MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
40. Keserakahan.


__ADS_3

Kepulan asap keluar dari bibir Demian yang terbuka. Di ujung jarinya, sebatang rokok yang menyala mengedarkan asap tipis di sekitarnya.


Malam itu, di bawah rembulan Juli yang mengintip tipis di balik awan kelam, Demian mendongak ke atas sambil merenung bosan. Ada banyak hal berkelebat di benak Demian, hal-hal yang ingin ia abaikan, hal-hal yang seharusnya ia pikirkan, dan satu hal yang membingungkan.


Keberadaan Jessica Cerise mungkin akan berada di kategori terakhir. Mengingat ucapan-ucapan yang keluar dari bibir gadis itu sudah menggumpal di benaknya dan membuat ia terbenam dalam kebimbangan.


Segala pertanyaan dan ucapan Jessica naik ke posisi atas dan menjadi trending topic di kepala Demian. Mengalahkan hal penting lain dan hal tidak penting yang mengisi pikiran Demian belakangan.


'Apa kau menyukaiku?' pertanyaan itu keluar dengan tegas dan lugas. Tidak ada basa-basi. Hanya jawab ya atau tidak. Sesimple itu.


Akan tetapi, menemukan jawabannya tidak sesimple membuka mulut untuk menjawab Ya dan Tidak. Demian tidak tau jawaban yang tepat untuk pertanyaan Jessica. Demian merasa sesuatu yang lebih dari sekedar suka, mungkin, telah menyelimutinya belakangan.


Bersama Jessica menyenangkan, itu adalah hal yang pasti. Demian senang menerima perhatian dari Jessica, empatinya yang tumpah-ruah, dan segala sikap kikuknya yang terkecan lucu, imut dan ugh, Demian hanya ingin bersama Jessica dan mengganggunya.


Demian tidak pernah memikirkan ia memiliki afeksi lebih terhadap Jessica.


Afeksi semacam cinta...


Cinta di pikiran Demian selalu mengarahkannya pada Angela. Gadis itu sudah bersamanya sejak ia menapak di Las Vegas. Mereka memulai kehidupan bersama-sama di kota ini, menjadi sahabat seperjuangan yang berbagi pengertian tentang sulitnya kehidupan.


Jessica di sisi lain, dia hanya orang baru. Untuk mencintainya, Demian tidak yakin mengenai minat yang ia rasakan pada Jessica akan sama dalamnya dengan perasaan yang ia bagi kepada Angela.


Tapi Demian tidak ingin melepaskan Jessica begitu saja. Walau ia tau keluhan gadis itu sangat benar. Jika Demian terus mengorbit di sekitar Jessica, mengganggunya dan mempermainkannya..., perasaan cinta bisa tumbuh pada Jessica.


Demian sebagai penyebabnya, akan menjadi orang yang akan melukai Jessica nantinya.


Haaaa~


Demian menghela napas.


Aroma tembakau mengudara di sekitar Demian, berbaur dengan udara malam di balkon kamar Jessica yang jauh dari keramaian. Demian membalik badan dan memperhatikan Jessica yang berada di dalam kamarnya. Gadis itu sedang menekuni laporan pengeluaran cafenya.


Jessica duduk bersila di tempat tidur, rambut terurai tebal di punggung. Sebuah piyama putih bermotif kura-kura melingkupi tubuh rampingnya.


"Pada akhirnya, kau akan membenciku, ya?" Demian bergumam pada udara. Pandangannya jatuh ke arah Jessica sementara isi kepalanya kembali menggaungkan keputusan yang sama. Ia tidak bisa menarik dirinya lepas dari Jessica. Bahkan bila itu artinya, ia akan melukai Jessica nantinya. 


Cinta akan tumbuh di antara dua orang yang berdekatan. Itu adalah kewajaran. Baik itu cinta dalam bentuk kekeluargaan, persahabatan, dan asmara.


Hanya saja, jika itu adalah kedekatannya dan Jessica, maka itu sudah pasti asmara, kan?


Jessica akan mencintainya sebagai ganti keserakahannya untuk tetap dekat kepada Jessica.


Sialnya, Jessica akan menyukainya.


Karena gadis itu mempunyai hati yang murni. Dia bukan gadis yang kebal terhadap afeksi. Dia ditakdirkan jatuh cinta dengan mudah. Dia ditakdirkan untuk patah hati.


Demian menancapkan bara rokoknya di sebuah pot bunga sebelum melempar potongan sisanya ke tong sampah. Ia mengembuskan napas sekali lagi. Berharap dengan keluarnya karbon dioksida dari paru-parunya, segala hal-hal menyangkut Jessica juga menguap dari pikirannya.


"Aku hanya akan bermain sampai aku bosan," gumam Demian sambil melenggang menuju pintu balkon yang tertutup.


