
Langit di Vegas telah memudar kelam, memasuki malam.
Oscar Brown, pria berusia 32 tahun dengan lesung pipi manis menghiasi parasnya tersebut sedang berdiri di rooftop Bronze ketika matahari perlahan-lahan tenggelam di sudut lain bumi. Lampu-lampu di sekitarnya kemudian menyala, menerangi rooftop yang menjadi tempat pelepas penatnya.
Saat itu juga, sementara Oscar memandang ke ujung horizon dengan wajah seperti melamun, Oscar tidak serta-merta kehilangan kewaspadaannya.
Oscar--di tengah lamunannya, masih bisa mendengar langkah kaki yang muncul mendekatinya.
"Kau terlambat," kata Oscar.
"Aku tidak ingat kalau kau memberikanku batasan waktu untuk menemuimu."
"Bukan itu," tukas Oscar. Suaranya menyiratkan kalau topik yang disinggung oleh orang di belakangnya sangat tidak penting.
"Kau melewatkan pemandangan matahari terbenam," ujar Oscar kemudian.
"Huh, sejak kapan kau menjadi pria penikmat alam?"
Oscar berbalik dan menghadap Demian--pria yang barusan datang dan langsung mengkritiknya. Pria menjengkelkan.
"Kau harus menikmati waktumu sesekali, Demian. Hanya dengan begitu kau menyadari betapa beruntungnya kau sejauh ini."
"Seseorang ingin menjadi Shakespeare," ejek Demian.
"Tcih, kau meremehkan ucapanku." Oscar memutar mata.
Tau kalau topik itu hanya akan memudar sebagai lelucon untuk Demian, Oscar pun menyerah meyakinkan Demian mengenai minatnya terhadap matahari terbenam atau apa pun itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Oscar lagi. "Kau belum menemuiku sama sekali setelah kepulanganmu dari Carson. Aku sampai mengira kau ngambek karena sudah kuperintahkan ke sana."
"Apa aku anak-anak?"
"Kau anak-anak dalam wujud orang dewasa."
"Huh, dan kau bajingan berisik."
Demian menimpali Oscar sebelum melenggang menuju sebuah kanopi mini yang berada di dekat pagar rooftop. Sebuah bangku aluminium melingkupi satu buah meja kaca yang berada di bawah kanopi tersebut. Satu asbak rokok berada di pusat meja, berdekatan dengan beberapa botol scotch dan semangkuk es batu.
Membakar satu batang rokok, Demian lalu menoleh kembali ke arah Oscar yang masih betah bersandar di bibir pagar. Cahaya gemerlapan dari gedung pencakar langit, berbaur dengan langit malam menjadi latar belakang Oscar.
"Aku dengar dari Adam kau memanggilku untuk sesuatu yang urgen," kata Demian. Ia memulai topik itu duluan.
"Membosankan, kau terlalu blak-blakan. Sebagai rekan, kita seharusnya membicarakan ini dan itu dulu sebelum membahas masalah serius."
"Aku tidak punya hal yang ingin kudiskusikan padamu," ujar Demian sampai akhirnya sesuatu, sebuah topik muncul di benaknya. Datang secara tiba-tiba.
"Oh, ekspresimu mengatakan kau mempunyai satu atau dua topik yang ingin kau bicarakan." Oscar menebak dengan tepat.
"Tidak ada yang spesial," ujar Demian. "Hanya..., kau mungkin benar. Aku punya satu atau dua hal yang ingin kutanyakan."
"Nah, begini lebih seru, kan?" Oscar menyusul Demian dan duduk berseberangan dari Demian di bawah kanopi tersebut. Oscar menyekop beberapa buah es batu dari dalam mangkuk, memasukkannya ke dalam dua gelas kaca, sebelum menuangkan scotch ke dalamnya.
"Sekarang, kita bisa mengobrol semalaman."
"Aku tidak ada niat untuk menghabiskan malamku membicarakan omong kosong padamu," Demian berkilah enggan.
Oscar--dalam beberapa kesempatan, selalu berhasil membuat Demian ingin melarikan diri dari hadapan pria itu. Tidak seperti Demian yang memang dikenal sebagai bajingan nomor satu, psikopat sinting dan monster di jalanan kota Vegas, Oscar Brown adalah ular.
Berada bersamanya membuat Demian menjadi sangat waspada. Seolah-olah ia sedang diintai oleh ular berbisa. Salah pergerakan, ia bisa berujung diterkam. Demian percaya, bila ada orang yang lebih mengerikan daripada keluarganya di muka bumi ini, maka itu adalah Oscar.
"Jadi..., katakan, apa hal yang ingin kau bicarakan padaku? Mengesampingkan masalah utamamu, tentunya." Oscar mengabaikan penolakan Demian dan memilih melanjutkan perbincangannya.
