
Di sebuah kamar apartemen yang mewah dan megah, Jake Allendale--si penghuni kamar--berbaring di sofa sambil mengompres tengkuknya yang sakit.
Saudara perempuan Jake, Janette Allendale, menemani Jake di sana. Ia menatap agak cemas kepada adiknya tersebut. Pasalnya, hari ini, Jake mengalami perampokan. Dia diserang dengan pukulan kuat yang langsung menuai kesadarannya.
Jake tidak sadar diri, dan saat dia terbangun, dia sudah kehilangan mobil, handphone dan segala aksesoris mahal yang melekat di tubuhnya hari ini.
"Apa kau merasa agak baikan?" tanya Jane.
Jake sejak tadi berekspresi masam. Jane mengira, pukulan yang Jake terima pasti begitu sakit. Jika tidak, mustahil adiknya tersebut merengut. Jika hanya kehilangan uang dan mobil, Jake tidak akan se-snewen sekarang.
"Tidak ada yang baik, Jane. Setelah apa yang terjadi hari ini..., aku sudah melewatkan momen penting."
"Momen penting?"
"Aku akan berkencan..." tukas Jake.
"Ugh..., jangan bilang kau akan bertemu dengan cewek murahan itu lagi? Apa mengetahui kalau dia hanya mengincar hartamu tidak cukup? Kau masih mau bersamanya?" Janette spontan mengomel.
"Apa wanita baik di muka bumi sudah habis?"
Jake merotasi mata. "Ini wanita yang berbeda."
Jawaban lesu Jake membuat Janette meninggikan sebelah alisnya. "Apa kau yakin?"
Seingat Jane, adiknya itu sangat memuja mantan matrenya, Angela. Jadi, mendengar kalau Jake sudah memulai hubungan baru dengan wanita baru, itu agak membuatnya..., ragu?
Awas saja kalau Jake menipunya!
"Dia pasti menungguku hari ini," Jake mengeluh lirih.
Masa bodoh dengan sakit kepala dan nyeri di tengkuknya yang luar biasa, Jake lebih sakit hati karena sudah gagal bertemu Jessica. Padahal, ini adalah momen langka.
Selama ini, Jessica selalu menolak bertemu dengan karena alasan sibuk, tapi sekarang..., ketika gadis itu memberikannya kesempatan, dia malah ketiban sial.
"Aku tidak menyangka kau sudah move on. Itu langkah yang baik, tapi..., apa kali ini kau mendapatkan gadis yang benar-benar baik?"
"Dia sangat baik, J. Kau akan tau kalau kau bertemu dengannya langsung."
"Kau juga mengatakan hal seperti itu menyangkut Angela, sampai aku bertemu dengannya dan ternyata dia hanya sebuah benalu."
"Kau tidak perlu mencemaskan apa pun, kali ini aku menemukan gadis yang benar-benar baik. Karena dia begitu baik, akan menjadi tantangan yang sulit untuk menakhlukkannya."
"Eh, apa hal itu masih perlu dipermasalahkan? Kau tidak mempunyai kekurangan apa pun, kan?" Tidak ada hal yang bisa ditolak dari Jake. Setidaknya, begitulah pandangan wanita itu.
"Entahlah..., meskipun aku ingin mengatakan aku tidak kurang dalam apa pun, dia sendiri tidak melihat kelebihanku sebagai keunggulan. Dia memperlakukanku dengan kewajaran, tidak berlebihan. Itu membuatku bingung dengan perasaannya sendiri. Ditambah lagi..."
Jake teringat Demian yang sering mengelilingi Jessica, seperti hama. Pria itu adalah halangan lainnya. Jake--tidak seperti Demian--tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk dia buang. Jake masih harus bekerja dan harus melakukan perjalanan bisnis.
Dia tidak seperti si pengangguran Demian yang bisa ongkang-ongkang kaki seharian di Elixir.
Sementara Jake termenung, bunyi dering telepon menginterupsi. Janette menjadi yang pertama bereaksi. Ia memperhatikan telepon kamar Jake yang berada di atas meja buffet, sebelum beralih menatap Jake.
"Siapa yang menghubungimu di jam segini?"
Sekarang sudah setengah sebelas malam. Sekarang sudah bukan waktunya untuk telepon pekerjaan.
"Bisa kau angkat, kan? Aku terlalu malas bergerak sekarang."
Janette menurut saja karena dia masih kasihan terhadap adiknya. Saat itu juga, setelah Janette mengangkat telepon, dia berbicara sebentar di sana dan melempar tatapan bingung ke arah adiknya.
"Ada apa?" tanya Jake, suaranya rendah.