Benar.


Ia tidak perlu memikirkan situasinya secara berlebihan. Dia bukan Jessica, dia hanya perlu melakukan apa yang ia sukai. Nantinya, bahkan bila Jessica terluka, Demian akan menerima segala caci-maki yang akan gadis itu tumpahkan padanya.

__ADS_1


*


Waktu ketika Demian menggeser pintu balkonnya, Jessica mendongak sebentar untuk melihat pria itu melenggang memasuki kamarnya. Tanpa membuka suara, Jessica kembali membenamkan tatapannya kepada sederet angka di laptopnya. Jessica berusaha mati-matian untuk mengabaikan eksistensi Demian.


Anggap saja pria itu sebagai keset kaki di kamarnya, pajangan yang tidak memiliki arti apa pun. Ya. Fokuslah pada pekerjaan dan...


"Apa kau tidak ada niat beristirahat?" suara Demian menyapu bersih segala upaya keras Jessica untuk mengabaikan keberadaannya.


Sialan, kenapa Demian berada di sini sekarang? Apa pria itu tidak punya tempat tinggal lain?


"Jessica?"


"Mm?"


"Apa kau tidak bosan?"


Jessica berpura-pura menyibukkan diri sambil membalik kertas yang berada di pangkuannya.


"Kalau kau bosan, kau boleh pergi." Jessica mengusir secara halus. "Jangan menggangguku dengan suaramu. Kau berisik!"


Tau kalau Jessica tidak akan meladeni keluhannya, Demian menghela napas lelah. Tanpa menanggapi ucapan Jessica lagi, Demian dengan entengnya menutup laptop Jessica. Ia menarik benda elektronik itu dan menaruhnya ke lantai keramik yang dingin.


Jessica memperhatikan tindakan Demij dengan mata lebar memprotes.


Jessica ingin mengomeli Demian saat itu juga, mengenai kelancangannya, ketidak-jelasan tindakannya, dan--mengenai keberadaan pria itu yang lagi-lagi mengusiknya. Namun, sebelum kata sempat keluar dari bibir Jessica, Demian merangkum rahang Jessica dalam telapak tangannya.


Dalam sepersekian detik setelah itu, Demian merangkak naik mengisi kekosongan di hadapan Jessica dan memberikan gadis itu sebuah ciuman yang datang secara tiba-tiba.


Keterkejutan menguasai Jessica. Ia bertopang di pundak Demian yang sekarang menahan wajahnya dalam rangkuman kuat dan hangat.


"Demy..." Jessica terengah-engah. Ia mengatur napas, wajah memerah. 


"Apa-apaan?" Jessica meringis. Napasnya naik turun, haus akan oksigen.


Di depan Jessica, Demian menatapnya tanpa perasaan bersalah. Sebaliknya, pria itu menyeringai puas pada hasil usahanya yang telah berhasil menyita perhatian Jessica. Kini, sepasang emerald itu hanya menyorot ke arahnya.


"Kau terlihat menggemaskan, aku ingin memakanmu." ujar Demian. Dekapan tangannya yang melingkar di leher Jessica perlahan-lahan turun ke pundak Jessica. Ia menekan gadis itu dengan kekuatan yang cukup membuat Jessica rebah di atas bantalnya.


"Apa maumu sekarang?" Jessica tidak memberontak di sana. Ia hanya menatap Demian dengan sorot mata yang menyiratkan kekesalan.


Jessica seharusnya bekerja sekarang, menghadap laptopnya dengan ketekunan. Ia seharusnya bekerja, tapi mengapa dalam sekejap mata, ia malah berada di bawah Demian?


"Aku mau kau melupakan pekerjaanmu sejenak," ujar Demian. Ia tersenyum jenaka ketika sekali lagi ia memberikan kecupan di bibir Jessica. Gadis itu tidak menolaknya, dan Demian saat itu pula, mengubah keagresifannya perlahan-lahan menjadi kelembutan.


Pagutan demi pagutan, lidahnya yang saling bertautan dan bagaimana rasa manis strawberry dan aroma tajam tembakau berpadu di dalam mulutnya.


Demian menikmati pagutan itu sembari sesekali mengusap surai lebat Jessica yang jatuh di sekitar tengkuk gadis itu. Ia menangkup rahang Jessica di telapak tangannya dan merasakan betapa lembut kulit Jessica di ujung jemarinya. Jantungnya menjadi panas oleh gairah.


"Mmm..." Jessica menepuk lengan Demian dengan kelembutan, meminta pria itu menarik pagutannya lepas agar ia bisa mengambil napas.


"Kau mengganggu pekerjaanku," keluh Jessica kembali. Ia menatap bagaimana lembaran kertasnya sudah berceceran di lantai. Jatuh atas dorongan kaki Demian.