__ADS_1
"Jessica Cerise," Demian membuka suara. "Seingatku aku sudah memberikanmu peringatan untuk tidak mendekatinya. Tapi entah bagaimana, namamu keluar dari bibirnya beberapa kali belakangan ini. Seolah-olah kau adalah malaikat yang turun ke bumi."
"Aaaah? Apa Jessica menyebutkan namaku di depanmu? Buruk sekali, kau pasti sangat cemburu." Oscar tertawa ringan.
"Cemburu my head, aku tidak punya alasan untuk cemburu."
"Kau punya, kok." nada suara Oscar polos.
Demian mengernyit tak senang.
"Ahahahaha, bukan berarti aku mengatakan kau mempunyai perasaan spesial padanya." Oscar meralat maksud ucapannya seketika. Entah ia serius atau tidak di sana.
"Kecemburuan tidak perlu menyangkut tentang cinta atau hal klise semacamnya. Aku mengatakan kau cemburu karena yah, kau adalah pria posesif. Wajar bila kau tidak menyukai orang lain mendekati mainanmu."
"..."
"Terlebih bila mainan itu sangat menarik perhatian."
Demian menyesap scotch yang dibuatkan Oscar untuknya, sebelum kembali bicara.
"Jangan mengarang teori sesuka-hatimu sendiri." tukas Demian. "Aku hanya tidak suka kau berada di sekitar Jessica karena aku tau kau lebih bajingan dariku."
Oscar manggut-manggut saja mendengar hinaan Demian terhadapnya. "Meskipun begitu," ujar Oscar pula. "Jessica kelihatannya adalah gadis yang sangat ceria, ya?"
Daripada ceria, Demian menganggap Jessica sebagai pribadi yang cerah. Dia tidak tersenyum tolol kesana-kemari dengan kepolosan dan keoptimisan.
Jessica itu, dalam kata lain, cermat dan menawan. Walau terkadang ia menjadi sangat tidak peka, Demian percaya, Jessica lebih dewasa dan pandai mengatur emosinya.
Tunggu, pemikiran Demian yang seperti ini membuat Demian jadi agak jijik pada dirinya sendiri. Apa dia benar-benar, baru saja, memikirkan Jessica dan mendeskripsikannya dengan sudut pandang yang istimewa? Ew!
Rasanya aneh.
Ucapan Oscar memang masuk akal. Demian tau, tanpa dirinya yang mendaki balkon kamar Jessica, hubungannya dengan gadis bermata emerald itu tidak akan pernah terjadi.
"Jika kedekatan kalian bermula dari keberuntungan, apa menurutmu aku bisa seberuntung dirimu, Demian?" Pertanyaan itu lebih seperti tantangan.
"Jangan melakukan hal yang sia-sia, Oscar." Demian akhirnya membuka suara. "Seperti yang kau katakan, aku adalah orang yang posesif dan tidak menyukai orang lain menyentuh propertiku."
"Heh, jadi ucapanku tadi bukan sekedar teori asal-asalan. Kau seharusnya tidak menyangkalku, kalau begitu."
Oscar merasa senang sudah bisa membuat Demian menelan ludahnya sendiri. Pria itu perlu disudutkan di sana sini agar bisa membuka maksud hatinya yang sesungguhnya.
"Hanya fokus pada perjudianmu," ujar Demian kembali. "Aku tidak mau kau menginvestasikan waktumu kepada Jessica. Dia sudah memiliki terlampau banyak kesibukan."
"Hmmm, kesibukan itu, Jake Allendale adalah salah satunya, kan?" Raut Demian mengencang ketika nama Jake disebutkan.
"Apa kau tidak takut kalau Jessica akan direbut oleh pria yang sama?" Oscar menuangkan minyak di sana, mengharap api di mata Demian melahap omong kosongnya. "Kau tau, seperti Angela..."
"Kau sepertinya bersenang-senang meracuni pikiranku," Demian spontan terkekeh. Ia memperhatikan ekspresi Oscar yang masih bertahan dalam keramahan.
Seriusan, pria itu memang ular yang mematikan. Dia sangat tau hal yang perlu dikatakan untuk membuatmu kehilangan kesabaran.
"Berhenti tersenyum, itu memuakkan." Demian menegurnya jengkel. "Kau lebih baik tanpa ekspresi menjijikkan itu."
Senyuman hanya berarti bila itu mengandung ketulusan. Sayangnya, kata tulus bukan kata yang cocok untuk disandingkan dengan Oscar.
"Haaaah, kau merusak suasana. Padahal aku ingin berbincang-bincang layaknya teman kepadamu. Kenapa kau tidak bisa bertahan pada peranmu saja dan ikuti alurnya?"