"Ini dari lobby," sahut Janette, memberikan penjelasan. "Seorang wanita menunggumu di bawah."
"Huh?"
__ADS_1
"Jessica, namanya Jessica."
"EH, APA?" Jake terperanjat sampai jatuh dari sofa.
...****************...
Demian melepaskan Jessica untuk pulang dengan perasaan rela tak rela.
Demian masih ingin menghabiskan waktu bersama Jessica, sebenarnya. Ia tidak ingin melepaskan gadis itu dari dekapannya. Namun, harapan itu tidak bisa menjadi realita. Jessica-nya lah yang memaksa ingin agar hari itu berakhir. Jessica ngotot ingin pulang dengan alasan perlu menyelesaikan urusan keuangan di Elixir.
Tidak hanya karena itu saja, mungkin Jessica ingin pulang lantaran sekarang sudah nyaris pukul sepuluh malam. Barangkali gadis itu kelelahan.
Jessica memaksa Demian agar mengantarnya pulang. Demian pun, karena tidak mau membuat Jessica marah lagi padanya, mengabulkan keinginan gadis itu dengan terpaksa.
"Aku akan menemuimu lagi nanti," kata Demian. Ia berpamitan pada Jessica setelah menurunkan gadis itu di depan pintu Elixir yang tertutup.
Demian tidak ingin meninggalkan Jessica di sana, tapi perjalanan singkat itu sudah menemukan garis finish-nya.
"Jangan menemuiku lagi," jawaban Jessica seperti candaan, Demian yang mendengarnya hanya mencebik tak senang. Tak pernah sama sekali Demian berpikir bahwa ucapan Jessica menyimpan kesungguhan. Pikirnya, netra teduh itu hanya lelah saja.
Namun...
Jessica memang berharap agar Demian tidak pernah bertemu dengannya lagi, dan..., walaupun mereka bertemu, Jessica menaruh harapan agar pria itu memperlakukannya seperti orang asing saja.
Jessica sudah jengah dengan semuanya, segala tarik ulur yang tak bermakna, intrik yang tak sesuai targetnya, permainan cinta yang berujung hanya melukainya. Jessica ingin menanggalkan itu semua.
Pada hari ini juga, Jessica ingin menyelesaikan segalanya. Tuntas setuntas-tuntasnya.
"Jangan bercanda seperti itu, apa kau yakin kau sanggup tidak melihatku?" Demian bicara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Pergilah, aku butuh istirahat."
"Kau sangat tidak sabaran, padahal aku ingin melihatmu lebih lama."
"Demian, aku serius." Jessica memberikan penekanan.
"..."
Setelah Demian pamit undur diri dari hadapannya, meninggalkannya seorang diri di sana, Jessica memberikan lambaian tangan ringan sebelum jatuh terduduk di jalan.
Mata emerald-nya tergenang.
Jessica menahan dirinya agar tidak menangis di sana, tidak meraung marah kepada dirinya yang lagi-lagi kalah. Jessica tidak mau mengutuk dirinya lagi. Jessica sudah lelah menjadi orang yang merasa bersalah kepada Angela. Harga dirinya ternoda.
Jessica tidak mau menjadi rahasia yang hanya akan digunakan Demian untuk memenuhi kepuasannya saja.
Semua ini harus berakhir. Ini adalah yang terakhir. Ia harus berhenti jatuh cinta pada Demian. Ia harus membangun garis batasan yang kokoh dan tidak mampu dilangkahi Demian atau siapa pun. Ia perlu..., Jake Allendale.
Dengan sebuah tekad yang muncul di kepalanya, Jessica pada akhirnya memanggil taksi dan menuju sebuah tempat yang pernah ia kunjungi sekali. Silver Building.
...****************...
Sekarang.
Jessica berada di hadapan Jake, dua cangkir teh tergeletak di atas mejadi atas meja.
Saudara Jake--Janette Allendale--berdiri di balik meja dapur. Ia mengamati keduanya yang sekarang nampak canggung.
"Aku akan pergi, kalian berdua silakan berbicara." Janette akhirnya pamit.
Jessica agak merasa bersalah karena sudah membuat kakak Jake pergi, tapi di sisi lain, ia merasa lega bisa bicara empat mata bersama Jake saja. Karena, jika Janette mendengar apa yang akan ia ucapkan, Jessica merasa wanita itu tidak akan senang.
"Maaf sudah tidak datang hari ini," kata Jake, mengungkit janji yang sudah ia ingkari. "Jika bisa, aku ingin menghubungimu segera. Namun ponselku juga menghilang dan aku tidak bisa pergi menemuimu karena saudaraku mengawasiku ketat."