"Apa kau keberatan?" Demian menimpali keluhan Jessica sambil menggigit ringan dagu Jessica. Gigitannya pun merayap turun centi demi centi menuju leher pucat Jessica yang mengundangnya untuk melabuhkan hisapannya di sana.

__ADS_1


Jessica memejamkan mata. Ini tidak adil baginya. Bagaimana bisa ia keberatan terhadap kenikmatan yang sudah Demian tanamkan di tubuhnya.


Bila Demian terus menggodanya, Jessica percaya ia akan melumer cair di dalam kehangatan yang pria itu berikan.


"Bukankah begini lebih baik daripada menghindariku?" Demian kembali mengangkat wajahnya setelah mengukir jejak kecupan di kulit porcelen Jessica.


"Lebih baik untukmu, maksudmu?" Jessica mencebik sesaat sebelum Demian kembali melabuhkan kecupan di bibirnya. Kecupan basah yang membuat saliva merembes keluar dari sudut bibir Jessica.


Tawa Demian merekah dalam ciuman itu. "Kau terlihat menggemaskan ketika wajahmu memerah."


"Apa kau sudah puas?" Jessica menatap mata kelam Demian yang berbinar penuh keantusiasan. Pria itu, jika dia terus menatap Jessica seperti itu, mustahil untuk tidak luluh.


"Puas itu adalah kata yang cukup berat." Demian menurunkan wajahnya dan mengecup perut Jessica dari luar piyamanya. "Butuh waktu panjang untukku bisa mencapai kepuasan."


Mengerti makna dari kerlingan mata Demian, Jessica seketika mengernyit ngeri. "Tidak, aku tidak mau mengulang itu lagi."


"Eh, kenapa?" Demian menahan Jessica di antara lengannya. Ia memberikan kecupan lagi di kelopak mata Jessica. "Apa kau tidak suka?"


Masalahnya bukan suka atau tidak. Jessica terlalu menyukai apa yang sudah terjadi dan itu menakutinya. Bagaimana bila ia menjadi candu pada kenikmatan itu? Bagaimana bila perasaannya berubah terhadap Demian karena gairah yang menggebu-gebu?


Tidak. Itu berbahaya.


"Apa yang terjadi malam itu hanya sesuatu yang akan terjadi malam itu," pungkas Jessica. "Kalau kau mau melakukan hal yang lebih, lakukan kepada Angela. Bukankah dia pacarmu?"


"Kau selalu mengatakan Angela ini Angela itu, apa kau cemburu?"


"Huh?"


Demian mengendikkan bahu. Ia kembali merangkak naik ke atas Jessica dan mendorong Jessica kembali pada posisinya semula.


"Kurasa," gumam Demian. Ia menarik sebelah kaki Jessica naik ke pundaknya. "Kau memikirkannya lebih banyak daripada aku yang menurutmu adalah pacarnya."


"Kau memang pacarnya, kan?" Panas kembali melanda Jessica ketika ia menyadari di mana bibir Demian berada. Pria itu menyapu betisnya dengan sebuah gigitan dan ciuman ringan.


Pemandangan itu begitu menakutkan karena Jessica tidak pernah membayangkan situasi itu akan terjadi padanya. Demian yang menatapnya dengan gelora nafsu di mata. Saliva panas yang meleleh di tubuhnya.


Semua itu sangat tidak nyata.


"Apa kau pikir aku akan melakukan ini padamu ketika aku mempunyai wanita lain di luar sana?" Mempraktikkan maksud ucapannya, Demian pun memberikan gigitan yang meninggalkan cukup bekas di atas paha Jessica.


Kembali lagi, mata mereka bertemu dalam jarak yang membuat Jessica tersipu. "Kalau Angela adalah kekasihku, aku tidak akan menciummu."


Tidak karena Demian adalah pria yang mengutamakan loyalitasnya. 


Sekarang, Angela hanya menatap Demian sebagai seorang teman untuk melepas keluh-kesahnya. Demian tidak memiliki makna lebih di mata Angela. Oleh karena itu, hubungan Demian pun tidak memiliki ikatan yang membuatnya membutuhkan kesetiaan.


Demian bebas melakukan apa pun, di depan dan di belakang Angela.


Demian memiliki kebebasan sepenuhnya terhadap wanita mana yang akan menghabiskan malam bersamanya. Jessica adalah pilihan Demian, dan Demian tidak menyesali keputusan itu. Demian tau, jauh di balik rengekan dan keluhan Jessica, gadis itu hanya terlalu takut mengakui kalau mereka berbagi minat yang sama.


"Jessica," bisik Demian di telinga Jessica yang sudah memerah. "Jangan menolakku."


"..."

__ADS_1


"Jangan melarikan diri dariku."


*


__ADS_2