Namun, ancaman yang tersirat di dalam pesannya menunjukkan kesungguhan.


Alex mengangguk dua kali sebelum meninggalkan mereka. Pria itu membaca situasi dengan cepat. Well, Alex datang ke Italy untuk berlibur, bukan untuk membuat keributan. Terlebih bila keributan itu melibatkan istri orang lain. Nope, no thanks.


Sementara Alex menarik dirinya mundur dari hadapan Jessica dan Demian, Demian kembali menggulirkan pandangannya ke arah Jessica. Kepada kekasihnya yang sekarang berekspresi kesal.


Sialan, siapa yang harusnya kesal sekarang?


"Siapa suami siapa..." ketus Jessica. "Aku tidak ingat pernah mengikat janji suci apa pun padamu."


"Kau akan melakukannya, cepat atau lambat." Demian menjawab sambil berbalik dan menatap Jessica, sepasang netra kelamnya seperti berusaha menerjemahkan makna dari tindakan Jessica hari ini.


Demian mencari arti mengapa Jessica sangat senang membuat darahnya mendidih? Apa Jessica tidak sadar atas tindakannya barusan? Melenggang santai dengan pria asing..., apa yang dia pikirkan?


Apa dia tidak tau pengaruh dari tindakannya terhadap Demian?


Kepala Demian nyaris meledak begitu ia mendengar informasi kalau Jessica sedang mengamati pria tampan di taman!!!


Demian..., memikirkan Jessica akan berpaling darinya, meninggalkan segala pekerjaannya semata-mata untuk menarik kembali perhatian gadis itu hanya agar tertuju padanya! Fokus ke arahnya!


Jantung Demian berdegup tak teratur saking paniknya. Ia sangat sangat marah.


"Kepercayaan dirimu sangat tinggi," ujar Jessica. Tidak seperti ia senang Demian sudah datang, Jessica menunjukkan kejengkelan. Ingatkan Jessica kembali mengapa ia perlu repot-repot memancing jiwa kecemburuan Demian? Oh, itu karena Demian sudah menjadi bajingan dan menelantarkannya berhari-hari!


Pria itu tidak berhak bersikap seperti Jessica sudah membuat kesalahan!


"Lepaskan tanganku!" Jessica berupaya melepaskan cengkeraman kuat Demian di pergelangan tangannya. Namun, nihil. "Demian!"


"Aku tidak akan melepaskanmu!"


"Psikopat, kau sudah bersikap kasar pada teman baruku, sekarang kau mau kasar padaku juga?"


"Aku tidak bersikap kasar, aku mengamankanmu dari predator."


Jessica ternganga. "Predator my head. Satu-satunya orang yang datang dengan lagak predator arogan itu kau, bukan? Apa kau mafia?!"


Ah!


Jessica baru menyadari ucapannya setelah ia mengucapkannya. "Benar juga. Aku nyaris lupa kalau kau memang..."--membuat tanda petik dengan dua jarinya--"...mafia."


"Jessica. Kau akan pulang denganku sekarang!"


"Kenapa kau bicara penuh penekanan?Apa aku salah bicara? Kau memang bertindak seperti itu, kan? Karena kau mempunyai kekuatan kau bisa seenaknya mengancam orang lain dan kau juga menyeretku sesuka hatimu."


"Jesse..., aku tidak mau membuat drama di sini." Tidak ketika ia berdiri di tempat ramai. Demian tidak mau permasalahannya dengan Jessica menjadi tontonan orang. Namun, entah mengapa Jessica tidak mau berhenti bicara.


"Kalau kau tidak mau mendrama, lepaskan aku sekarang juga!"


"Jesse...,"


"Atau aku akan berteriak."


"Jessica Cerise, apa kau gila? Apa masalahmu?"


Jessica menapak selangkah ke hadapan Demian. "Kau yang membawa masalah ini padaku, Demian. Lepaskan. Aku. Sekarang!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2