"Aku tidak tertarik menjadi sahabatmu," Demian blak-blakan. "Kalau kau membutuhkan teman yang bisa bertahan mendengar omong kosongmu, kau sebaiknya mencari teman yang sungguhan."
"Teman sungguhan, kah? Itu ide menarik." Oscar mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja.
__ADS_1
"Jadi, apa kau sudah puas berbicara omong kosong?"
Demian ingin tau apa hal urgen yang membuatnya harus bertahan meladeni ketidak-jelasan Oscar. Apakah Erthian jatuh sakit lagi atau ada sesuatu yang lain?
Oscar menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku. Matanya memindai eskpresi Demian, menggoda rekannya tersebut dengan mengulur-ulur jawaban. Ia ingin Demian merasa tertekan, ketakutan.
Sayangnya, 10 detik kemudian berlalu, 30 detik, 40 detik, dan 1 menit. Demian tidak menunjukkan ekspresi yang berarti. Ia bertahan di seberang meja dan membalas tatapan Oscar dengan kebosanan yang kentara.
"Aku bisa tidur dulu kalau kau tidak mau bicara secepatnya."
"Tsk," Oscar mendengus kesal. "Kau seharusnya ketakutan."
"Jangan menaruh harapan kosong padaku," sahutan Demian seperti ejekan. "Aku tidak pernah takut pada apa pun yang berkaitan dengan keluargaku."
"Itu karena kau bocah berandalan, bukan?" Oscar mencebik.
"Jangan mengulur pembicaraan, Oscar."
Haaaa~
Oscar menghela napas panjang.
"Baiklah, akan kukatakan." Oscar yang sebelumnya bersandar, bergerak maju. Kedua tangannya bertaut di atas meja kaca. Membingkai gelas scotch-nya yang basah. "Mata-mataku di Sorrento menghilang."
"..."
Dengan meluncurnya pengakuan Oscar, angin malam yang bertiup di rooftop itu terasa lebih dingin dan lebih tajam. Demian terbenam dalam ketidak-senangan.
Sorrento, Campania adalah sebuah wilayah di Selatan, Italy. Tempat Demian tumbuh besar dan tinggi. Di kota itu--Sorrento, sebuah mansion keluarga Bellamy berdiri tinggi di atas tebing yang menghadap laut biru.
Oscar menanam mata-matanya di sana beberapa tahun lalu. Melalui mata-mata itu lah Demian sampai sekarang tetap aman. Setidaknya, sampai akhirnya mata-mata itu menghilang.
"Mereka sudah pasti menaruh kecurigaan," ujar Oscar. "Mereka sudah mengirim musuh ke kakimu untuk beberapa waktu, tapi tidak ada satu pun dari serangan itu yang berhasil. Situasi itu pasti akan menimbulkan pertanyaan."
"..."
"Antara kau adalah final boss yang mempunyai kekuatan dewa, atau..., kau sudah mengantisipasi serangan mereka."
"Selina pasti sudah menaruh kecurigaan," ucap Demian. "Lagipula, meskipun dia tidak cukup cerdas, dia mempunyai support yang luar biasa dari pihak ayahku."
"Sangat disayangkan," ujar Oscar kembali. "Jika begini, akan butuh waktu lama bagiku untuk bisa menyusup ke Bellamy kembali."
"Kau sebaiknya menahan dirimu untuk sementara." Demian memperingatkan Oscar.
Setelah mereka berhasil menemukan mata-mata di Bellamy, pengawasan di tempat itu akan menjadi lebih ketat daripada sebelumnya.
Jika mereka menemukan mata-mata baru berusaha menyusup ke kediaman mereka, tidak menutup kemungkinan mereka akan menggunakan mata-mata itu sebagai agen ganda untuk mengacaukan informasi yang akan Oscar terima.
Oscar pun bisa terancam.
"Aku juga ingin memperingatkanmu menyangkut hal serupa, Demian." Oscar berujar sebelum menenggak habis scotch-nya.
"Aku akan lebih senang bila kau berada di bawah radar mereka untuk beberapa waktu. Lakukan sesuatu yang tidak menarik mata. Kau tau, hal-hal semacam jatuh cinta dan memburu wanita. Tindakan seperti itu sangat tidak menarik mata."
"Kenapa dengan omong kosong itu lagi?"
"Aku hanya berbagi saran," Oscar tertawa. "Kau tidak perlu terlalu cemas, Demian. Walau aku tidak mempunyai mata-mata di Sorrento, Vegas berada di telapak tanganku. Aku tau apa yang terjadi di kota ini lebih baik daripada siapa pun."
"Hn, aku mempercayakan sisanya padamu." ujar Demian kembali.
*
__ADS_1