"Apa yang terjadi, sebenarnya?"
__ADS_1
Jessica menatap kondisi Jake dan menyadari ada sesuatu yang salah pada pria itu. Dia tidak babak belur di wajah, tapi kondisi tubuhnya tidak bisa dikatakan fit juga.
Dia meringkuk sesekali dan meringis. Sebuah kompres di bawah meja juga membingungkan Jessica. Apa Jake sakit parah?
"Aku dirampok tadi pagi," jawaban Jake membuat mata Jessica melebar.
Tidak, jangan bilang ini ulah Demian!
"Segala barang-barangku hingga mobilku dirampas."
"Ya Tuhan..., lalu, bagaimana denganmu. Apa kau baik-baik saja? Kau tidak disakiti atau apa pun, kan?"
"Untungnya, tidak ada yang fatal. Serangannya datang secara kilat, sebelum aku sempat bereaksi, aku sudah diserang duluan sampai pingsan. Rasanya agak memalukan."
"Eeei, apa yang memalukan dari itu? Kau masih selamat saja sudah berkah yang luar biasa. Banyak perampokan bersenjata terjadi di luar sana, daripada melakukan perlawanan dan bisa menaruhmu dalam posisi tak menguntungkan, kau lebih baik pingsan."
Jessica bicara panjang lebar semata-mata untuk menyangkal ucapan Jake yang terkesan meremehkan dirinya sendiri. Tolol, apa karena dia laki-laki dia merasa perlu melawan kejahatan? Dia seharusnya lega sudah selamat.
Anyway, Jessica merasa lega melihat Jake tidak dalam kondisi yang parah.
Walau Jessica tidak begitu yakin mengenai apakah perampokan ini ulah Demian atau bukan, tapi, Jessica merasa lega kalau Jake baik-baik saja. Jessica tidak mau menanggung perasaan bersalah karena sudah menjadi alasan Demian mencelakai Jake.
"Jadi..., apa yang membawamu kemari, Jesse? Aku berencana menemuimu esok hari dan meminta maaf, tapi aku sama sekali tak mengantisipasi kunjunganmu sama sekali."
Mengingat tujuannya, Jessica lalu menegapkan punggung dan wajah. Ia menatap Jake yang masih tersenyum ramah menunggu tanggapannya. Jake yang sudah setia dan selalu berbaik hati menjadi kawannya.
"Jake Allendale," ujar Jessica. Mata penuh determinasinya membuat Jake sedikit meneguk ludah. Pria itu bertanya-tanya apa yang salah.
"Boleh aku tau alasanmu mendekatiku secara intense belakangan ini?"
"Huh?"
Ini adalah pertanyaan yang sama lagi. Jake ingat Jessica pernah menanyai topik ini padanya ketika di taman. Karena gadis itu tidak mempercayainya, gadis itu membutuhkan alasan atas kedekatan mereka.
"Mengapa tiba-tiba? Kupikir aku sudah memberikan jawaban yang jelas padamu hari itu."
"Karena sekarang aku membutuhkan jawaban yang serius," pungkas Jessica. "Aku tidak membutuhkan jawaban setengah hati yang kau buat demi alasan apa pun itu."
"Apa kau sebegitunya tidak mempercayai intensiku yang ingin berteman denganmu?"
Jessica mengangguk. "Aku butuh kejujuran hatimu, karena hanya dengan itu..., kau bisa memperoleh apa yang kau mau."
"Huh?"
"Kau tau apa yang kuucapkan, Jake. Jika kau jujur padaku, aku akan jujur padamu dan mengatakan niatku menemuimu."
Sepasang mata hazel Jake menyiratkan keraguan. Ia mencoba mencerna ucapan Jessica yang menyimpan makna terselubung di dalamnya. Makna yang membuatnya dipenuhi tanya curiga. Karena tidak mungkin. Apa yang terjadi pada gadis itu sampai dia mau...
"Kau..." apa kau serius?
Jessica memotong ucapan Jake dan melannjutkan, "Aku akan memberikan apa yang kau mau, sebagai gantinya..., aku ingin kau membantuku."
"Apa menurutmu kau tau apa yang kumau?"
"Entahlah, kurasa..."
"Apa kau sanggup mengembannya?"
"Jika kau mau membicarakannya sekarang, aku akan mendengarkan."
"Baiklah." Jake tersenyum menanggapi penawaran Jessica terhadapnya. Ia merasa seperti keberuntungan mendarat di depan pintunya, di hadapannya.
Jika Jessica memang menginginkan kejujurannya, maka...
"Kalau begitu akan aku katakan, Jessica. Yang aku inginkan adalah.."
__ADS_1
...****************...